Wednesday, July 31, 2013

Turning the Tide of Risky Teen Behavior

Sebuah tulisan yang perlu dicermati oleh para pelayan kaum muda, ditulis oleh seorang youth pastor

AL
---------------------
Turning the Tide of Risky Teen Behavior
by Saleem Ghubril

Masyarakat kami di Pittsburgh sebetulnya adalah masyarakat yang tenang, dengan orang-orang baik yang hidup di dalamnya, dan oleh anugerah Tuhan, kami memiliki masa depan yang penuh harapan. Tapi oleh rasisme, kemiskinan, dan tekanan selama bertahun-tahun, kebusukan akhirnya masuk dan mencengkeram seluruh komunitas kami. Hasilnya adalah kekerasan di jalanan, perang antar gang, obat bius, pelacuran dan banyak lagi. Individu-individu dan keluarga-keluarga kehilangan kemampuan untuk mengasihi orang lain. Sebagai hasilnya, banyak anak-anak muda mendidik diri mereka sendiri, mengambil keputusan untuk diri sendiri yang sebenarnya belum waktunya mereka lakukan. Dan seringkali mereka mengambil keputusan yang buruk.

Tapi ada seorang pemuda – saya memanggil dia Kevin – memiliki masa depan yang sangat baik. Saya sangat memperhatikan dia dan menyediakan waktu setiap hari Sabtu untuk bisa memuridkan dia secara pribadi. Dia memiliki potensi kepemimpinan yang besar dan berwajah rupawan, walaupun hidupnya penuh tragedi: ayahnya dibunuh, beberapa pamannya dipenjarakan, dan sepupunya bunuh diri dengan melompat dari loteng karena halusinasi akibat obat bius. Tapi sayangnya, walaupun potensinya begitu besar, Kevin akhirnya terjerumus dalam kegiatan negatif gangnya. Pada suatu hari Sabtu dimana kami tidak bisa bertemu (karena saya melayani di sebuah retreat), Kevin terlibat dalam tawuran antar gang dan kehilangan nyawanya.

Empat hari kemudian, saya memakamkan dia.

Mengapa beberapa anak muda mudah sekali terjerumus dalam perilaku beresiko tinggi, sementara anak-anak lain bisa bertahan dari jebakan itu? Bahkan setelah memutuskan untuk mengikut Yesus, mengapa banyak anak muda masih bisa bermabuk-mabukan, kecanduan obat terlarang, hamil di luar nikah, dan bahkan terbunuh? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan membingungkan yang harus dihadapi oleh setiap pelayan kaum muda.

Meskipun pekerjaan saya membuat saya bisa berjumpa dengan ribuan anak muda yang terlibat dalam pelayanan, dan melihat sendiri ratusan anak yang membuat pengakuan iman, hanya sejumlah kecil dari mereka yang benar-benar diubahkan secara nyata dengan melihat kualitas hubungan, perilaku dan penampilan mereka. Oleh karena itu, bertahun-tahun saya bergumul dalam keprihatinan melihat pilihan-pilihan yang dibuat anak-anak ini dan “tidak nyambung”nya kepercayaan mereka dan gaya hidup mereka. Bertahun-tahun saya berjuang menghadapi kehamilan remaja, penggunaan narkoba, keterlibatan dalam gang, gagal dalam sekolah, dan bertahun-tahun juga saya kalah dalam perjuangan itu.
Anak-anak muda datang pada Yesus dan mau mengikuti pelajaran Alkitab, tapi mereka tetap saja terjebak dalam cengkraman perilaku yang destruktif. Sampai saya akhirnya harus memilih antara dua kesimpulan: Entah Injil telah kehilangan kekuatan untuk mengubahkan kehidupan, atau saya yang kehilangan suatu elemen penting untuk menghubungkan injil dengan kehidupan nyata para kaum muda.

Saya rindu—dan masih tetap rindu—agar mereka bisa bertumbuh seperti Yesus, dalam hikmat, dalam perawakan, dalam kasih Allah dan manusia. Tapi bagaimana?

Pendekatan Holistik
Pola pandang Kristen memanggil kita untuk dapat menerapkan karya penebusan Kristus dalam segala segi kehidupan: keluarga, sekolah, masyarakat, gereja, uang, hobi, dll. Tapi pandangan Kristen tidak mengajarkan kita untuk memisah-misahkan segi kehidupan tsb, dari mana yang paling penting atau kurang penting bagi Kristus. Tapi karena Kristus adalah Tuhan atas seluruh hidup kita, kita harus mencari seluruh sumber yang ada untuk memperlengkapi anak-anak muda untuk menyerahkan seluruh aspek kehidupan mereka kepada keTuhanan Kristus—dan untuk mewujudkan komitmen mereka dalam hidup yang diubahkan.

