Thursday, December 29, 2005

Melucuti Keagamaan (Sebuah Refleksi Otokritik) - bag 1

Latar Belakang
Saya menulis ini sebagai orang yang berada di "garis depan" dalam pelayanan kristen kharismatik 'kontemporer'. Saya bergerak di bidang kepemudaan, pernah terlibat sebagai pemusik yang beberapa kali mengiringi artis2 Kristen Kontemporer di Indonesia. Saya mengenal secara pribadi beberapa dari 'selebritis rohani' ini. Namun selalu ada sebuah keprihatinan yang muncul dalam diri saya berkenaan dengan kekristenan kontemporer. Sebuah keprihatinan yang muncul karena makin jelasnya gejala2 'melucuti keagamaan', dan saya membuat tulisan ini sebagai semacam peringatan bagi diri sendiri. Tulisan ini saya buat November 2002.


BANGKITNYA KEKRISTENAN KONTEMPORER
Waktu saya bertobat dulu, saya diajarkan bahwa 'spirit of religiousity' adalah racun bagi kekristenan. Kami diajarkan bahwa kekristenan sebenarnya bukanlah agama, tapi sebuah gaya hidup atau kehidupan itu sendiri. Kekristenan haruslah merasuk di setiap sendi kehidupan, mewarnai setiap keputusan, tuturkata, tingkah laku, pendeknya segala hal dalam kehidupan. "Agama" Kristen sendiri, adalah sebuah "pengganti" bagi kekristenan yang sesungguhnya. "Kehidupan kristen" diganti dengan aksi-aksi agamawi seminggu sekali di gereja. Mereka yang begitu agamawi (religious) di gereja menjadi orang2 yang duniawi waktu diluar gereja, termasuk para pendetanya. Sebab itu saya diajar untuk tidak memandang kekristenan sebagai 'agama'. Saya sampai sekarang tidak pernah menggunakan frasa 'agama Kristen' dalam tulisan maupun percakapan, melainkan 'kekristenan'. Roh Keagamawian (spirit of religiousity) harus dilawan dan digantikan dengan 'real life' yaitu kekristenan yang menyeluruh.

Sebagai akibat pengajaran ini muncullah gelombang pertobatan anak-anak muda yang dulunya alergi terhadap gereja (tradisional) dan agama. Mereka mau menyerahkan hidup mereka pada Kristus setelah mereka tahu bahwa kekristenan menawarkan lebih dari sekadar agama. Saya kemudian melihat bahwa hal ini terjadi khususnya pertama-tama di kalangan kharismatik. Sementara gelombang baru ini muncul, gereja2 "tua" masih tetap dalam keadaan mereka. Sebagai contoh, penggunaan alat musik di gereja masih sangat dibatasi. Sementara lengkingan efek distortion pada gitar elektrik sudah masuk di gereja kharismatik, gereja2 yang lain masih menggunakan piano atau organ saja. Sementara kebaktian kharismatik menjadi begitu 'hidup', bebas dan unpredictable, gereja2 tradisional masih bertahan pada liturgi baku yang rumit dan predictable.

Kontemporerisasi ini terjadi tanpa bisa dibendung, bukan saja pertobatan dari pemuda2 non kristen, gereja2 arus utama pun kehilangan banyak anak muda karena anak2 ini ditarik oleh gerakan kontemporer ini. (Saya dulu kuliah diUK Petra dan justru hambatan utama dalam kegiatan publikasi kegiatan kami adalah dari Bidang Kerohanian UK Petra sendiri. Selidik punya selidik ternyata mereka sakit hati karena sebagian besar dari mahasiswa binaan mereka ternyata 'pindah' ke gerakan kami, yang tentu saja menurut mereka 'sesat').

Makin lama kekristenan ditampilkan secara modern, tidak ada lagi perbedaan sikap antara berada di gedung gereja dan di luar gedung gereja. Kebaktian berjalan dengan meriah, penuh dengan sorak sorai, suitan, tepuk tangan, tarian, tawa dan tangis. Alunan musik dengan irama jazz, bosanova, funk, rock, disko, dll mengalir dengan bebas melalui sound system berkekuatan puluhan ribu watt. Pendeta yang berkotbah boleh memakai jas, boleh melepas jas, boleh berada di belakang mimbar selama kotbah atau berjalan-jalan disekitar jemaat waktu berkotbah (menggunakan wireless mic). Konser-konser musik kristen diadakan, dengan jenis musik, tata lampu dan sound system yang tidak berbeda dengan konser-konser musik sekuler.

Gedung-gedung gereja pun menjadi modern, minim simbol-simbol keagamaan. Lambang salibpun paling cuman satu, yaitu (biasanya) menempel di mimbar. Dari luar dan dalam bangunan ini sama sekali tidak menyerupai gereja, ada yang seperti stadion (seperti gedung Bethany Nginden) atau seperti restoran (seperti gereja saya, he..he..). Jadi kalau banner2 atau simbol2 yang menempel di dinding dan mimbarnya disingkirkan, gereja semacam ini sudah bisa dipakai sebagai convention center oleh MUI misalnya... :-)

Gerakan ini begitu pragmatis, tidak memiliki tabu sebanyak rekan mereka yang lebih tua. Gedung bioskop, bahkan diskotik sekalipun, bisa dijadikan tempat ibadah. Waktu gereja saya belum memiliki gedung sendiri, kami berbakti di sebuah gedung bioskop di Surabaya, lalu pindah ke restoran, dll. Liturgi2 yang rumit disederhanakan, tidak ada liturgi pengakuan iman, doa syafaat, dll seperti yang ada di gereja2 protestan. Tradisi2 yang masih dipertahankan hanyalah yang tertulis di Alkitab, seperti perjamuan Kudus, Baptisan air, penyerahan anak, dll. Sedangkan tradisi liturgis yang berasal dari sejarah gereja (yang biasanya kaya dengan simbol-simbol) hampir tidak dikenal.


Dengan dihilangkannya simbol-simbol keagamaan, maka dari pengamatan luar, kekristenan seperti ini mirip dengan dunia luar. Mulai dari potongan rambut, merek baju, dll, orang Kristen jenis ini bebas memilih sebebas orang dunia. Namun hati dan hidup mereka sepenuhnya mengasihi Tuhan, kebebasan mereka hanya dibatasi oleh kasih mereka kepada Tuhan. Jadi mereka tidak akan melakukan hal-hal yang menyakitkan hati Tuhan. Orang-orang seperti ini melepaskan segala belenggu, baik belenggu adiktif (mis. rokok), maupun belenggu keagamaan, seperti larangan ini dan itu. Kasih kepada Allah menjadi tolok ukurnya. Apapun yang baik dan benar mereka mau menjalankannya karena mereka mengasihi Allah bukan karena adanya peraturan.

EKSTRIMITAS KEKRISTENAN KONTEMPORER

Kekristenan kontemporer akhirnya menemukan jebakan-jebakannya. Beralih dari menggeluti simbol-simbol keagamaan yang mereka coba hindari, mereka terjebak menggeluti kecanggihan penampilan mereka. Berapa album yang sudah dikeluarkan, apa merek keyboard yang digunakan, speaker tipe apa yang paling enak suaranya, dst..dst. Tidak heran salah satu konsumen perlengkapan soundsystem yang paling prospektif adalah gereja. Dana yang dihabiskan untuk sound system dan peralatan musik bisa mencapai ratusan juta, bahkan milyaran rupiah. Cobalah anda masuk ke sebuah toko peralatan musik dan sound system dan coba bilang Anda dari "gereja", besar kemungkinan mereka akan langsung melayani Anda dengan semangat. Publikasi dibuat dengan dana besar, masuk koran, radio, tidak lupa dengan iming2 doorprize dan penampilan artis2 bintang tamu yang 'top abis'.

Selain itu beberapa hamba2 Tuhan yang merangkap artis2 kristen menampilkan diri mereka dengan anting2, ada yang mentato tubuhnya. Mereka memanjangkan dan mewarna rambut mereka, tidur dini hari, bangun siang hari, hobinya bermain PStation, dll.

KKR2 yang disertai dengan konser musik diwarnai dengan hingar bingar teriakan penonton kepada artis pujaan mereka. Sehabis konser pastilah artis2 tsb dikerumuni orang-orang yang berdesakan untuk meminta tanda tangan mereka. (Jelek-jelek begini saya pernah dimintai tanda tangan lho....) Kadang-kadang waktu saya di atas panggung hati ini rasanya perih, mencoba menilai apakah mereka sedang bersorak memuji Tuhan atau bersorak karena mengagumi kami. Live concert demi live concert diadakan, direkam dan dikemas begitu rupa, menghasilkan keuntungan penjualan yang luar biasa. Di Amerika"bisnis Kristen" semacam ini menghasilkan keuntungan jutaan dolar pertahun. Artis2 Kristen berebut tempat dengan Britney Spears dan F4 dihati para penggemar yang dengan setia mengkoleksi album2 mereka.

Para artis ini menjadi pengkotbah2 yang sangat dinantikan oleh ribuan anak muda. Beberapa dari mereka tidaklah mengenyam pendidikan teologi formal samasekali. Pengetahuan teologi mereka dapatkan dari buku2, dari kotbah2 yang mereka dengar pada waktu mereka menjadi bintang tamu dan dari pengalaman mereka. Namun mereka juga tidak berkotbah secara teologis karena yang ditekankan adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, sebuah kotbah yang sangat mudah dicerna anak muda. Sering kasih kepada Tuhan digambarkan/disamakan dengan cinta muda-mudi agar mudah dicerna. Jadinya anak muda yang mendapatkan pengajaran ini benar-benar cinta kepada Tuhan seperti pada pacarnya. Pokoknya cinta Tuhan, lakukan apapun yang Tuhan mau, titik.

Sementara itu bentuk-bentuk keagamaan historis betul-betul tidak mendapat tempat dalam kekristenan kontemporer ini. Jangankan melakukan kredo iman, kata 'kredo' saja mungkin mereka tidak pernah mendengarnya. Predestinasi, Armenianisme, Calvinisme, Institutio, Katekismus Heidelberg, dll adalahbarang asing bagi generasi kontemporer ini. Simbol-simbol agamawi sama sekali tidak mendapat tempat dalam ibadah, apalagi dalam kehidupan sehari-hari. Generasi kontemporer ini betul-betul menjauhkan segala bentuk keagamawian dalam kehidupan mereka, bagi mereka simbol tidaklah penting, yang penting adalah hal2 rohani atau kebenaran ilahi yang diwakili oleh simbol2 itu.

Hal-hal keagamaan atau 'keagamawian' dari kekristenan betul-betul dilucuti, sehingga "tinggal Allah saja yang ada". "Oleh pengorbanan Yesus kita telah memperoleh jalan masuk langsung ke hadirat Allah", adalah ungkapan yang sudah tertanam dalam hati, sehingga tidak lagi diperlukan simbol-simbol ataupun liturgi-liturgi yang kaku dan 'kuno' itu. Hati mereka bersukacita dalam kebebasan untuk menikmati hadirat Tuhan tanpa harus menjalani peraturan2 tertentu dalam beribadah. Jadi bukan hal yang asing kalau pemimpin pujian berteriak dari atas panggung: "Yesus kita memang oke bangeet maaan....yessss!". Lagu-lagu seperti: "Hormat bagi Allah Bapa, Hormat bagi AnakNya..." sudah hilang dan diganti dengan: "Kekasihku, ku datang tanpa rasa ragu..." Lagu-lagu dari Kidung Jemaat? Eh, Kidung Jemaat itu apa sih?, itulah yang akan mereka tanyakan. Lagu-lagu live concert dari Hillsong, Hosanna Music atau GMB menjadi kiblat dari gerakan Kristen Kontemporer ini. Eh, sekadar info ya, kalau anda pernah mendengar lagu kristen kontemporer yang sangat terkenal "Sekarang tlah tiba, keslamatan dan kuasa, dan pemrintahan Allah kita....ref. Oleh darah Anak Domba, Oleh kesaksian kita...", nah lagu itu diciptakan waktu sedang beol di WC, boleh percaya boleh tidak.

Anak-anak muda betul-betul mendapatkan sebuah 'agama alternatif' yang betul-betul cocok dengan jiwa mereka. Malah sekarang sudah mulai berkembang gerakan 'home churches'/gereja rumah. Pada dasarnya gerakan ini berkata begini: "Kalau aspirasi kalian (anak muda) tidak bisa ditampung dengan baik di gerejamu, kalian buatlah gereja sendiri, gereja rumah. Jumlah jemaat tidak perlu banyak. Dengan demikian setiap kalian akan bisa melatih diri dan berkembang menjadi pemimpin2 rohani." Beberapa waktu lalu di Surabaya diadakan semacam 'sekolah Teologi kilat' selama lima hari penuh. Materi yang diajarkan? Menggali dan mengembangkan karunia lima jawatan pelayanan. Tujuannya? Memperlengkapi anak muda agar bisa berfungsi dalam lima karunia itu, sehingga mereka masing-masing bisa bertumbuh di gereja rumah masing-masing. Ada sebuah gereja rumah di Surabaya yang gembalanya saya kenal. Jemaatnya hanya sekitar 15 orang, setiap Minggu mereka berkumpul di rumah salah seorang dari mereka, "memecahkan roti" alias makan sama-sama, saling sharing Firman lalu kemudian pergi jalan2, berusaha semirip mungkin dengan jemaat PB yang memang beribadah di rumah2.

- bersambung -

No comments: