Wednesday, May 24, 2006

Guncangan Kejiwaan dalam Manifestasi Roh Kudus

Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut perlu setiap pembaca ketahui bahwa tulisan ini benar-benar sekedar pemikiran pribadi saya, tanpa adanya bahan-bahan atau tulisan-tulisan lain yang mendukungnya. Tulisan ini adalah hasil pencarian pribadi saya atas terjadinya fenomena-fenomena 'super aneh'yang menyertai lawatan Roh Kudus pada beberapa tempat di dunia. Saya saatini tidak/belum tahu jika sudah ada sumber-sumber atau tulisan-tulisan lain yang menjelaskan sumber fenomena-fenomena itu. Adapun fenomena-fenomena aneh yang saya maksud ialah perilaku tidak wajar orang-orang yang mengaku 'dipenuhi' oleh Roh Kudus. Ada yang berkokok seperti ayam, menggonggong, dsb. Tulisan ini saya buat akhir April 2003

----------------------------------------

REALITA YANG TERJADI

"...sekarang mari kita buka Alkitab kita pada kitab...kuukkkuukkuuuuuu....Matius pasal...kukkukkkkuuuuuuuuu...", begitulah sang pendeta berusaha keras meneruskan kotbahnya, sementara itu "Roh Kudus" sepertinya mengganggu terus-terusan dengan membuat pendeta ini berkokok bagai ayam jantan. Potongan tayangan ini saya lihat sendiri di internet, yang menunjukkan fenomena yang terjadi di Brownsville, tempat dimana terjadi Kebangkitan Rohani besar-besaran di awal abad 21.

Tidak hanya itu yang terjadi. Saya melihat dengan mata kepala sendiri [terjadi di gereja saya] orang berguling-guling di seluruh penjuru ruang kebaktian, ada yang telentang dengan kaki mengayuh seperti orang bersepeda, ada yang menari-nari berkeliling ruangan dengan mata tertutup. Sementara dari kesaksian beberapa orang yang pernah ke Toronto, mereka melihat orang yang beraksi dengan gitar khayalan, berlagak bak penyanyi konser yang sedang melakukan improvisasi dengan gitarnya, dst...dst... Belum dihitung dengan derai 'tawa dalam roh' tanpa henti yang memenuhi seluruh ruangan. Orang-orang tertawa terbahak-bahak, berguling-guling sambil memegang perut mereka. Tawa ini bisa berlangsung tanpa henti selama puluhan menit, bahkan beberapa melebihi hitungan jam.

Saya menjadi gelisah. Kerangka teologis saya tidak mungkin menerima semua ini sebagai dari Allah. Tidak pernah dalam sejarah kekristenan Allah bekerja dengan *cara* seperti ini. Kegelisahan saya ditambah dengan kenyataan bahwa saya mengenal baik beberapa orang dari mereka. Salah seorang yang pernah mengalami 'holy laughter' itu malah istri saya sendiri. Saya mengasihi Tuhan Yesus, dan saya tahu orang-orang ini juga. Mereka adalah orang-orang Kristen berdedikasi yang saya kenal. Kegelisahan ini bertambah berat karena sayaTIDAK mengalami sedikitpun dari fenomena-fenomena itu, ada perasaan ingin dan tidak ingin dalam waktu yang bersamaan.

Beberapa hamba Tuhan mencoba mencari pembenaran melalui ayat-ayat Alkitab, mis. Maz 126:2, dll. Tapi saya pribadi kurang puas dengan penjelasan seperti itu, karena konteksnya berbeda. Terus terang saja, tidak ada ayat Alkitab yang mendukung secara eksplisit kejadian-kejadian semacam ini. Dari semua karunia dan buah Roh Kudus yang tertulis dalam Alkitab, tidak ada satupun yang mendukung tindakan-tindakan aneh semacam itu.

Sementara itu kecaman demi kecaman mulai berdatangan, khususnya dari pihak orang Kristen sendiri. Orang non-karismatik berhaluan keras, yang menolak keabsahan semua 'charismata' jaman ini, dengan segera menuduh setan sebagai dalang semua itu. Dengan tidak adanya ayat yang mendukung, maka dengan mudah ditemukan ayat-ayat yang 'menentang', plus menandaskan bahwa iblislah yang berada di balik setiap fenomena-fenomena tersebut. Sedangkan di pihak karismatik, atau di pihak mereka yang mengalami, relatif tidak ada pembelaan apologetik yang cukup memadai, selain menghimbau setiap orang untuk menantikan buah yang akan dihasilkan. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, itu saja yang dipegang oleh mereka yang percaya pada fenomena-fenomena ini, lepas dari asing dan anehnya bentuk pohon itu. Selain itu mereka-mereka yang mengalami fenomena ini lebih memilih untuk 'menikmati'nya tanpa memusingkan apologi dan pengesahan teologis bagi pengalaman mereka.

Kenyataannya, fenomena-fenomena ini memiliki titik akhir. Makin lama fenomena ini makin jarang, baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Saya mendengar bahwa di Toronto maupun Brownsville, fenomena seperti ini juga makin berkurang. Tapi jika dilihat secara obyektif, maka hasil akhir dari semua itu ialah kerajaan Allah tidak dirugikan. Buah dari semua itu tidaklah menguntungkan pihak iblis sama sekali. Hal terburuk yang terjadi ialah kecaman-kecaman teologis dari pihak non karismatik dan berpindahnya haluan teologis sejumlah orang percaya. Tidak ada laporan bahwa ada orang Kristen yang meninggalkan imannya, menjadi ateis atau pengikut setan dikarenakan telah melihat atau mengalami fenomena-fenomena itu. Mereka-mereka yang saya kenal yang mengalami hal-hal semacam ini tetap hidup dalam iman mereka, melanjutkan kehidupan Kristen mereka dengan segala liku-likunya. Di sisilain, terdapat banyak sekali laporan bahwa ribuan orang dimenangkan bagi Kristus, ribuan lainnya disegarkan imannya. Saya melihat sebuah video kebaktian di Brownsville, seorang gadis memberikan kesaksian singkat sambil tubuhnya bergetar-getar dan bergoyang seakan mau jatuh. Kesaksian itu cukup singkat, setelah itu sang pendeta mengambil alih, langsung memberikan tantangan pertobatan, dan saya melihat RATUSAN orang berhamburan ke depan untuk menerima Kristus, berlutut dan menangisi dosa mereka, memohon pengampunan dari Tuhan.

Di gereja saya sendiri, segala sesuatu sudah berjalan normal. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. "Badai [teologis] telah berlalu". Namun pertanyaan yang ada mengenai hal itu tidaklah berlalu begitu saja. Apa yang sebenarnya telah terjadi?

DIKUASAI OLEH ROH = DIRASUKI ?

Sebenarnya saya sulit percaya kalau Roh Kuduslah yang 'mengerjai' orang-orang tsb. Alkitab menggambarkan Roh Kudus sebagai Roh yang lembut, berkuasa, menghibur, menguatkan, pendeknya Roh yang 'gentle'. Namun setelah saya menyelidiki Alkitab, ternyata 'penguasaan roh' pada diri seseorang menunjukkan gejala-gejala yang serupa, terlepas dari roh apa yang menguasai orang itu.

1Sam 18:10: "Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasaatas Saul, sehingga ia KERASUKAN di tengah-tengah rumah, sedang Daud mainkecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya."

1Raj 18:29: "Sesudah lewat tengah hari, mereka KERASUKAN sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yangmenjawab, tidak ada tanda perhatian.

"Dua kata 'kerasukan' yang digunakan pada ke dua ayat di atas menggunakan kata Ibrani yang sama dengan 'bernubuat' (prophesied).

1Sam 10:10-11: "Ketika mereka sampai di Gibea dari sana, maka bertemulah ia dengan serombongan nabi; Roh Allah berkuasa atasnya dan Saul turut kepenuhan seperti nabi di tengah-tengah mereka. Dan semua orang yang mengenalnya dari dahulu melihat dengan heran, bahwa ia bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi itu; lalu berkatalah orang banyak yang satu kepada yang lain:"Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apa Saul juga termasuk golongan nabi?" "

Ayat di atas menunjukkan bahwa 'kepenuhan seperti nabi' ditunjukkan dengan 'bernubuat' [prophesied]. Dari semua ayat tersebut di atas, Alkitab menunjukkan bahwa "tindakan bernubuat" merupakan salah satu tanda penguasaan roh pada diri seseorang, baik roh jahat maupun roh Allah. Selain itu tindakan 'bernubuat' pada ayat-ayat tersebut di atas menggambarkan adanya beberapa ciri terlihat yang serupa, yaitu adanya suatu bentuk 'ketidaksadaran' [trance].

Jadi roh mana yang menyebabkan sebuah fenomena *tidak selalu* dapat ditunjukkan dari *apa yang terlihat* dari fenomena itu. Pada peristiwa yang jelas-jelas dari roh jahat, Alkitab TB LAI menggunakan kata 'kerasukan', sedangkan pada peristiwa yang jelas dari roh Allah, TB LAI menerjemahkan sesuai dengan terjemahan umumnya, yaitu 'bernubuat'. Sumber dari fenomena-fenomena ini baru bisa ditengarai dengan melihat keseluruhan konteks peristiwa, dimana itu terjadi, pada siapa, kapan, mengapa, dan latarbelakang yang lain. Namun jelas bahwa penguasaan roh pada diri seseorang mungkin saja dilihat dengan jelas, artinya ybs bisa kehilangan kendali atas beberapa perilakunya, lepas dari roh apa yang menguasai orang tsb. Namun ini tidak berarti bahwa hal ini *selalu* terjadi demikian. Alkitab juga mengisahkan manifestasi dari penguasaan roh Allah yang berwujud pada keberanian atau kekuatan seketika itu juga [spt pada Simson], atau dari kekuatan yang timbul untuk hidup kudus bagi Dia.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pekerjaan Roh Allah sama dengan pekerjaan roh jahat. Allah itu roh, roh jahat juga roh. Apa yang dikerjakan makhluk roh memiliki efek yang serupa pada manusia, tapi dengan buah yang berbeda. Jadi manifestasi bisa serupa, tapi hasil akhir pasti berbeda. Sebab itu penulis Alkitab dengan berani mengatakan bahwa ada roh jahat yang 'berasal dari Allah'. Dua orang pelukis akan menghasilkan karya yang serupa secara fisik, sama-sama dari kanvas, cat minyak, sama-sama berwarna, dsb. Hanya dari wujud materinya saja kita tidak akan bisa membedakan mana pelukis jahat mana pelukis baik. Baru setelah lukisan itu diartikan, kita mungkin akan tahu bedanya. Demikian juga dengan hal-hal rohani. [Wah, ini ilustrasi yang kurang bagus, tapi sementara ini saya nggak nemu analogi yang lebihpas...]

Satu hal yang saya amati juga ialah, bahwa 'gejala' penguasaan roh pada diri masing-masing orang ternyata berbeda. Profil psikologi seseorang ternyata memiliki peran dalam 'tingkat' berkurangnya kesadaran seseorang pada waktu roh menguasai dia. Saul adalah raja yang berkepribadian lemah & insecure. Dia mudah sekali dikuasai oleh roh dan sering kali dengan gejala hilang sadar. Sebaliknya Daud adalah seorang dengan kepribadian yang kuat, tidak pernah sekalipun di Alkitab dikisahkan bahwa Daud 'kepenuhan' atau'bernubuat' dengan cara yang sama seperti Saul, namun Roh Tuhan juga dikatakan "berkuasa" atas Daud. Bagi saudara yang biasa bergerak dalam pelayanan kelepasan, akan terlihat sebuah profil psikologis tertentu pada diri seseorang yang lebih gampang "kerasukan". Jadi sebetulnya kondisi kejiwaan seseorang memiliki hubungan dengan manifestasi rohani yang mungkin dialaminya.

GUNCANGAN KEJIWAAN YANG TERJADI

Ada sebuah peristiwa yang dicatat di Alkitab:

Luk 9:33 Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musadan satu untuk Elia." Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu.

Kisah ini menggambarkan Petrus si sanguin, yang begitu terkagum-kagum dengan manifestasi penglihatan yang dialaminya sehingga dia menawarkan hal yang konyol. Peristiwa semacam inilah yang saya pikir terjadi pada orang-orang yang bertingkah laku aneh-aneh pada pencurahan Roh Kudus.

Waktu seseorang *mengalami* manifestasi pencurahan Roh Kudus, ada *banyak* perasaan yang berkecamuk dalam jiwanya. Sementara dia melihat ada beberapa bagian saraf motoriknya yang tidak terkendali lagi, perasaan sukacita, takut, heran, kagum, malu, dll dialami dalam waktu bersamaan. Pada kasus pencurahan yang menghasilkan gelak tawa tiada henti, perasaan yang paling dominan adalah sukacita. Sukacita ini sangat kuat beroperasi dalam diri ybs, sehingga dia tidak mungkin tidak melepasnya dalam tawa. Saya pribadi pernah mengalami hal ini.

Dalam beberapa kasus sukacita ini datang seperti aliran yang luar biasa besarnya, sehingga orang tsb akan tertawa tiada henti selama bermenit-menit.Di balik keadaan tanpa kendali ini, sebenarnya orang tsb masih sadar, sadar bahwa dia sedang tidak bisa mengendalikan dirinya. Setelah beberapa lama kemudian dia akan 'menyerah' dan tidak berusaha menguasai dirinya lagi, berlaku seperti orang yang hanyut oleh arus. Semua yang terjadi 'dinikmati' olehnya. Hal inilah yang, menurut saya, menimbulkan perilaku-perilaku yang tidak terduga. Jika seseorang memutuskan untuk melepaskan kendali atas perilakunya, maka hal-hal yang paling anehpun bisa terjadi. Mereka memutuskan untuk lepas kendali karena sebelumnya mereka mencoba mengendalikan diri tapi tidak bisa. Akhirnya timbullah apa yang saya sebut sebagai 'goncangan kejiwaan' itu, yaitu sebenarnya mereka sudah memperoleh kembali kendali atas perilaku mereka, tapi mereka memutuskan untuk tetap'mengalir' mengikuti arus perasaan mereka dan tidak malu lagi untuk melakukan hal-hal aneh yang spontan. Hal ini semakin diperkuat jika orang-orang di sekitar mereka juga melakukan hal yang sama, ditambah lagi dengan penerimaan atas semua itu sebagai karya Roh Kudus, dimana melawan aliran itu dianggap sama dengan melawan Roh Kudus. Dari situlah semua perilaku aneh-aneh itu menemukan tempatnya. [selesai]

1 comment:

Unknown said...

Thankyou For This post... Im so bless.... God still bless