Modal untuk bertumbuh
Salah satu sumber tersebut adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Search Institute (Minneapolis). Penelitian ini mensurvey 250 ribu remaja Amerika dari berbagai budaya, etnik, tingkat sosial, ekonomi dan latar belakang untuk mempelajari siapa yang terlibat atau tidak terlibat dalam perilaku beresiko—dan untuk meneliti apakah ada perbedaan latar belakang mendasar yang kelihatan dalam kedua jenis kelompok tersebut. Penelitian ini mendefinisikan “perilaku negatif/beresiko” dengan cukup lengkap, termasuk di dalamnya: merokok, minum minuman keras, penggunaan narkoba, aktifitas seksual, kekerasan antar sesama, kekerasan terhadap diri sendiri, dropout dari sekolah dan kebut-kebutan. Penelitian ini juga sedapat mungkin mempelajari dan memasukkan unsur kepribadian, keluarga dan latar belakang sosial setiap anak.


Penelitian tersebut menemukan 40 hal dasar yang ada dalam kehidupan anak muda yang dapat menolak gaya hidup beresiko, dimana ke 40 hal tsb tidak ditemukan dalam kehidupan mereka yang sering terjerumus ke dalam hal-hal beresiko. Hal-hal tersebut disebut sebagai “modal”. Juga ditemukan adanya hubungan langsung antara jumlah modal yang dimiliki dengan kecenderungan para pemuda untuk terlibat dalam perilaku negatif. Kalau modalnya meningkat, perilaku negatif berkurang, dan sebaliknya. Pada umumnya anak-anak yang dapat menahan dirinya memiliki sebagian besar dari 40 modal tersebut.

Beberapa dari modal tersebut adalah:
-     Kasih dan dukungan dari keluarga
-     Komunikasi positif dalam keluarga
-     Batasan-batasan, peraturan-peraturan dan disiplin dalam keluarga
-     Keterlibatan orang tua dalam masalah sekolah
-     Hubungan penuh perhatian dari orang yang lebih dewasa
-     Keteladanan dari seorang dewasa dalam perilaku sosial
-     Keteladanan dari teman-teman yang bertanggungjawab
-     Keterlibatan rutin dalam kegiatan rohani
-     Keterlibatan rutin dalam kegiatan positif
-     Keterlibatan rutin dalam pelayanan masyarakat
-     Keterlibatan rutin dalam seni
-     Sekolah yang mengajarkan disiplin dan batasan perilaku
-     Membuat PR paling tidak satu jam setiap hari
-     Membaca paling sedikit tiga jam dalam seminggu
-     Sangat menghargai tindakan menolong orang lain
-     Sangat menghargai keadilan sosial
-     Memegang kepercayaan dengan teguh
-     Berani berkata benar meskipun ada resikonya
-     Membangun persahabatan lintas budaya
-     Memiliki pandangan positif tentang masa depan

Sebenarnya tidak ada yang luar biasa dari hasil penelitian tersebut di atas. Lembaga tersebut telah mendokumentasikan secara empiris apa yang telah kita ketahui sejak lama: anak-anak membutuhkan orang tua, orang dewasa lain, teman, sekolah, gereja dan lingkungan sekitar untuk dapat bertumbuh menjadi seorang yang utuh, sehat, bertanggung jawab dan berhasil. Tapi walaupun demikian, penemuan ini menyalakan sesuatu dalam pikiran saya. Saya melihat bahwa fokus beban saya untuk anak-anak muda tersebut selama ini mungkin keliru. Saya melihat bahwa fokus saya seharusnya adalah bagaimana membangun secara strategis setiap asset tersebut di atas dalam kehidupan anak-anak muda yang saya bimbing—agar mereka lebih mudah bertahan menghadapi godaan dari gaya hidup yang keliru. Dengan kata lain, saya harus menyerang pokok permasalahannya, bukan gejalanya.

Saya berpendapat bahwa kita pelayan kaum muda harus menimbang kembali peran kita dalam kehidupan anak muda yang kita layani. Biasanya kita memandang diri kita sebagai orang dewasa penuh perhatian—yang melalui proses membangun hubungan yang sehat—membuat anak-anak muda bertumbuh dalam pemuridan. Kita menjalankan program, mengadakan acara-acara, membuat bahan pelajaran, dan menunjukkan teladan iman Kristen pada anak-anak kita. Dengan melakukan ini, kita memenuhi Amanat Agung, dan memberikan sebagian modal dasar yang dijabarkan oleh Search Institute. Bentuk pelayanan pemuda semacam ini, yang sudah digunakan selama lebih dari setengah abad, masih tetap sangat penting dan efektif. Tetapi, meskipun demikian, saya mengusulkan perlunya sedikit pergeseran dari fokus kita selama ini.

Cara yang Baru
Sebagian besar peneliti perkembangan anak dan remaja setuju bahwa anak-anak jaman sekarang jauh lebih terekspos oleh informasi dan pengalaman-pengalaman yang dulunya hanya bisa didapatkan oleh orang dewasa—dan pada saat yang sama jauh lebih tidak terlindungi oleh orang tua dan masyarakat sekitar mereka. Dengan kata lain, mereka menghadapi masalah ganda. Banyak hal-hal mendasar yang diperlukan, hilang dalam kehidupan mereka.


Sesungguhnya pola tradisional pelayanan pemuda telah menggantikan beberapa elemen dasar ini, misalnya: adanya seorang kakak rohani yang memperkenalkan Yesus dan bagaimana bertumbuh dalam Dia. Saya tidak akan pernah meremehkan pentingnya hal ini. Tapi karena banyaknya asset yang hilang dalam kehidupan anak jaman sekarang, kita harus lebih strategis dan teliti untuk membantu mereka mendapatkan kembali semua asset yang diperlukan untuk hidup yang bijaksana, menghindari perilaku destruktif, dan membangun gaya hidup yang sehat.

Inilah cara saya sekarang melihat peran dari seorang pelayan pemuda: Seorang konduktor yang memimpin sebuah simponi orkestra yang terdiri dari orang-orang, pelayanan-pelayanan, dan program-program di sekitar kehidupan murid-murid mereka. Saya tidak menuntut bahwa seorang pelayan pemuda harus menjadi pakar orang tua, pendidikan, konseling, seni, motivasi, pembelajaran, komunikasi, manajemen waktu, dsb. Tapi saya berharap bahwa kita bisa menemukan orang-orang yang tepat yang ahli dalam hal-hal tersebut dalam masyarakat kita, dan membangun jembatan antara mereka dengan anak-anak kita. Karena anak-anak kita saat ini lebih terbuka dan rawan, saya percaya bahwa kita bertanggung jawab untuk membangun kembali tembok-tembok perlindungan untuk menjaga mereka, dan pada saat yang sama meruntuhkan tembok-tembok pemisah dan kekerasan di antara mereka.

Saya juga berpendapat bahwa kita harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan baru untuk mengevaluasi pelayanan kita. Sebagai contoh, pada waktu anak-anak sedang bersama dengan kita, apakah mereka:
-     mengalami kasih dan dukungan dari orang tua mereka, bersamaan dengan batasan-batasan  yang jelas, disipin, komunikasi positif dan keterlibatan orang tua di sekolah?
-     Memiliki hubungan dengan beberapa orang dewasa lain yang memperhatikan mereka, yang bisa dijadikan teladan dalam perilaku dan mendorong mereka untuk melakukan yang terbaik?
-     Terlibat secara ajeg dalam aktifitas yang sehat dan positif, dalam pelayanan kemasyarakatan, seni, dan aktifitas ekstrakurikuler?
-     Menikmati seluruh proses pendidikan di sekolah mereka, mengerjakan tugas mereka dan memiliki hobi membaca?
-     Memilih teman secara bijak, bergaul dengan teman-teman yang baik, dan memiliki teman-teman yang berbeda budaya/ras?
-     Membangun citra diri dan harapan masa depan yang cerah bagi diri mereka, membuat keputusan-keputusan yang bijak, merasa aman di rumah, sekolah dan masyarakat?
-     Menerapkan iman dalam kehidupan sehari-hari, mengendalikan diri, bertanggung jawab atas perilaku mereka, dan peduli dengan orang lain?

Anak-anak yang melakukan hal-hal tersebut di atas sangat kecil kemungkinannya terlibat dalam perilaku yang negatif.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membentuk dasar dari sebuah siklus program Pelayanan Pemuda. Saya percaya juga bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi sebuah tolok ukur yang membantu kita dalam menetapkan sasaran dalam membantu anak-anak muda membangun modal yang diperlukan dalam kehidupan mereka.


Berasal dari Beirut, Saleem Ghubril bersama keluarganya pindah ke Amerika tahun 1976 karena negaranya mengalami peperangan. Dia telah berada di pelayanan pemuda selama lebih dari tigapuluh tahun, dan telah melayani sejak 1985 sebagai direktur eksekutif Pittsburgh Project – sebuah pelayanan pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pemulihan kota dengan cara memulihkan komunitas lokal, memberdayakan masyarakatnya, mengembangkan pemimpin masa depan, melayani kaum miskin dan membangun Kerajaan Allah.

No comments: