Thursday, November 08, 2012

Memelihara Cinta


"Kamu tidak tahu apa-apa, Gus, jadi nggak usah ikut campur..."

Kata-kata itu menggelegar, dan setelah itu ruanganpun jadi hening. Sejuknya AC di ruangan tsb jelas tidak mampu mendinginkan suasana hati yang sedang panas saat itu. Saya sedang berhadapan dengan sepasang suami istri, si suami duduk terpekur di sebuah sofa sebelah kiri saya, sementara si istri duduk tepat di hadapan saya, di balik sebuah meja kerja yang cukup besar. Dan semprotan itu datang dari si istri.

Dalam hati sebenarnya saya ngomel2, "...buset dah..., niat mau nolong, malah kena semprot..." Suami istri yang saya temui ini sedang mengalami konflik besar, dan si suami -yang adalah salah seorang teman saya- meminta saya untuk membantunya menyelesaikan masalah di antara mereka. Beberapa waktu sebelum itu, si suami menceritakan masalah yang mereka hadapi, dan meminta saya untuk datang ke kantornya untuk berbicara dengan istrinya. Dan meskipun agak enggan, sayapun menyetujui. Sebagai akibatnya, belum sempat tanya2 dan berbicara banyak, saya udah 'dibungkam' oleh istrinya :-).

Singkatnya, rumahtangga mereka akhirnya benar-benar hancur berantakan. Beberapa hari setelah pertemuan tsb, si istri kabur dengan membawa seluruh surat berharga, sebuah mobil, simpanan emas, dll. Sang suami ditinggalkan dengan dua orang anak. Si istri bahkan tidak merasa perlu untuk mengurus masalah hak asuh anak2 mereka, ia menghilang begitu saja tanpa memberi kabar. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu, disusul dengan ribuan kehancuran rumah tangga lainnya yang terjadi setelah itu di seluruh dunia.

Itu kisah pertama, sekarang kisah ke dua...

Saya ada dibalik kamera. Saat itu adalah saat pemotretan pasangan suami istri untuk kepentingan sebuah acara, dimana saya menjadi panitia bagian dokumentasi. Setiap pasangan yang hadir diminta untuk berfoto dulu sebelum mengikuti acara. Saya sebagai fotografer kemudian meminta mereka membuat sebuah pose mesra, dan...jepret... Mestinya memang tidak sulit bagi sepasang suami istri untuk dipotret dengan pose mesra.

Tapi kali ini ada sedikit perbedaan. Pasangan dihadapan saya terlihat kesulitan untuk berpose. Mereka berputar-putar satu sama lain, mencari pose yang tepat untuk saling memeluk, dan berakhir pada si suami yang 'menjepit' istrinya dalam sebuah pose berpelukan yang canggung banget. Setelah pemotretan selesai, si istri berlalu di sebelah saya, sambil nyeletuk, "wong gak pernah dipeluk..." Rupanya suami istri ini benar2 tidak tahu bagaimana memeluk satu sama lain. Saya lihat mereka cukup berumur, berarti mungkin sudah puluhan tahun mereka menikah tanpa pernah memeluk satu sama lain. Dan saya menjumpai bahwa tidak hanya pasangan ini yang sudah kehilangan 'sentuhan cinta' mereka.

Saya hanya berpikir, "Apa yang terjadi dengan cinta yang mereka miliki sebelum menikah?" Apakah mereka menikah karena terpaksa? Saya pikir tidak, karena ini bukan jaman orang menikah dengan paksaan orang lain. Alkitab mengatakan "karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!"[Kid 8:6], tapi sekuat apapun cinta, ia dapat mati jika tidak dipelihara dengan benar. Anak-anak muda yang saat ini sedang berpacaran, atau para pengantin baru, apakah mereka pernah berpikir kobaran cinta yang seperti "nyala api Tuhan" tersebut dapat menjadi sedingin es dan gairah dapat membeku seperti mayat?

Lepas dari masalah-masalah eksternal yang mungkin terjadi dalam setiap rumah tangga, akar masalah sebenarnya adalah kerapuhan hubungan, akibat cinta sejati yang tak terpelihara. Jika hubungan suami istri dipelihara dengan baik, maka badai apapun tidak akan menenggelamkan bahtera rumah tangga, karena bagaimanapun, Tuhan sendiri berpihak pada kita. Sayangnya, saya mengamati bahwa tidak banyak pasangan suami istri yang tahu bagaimana harus memelihara dan merawat cinta mereka terhadap satu sama lain. Pada waktu pacaran, orang cenderung berpikir bahwa cinta yang mereka rasakan akan bertahan selamanya, "dengan sendirinya". Cinta memang kekal, tapi tidak "dengan sendirinya". Itu sebabnya saya menentang orang yang berpacaran secara 'mengalir' dan membiarkan diri dihanyutkan oleh cinta. Pada saat berkobar, memang cinta itu terasa begitu kuat, indah dan 'selamanya', tapi itu baru permukaannya. Cinta sejati bertumbuh lambat, setahap demi setahap, dan akan mati jika tidak dipelihara dengan penuh tanggungjawab. Menghanyutkan diri dalam cinta, adalah sebuah tindakan tidak bertanggung jawab, yang membuat seseorang justru tidak sadar bahwa ia sebenarnya sedang melalaikan cinta sejatinya.

Memelihara cinta memerlukan usaha, dan usaha yang keras! Gairan seks dan nafsu bisa timbul dan tumbuh cepat seperti jamur dan rumput liar, tapi cinta sejati tidak. Setelah pernikahan, kehidupan akan berlalu dengan berbagai macam urusan, mulai dari karier, tempat tinggal, keuangan, anak, dan seabrek tanggung jawab untuk memenuhi segala jenis kebutuhan. Dan tanpa disadari, cinta sejati tidak mendapat tempat dan perhatian. Suami istri makin menjauh, keintiman hilang, kekecewaan demi kekecewaan mulai masuk dan meracuni cinta yang sebenarnya sudah sekarat. Hubungan seks mungkin masih dilakukan, tapi hanya demi pelampiasan nafsu dan kepuasan salah satu pihak. Hubungan yang awalnya begitu indah, akhirnya berakhir dengan begitu menyakitkan.

Dalam pernikahan saya sendiri, saya belajar terus untuk memelihara cinta dengan prinsip-prinsip yang saya pelajari dari kitab Roma 12:9-12. Meksipun konteks aslinya berbicara tentang kasih terhadap saudara seiman, saya melihat bahwa prinsip dasarnya juga sangat sesuai untuk cinta suami istri:

"Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!"

1. Hendaklah kasih itu jangan pura-pura
Cinta sejati tidak boleh mengandung kepalsuan. Kata "jangan pura-pura" yang digunakan memiliki makna "tidak munafik". Cinta sejati tumbuh dalam ke'asli'an masing-masing pribadi suami istri. Tanpa kita sadari, seringkali suami istri saling mencintai dengan 'pura-pura', yaitu hanya mencintai kalau pasangan bersikap baik dan menyenangkan. Begitu konflik demi konflik terjadi, cinta yang 'pura-pura' ini akan segera luntur. Orang yang berpura-pura, tidak akan pernah tahan pada saat ia harus berhadapan dengan kesulitan. Cinta yang abadi akan bertahan dan justru bertambah dewasa melalui konflik & kesakitan.

2. Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik
Betapa prinsip ini telah berulang kali menyelamatkan pernikahan saya. Cinta tidak memberi jalan bagi kita untuk melakukan yang jahat pada pasangan. Pada saat konflik menjadi sangat tajam, saat emosi sudah memuncak, selalu ada keinginan untuk membalas & menyakiti pasangan, baik dengan perkataan maupun dengan tindakan. Inilah tantangan sesungguhnya dari "cinta yang tidak berpura-pura". Saat pasangan menyakiti kita dalam pertengkaran, disitulah kasih yang tidak pura-pura dituntut dari kita, dimana respon kita akan menunjukkan keaslian cinta kita kepadanya. Kasih yang sejati harus mengendalikan seluruh respon emosional kita, hanya mengijinkan kita untuk melakukan apa yang baik dan seharusnya bahkan dalam titik kemarahan yang memuncak.

3. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara [suami istri] dan saling mendahului dalam memberi hormat [menyatakan cinta].
(Untuk menyesuaikan konteks, saya memberanikan diri untuk 'mengubah' beberapa kata dari ayat di atas.)
Prinsip saling mengasihi yang benar adalah saling mendahului untuk menyatakan cinta. Sering sekali saya mendengar suami istri yang saling menuntut, saling adu kekuatan, agar masing-masing pihak mendapatkan apa yang mereka inginkan terlebih dahulu. Suami menuntut istri untuk menghormati dia, baru si istri layak untuk dicintai. Istri menuntut suami untuk mencintai dia terlebih dahulu, baru layak untuk dihormati. Dengan posisi adu kuat seperti ini, hasil akhirnya adalah kelelahan dan cinta yang mengering dan hambar. Kasih yang tidak pura-pura menuntut kita untuk mendahului dalam menyatakan cinta dan hormat kita pada pasangan. Ada saat dimana pasangan kita sepertinya menjadi pihak yang terlalu menuntut, saat-saat itulah kita perlu belajar untuk 'mendahului' pasangan kita dalam menyatakan cinta kita. Cinta yang proaktif semacam itu selalu akan berhasil mencapai tujuannya.

4. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. (sekali lagi saya akan menyesuaikan konteks ayat ini untuk hubungan suami istri)
Mudah sekali kita kehilangan kerajinan/ketekunan dalam mencintai pasangan, khususnya setelah beberapa konflik tajam yang berlarut-larut. Tanpa ketekunan, cinta tidak akan bertahan. Ketekunan dalam cinta adalah sebuah tekad/kemampuan untuk bertahan dalam mencintai pasangan kita, walaupun pada saat-saat tertentu sepertinya cinta itu sudah tak dapat kita rasakan lagi. Tidak hanya itu, ayat di atas menyatakan agar "rohmu menyala-nyala". Ketekunan dapat kita jalankan dengan sikap tanpa harapan, tanpa gairah, hanya demi ketaatan mati terhadap Firman Tuhan. Tapi bukan itu yang dikehendaki Tuhan. Cinta haruslah tetap berkobar. Tanpa nyala api ini, tekun untuk mencintai seseorang akan menjadi tugas yang sangat berat, bahkan kejam. "Layanilah Tuhan" adalah sebuah peringatan bahwa semua yang kita lakukan sebenarnya adalah untuk melayani Tuhan. Setiap perlakuan benar yang kita berikan pada pasangan kita, adalah sebuah bentuk ketaatan terhadap Tuhan yang kita layani.

5. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
Pengharapan harus selalu dijaga dalam pernikahan. Tanpa pengharapan, bagaimana cinta dapat bertahan? Saat Tuhan mempersatukan dua orang dalam ikatan pernikahan, Dia selalu mau terlibat untuk membawa pernikahan tersebut dalam tujuan puncaknya, yaitu menyatakan kemuliaan-Nya. Itu sebabnya setiap pernikahan Kristen selalu akan memiliki harapan, dan harapan yang terpelihara akan mendatangkan sukacita. Keputusasaan adalah dosa, karena keputusasaan mengusir Allah dari tempat-Nya dalam hidup kita. Jika kita memiliki Allah yang Maha Kuasa, bagaimana kita bisa bahkan 'berani' untuk menghilangkan harapan kita? Namun dalam pengharapan sebesar apapun, kesesakan selalu akan kita alami sesekali, dan dalam saat-saat sesak tidak ada kekuatan yang lebih besar dari kesabaran. Alkitab memberi kita kisah-kisah dimana kesabaran membawa pada keberhasilan yang luar biasa. Amsal 16:32 mengajarkan: "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." Dan nasihat terakhir: bertekun dalam doa, sebuah resep yang tidak pernah gagal untuk mendatangkan hasil yang terbaik dalam kasus apapun. Yesus sendiri mengajar setiap kita agar tidak menyerah dalam doa-doa kita.

Akhirnya, cinta yang dipelihara dengan baik akan mendatangkan hasil yang sangat indah, berkat yang bahkan dapat dinikmati sampai ke anak cucu. Memelihara cinta memerlukan waktu, tapi cinta yang dipelihara akan memberikan hasil melampaui waktu-waktu pemeliharaannya. Selamat memelihara cinta!

Thursday, September 29, 2011

Lelah Menyembah

"Engkau Bapa yang baik bagiku..."
"Dia selalu punya cara untuk menolongku..."
"MujizatNya pasti disediakan bagiku..."
"Tiada yang mustahil bagiMu dan bagiku..."

Beberapa hari ini saya sengaja mendengarkan salah satu stasiun radio Kristen di Surabaya, yang siarannya sebagian besar berupa lagu-lagu rohani. Setiap hari Selasa-Jumat, saya harus mengantar anak-anak saya ke sekolah, setelah itu barulah saya datang di kantor tempat saya bekerja. Perjalanan tersebut biasanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Lalu pada sore harinya terkadang saya harus mengulangi rute tersebut: kantor - sekolah - rumah, menghabiskan bahkan lebih dari satu jam, karena harus menghadapi kemacetan sore hari. Selama waktu-waktu itulah, saya menyetel radio saya pada stasiun radio tersebut. "Sekalian bisa tahu perkembangan lagu-lagu rohani terbaru saat ini", begitu pikir saya.

Entah mengapa, makin lama saya mendengar lagu-lagu pujian penyembahan yang diputar di radio tersebut, bukannya disegarkan saya justru merasa makin jemu dan lelah. Jelas bukan radionya yang salah, mereka hanya memutarkan lagu-lagu rohani yang mungkin dianggap enak didengar, banyak terjual, dinyanyikan oleh artis-artis kristen yang sudah populer. Ditinjau dari susunan melodi, rata-rata lagu tersebut cukup enak di dengar, dicipta dan diaransemen dengan baik. Kalaupun saya mencermati liriknya, semestinya tidak ada sesuatu yang salah. Sebagian besar, kalau tidak bisa dibilang semua lagu yang saya dengar memiliki tema tentang kebaikan Tuhan, mujizat Tuhan, hadirat Tuhan, berkat Tuhan, dst. Dan semua itu memang sesuatu yang sudah selayaknya dialami oleh orang Kristen.

Lalu apa yang salah? Mengapa saya bukannya disegarkan tapi justru malah dilelahkan? Terpikir oleh saya, mungkin saya yang lagi nggak beres. Mungkin saja jauh lebih banyak orang yang disegarkan dan dikuatkan oleh lagu-lagu tersebut. Saya harus akui, bahwa mungkin saja memang saya yang salah menilai. Tapi saya tidak mau membohongi diri sendiri: ada sesuatu dalam lagu-lagu tersebut yang membuat saya jenuh, bahkan muak.

Setelah saya merenung-renung, akhirnya saya menemukan beberapa penyebab mengapa saya lelah dengan semua melodi & lirik yang mestinya begitu indah:

1. Semua lagu tersebut berpusat pada apa yang Tuhan lakukan untuk AKU.
Semua lirik peninggian & pujian kepada Tuhan, semuanya terhubung pada apa yang telah kita terima dari Dia. Tuhan dahsyat karena Ia telah berbuat ini dan itu UNTUKKU. Tuhan baik karena Ia telah menyediakan KEBUTUHANKU. Tuhan melakukan mujizatNya BAGIKU. Untukku...bagiku...demi aku... seolah-olah, tanpa keterlibatan tokoh "aku" tidak ada yang perlu dinyanyikan tentang kedahsyatan, kebaikan dan keajaiban Tuhan. Dimanakah lagu-lagu yang murni berkisah tentang keagungan Tuhan tanpa embel-embel "untuk aku" di dalamnya? Kitab amsal menyatakan dengan tajam:  "Si lintah mempunyai dua anak perempuan: "Untukku!" dan "Untukku!"" (Ams 30:15). Rupanya nyanyian si lintah itulah yang saya dengar dibalik lirik-lirik indah tersebut. Saya terkenang dengan lagu-lagu jadul, yang meskipun melodinya tidak seindah lagu jaman sekarang, tapi liriknya bergema dengan pengagungan tentang Allah, tanpa melibatkan "aku" sedikitpun.
   
    Biar seluruh bumi, nyanyikan kebesaran-Mu
    Biar yang bernafas memuji namaMu
    Engkau layak, layak trima pujian
    Kuduslah Kau Tuhan

Atau sebuah lagu jadul lain lagi:

    Terpujilah nama Tuhan, Dia yang layak menerima pujian
    Bersehati kita mengangkat tangan
    Nyanyi pujilah Tuhan, pujilah Tuhan
    Puji dan sembah nama-Nya

       Layak, Engkau layak                           ) 2x
       Kau Raja, Kau Tuhan, Engkau layak  )

Mungkin bagi orang Kristen jaman sekarang, lirik2 lagu di atas, tidak "menyentuh", karena tidak berbicara tentang "untukku". Mungkin album yang berisi lagu-lagu semacam di atas tidak bakal laku, karena tidak berkenaan dengan 'kebutuhanku', 'pergumulanku', 'masalahku', 'perasaanku'. Saya tidak tahu pasti. Itu hanya dugaan saja, mengingat begitu berlimpahnya album2 rohani dari para 'pemuji dan penyembah' dari berbagai latar belakang gereja, namun begitu sedikit lagu yang benar-benar mengagungkan Tuhan tanpa "aku" di dalamnya.

2. Keintiman yang dieksploitasi habis-habisan
Mari kita membayangkan sebuah film, yang 90% isinya menyajikan keintiman antara dua pribadi yang saling mencintai. Tidak ada alur cerita yang jelas atau pesan yang jelas, film tersebut hanya menampilkan keintiman antar dua orang saja. Kalau ada film seperti itu, jika ia tidak masuk kategori film porno, film tersebut pastilah sangat membosankan. Itulah yang terjadi dalam industri musik rohani sekarang, khususnya di Indonesia.

Keintiman dengan Tuhan jelas tidak salah, juga tidak masalah untuk sesekali dituangkan dalam sebuah lagu. Namun keintiman dengan Tuhan seharusnya lebih bersifat pribadi, dan sebenarnya bukan untuk disajikan sebagai konsumsi publik. Yang namanya "keintiman" jelas bukan untuk dieksploitasi, apalagi untuk dijual. Film-film jaman sekarang menggunakan/menyajikan adegan intim sebagai bumbu penyedap, sebagai pemancing respon emosional atau seksual. Hampir sama dengan film, lagu-lagu tentang keintiman, dapat membangkitkan respon emosional pada pendengarnya, menimbulkan keinginan pada pendengar untuk turut merasakan keintiman yang dinyanyikan.

Harap jangan salah sangka, saya tidak sedang berbicara tentang kemesuman. Saya berbicara tentang keintiman yang sah, antar suami istri, dan antar Tuhan dengan umat-Nya. Tapi keintiman yang sah, bagaimanapun juga akan menjadi sebuah hal yang memuakkan jika dieksploitasi secara berlebihan dalam sebuah film ataupun lagu. Itu yang saya rasakan pada saat mendengar lagu2 rohani, yang semuanya bercerita tentang keintiman dengan Tuhan. Kosa kata dan kalimat yang digunakan untuk menggambarkan keintiman selalu itu2 saja, menunjukkan bahwa keintiman tersebut tidaklah benar-benar dialami, tapi memang dibuat-buat agar lagu tersebut laku dijual.

Mungkin saya harus minta maaf pada para pencipta lagu rohani. Tapi saya berani bertaruh, jika seseorang benar-benar mengalami keintiman yang luarbiasa dengan Tuhan, lagu-lagu yang diciptakannya akan kehilangan kata "untukku" di dalamnya. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan akan selalu melumatkan diri kita, seperti jerami dalam api. Dalam hadirat Tuhan yang begitu kuat, kita bahkan tidak akan menyadari lagi kebutuhan kita, keinginan kita, pergumulan kita. Semua tentang kita menjadi tidak berarti, menjadi kabur, ditenggelamkan oleh hadirat Tuhan yang begitu mulia. Seperti lirik lagu ini:
   
    Bila kupandang kemuliaan-Mu
    Bila kurenungkan keagungan-Mu
    Bila sekelilingku jadi pudar, karena terang-Mu
       Kusembah Kau, Kusembah Kau        ) 2x
       Tujuan hidupku, untuk sembah Kau  )

Oh betapa saya merindukan adanya lagu-lagu baru yang lahir dari jiwa yang benar-benar terbakar oleh hadirat Tuhan, lagu yang sepenuhnya bercerita tentang kemuliaan dan kedahsyatan Allah, begitu penuh kekaguman, tidak lagi punya tempat "untukku". Lirik-lirik yang benar-benar diilhami oleh Roh Kudus, tidak hanya menyentuh emosi saja, tapi berkuasa untuk mengubah jalan hidup orang. Lagu-lagu semacam itu, tidak akan pernah gagal untuk selalu menyegarkan jiwa pendengarnya.

Semoga Tuhan membangkitkan para pemuji dan penyembah yang sebenarnya.

Tuesday, September 20, 2011

Powerpoint Kotbah: Mematikan Hawa Nafsu

Berikut presentasi powerpoint khotbah tgl 18 Sept 2011 di MDC Putat. Saya buat dalam format PDF. Klik judul di atas utk download.

Saturday, July 02, 2011

‘Innocent Lust’ – Romantika ala film Korea

Sudah cukup lama saya terheran-heran mengapa kok banyak sekali anak muda, khususnya cewek, yang suka banget nonton film korea. Konon film Korea yang berseri bisa mencapai ratusan episode, dan mereka bisa menontonnya secara maraton, menghabiskan waktu berhari-hari. Bahkan ada orang-orang yang menciptakan sebuah nama Korea untuk dirinya, menggunakan sapaan bahasa Korea di facebook, membeli baju, asesoris, dll yang bernuansa Korea. Padahal dilihat dari sudut pandang sinematografi (saya sempat melihat sekilas2 film Korea yang diputar di stasiun TV nasional) gak jauh beda dengan model sinetron Indonesia yang lighting dan anglenya begitu-begitu aja.

Saya kemudian merasa bahwa pasti ada sesuatu yang ‘mengikat’ dalam film-film Korea ini, sesuatu yang membuat penontonnya begitu fanatik. Sekilas saya melihat bahwa hampir semua film Korea yang beredar mengusung drama percintaan sebagai tema sentral. Nampaknya ada sesuatu yang berbeda dalam penyajian drama percintaan ala film Korea, jika dibandingkan dengan film dari negara lain.

Dan akhirnya saya berkesempatan untuk menonton sebuah film Korea dari awal sampai akhir secara tidak sengaja. Ceritanya waktu itu saya pergi ke bioskop, dan secara acak memilih film yang kelihatannya bagus “The Sword with No Name”. Saya suka film silat dengan latar belakang kerajaan jaman kuno. Di awal film, baru tahu kalau itu bukan film silat Hongkong, tapi film Korea. Dengan berjalannya waktu baru tahu juga kalau itu sebenarnya film drama percintaan, bukan film silat… walah… Tapi dari film itu akhirnya saya mengetahui apa yang menjadikan film Korea begitu menarik bagi banyak anak muda. Tidak hanya itu, saya juga berkesempatan melihat sebuah iklan tentang pariwisata Korea di sebuah channel TV satelit, dan iklan itu mengusung tema percintaan ala Korea sebagai latar belakang iklan. Dan baru kemarin, pas saya makan siang di sebuah depot, saya sempat melihat sebuah fragmen sinetron Korea di TV selama sekian puluh menit. Dari tiga “perjumpaan” ini, saya mulai menangkap adanya satu persamaan, yang membuat anak-anak muda tergila-gila.

Ada satu hal yang membuat film romans Korea berbeda: keluguan (innocence) dari para tokohnya. Berbeda dengan tokoh Bella Swan atau Edward Cullen di film Twilight yang masing-masing memiliki sisi gelap, tokoh2 (cewek) dalam kisah romantika ala Korea ditampilkan dengan begitu lugu, tidak berdosa, tidak berpengalaman soal cinta, malu-malu, sekaligus sangat desireable. Tokoh cowok protagonis ditampilkan penuh hasrat, sekaligus penuh pengendalian diri, innocent, berkarakter kuat dan mencintai si cewek dengan segenap hati, jiwa dan kekuatannya. Di iklan ttg pariwisata Korea yang saya lihat, sebelum kedua tokoh utama berciuman, ditampilkan ekspresi ‘malu tapi mau’, dan pada saat ciuman bibir benar-benar terjadi, semuanya disajikan begitu romantis, bersih dan sopan. Di film ‘Sword with no name’, digambarkan si cewek yang matanya ‘kelilipan’, dan si cowok berusaha membantu dengan menjilat mata kekasihnya itu. Setelah itu wajah mereka bertemu begitu dekat, saling bertatapan mengutarakan isi hati masing-masing, dan tidak seperti film barat yang mengumbar adegan ciuman, mereka tidak jadi berciuman karena konteks ceritanya adalah cinta tak sampai antara kedua tokoh utamanya. Cium…nggak…cium…nggak…, keraguan ini menyalakan sesuatu dalam diri setiap penonton remaja. Untuk anak muda yang belum atau sedang berpacaran, percintaan semacam ini sungguh-sungguh membangkitkan sebuah hasrat yang sangat kuat untuk mengalami romantika yang serupa dengan yang disajikan di film-film tersebut.

Meskipun dari luar percintaan yang ditampilkan seolah-olah sangat polos & innocent, saya justru merasa bahwa ada bahaya besar yang mengancam. Saya bukan orang tipe paranoid yang sedikit-sedikit melihat bahaya dimana-mana, tapi saya melihat ada beberapa bahaya yang sangat halus/subtle dalam drama percintaan ala film Korea. Hal-hal negatif yang bersifat subtle biasanya justru lebih berbahaya daripada yang terang-terangan, karena lebih sulit untuk dideteksi. Berikut beberapa hal yang saya cermati:

1. Kenaifan sebagai bahan bakar romantisme
Sesungguhnya keluguan menunjukkan bahwa seseorang samasekali belum siap untuk berpacaran dan menikmati romantisme. Cinta haruslah dialami dengan dikawal oleh kecerdasan emosional dan wawasan yang cukup. Keluguan sama dengan kenaifan, tanda utama ketidakdewasaan. Kenaifan memang bisa membakar romantisme, tapi ujung romantisme selalu adalah dorongan seksual yang sangat kuat. Pada saat gelombang asmara membakar seorang yang belum dewasa, hasilnya adalah hawa nafsu. Itu sebabnya romantisme tidak pernah boleh menjadi fokus dari sebuah hubungan pranikah. Betapa ironis bahwa banyak anak muda yang justru kehilangan keluguan mereka saat jatuh dalam dosa percabulan dengan orang yang mereka cintai. Film Korea tidak pernah menunjukkan realita ini. Sebagai media hiburan, mereka tidak berkewajiban membawa orang pada realita sebenarnya tentang akibat hubungan yang diwarnai kenaifan semacam itu.

2. Cinta yang dinikmati dalam kenaifan nampak begitu indah
Tidak heran pada masa sekarang para remaja tidak tahan lagi untuk tidak berpacaran selekas mungkin. Dalam kenaifan mereka, anak-anak yang masih SMP/SMA sudah dibakar oleh api asmara, sementara mereka-mereka yang jomblo begitu menginginkan pacar dengan segenap hati mereka. Bukannya mengembangkan wawasan, para anak muda ini tanpa sadar ‘mempertahankan’ kenaifan mereka, sambil berharap bahwa satu saat berharap bisa menikmati cinta. Realitanya adalah, cinta yang dinikmati dalam kenaifan sangat berbahaya. Cinta itu seperti api, sangat kuat dan berguna, tapi tidak ditangan orang yang bodoh. Di tangan orang yang naif, cinta bisa menjadi seperti api yang menghancurkan banyak hal. Keindahan cinta dirancang oleh Tuhan untuk dinikmati secara maksimal dalam sebuah latarbelakang kekudusan dan kedewasaan yang bertanggung jawab, diikat oleh komitmen seumur hidup di hadapan Tuhan dan manusia.

Sebenarnya mengapa innocence/keluguan ini begitu menimbulkan hasrat? Saya yakin ini berkaitan dengan kerinduan setiap kita untuk kekudusan yang sejati. Kita tidaklah dirancang untuk bergelimang dalam dosa. Cintapun sebenarnya dirancang untuk dinikmati dalam kekudusan. Namun kerinduan kita menjadi salah arah. Bukannya mendekat pada Tuhan untuk mencari cinta yang kudus, kita dibuat merindukan cinta duniawi yang mengobarkan hawa nafsu dalam kenaifan. Khusus bagi para cewek, anda memang diciptakan untuk ‘diingini’. Tuhan menciptakan Hawa dengan cara “mengambil” sesuatu dari Adam, sehingga seorang wanita akan selalu merindukan untuk “ditarik kembali” oleh seorang pria. Tapi waspadalah jika ada pria yang mengingini anda karena kenaifan anda. Pada dasarnya seorang pria yang berkualitas tidaklah tertarik pada kenaifan. Kenaifan hanya menarik bagi pria-pria tidak dewasa yang tidak tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Bagi anda-anda yang sudah kadung nonton film Korea banyak-banyak, anda harus bekerja keras untuk meredefinisi pemikiran anda tentang romantisme yang benar. Sekali lagi, keluguan adalah berbahaya untuk orang yang jatuh cinta. Cinta yang benar haruslah dewasa dan cerdas, mampu melihat dengan obyektif dan mengambil keputusan yang benar. Semoga memberkati!

Wednesday, June 08, 2011

Reputasi Yang Dipertaruhkan

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."(Kis 1:6-8)


Jika kita membayangkan suasana pertemuan pada hari itu, dimana untuk kesekian kalinya Yesus menjumpai para murid sejak kebangkitanNya, kita mungkin bisa merasakan kegairahan yang tinggi dari para murid. Drama penderitaan Kristus telah mencapai klimaks, dan kini saatnya untuk meminta sang Mesias melakukan apa yang selama ini mereka impikan: pemulihan kerajaan Israel. Tidak ada waktu yang lebih tepat dari saat itu, sang Raja bahkan telah mengalahkan maut. Dengan kuasa sebesar itu, sudah pasti kejayaan Israel sebagai sebuah kerajaan akan dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Negara adikuasa semacam Roma pun bukanlah tandingan bagi seorang Raja yang telah mengalahkan kematian.

Jawaban Yesus diluar dugaan. Dia tidak mengiyakan atau menolak permintaan para murid, tapi menjawab bahwa masa pemulihan Israel bukanlah urusan mereka atau dengan kata lain: belum waktunya. Ada sebuah rencana lain. Mesias yang bangkit akan segera pergi dan drama masih belum selesai, lampu sorot akan beralih dari Yesus pada para murid. Kebangkitan Yesus bukanlah episode akhir, tapi justru menjadi sebuah episode pembuka dari sebuah sejarah yang panjang, sejarah pembangunan Kerajaan Allah di bumi yang disebut dengan “gereja”. “Kamu akan menerima kuasa…” demikian kata Yesus. Kali ini aktor utama bukan lagi Yesus, tapi beralih pada para murid. Roh Kudus yang sama yang mengurapi Kristus, kemudian dicurahkan beberapa hari setelah pertemuan terakhir itu.

Yesus telah memperoleh reputasi dan kemenangan terbesar, dan reputasi itu kemudian dipercayakan kepada para muridNya. Sungguh sebuah pertaruhan yang sangat berani. Saat ini kita bisa melihat bagaimana sejarah mengisahkan reputasi sang Mesias dihormati dan sekaligus dicela akibat perbuatan umatNya sepanjang dua milenium terakhir. Dalam hikmatNya yang tak terhingga, Allah memutuskan untuk menampilkan umatNya sebagai pemeran utama sekaligus mempertaruhkan reputasiNya yang tak bercacat pada pundak mereka. Dan sebagai awal, Roh Kudus kemudian dicurahkan secara tak terbatas kepada semua orang yang mau percaya dan menerima Dia.

Roh Kudus adalah “modal awal” yang lebih dari cukup untuk menegakkan Kerajaan Allah. Dengan “modal” ini, sekarang masa depan Kerajaan Allah ada di tangan para murid. Roh Kudus dicurahkan agar para murid memiliki kuasa untuk menjadi saksi Kerajaan Allah, selain sebagai Roh yang akan menghibur dan menguatkan mereka dalam perjuangan itu. Seluruh kitab Kisah para Rasul menggambarkan bagaimana hanya dengan bermodalkan Roh Kudus, para murid menggoncang seluruh dunia alkitab. Generasi demi generasi berlalu, dan Roh Kudus dengan setia terus memenuhi janjiNya untuk menolong setiap orang dalam melakukan Amanat Agung.

Saat ini, di masa sekarang, adalah giliran kita semua untuk menerima tanggungjawab. Walaupun terus berkembang, Kerajaan Allah masih belum tegak sempurna di seluruh dunia. Alkitab menubuatkan bahwa seluruh bumi akan “penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.” (Yes 11:9b)  Adalah tugas kita semua agar nubuatan ini terus berlangsung menuju penggenapannya untuk menyambut kembalinya sang Raja. Kepenuhan Roh Kudus bukan hanya menjamin hidup berkemenangan, tapi juga memampukan kita untuk meninggikan reputasi Yesus Kristus dan Kerajaan Allah melalui hidup kita. Alkitab berkata bahwa “prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya” (2Tim 2:4) dan juga agar kita “menanggalkan beban dan dosa yang begitu merintangi kita”(Ibr 12:1). Itulah dua hal yang harus kita terapkan agar Kerajaan Allah dibangun melalui kehidupan kita pribadi.

Dan jika waktu dan masanya tiba, Yesus akan kembali untuk menyempurnakan segala sesuatu, memproklamasikan berdirinya sebuah Kerajaan yang Tak Berkesudahan. Pada saat itulah, kita dengan semua orang kudus akan bersukacita dalam sebuah perayaan kekal. Segala jerih lelah dalam perjuangan akan menjadi sebuah kenangan saja saat kita melihat bagaimana seluruh bumi dipenuhi kemuliaan Tuhan. Semoga kita bertemu lagi pada saat itu. Amin.

Saturday, May 14, 2011

Sulit Percaya

Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus,... Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. (Markus 16:10-13)


Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. (Matius 28:16-17)


Salah satu yang mengherankan saya berkenaan dengan kebangkitan Kristus adalah betapa sulitnya para murid pada waktu itu untuk mempercayai bahwa Kristus telah bangkit. Setelah kebangkitan dan sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Yesus berkali-kali menampakkan diri kepada beberapa murid-Nya, dan reaksi mereka beragam. Namun pada umumnya bagi mereka yang tidak sempat bertemu sendiri dengan Yesus, mereka sulit percaya bahwa Yesus telah bangkit. Tomas bahkan begitu skeptis sehingga dia mengatakan bahwa ia tidak akan percaya sebelum mencucukkan jarinya pada bekas lubang paku di tangan Yesus (Yoh 20:25).

Mengapa begitu sulit untuk mempercayai bahwa Yesus telah bangkit? Kebangkitan orang mati bukan hal yang asing bagi para murid. Berkali-kali mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus membangkitkan orang mati, bahwa Yesus berkuasa atas maut dan kematian. Yesus sendiri berkali-kali mengatakan bahwa Ia akan mati dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat 16:21, 17:23, 20:19), tapi pada saat hal itu terjadi, para murid sulit sekali untuk percaya. Sepertinya ada sesuatu yang menutup mata mereka, sehingga bahkan ada dua orang murid yang tidak sadar bahwa mereka telah berjalan ke Emaus dan bercakap-cakap begitu lama dengan Yesus sendiri (Luk 24:13-16).

Saya melihat bahwa hal yang menghalangi para murid untuk mempercayai kebangkitan Kristus adalah karena mereka memiliki pengharapan pribadi yang tidak sesuai dengan rencana Allah. Sebagai orang Yahudi abad pertama yang telah dijajah selama sekian abad oleh bangsa-bangsa asing, para murid merindukan seorang sosok pembebas yang akan melepaskan Israel dari cengkeraman penjajah tak berTuhan, seorang keturunan Daud, yang telah dinubuatkan beratus-ratus tahun sebelumnya. Dan mereka menemukan sosok pembebas tersebut dalam diri Yesus, yang bahkan dengan terang-terangan mengaku bahwa Ia lah sang Mesias, yang diurapi, sang Raja. Pengharapan ini begitu kuat tertanam dalam diri mereka, seorang Mesias yang akan menggulingkan penjajah, memulihkan kembali kejayaan Israel sebagai sebuah kerajaan adikuasa, sama seperti jaman Daud dulu. Seorang Mesias yang mati dan kemudian bangkit, samasekali tidak cocok dengan gambaran yang mereka punyai.

Sama seperti para murid itu, seringkali kita memiliki gambaran masing-masing tentang ‘bagaimana seharusnya’ Tuhan itu. Gambaran ini terbentuk dari harapan dan kebutuhan kita yang terdalam, yang biasanya sangat sah dan realistis. Harapan untuk menjadi bangsa merdeka adalah harapan yang sangat sah bagi setiap orang Yahudi yang dijajah begitu lama. Namun Tuhan memiliki rencana yang sama sekali lain bagi mereka. Demikian pula dalam kehidupan kita, betapa sering kita akan menjumpai bahwa kehendak Tuhan bukanlah kehendak kita, jalan Tuhan bukanlah jalan kita, dan sebagai hasilnya, kita menjadi sulit percaya.

Mari kita ambil contoh: Saat kita dalam kesulitan keuangan yang parah dalam jangka waktu yang sangat lama, harapan terbesar kita adalah keluar dari kesulitan tersebut selekas mungkin. Dengan harapan yang terarah pada satu titik seperti ini, mendengar kesaksian dari orang lain bahwa Tuhan adalah Tuhan yang memberikan kasih dan damai sejahtera bisa membuat kita ragu, dan bahkan mungkin marah. Kita membutuhkan Tuhan yang menyelesaikan masalah keuangan kita, bukan Tuhan yang hanya memberikan kita damai di hati. Saat Tuhan tidak kunjung melepaskan kita dari kesulitan keuangan tersebut, kita akan mulai sulit mempercayai kuasa Tuhan, walaupun kita dikelilingi oleh orang-orang yang mengalami kuasa Tuhan.

Kita perlu belajar mempercayai bahwa ketika Tuhan tidak memenuhi pengharapan kita, Dia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih baik, sesuai dengan hikmat-Nya yang maha sempurna itu. Yesus mungkin tidak menjadi raja Israel secara jasmani di abad pertama, tapi kini Ia menjadi Raja segala raja dari seluruh alam semesta. Demikian juga pada saat Yesus tidak menjawab pengharapan manusiawi kita yang terdalam, Dia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih indah, dengan dampak yang jauh lebih luas, yang tidak mampu kita pahami saat ini. Berikan pada Yesus tahta kehidupan kita, bahwa Ia lah sang Tuhan dan Raja yang mengetahui dengan persis apa yang Ia lakukan, bahwa Ia mengasihi kita dan akan menggunakan hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaan-Nya. Tuhan memberkati!

Tuesday, April 26, 2011

Jangan 'bergantung' pada Yesus

Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." – Yoh 20:17


Bagi para murid, hari-hari sejak kebangkitan Kristus adalah hari-hari yang membingungkan. Betapa tidak, beberapa dari mereka menyaksikan sendiri kubur Yesus telah kosong, kemudian beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka telah bertemu dengan Yesus yang bangkit. Sebagian besar murid malah tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit. Kita bisa melihat kisah dua orang murid yang berjalan ke Emaus (Luk 24:13-24), dimana mereka berdiskusi begitu seru tentang semua hal yang terjadi, sampai tidak menyadari bahwa orang ketiga yang bergabung dalam percakapan mereka adalah Yesus sendiri.

Salah satu keanehan yang terjadi adalah, Yesus tidak lagi bersedia menyertai murid-murid-Nya seperti sediakala. Yesus memang menemui beberapa murid-Nya, tapi Ia tidak pernah tinggal lebih lama dengan mereka. Dia selalu menghilang setelah melakukan perjumpaan dan menyampaikan pesan. Dalam pertemuan-Nya dengan Maria Magdalena Yesus bahkan menolak untuk disentuh. Dalam bahasa Yunani kata jangan “memegang” yang dikatakan Yesus kepada Maria memiliki arti jangan “melekat/bergantung”. Bukan berarti bahwa Yesus tidak boleh dipegang, karena dalam banyak kesempatan lain Ia mengijinkan murid-murid-Nya untuk memegang Dia. Tapi sejak kebangkitan-Nya, Yesus sepertinya menghendaki sebuah relasi yang samasekali baru dengan para murid, sebuah relasi yang berbeda, karena Ia tahu bahwa Ia akan segera meninggalkan mereka dan kembali ke Sorga.

Jika kita cermati, setiap kali Yesus berjumpa dengan murid-murid-Nya, Ia tidak lagi menempatkan diri sebagai Pribadi yang senantiasa mencukupi dan menjawab kebutuhan para pengikut-Nya. Di setiap perjumpaan, selalu terdengar perintah “pergilah… dan katakan…”, atau “gembalakanlah…” Yesus yang bangkit bukan lagi datang untuk melayani, tapi setiap kali Ia datang, Ia memberikan perintah. Yesus yang bangkit adalah Yesus dalam keadaan-Nya yang semula, Tuhan segala Tuhan dan Raja segala Raja. Yesus menolak saat Maria ingin menyentuh-Nya dengan sikap bergantung seperti sebelumnya, sebaliknya Ia memerintahkan: “pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka…”. Yesus sepertinya ingin menyatakan, “Jangan lagi bergantung padaKu seperti dahulu, Aku akan segera meninggalkan kamu, tapi kerjakanlah bagianmu seperti Aku melakukan bagian-Ku”

Dalam perintah di atas ada satu keunikan, Yesus menyebut para murid-Nya sebagai “saudara”, dan kemudian Ia menyebut Allah Bapa sebagai “Bapa-Ku dan Bapamu”. Kali ini Yesus berbicara sebagai sang Anak Sulung, yang bangkit dari antara orang mati, berbicara bukan kepada para pengikut yang bergantung, tapi kepada saudara-saudara-Nya. Sebagaimana Yesus telah melakukan seluruh kehendak Bapa, ini waktunya bagi “saudara-saudara-Nya” untuk melakukan hal yang sama. Setelah kebangkitan Kristus, para murid tidak lagi dipandang sebagai orang-orang tak berdaya, tapi menjadi saudara se-Bapa, dipanggil, dilengkapi dengan kuasa dan diperintahkan untuk melakukan hal yang sama dengan yang Yesus lakukan. Yesus telah menyelesaikan tugas-Nya dengan sempurna dan sebentar lagi Dia harus meninggalkan semua murid-Nya. Para murid harus sadar, bahwa mereka tidak bisa lagi bergantung pada Yesus seperti sebelumnya. Mereka akan diantar menuju satu jenis relasi kebergantungan yang baru, dimana bukan Yesus lagi yang bersama dengan mereka secara badani, tapi Roh Kudus yang akan tinggal dan bekerja di dalam mereka. Sebelum kematian-Nya Yesus pernah berkata: “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” (Yoh 16:7). Ada waktunya bahwa lebih baik murid-murid dipisahkan dari Yesus, supaya mereka belajar bergantung dan sekaligus bekerja sama dengan Roh Kudus yang akan memberi mereka kuasa untuk melakukan kehendak Allah.

Sebagai pengikut Kristus yang bangkit, kita perlu menyadari bahwa sekarang bukan waktunya untuk memandang diri sebagai pengikut tanpa daya dari seorang ‘manusia super’. Bukan lagi waktunya untuk ‘bergantung’ kepada Yesus sebagaimana para murid dulu bergantung pada-Nya. Lewat kematian dan kebangkitan Kristus, kita diangkat menjadi “saudara”, dengan kuasa dan otoritas yang serupa dengan sang Kakak Sulung. Saat ini kitalah yang harus menjadi terang dunia, melayani, menjadi berkat, mendoakan orang sakit, memulihkan hati yang terluka, hidup dalam kekudusan, dst. Hidup kita harus mencerminkan kemenangan Kristus atas maut. Kristus memang tidak lagi bersama kita secara badani, tapi Roh Kudus yang sama, yang memberi kuasa pada Yesus untuk menyelesaikan segenap rencana Allah, saat ini berdiam juga dalam hidup kita. Ini bukan lagi waktunya untuk ‘bergantung’, tapi waktunya untuk bekerja, seperti kata rasul Paulus, “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…” (Fil 1:22). Tetap kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, maka Kristus akan hadir lagi di dunia, bukan lagi dalam bentuk manusia, tapi melalui tubuh-Nya yang am yaitu Gereja. Amin.

Thursday, April 07, 2011

Mengerjakan Keselamatan

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," Flp 2:5-11

Jika kita mencoba mencermati keTuhanan Kristus, kita bisa melihat ada dua sisi yang berjalan bersamaan. Pertama, Yesus sendiri adalah Tuhan sejak mulanya, Dia memiliki rupa Allah dan setara dengan Allah. Tanpa perlu turun ke bumi dalam rupa manusia, Yesus tetap adalah Tuhan. Sisi yang kedua, seperti kutipan kitab Filipi di atas, Yesus “dijadikan” Tuhan melalui peninggian dari Allah sebagai upah atas ketaatan-Nya untuk merendahkan diri sampai mati di atas salib. Sehingga boleh kita simpulkan bahwa gelar keTuhanan Kristus adalah sebuah status yang telah dimiliki-Nya sejak kekal, tapi juga sebuah status yang diperoleh-Nya melalui perjuangan sampai titik darah penghabisan.
Kita juga perlu melihat bahwa sebelumnya rasul Paulus sempat meminta pembaca untuk “…menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah…”(ay 5), dan setelah menjelaskan bagaimana Yesus dalam rupa Allah telah merendahkan diri, ia melanjutkan dalam ayat 12, “…karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,…”. Dengan membaca seluruh bagian ini, nampak bahwa sebagaimana keTuhanan Kristus memiliki dua sisi, begitupun keselamatan kita.
Dalam minggu mendatang kita akan memperingati lagi karya Kristus di kayu salib. Oleh persembahan Tubuh dan Darah Kristus, hari ini kita beroleh kepastian keselamatan. Memandang salib Kristus, kembali kita disadarkan bahwa, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,…” (Ef 2:8). Itulah sisi pertama dari keselamatan kita, bahwa kita saat ini telah memiliki status sebagai anak Allah, pewaris sorga. Status ini langsung kita miliki pada saat kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan. Tidak hanya itu, status keselamatan kita begitu kuat karena dimeteraikan dengan darah Perjanjian Baru, yaitu darah Kristus sendiri. Namun keselamatan kita juga memiliki sisi yang kedua, yaitu keselamatan yang perlu dikerjakan dan diperjuangkan dengan “takut dan gentar”. Sebagaimana Yesus melakukan bagian-Nya sehingga Allah kemudian sangat meninggikan Dia, demikian pula setiap kita harus melakukan bagian kita, mengerjakan keselamatan kita dengan segenap hati dan tenaga.
Dengan melihat apa yang dilakukan oleh Yesus, kita bisa mendapat gambaran tentang bagaimana mengerjakan keselamatan itu. Diawali dengan kemuliaan yang ditanggalkan, Yesus kemudian mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba. Sebagai hamba, Kristus bekerja dan berkorban begitu rupa, sampai Ia layak menerima kemuliaan-Nya kembali sebagai upah, bukan sebagai sesuatu yang telah dimiliki-Nya sejak semula. Mengerjakan keselamatan juga diawali dengan cara yang sama, kita sepertinya perlu menanggalkan status kita sebagai pewaris sorga, dan mulai merendahkan diri dan bekerja keras seolah-olah keselamatan kita ditentukan oleh perbuatan dan diberikan sebagai upah. Hidup kita harus benar-benar dijaga dan diarahkan agar kita layak untuk masuk sorga kelak. Sebagaimana Yesus pernah bersabda, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”(Mat 5:20), begitulah tanggung jawab dari seorang Kristen yang sedang mengerjakan keselamatannya.
Langkah selanjutnya adalah ketaatan mutlak dalam kerendahan hati. Sebagaimana Yesus merendahkan diri dan taat sampai mati dan kemudian ditinggikan, demikian pula kita perlu rendah hati dan taat, sampai pada waktunya kita ditinggikan dan layak masuk sorga. Mungkin ada beberapa orang yang ditentukan untuk taat sampai mengorbankan nyawa. Tapi saya rasa untuk sebagian besar kita, kematian yang dituntut adalah kematian terhadap kepentingan diri sendiri, dan hidup sepenuhnya bagi Kristus. “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda,…” (Fil 2:14), lanjut Paulus dalam suratnya, mendorong ketaatan setiap umat Allah untuk mengerjakan keselamatan mereka masing-masing dalam ketaatan dan kerendahan hati.
Pada hari penghakiman terakhir, dilukiskan bahwa orang akan dihakimi menurut perbuatan mereka (Wah 20:12), bukan menurut pengakuan mulut mereka saja. Mari kita mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, tapi sekaligus dengan sukacita, karena Allah adalah hakim yang sangat adil, yang akan meninggikan orang-orang yang rendah hati dan taat. Segala jerih lelah kita untuk Kristus tidak akan pernah sia-sia, upah yang sangat besar menanti orang-orang yang dengan tekun mengerjakan keselamatan mereka sampai akhir. Tuhan memberkati! 

Wednesday, April 06, 2011

Memberhalakan Kristus

Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka…Ul 32:21


Jika membaca Perjanjian Lama, kita akan melihat bagaimana bangsa Israel berulang kali menyakiti Allah dengan menyembah berhala. Sejak pembebasan dari perbudakan Mesir di bawah pimpinan Musa, generasi demi generasi bangsa Israel terus mengalami jatuh bangun antara setia kepada Allah dan penyembahan berhala. Penyembahan berhala berlaku seperti sebuah ‘penyakit turunan’, yang terus saja menimbulkan cemburu dan sakit hati Allah yang begitu hebat. Satu generasi berlalu, dan penyakit ini sepertinya punah, tapi pada generasi selanjutnya kambuh lagi, begitu terus berulang-ulang. Sampai pada satu titik Allah sepertinya berkata, “Cukup!” dan Ia bersabda “…Aku akan melemparkan kamu dari negeri ini ke negeri yang tidak dikenal oleh kamu ataupun oleh nenek moyangmu. Di sana kamu akan beribadah kepada allah lain siang malam, sebab Aku tidak akan menaruh kasihan lagi kepadamu.” (Yer 16:13)  Dalam murka-Nya, Allah memutuskan untuk membuang umat pilihan-Nya sendiri kembali ke dalam perbudakan, dan sejak itu Israel terus menerus menjadi bangsa jajahan selama berabad-abad. Sejarah panjang bangsa Israel tersebut menunjuk pada satu hal, bahwa penyembahan berhala berakar pada hati manusia yang tercemar oleh dosa, bukan oleh pengaruh luar. Penyembahan berhala sebenarnya bukan soal ritual belaka, tapi bersumber dari hati manusia yang cenderung memberontak. Dan kalau memang sumbernya dari hati, pastilah terjadi sampai saat ini.

Saat ini orang kristen abad 21 sudah tidak mungkin lagi dibujuk untuk sujud menyembah patung berhala sebagaimana umat Allah 2500 tahun yang lalu. Tetapi saya mencermati bahwa penyembahan berhala masih sangat mungkin terjadi di dalam hati orang percaya dalam bentuknya yang paling halus: memberhalakan Yesus. Beberapa tahun silam saya malah sempat melihat beberapa orang mengenakan kaus bertuliskan “Jesus – My Idol”. Lepas dari pemikiran dangkal si perancang kaus, ungkapan “Yesus Berhalaku” saya kira dianut oleh jauh lebih banyak orang Kristen, lebih dari yang kita duga.

Esensi dari penyembahan berhala adalah sebuah hubungan yang bersifat transaksional. Mari kita lihat sebuah contoh berhala yang terkenal: Baal. Berhala yang berulang kali disembah oleh bangsa Israel ini dipercaya memberikan kesuburan bagi tanah para petani. Agar tanahnya subur, para petani memberikan sesaji dan melakukan ritual-ritual tertentu. Sebagai gantinya, Baal akan membalas semua bakti tersebut dengan memberikan apa yang paling diinginkan yaitu kesuburan tanah dan hasil bumi yang berlimpah. Hubungan umat & Baal hanya sesederhana itu: umat memberi persembahan plus ritual, Baal memberkati. Beres, singkat, sederhana. Untuk urusan di luar kesuburan, umat kemudian menyembah dewa lain, yang ‘spesialis’ menangani urusan yang diperlukan. Berhala tidak menuntut banyak, asal semua syarat dan ritual terpenuhi, umat boleh melanjutkan dan mengatur hidup mereka sendiri sesukanya. Dengan semua kemudahan ini, tidak heran penyembahan sejati terhadap Allah Yahwe terlihat begitu rumit dan menuntut terlalu banyak, sehingga membuat Israel terus menerus berpaling kepada berhala-berhala lain.

Berbeda dengan penyembahan berhala, hubungan Allah dan umat-Nya tidaklah transaksional. Relasi dengan Allah bersifat mengikat, bahkan dilambangkan secara langsung dengan relasi antar suami istri. Menyembah Allah menuntut penyerahan diri secara total, dimana tidak ada bagian sekecil apapun dari kehidupan kita yang boleh kita miliki di luar kehendak-Nya. Sementara sebuah berhala membolehkan umatnya untuk menyembah berhala lain selain dirinya, Allah berlaku seperti seorang suami yang pencemburu, sedikitpun tidak mengijinkan ‘istri’ Nya mengabdi kepada allah lain.

Dalam pemahaman ini, saya melihat bahwa ada banyak orang kristen yang memberhalakan Kristus, bukan menempatkan Dia sebagai Tuhan. Mereka menjaga jarak dengan Kristus, membatasi hubungan dalam tataran transaksional saja. Berusaha sedapatnya untuk tidak menyakiti hati Kristus, orang kristen memberi persembahan dan melakukan ritual tertentu untuk menyenangkan hati-Nya, sembari tetap mempertahankan beberapa bagian hidup yang boleh mereka atur sendiri. Karena kebaikan dan kesetiaan-Nya, Yesus tetap memberkati setiap orang Kristen, betapapun hati-Nya sebenarnya merindukan hubungan yang jauh lebih intim. Yesus tidak ingin dijadikan sebagai berhala, Ia telah memberikan seluruh hidup-Nya agar dapat memperoleh seluruh hidup kita.

Mari kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan Yesus, sebagaimana seorang istri mengikat janji setia sehidup semati dengan seorang suami. Tidak ada bagian sekecil apapun dari waktu, fokus, perhatian, cinta kita yang boleh kita alihkan dari pengabdian kepada keTuhanan Kristus. Sebagaimana sukacita dalam pernikahan yang harmonis, terlebih besar sukacita pada saat kita benar-benar menempatkan Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita.

Thursday, March 24, 2011

Tuntutan KeTuhanan Kristus

Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu?…" Maleakhi 1:6

Ada satu hal yang unik yang akhir-akhir ini saya amati, yaitu istilah yang digunakan seseorang untuk memanggil rekannya. Untuk menyapa, panggilan “bro” sekarang menjadi sangat umum. Pertama kali saya mendengar orang saling menyapa dengan istilah itu waktu saya sedang di Jakarta sekian tahun yang lalu. Tapi kini sepertinya panggilan tersebut sudah cukup umum terdengar di mana-mana. Tidak hanya “bro”, panggilan “boss” juga sering saya dengar, khususnya dalam urusan tawar menawar di dunia bisnis.

Satu hal yang kita tahu bersama, panggilan “bro” atau “boss” tidaklah dimaksudkan untuk memiliki arti sesungguhnya. Saat seseorang memanggil rekannya dengan sebutan “bro” atau “boss”, ia tidak sedang bersungguh-sungguh menganggap rekannya sebagai saudara atau majikan dalam arti sebenarnya. Panggilan itu hanya sekedar sebagai pengganti nama dari yang dipanggil, sebuah sebutan yang nyaman digunakan untuk berbagai macam orang dari berbagai status sosial.

Tidak demikian halnya jika kita memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan”. Kita tidak bisa memanggil “Tuhan” sebagaimana kita memanggil seseorang dengan panggilan “boss”. Jika kita bisa menyapa atau memanggil siapapun dengan sebutan “bro” atau “boss” tanpa beban apa-apa, tidak demikian halnya dengan sapaan “Tuhan” kepada Yesus. Pada saat seseorang memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan”, dia sebenarnya sedang (dan harus) menempatkan diri sebagai hamba. Dan memang itulah yang benar, Yesus adalah Tuhan (Tuan) dan kita adalah hambaNya. Memanggil Yesus “Tuhan” tanpa benar-benar bermaksud menempatkan diri sebagai hambaNya dapat membuat kita melalaikan begitu banyak hal dalam kehidupan, yang berujung pada hukuman kekal. Tuhan Yesus pernah berfirman: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21).

Dengah rendah hati harus kita akui, kita sering tidak sepenuhnya bersikap hamba pada saat kita memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan”. Bagi kita sebutan “Tuhan” lebih merujuk pada apa yang Dia bisa (dan semoga) lakukan dalam hidup kita, bukan apa yang harus kita lakukan dalam ketaatan pada kehendakNya. Panggilan “Tuhan” terasa lebih cocok untuk gambaran seorang penolong maha baik, yang selalu ingin menyenangkan & menjawab kebutuhan kita, rela mati demi kita, dan tidak memiliki tuntutan apa-apa kecuali sedikit lagu pujian di hari Minggu dan komunikasi sekian menit perhari dalam doa. Atau seperti yang dikatakan dalam kutipan kitab Maleakhi di awal tulisan ini, panggilan “Tuhan” tidak lagi berkorelasi dengan tuntutan rasa takut dan hormat yang mendalam dari pihak kita. Kita bisa merasakan unsur kasih dalam panggilan “Tuhan”, tapi kehilangan makna “tuntutan”nya.

Ijinkan saya untuk memunculkan kembali unsur tuntutan dalam sapaan “Tuhan” ini. Kita perlu memeriksa kembali hidup kita, berapa persen dari waktu & kerja keras yang kita kerjakan, yang kita lakukan untuk Yesus sebagai ‘boss’ atau majikan kita. Memanggil Yesus sebagai Tuhan adalah sama dengan memanggil diri kita untuk melayani Dia. Ada tuntutan yang sangat besar bagi pihak kita, setiap kali kita memanggilNya “Tuhan”. Setiap kita yang pernah/sedang bekerja di bawah otoritas seorang majikan pasti tahu bahwa ada tuntutan yang jauh lebih besar daripada sekedar menyediakan waktu 2 jam seminggu, plus beberapa menit di pagi hari untuk sekedar mencari tahu kehendak sang majikan, dan setelah itu melanjutkan hari itu sesuai kehendak dan kesibukan kita sendiri.

Saya ingin mendorong bagi setiap saudara yang saat ini sudah memanggil Yesus sebagai “Tuhan” agar menyediakan waktu untuk melayani. Untuk bisa melayani, cara paling mudah adalah dengan mencari kesempatan untuk melayani di gereja, meskipun pelayanan tidak melulu harus di dalam bangunan gereja. Apapun bentuk pelayanan yang anda pilih, anda akan mengalami sukacita dan berkat yang berlimpah pada saat sungguh-sungguh melayani Tuhan. Tuhan Yesus bukan ‘boss’ yang pelit dan kejam, Dia sangat murah hati. Saat anda menghamba dengan menyediakan hati, waktu dan kerja keras, Yesus akan memberkati anda dengan sangat berlimpah dalam segala segi kehidupan. Bahkan kita semua akan mengalami bahwa tuntutan keTuhanan Kristus sebenarnya sangat ringan jika dibandingkan dengan berkat-berkat yang disediakan sebagai upah atas ketaatan pada keTuhananNya, seperti kata Yesus, “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Mat 11:30).

Jadi, sementara kita boleh memanggil satu sama lain dengan sebutan “bro” atau “boss”, mari kita memanggil Yesus sebagai “Tuhan” dengan menyadari bahwa kita sepenuhnya adalah hamba yang hidup untuk melakukan perintahNya. Kalau ada perusahaan bisa memberikan upah dan kepuasan kerja yang tinggi pada karyawannya yang setia dan cakap, saya percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup memberikan upah dan kepuasan yang jauh lebih tinggi bagi setiap pekerjaNya. Amin!

Tuesday, March 22, 2011

Berkat keTuhanan Kristus

“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga” (Ef 1:18-20)

Salah satu berkat terbesar, yang jarang dinikmati secara penuh oleh orang percaya adalah berkat dari kehidupan yang sepenuhnya dikuasai oleh keTuhanan Kristus. Memang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan adalah langkah awal kehidupan Kristen setiap orang. Tapi dalam perjalanan hidup setelah mengenal Kristus, keTuhanan Kristus mulai kehilangan pengaruhnya, dan orang Kristen kemudian melanjutkan hidupnya sebagai orang yang percaya Yesus adalah Tuhan, tapi tidak menerima seluruh berkat yang disediakan dari kepercayaan itu.

Di tengah semua kemajuan dan kemudahan yang diberikan oleh teknologi, umat Kristen, khususnya yang tinggal di kota besar cenderung memiliki pandangan bahwa hidup yang diberkati Tuhan adalah hidup yang diwarnai oleh kemudahan dan kenyamanan. Tanpa sadar, umat Allah kemudian menempatkan Tuhan dalam posisi sebagai pihak yang akan menjaga dan menjamin bahwa hidup akan senantiasa nyaman dan mudah, bahwa kehidupan nyaman dan mudah adalah sebuah keniscayaan & tanda berkat Allah. Disadari atau tidak, Yesus saat ini lebih dikenal sebagai juru penolong, kekasih, sahabat yang baik, pemelihara, penyembuh, pemecah masalah, jawaban berbagai persoalan, penghibur, dan banyak lagi. Lagu-lagu favorit umat Kristen biasanya berkisah tentang semua atribut di atas. Tentu saja semua atribut tadi tidaklah salah, tapi memiliki satu kelemahan: fokusnya bukan pada keTuhanan Yesus Kristus.

Akibat dari semua itu adalah, orang Kristen gagal untuk menerima berkat yang jauh lebih besar daripada sekedar hidup yang mudah dan nyaman. Terlalu berfokus pada kenyamanan, mereka menjadi lebih sulit mengucap syukur, terlalu sensitif pada penderitaan & lebih mudah mengeluh. Mereka tidak lagi berharap lebih dan memiliki pengharapan yang sama dengan pengharapan orang yang tidak mengenal Allah, yaitu berharap pada hal-hal yang kelihatan dan bersifat sementara: uang, kesejahteraan, kesehatan, kepopuleran, dst. Walaupun semua berkat tersebut memang disediakan Allah, tapi sangat remeh jika dibandingkan dengan berkat sesungguhnya yang disediakan Allah melalui kehidupan yang berTuhankan Kristus.

KeTuhanan Kristus memiliki sebuah pesan utama: Yesus berdaulat penuh atas hidup umatNya. Dia adalah Tuhan, kita adalah hamba. Hidup kita bukan milik kita lagi. Kita ini “…telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1Kor 6:20) Kehidupan Kristen adalah sebuah mandat untuk menghasilkan buah demi Kerajaan Allah dan melakukan segala perintah sang Tuan tanpa berbantah-bantah. Sebagai hamba, kemudahan dan kenyamanan hidup bukan menjadi yang utama, tapi menyerahkan segala kehendak pribadi di bawah kedaulatan sang Majikan.

Ironisnya, pada jaman sekarang kedaulatan Yesus barulah diakui dan diingat pada saat orang Kristen mengalami kejadian buruk atau malapetaka yang tidak bisa dihindarinya lagi. Saat kematian menjemput orang yang kita cintai, saat usaha yang dirintis ambruk dan tidak tertolong, saat seperti itulah orang kemudian –mau tidak mau – belajar untuk melihat Yesus sebagai Tuhan yang berdaulat yang mengendalikan segala sesuatu. Melihat bencana tsunami di Jepang baru-baru ini, kedaulatan Allah langsung muncul di pikiran. Dalam dunia hukum/asuransi bahkan ada istilah ‘act of God’ yang merujuk pada bencana alam yang tidak bisa dihindarkan, dan itu dikatakan sebagai ‘perbuatan Allah’. Sungguh menyedihkan jika kita dipaksa mengakui keTuhanan Kristus pada saat mimpi-mimpi kita hancur berantakan.

Mengapa tidak kita mengakui kedaulatan Kristus pada saat hidup kita berlangsung lancar dan segala rencana kita berjalan dengan baik? Bagaimana jika pada saat Tuhan memberkati segala usaha, pelayanan dan keluarga kita, kita menyerahkan kembali segala berkat tersebut dalam penundukan diri pada keTuhanan Kristus? Di tengah segala kelimpahan kita bisa tetap berlaku seperti hamba, taat dan tunduk penuh pada kehendak Tuhan, menyadari bahwa jika Tuhan memberikan berkat, Dia merencanakan agar kita menggunakan berkat tersebut sesuai dengan kehendakNya. Bagaimana jika di tengah semua kesibukan yang menumpuk akibat order yang membanjir, kita tetap menyediakan waktu yang terbaik untuk melayani, mendoakan orang, terlibat aktif dalam KESAN? Bukannya menggunakan seluruh berkat jasmani tersebut untuk membangun kehidupan yang mudah dan nyaman bagi diri sendiri, kita justru berlutut di kaki Tuhan, menyadari besarnya tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada kita dan mencari tahu apa kehendak Tuhan dengan semua kelimpahan ini.

Itulah kehidupan yang benar-benar berTuhankan Kristus. Untuk orang yang seperti ini, berkat Tuhan akan melampaui apa yang dapat dilihat mata. Tuhan akan mengadakan ikat janji dengan orang semacam ini, memberkati dan menjamin kehidupan anak cucunya. Tidak hanya di lingkup keluarga, Tuhan akan memakai orang semacam ini untuk memberkati generasi demi generasi. Orangnya mungkin akan meninggal dunia, tapi inspirasi hidup yang ditinggalkannya bisa menjangkau puluhan generasi sesudahnya. Mereka akan “…mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10).

Saat orang yang berTuhankan Kristus mengalami masalah, ia justru akan terbang makin tinggi, karena masalah tersebut akan mendewasakan imannya. Bukannya jatuh dalam keluhan, dia akan makin diperkuat dalam imannya, menyadari bahwa “…penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya,…” (2Kor 4:17) Ucapan syukur akan selalu mengalir dari bibirnya, kemenangan menjadi sebuah kepastian. Alkitab mendorong kita untuk mengerti “…betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya” (Ef 1:18-19). Mari kita berdoa agar kita bisa mengalami berkat dan kuasa di dalam kehidupan seorang yang sungguh-sungguh menjadikan Yesus sebagai Tuhan!

Friday, December 10, 2010

Bersiaplah Untuk Mati!

Hari ini genap lima hari sejak terjadinya sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa anak dari seorang teman lama saya. Anak tersebut masih sangat belia, meninggal dunia karena tenggelam dalam usaha untuk menolong temannya yang tercebur di sebuah waduk. Bukannya tertolong, dua anak ini akhirnya tenggelam. Sebuah peristiwa kehilangan nyawa secara tragis yang terjadi terus menerus di mana saja, dalam berbagai bentuk dan kisah.

Kalau saya pikir-pikir, semua kita sebenarnya sudah divonis mati sejak kita dilahirkan di dunia. Semua orang yang hidup, semuanya sedang menuju satu titik akhir: kematian. Bedanya dengan vonis mati oleh pengadilan, vonis mati kita itu gak jelas pelaksanaannya kapan. Maut dapat menjemput kapan saja, dan tidak ada orang yang bisa protes atau mencegah jika sang maut sudah menjatuhkan eksekusi. Maut tidak memilih orang, tidak berbelaskasihan & tidak pandang bulu: orang baik, orang jahat, anak-anak, pria, wanita, kaya atau miskin, tidak ada pengaruhnya di hadapan sang maut. Siap atau tidak siap, semua orang, pada waktunya, akan ‘dijemput paksa’ oleh kuasa yang satu ini.

Anehnya, topik tentang kematian cenderung tabu untuk dibicarakan, bahkan tabu dipikirkan oleh manusia. Kita semua selalu berusaha menghindar untuk membicarakan atau memikirkan kematian, seolah-olah kematian itu sesuatu yang memang bisa kita hindari. Anak-anak muda khususnya, pastilah sangat jarang memikirkan tentang kematian, dengan anggapan umum (yang sebetulnya kosong) bahwa kematian masih jauh dari mereka. Dengan menghindari topik ini, hasilnya sudah jelas: orang tidak siap menghadapi kematian. Kematian adalah sebuah keniscayaan, namun tidak ada orang yang (ber)siap menghadapinya. Konyol juga…

“Mereka yang tidak pernah memikirkan kematian, tidak akan siap menghadapinya”, begitu kata seorang rohaniwan jaman dulu. Tapi kalau boleh saya tambahkan, “mereka yang tidak pernah memikirkan kematian, tidak akan siap menghadapi kehidupan.” Gampang saja, coba kita pikirkan, apakah kita akan hidup dengan cara seperti sekarang, jika kita mengetahui bahwa usia kita hanya tersisa satu bulan lagi? Lucu dan sekaligus tragis betapa prioritas hidup akan jauh lebih jelas pada saat kematian menjelang, pada saat kesempatan untuk melakukannya sudah berlalu. Kita menjalankan dan menghabiskan kehidupan, dengan mengejar hal-hal yang menurut kita penting, sampai pada saat kematian menjelang, kita baru sadar bahwa ada begitu banyak yang benar-benar penting yang sudah dilalaikan. Betapa banyak penyesalan di ranjang kematian, dan betapa lebih banyak lagi penyesalan tersebut di kekekalan.

Ada sebuah nasihat yang sangat bijaksana, “Selalu pikirkan bahwa kamu akan mati besok, maka kehidupanmu akan menjadi sangat efektif & produktif”. Saya teringat akan filosofi “Impacting All Generations” yang dijadikan nama IMAGE. Untuk memiliki hidup yang berdampak, setiap anak muda harusnya lebih sadar atas vonis mati yang telah dijatuhkan atas mereka, menghitung setiap hari dalam kehidupan sebagai kesempatan untuk melakukan apa yang benar-benar penting.

Faktor lain lagi mengapa orang menghindari topik kematian, yaitu karena mereka tidak tahu pasti apa yang akan terjadi setelah mereka mati. Kematian menjadi menakutkan, perjalanan ke alam baka adalah perjalanan oneway, alias tanpa tiket pulang. Sekali pergi, tidak akan kembali, sehingga tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di sana. Tapi bagi orang Kristen, ketakutan ini sebenarnya tidak perlu ada, karena Kristus telah menunggu di sana untuk menyambut setiap orang yang berpulang kepadaNya. Jadi setiap orang Kristen seharusnya selalu memiliki pikiran tentang kematian dalam hidup mereka. Kalau ada di antara orang yang membaca tulisan ini, yang masih tidak memiliki kepastian apa yang terjadi setelah kematiannya, saya punya kabar baik buat anda: Kristus telah mengalahkan kematian, dan barang siapa yang percaya kepadaNya telah memiliki hidup kekal. Jika anda percaya kepada Yesus Kristus, kematian adalah sesuatu yang bisa disambut dengan sukacita.

“Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya… Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.” Pengkotbah 7:2,4

Berpikir tentang kematian membuat seseorang lebih berhikmat dan lebih mencari Allah. Segala ambisi manusia tentang kehebatan kekayaan, ketenaran, kenikmatan hidup, dll, semua akan kelihatan bodoh dan kosong di hadapan kematian. Saya bahkan percaya bahwa kualitas kerohanian seseorang akan ditentukan oleh seberapa sering ybs berpikir tentang kematian.

Memang memikirkan tentang dekatnya kematian tidak otomatis membuat seseorang berhikmat secara benar. Saya percaya ada juga orang yang malah menjadi sangat pasif, atau malah frustasi menjelang kematiannya. Tapi pemikiran kematian mau tidak mau membuat orang harus memilih sikap: memanfaatkan hidup sebaik-baiknya, atau mengambil sikap apatis total terhadap kehidupan. Saya hanya berharap bahwa tidak ada orang yang mengaku Kristen yang kemudian mengambil pilihan untuk menjadi apatis pada saat ia harus menghadapi kematian, karena ia akan dihakimi dengan berat oleh Kristus.

Mengapa memikirkan tentang kematian seharusnya dapat menjadi pendorong yang bagus bagi orang Kristen? Karena kita memiliki janji adanya kebangkitan untuk hidup kekal. Rasul Paulus berkata bahwa, “…Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati". (1Kor 15:32b) Apatisme dalam menghadapi kematian bersumber dari tiadanya pengharapan untuk kebangkitan yang lebih baik. Memang, jika tidak ada kebangkitan, apapun yang dilakukan dalam hidup ini akan menjadi sia-sia, orang Kristen yang berjuang dalam iman akan menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia.

Manfaat lain dari memikirkan kematian adalah untuk membantu kita menemukan tujuan hidup kita. Coba bayangkan hari kematian kita, bagaimana kenangan yang ingin kita tinggalkan untuk orang-orang di sekitar kita? Apakah mereka akan menangis karena hidup mereka telah diubahkan oleh hidup kita? Apakah orang-orang akan berkomentar, “yach… memang sudah waktunya…”, atau “wah, sungguh sial semuda itu sudah mati…”. Komentar apa yang ingin kita dengar? Bagaimanakah kita ingin dikenang pada saat kita sudah tiada di dunia ini? Jika kita sudah memiliki bayangan, itulah tujuan yang harus kita kejar dalam hidup kita.

Itu sebabnya saya ingin mendorong setiap orang Kristen, khususnya anak muda, pikirkanlah kematianmu sesering mungkin. Lebih baik bersiap untuk hari kematian yang mungkin masih jauh, daripada samasekali tidak siap saat waktu kematianmu tiba secara tidak terduga. Jangan takut akan kematian, tapi jadikan vonis kematian kita sebagai pendorong untuk kehidupan yang efektif dan berdampak besar.

Tuesday, August 03, 2010

Kerinduan untuk Juruselamat

Minggu ini saya berdukacita: gak bisa ngikuti kelanjutan kisah Naruto, padahal dia sekarang udah berhasil menguasai dan mengendalikan sepenuhnya cakra rubah ekor sembilan, yang selama ini menjadi sumber kekuatan sekaligus masalah terbesarnya.:-) Mulai akhir Juli kemaren, kisah Naruto tidak bisa lagi diikuti secara online, karena ada perubahan kebijakan dari sang penerbit. Naruto sendiri merupakan salah satu manga yang paling banyak dibaca secara online. Sekarang terpaksa menunggu terbitan resmi di toko buku yang ceritanya ketinggalan banget dari versi onlinenya.

Mengapa saya [dan jutaan orang lain] suka Naruto? Tidak hanya Naruto, kisah para tokoh khayalan seperti Superman, Spiderman, Sam Witwicky [Transformers], Frodo Baggins [Lord of The Rings], Harry Potter, bahkan Kungfu Panda dll, memikat hati begitu banyak orang. Semua kisah di atas memiliki persamaan: mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi juruselamat dunia, dalam konteks masing-masing, tentunya. Bagaimana seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi juruselamat harus menjalani proses yang beragam likunya, bagaimana ia harus jatuh bangun dalam keraguan, semuanya bisa diramu menjadi kisah yang selalu menarik. Dan biasanya begitu kisah-kisah ini dituangkan ke dalam film oleh sutradara terbaik, akan selalu mencapai box office dalam waktu singkat. Kesimpulannya: manusia selalu menyukai cerita-cerita tentang juruselamat.

Tidakkah ini mencerminkan kondisi rohani dari umat manusia yang telah jatuh dalam dosa? Meski sangat banyak manusia yang tidak mengakui bahwa mereka memerlukan Allah, kesukaan bawah sadar akan kisah-kisah tentang juruselamat membuktikan sebaliknya. Dibalik kesukaan terhadap kisah atau film bertema kepahlawanan, pastilah tersembunyi sebuah kerinduan yang mungkin tak disadari tentang bagaimana segala sesuatu yang rusak di dunia ini akan dibereskan. Dunia dan manusia memang tidak dirancang untuk berkubang dalam dosa. Dalam diri manusia yang terdalam ada sebuah kerinduan besar untuk melihat pemulihan segala ciptaan, kembali kepada kemuliaan yang sebenarnya.

Tidak hanya itu, ada banyak anak muda – dengan indoktrinasi yang cukup – mau menyerahkan segalanya untuk sebuah visi mengubah/menyelamatkan dunia. Kisah-kisah dimana ada orang yang bersedia meledakkan diri dengan bom tidaklah langka kita dengar. Mereka-mereka ini, yang sebenarnya mati konyol, percaya seratus persen bahwa mereka sedang melakukan bagian mereka dalam pemulihan dunia [versi mereka tentu saja]. Tidak hanya merindukan juruselamat, beberapa orang bersedia memberikan nyawa mereka untuk mengambil bagian dari gerakan ‘sang juruselamat’ itu sendiri. Beberapa pimpinan agama, dengan kemampuan orasi yang luarbiasa secara sadar atau tidak sadar membangkitkan harapan yang begitu besar atas juruselamat ini, dan kemudian mendapatkan loyalitas yang luarbiasa dari para pengikut mereka.

Lalu apa hubungannya dengan kita orang Kristen? Paling tidak ada dua hal yang saat ini dalam pikiran saya. Pertama, Yesus sendiri mengatakan bahwa pada akhir jaman akan tampil banyak ‘mesias/juruselamat’ palsu, dengan banyak tanda ajaib yang menyertai mereka [Mat 24:3-4 & 23-24]. Ciri khas Mesias/Nabi palsu ini jelas, mereka menkhotbahkan penyelamatan tanpa pertobatan, pertolongan tanpa tuntutan untuk meninggalkan dosa:

Yeremia 23:14-17
Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorangpun yang bertobat dari kejahatannya; …Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Janganlah dengarkan perkataan para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia kepadamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut TUHAN; mereka selalu berkata kepada orang-orang yang menista firman TUHAN: Kamu akan selamat! dan kepada setiap orang yang mengikuti kedegilan hatinya mereka berkata: Malapetaka tidak akan menimpa kamu!


Bukankah ini yang sering kita temui? Para hamba Tuhan dengan karunia-karunia mujizat yang hebat, mengkhotbahkan kabar baik Injil dan berkat-berkatnya, tanpa sedikitpun menuntut pertobatan yang radikal dari pendengarnya. Hamba Tuhan semacam ini, dengan promosi yang tepat, akan memperoleh jutaan pengikut dalam waktu singkat! Mengapa? Karena setiap orang merindukan juruselamat. Sebaliknya, Yesus, sang Juru Selamat sejati dalam masa hidupNya justru tidak memiliki pengikut yang terlalu banyak, karena tuntutanNya yang tanpa kompromi untuk pertobatan yang sejati. Kita semua perlu benar-benar menyadari betapa kerinduan kita yang terdalam ini bisa menjadi begitu salah arah dan disalahgunakan.

Hal kedua yang ada dalam pikiran saya adalah bahwa setiap orang Kristen sebenarnya adalah orang yang paling beruntung di dunia ini, karena kita telah mengenal Juru Selamat yang sebenarnya! Anehnya, kita malah malu-malu menyatakan hal ini. Kita bisa dengan bebas dan santai saling bertukar informasi tentang film Harry Potter terbaru, berdiskusi soal Superman dan Spiderman, bercerita tentang Naruto [seperti saya :-)], tapi justru bungkam dan malu-malu jika diminta bercerita tentang Juruselamat sejati. Betapa semua manusia merindukan tokoh juruselamat, dan betapa sedikit orang Kristen yang mau menceritakan bahwa Juruselamat yang sejati telah turun ke dunia yang rusak ini, memberikan nyawaNya, bangkit dari kematian dan naik ke sorga. Juruselamat yang kita kenal telah mengalahkan kematian, dan kita sepertinya tidak cukup percaya diri untuk memberitakan hal itu! Semoga Roh Kudus menyucikan hati setiap kita, agar kita menyadari panggilan kita untuk memberitakan sang Juruselamat kepada setiap orang yang kita kenal.

Dan soal Naruto, biarlah saya menunggu edisi cetaknya saja…

Tuesday, July 13, 2010

Piala dunia, Pornofilm Arieluna & Panggilan utk menyembah

Akhirnya Spanyol menjadi juara dunia dengan mengalahkan Belanda. Bukan, saya bukan fans Spanyol, dan juga bukan fans kesebelasan manapun. Saya tidak suka sepakbola, karena bagi saya sepak bola terlalu membosankan. Duapuluh dua orang bermain & berkeringat lari sana sini selama 90 menit dengan jumlah skor gak sampai 5 (biasanya), tidaklah menarik bagi saya :-). Kenyataannya, sampai detik ini saya belum pernah menonton pertandingan bola secara penuh dari awal sampai akhir. Pernah mencoba sih, tapi karena sudah lebih dari 30 menit tidak ada hasil (gol) yang dicapai, sayapun menyerah dan mengganti channel TV.

Sekarang soal video porno 'mirip' Ariel, Luna Maya ataupun Cut Tari. Bukan, saya bukan fans Ariel, Luna, maupun Tari. Saya malah baru tahu mana orang yang namanya Cut Tari ya setelah berita pornofilm ini menghebohkan nusantara. Dan meskipun saya tidak ngefans sama mereka, pada saat diberitakan bahwa ada film porno yang dibintangi Luna Maya dan Cut Tari, ehem…. yach… sejujurnya ya… saya tetap tidak merasa perlu untuk mencari apalagi menonton video gituan… Jadi saya termasuk yang “masih suci”, tidak dicemari oleh segala kemaksiatan yang entah kenapa kok begitu dibesar-besarkan oleh media nasional. Saya bahkan tidak menonton satupun infotainment yang membahas tentang topik ini, sampai pada waktu liburan kemaren, saya sempat menonton sekilas Cut Tari yang menangis tersedu-sedu pada waktu ia minta maaf kepada semua orang di hadapan para wartawan. [Saya tidak tahu apakah ia menangis karena menyesal telah ketahuan bermesum ria betulan dengan Ariel, atau menangis karena dipaksa meminta maaf oleh pengacaranya sedangkan ia sendiri sebenarnya tidak melakukannya.]

Trus apa hubungannya piala dunia, video porno mirip artis, dengan panggilan untuk menyembah Tuhan? Begini…

Walaupun saya tidak suka sepak bola, gegap gempita piala dunia mau tidak mau membuat saya sedikit-sedikit cari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Siapa lawan siapa hari ini, tim mana saja yang diunggulkan, siapa yang masuk semi final, sampai berita si gurita peramal pun sempat mencuri perhatian saya [rupanya karunia nubuat tidak dibatasi pada manusia saja, hehe]. Tapi event ini begitu akbar dan megah, sehingga bagi orang seperti saya pun, mau tidak mau, merasa perlu untuk tidak ketinggalan berita. Bagi para gibol Indonesia, mereka bahkan bisa turut larut dalam pertandingan, mungkin turut emosional dalam ‘membela’ tim jagoan mereka, padahal tim tersebut bukan dari Indonesia. Teman-teman gereja pun, bersedia mengorbankan waktu tidur yang berharga untuk menonton langsung pertandingan. Barusan saya dengar kabar, pertemuan doa pagi para pendeta di Surabaya hari Senin pagi kemarin jadi sepi, rupanya banyak juga pendeta dan gembala gereja yang begadang nonton final Belanda vs. Spanyol.

Kasus pornofilm Ariel juga begitu. Di internet mungkin ada puluhan juta film porno yang bisa didapat dengan mudah. Pornofilm yang melibatkan artis terkenal juga cukup banyak. Tapi yang satu ini agak berbeda, entah mengapa kasus ini meledak begitu besar, sampai presiden pun turut campur. Baru kali ini presiden sebuah negara ikut mengomentari sebuah film porno. Tidak hanya di Indonesia, media sekelas New York Times pun menaruh perhatian. Kasus amoralitas yang sebenarnya tidak luar biasa, menjadi luar biasa karena dukungan media. Di facebook sendiri ada seorang pendeta, gembala jemaat, yang dengan jujur mengakui bahwa ia telah menonton pornofilm tsb, dan kemudian berkomentar: “biasa aja tuh, saya gak terpengaruh…” [amiinnn :-P] Saya sendiri mau tidak mau merasa perlu untuk cari tahu dikit-dikit, padahal mestinya tidak ada urusan yang perlu diketahui soal ini.

Mengapa saya jadi kepingin cari tahu tentang hal-hal yang sedang jadi pembicaraan semua orang, padahal semestinya saya tidak berurusan, bahkan tidak tertarik pada topik tersebut? Mengapa “mengetahui berita heboh terkini” menjadi sebuah hal yang saya kejar? Saya rasa kecenderungan ini bukan terjadi pada saya saja, tapi pada semua manusia. Mengapa ada orang-orang yang ngefans berat pada seseorang, sehingga berusaha mengetahui segala hal tentang ybs? Mengapa orang-orang berebut untuk berfoto bersama dengan artis, dan kemudian sedapat mungkin memamerkan foto2 tsb? Mengapa facebook yang adalah wadah untuk “memamerkan diri” menuai keberhasilan yang luar biasa dengan ratusan juta pengguna?

Jawabnya: ada sebuah kapasitas sekaligus kekosongan besar dalam diri manusia, yaitu untuk mengagumi dan dikagumi.

Ada sesuatu yang hilang dalam diri setiap manusia, yaitu Kemuliaan Allah (Rom 3:23). Manusia diciptakan di dalam kemuliaan dan untuk kemuliaan Allah. Apa dan gimana sih kemuliaan yang hilang itu? Gampangnya mungkin gini: kemuliaan tsb adalah yang membuat manusia begitu penuh, puas, berharga, mulia, percaya diri dalam takaran yang sempurna, sedemikian sempurna sehingga bahkan mereka bisa telanjang dan tidak merasa malu (Kej 2:25). Manusia diciptakan untuk menjadi berharga, mulia, mengagumkan; semuanya untuk menyatakan betapa mulianya Allah sang pencipta itu. Manusia adalah ciptaan terbaik dari Allah, dan Allah sangat puas dengan pekerjaanNya.

Tidak hanya dengan keberadaan yang mengagumkan, manusia diciptakan juga untuk mengagumi penciptaNya. Dikagumi dan mengagumi, itulah kerinduan yang terbesar dalam diri manusia, sebuah kerinduan untuk kemuliaan yang hilang. Dalam kegelapan dosanya, manusia tetap mencari pemenuhan ini. Wujudnya adalah sebuah kerinduan yang sangat kuat untuk senantiasa menjadi, berdekatan, berhubungan, tahu, kenal, nyambung dengan segala hal yang bersifat spektakuler, menakjubkan, populer, atau dengan satu kata: mulia. Bisa menjadi “mulia”, atau terhubung dengan sesuatu yang “mulia” menimbulkan kepuasan yang unik dan tak tergantikan. Sebuah kepuasan yang hanya dimiliki oleh ciptaan yang segambar dengan Allah.

Kitab Ibrani menceritakan tentang apa sebenarnya yang dicari oleh orang2 yang rela memberikan nyawa demi iman mereka. Sama seperti semua manusia, para pahlawan iman ini juga mencari kemuliaan yang hilang, hanya saja mereka mencarinya ke arah yang tepat, yaitu ke ‘tanah air sorgawi’:

“Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air…yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi.” Ibr 11:13-16

Mengapa saya menghubungkan semua ini dengan penyembahan kepada Allah? Karena penyembahan yang sejati adalah satu-satunya cara kita dapat mencicipi kemuliaan tanah air kita yang sebenarnya. Penyembahan membuat kita terhubung dengan Pribadi paling mengagumkan di seluruh alam semesta. Kepuasan menonton siaran langsung, pada saat tim kesayangan kita menjadi juara dunia, pada saat kita mengetahui segala hal tentang artis pujaan, pada saat kita bisa berfoto atau bahkan makan bersama seorang yang kita kagumi, seluruh kepuasan itu, kalikan dengan sejuta, mungkin akan mendekati kepuasan pada saat kita bisa berjumpa dan bersekutu dengan Allah pencipta kita melalui penyembahan.

Tetapi mengapa dalam kenyataan kehidupan penyembahan kita tidaklah sememuaskan itu? Karena kapasitas kita untuk mengagumi telah dirampok habis-habisan. Dalam kemajuan informasi seperti sekarang, kita terlalu banyak mengagumi hal-hal, berita-berita, orang-orang, film-film, lagu-lagu, dan segala macam karya manusia lainnya. Mengagumi hal yang memang mengagumkan tidaklah salah, tapi sebagai manusia, kita memiliki kapasitas yang terbatas. Bagi orang yang kekenyangan, aroma masakan koki terbaik pun bisa membuat mual. Demikian juga penyembahan dapat menjadi sebuah aktifitas membosankan yang melelahkan. Bukannya dipuaskan oleh perjumpaan dengan Allah yang mulia, penyembahan dan ibadah menjadi sebuah kewajiban tak terlalu penting yang akan dengan mudah dikalahkan oleh, katakan saja, siaran langsung final piala dunia.

Manusia adalah makhluk paling cerdas di alam semesta, yang sayangnya, sering mencari apa yang dia sungguh-sungguh inginkan di tempat yang jelas-jelas salah [aneh yach…]. Saya sekarang belajar untuk membatasi kekaguman saya kepada apapun selain Tuhan. Seluruh fokus kekaguman saya hanya boleh tertuju kepada satu Pribadi saja. Menjadi seorang penyembah sejati tidaklah mudah, dan Bapa mencari penyembah yang demikian. Saya akan terus belajar dan belajar. Semoga lebih banyak orang menempuh jalan sempit yang saya tempuh sekarang ini. Tuhan memberkati.

Tuesday, July 06, 2010

Twilight: Jatuh cinta sampai mati dengan orang mati?

Udah tiga seri film twilight yang diputar di bioskop sampai saat ini, dan ketiganya saya (putuskan untuk) liat. Kisah cinta segitiga antara seorang cewek dan dua 'iblis' ini rupanya sangat mendunia, sehingga konon Twilight Eclipse langsung meraup pemasukan USD 30 juta pada hari pertama pemutarannya. Sungguh luar biasa, mengingat film ini sebenarnya termasuk film romans biasa.

Saya udah mendapat beberapa info soal novel twilight -sebelum film pertamanya diputar- dari komentar2 yang beredar di internet, mengenai bagaimana novel karangan Stephanie Meyer ini menjadi fenomena, khususnya di kalangan cewek remaja. Dan pada saat nonton filmnya untuk pertama kali (saya gak baca novelnya), sejujurnya saya harus 'berusaha' untuk menikmati film tsb, karena saya sebelumnya berharap bahwa film tsb lebih bersifat action horror daripada sebuah film drama percintaan. Dan setelah menonton seri ketiganya barusan, saya mulai memahami mengapa film/kisah ini begitu dicintai oleh banyak orang, dalam hal ini para gadis remaja.

Mungkin intisari dari serial twilight adalah sebuah kisah cinta yang sangat kuat antara dua (perkembangan terkini: tiga) insan yang berbeda dunia, dimana cinta tersebut bagaikan api yang menelan habis seluruh keberadaan insan yang terlibat. Saat terjadi perpisahan, setiap pihak digambarkan amat sangat menderita, bahkan tokoh Bella sampai harus bunuh diri, dan diselamatkan justru oleh seorang pria lain yang juga sangat mencintainya. Meskipun cinta mereka digambarkan begitu bergelora, begitu penuh hasrat, tapi hubungan tsb tetap 'terjaga' kesuciannya. Tokoh Bella digambarkan tetap perawan sampai film yang ketiga, sementara si cowok Edward rupanya sangat konservatif (mengingat dia berusia ratusan tahun, heheh), hanya mau berhubungan seks kalau sudah menikah resmi. Ada banyak adegan dalam tiga seri film ini, dimana Edward & Bella hanya berpandangan, sedikit berkata-kata, hanya melakukan tatapan penuh cinta.

Tapi dengan [tidak] terpaksa, saya harus mengatakan, berhati-hatilah para Twilight mania! [khususnya para cewek] Ekspresi cinta yang digambarkan dalam film ini sesungguhnya sangat berlebihan, dan sebenarnya sangat berbahaya bagi hubungan pacaran yang sebenarnya.

Pernah liat iklan mie instan di tv nggak? Di iklan tsb, digambarkan setiap orang yang memakan mie instan, memakannya dengan ekspresi yang luarbiasa nikmat. Mata melotot & berputar-putar, mulut monyong menyeruput mie instan, setelah itu merem melek merasakan nikmatnya si mie instan, mmmh..mmmh... lezzaaattt nya luar biasa. Mie instan sih memang enak [kalo jarang makan], tapi ekspresi yang ditampilkan di iklan tsb jelas tidak realistis & berlebihan banget.

Itulah yang disajikan dalam Twilight, ekspresi cinta yang sangat berlebihan & tidak realistis. Tidak realistis bukan dalam hal tidak bisa dilakukan, tapi jika dilakukan akan membawa akibat yang berbeda dari yang disajikan di film tsb. Kalau kita berekspresi sama seperti para bintang iklan pada saat makan mie instan, resikonya paling kita dianggap gila oleh orang sekitar. Tapi jika kita meniru ekspresi cinta Bella & Edward dalam hubungan pacaran kita, kehancuranlah yang menjadi bagian kita.

Dari pengamatan saya, paling tidak ada tiga elemen berbahaya dalam Twilight, khususnya bagi generasi muda:

1. Cinta membuat kamu nggak berdaya samasekali.
Tokoh dalam Twilight begitu hancur pada saat mereka harus berpisah. Saya jujurnya pernah mengalami jatuh cinta seperti ini, yaitu pada saat jatuh cinta pertama kali dengan cewek yang menjadi istri saya sekarang. Seluruh hidup ini sepertinya 'keracunan' cinta, gak bisa mikir lain, mikirin dia terus menerus. Kebakaran besar yang melanda beberapa tempat akhir2 ini di Surabaya tidak ada apa-apanya dibandingkan api asmara yang berkobar di hati saya pada saat itu... (^_^) Merasakan semua ini sah-sah saja sih, tapi kuncinya di sini adalah: kendali. Asmara HARUS dikendalikan, meskipun sepertinya akan mengurangi kenikmatannya. Twilight secara tidak langsung menyatakan bahwa jika kamu benar2 mencintai pasanganmu, kamu akan (dan pasti) kehilangan kendali. Kamu akan menjauh dari keluargamu, berbohong kepada semua orang, termasuk memikirkan bunuh diri jika cintamu tak kesampaian. Hal tsb sangat keliru. Jika kamu sangat mencintai pasanganmu, justru kamu harus menetapkan bahwa kamu akan mengendalikan perasaanmu sekuat-kuatnya, agar kamu dapat membuat keputusan2 penting dengan benar. Asmara bagaikan sungai berarus deras, dan membiarkan diri kamu & pacarmu hanyut & kemudian tenggelam di sungai tsb, bukanlah tindakan yang bijak. Twilight membuatnya terlihat indah & romantis, tapi tenggelam di sungai asmara hanya akan membuahkan penyesalan di kemudian hari.

Para perempuan khususnya harus lebih berhati-hati. Mengapa saya mengkhususkan kaum perempuan dalam hal ini? Karena romantisme semacam ini adalah impian setiap perempuan. Secara alamiah perempuan sangat mengharapkan seorang pria yang kuat, tampan, melindungi, berhasrat padanya tapi sekaligus bisa menjaga kesuciannya, pria yang bersedia melakukan apapun baginya, menyediakan diri & waktu untuk berdua, sangat 'hangat' tapi sekaligu 'dingin', dst, dst. Tokoh Edward adalah impian tiap cewek, karena ia memenuhi semua persyaratan itu. [Edward bisa begitu sempurna karena yang menciptakannya adalah perempuan juga]. Tidak cuman Edward, juga dimunculkan tokoh Jacob yang memiliki kualitas yang tidak dimiliki Edward: badan & lengan yang kekar dan perut yang sixpack. Film ini bisa membangkitkan hasrat tak terkendali bagi seorang perempuan, dengan efek yang sama seperti pornografi bagi pria. Habis nonton film ini berduaan, seorang cewek bisa benar2 menginginkan romantisme yang sama dari pacarnya, dan jika itu dilakukan... lihat no. 2 di bawah...

2. Kamu bisa berduaan di kamar [& di hutan], berpelukan & berciuman di atas ranjang [atau rerumputan] dengan pacarmu, tanpa terjerumus ke dalam seks pranikah.
Bagi para cewek, kecuali kamu memiliki vampir betulan sebagai pacarmu (yang kebetulan sanggup mencium kamu tanpa menggigit lehermu) kondisi di atas tidak akan terjadi. Bagi para cowok, kecuali kamu adalah vampir jadul yang udah hidup ratusan tahun sehingga bukan haus darah tapi haus cinta, kondisi di atas adalah khayalan. Pada saat dua insan lawan jenis berpelukan dan berciuman di tempat privat, dalam kondisi hanyut oleh arus sungai asmara, hasilnya adalah seks, yang kemudian diikuti dengan penyesalan, kehancuran, aborsi, dst. Rumus ini sepasti 1 + 1 = 2. Saat menonton film ini, ingatlah bahwa semua yang ditampilkan di film tsb adalah sepenuhnya khayalan, meskipun kita bisa benar-benar turut merasakan intensitas asmara tsb dalam kehidupan nyata. [ingat iklan mie instan]. Cinta itu indah & nikmat, seks juga, tapi semua itu tidak dirancang Tuhan untuk dinikmati tanpa aturan main & kendali.

3. Mencintai seseorang dengan sisi gelap memang lebih seru
Saya tidak tahu mengapa Stephanie Meyer menetapkan bahwa semua pria yang dicintai Bella adalah 'monster'. Mungkin hanya agar drama percintaan ini tidak menjadi biasa-biasa. Tapi menurut saya ada sebuah fantasi dalam diri setiap perempuan untuk menjadi 'liar', mungkin karena cetakan sosial terhadap gender perempuan yang mengatakan bahwa seorang perempuan harus menjaga kesopanan, harus anggun, dst. Mungkin dengan mencintai seseorang yang memiliki 'iblis' dalam dirinya, justru akan lebih romantis dan unpredictable. Saya tidak bisa memastikan hal ini karena saya bukan perempuan :-). Tapi jika ini benar, maka Twilight akan menyalakan sebuah api yang seharusnya tidak boleh menyala dalam hati setiap gadis remaja. Seorang cowok dengan sisi gelap, malah akan terlihat lebih menarik daripada seorang cowok yang menjaga kekudusan. Beware girls! Menikah dengan 'cowok gelap' sungguh-sungguh akan membuat kalian masuk ke neraka yang sesungguhnya.

Sejauh ini tiga elemen tsb yang menurut saya sangat berbahaya bagi generasi muda. Sejujurnya, bagi saya lebih baik anak muda [apalagi yang kristen] tidak perlu menonton film ini apalagi membaca novelnya. Saya bukan tipa orang yang suka melarang, tapi film ini tidak memberikan apa-apa selain rangsangan2 yang tidak perlu bagi anak-anak muda. Kalau mau nonton juga, bolehlah, tapi coba cermati dan bedakan mana yang bersifat racun, mana yang bersifat hiburan semata, ok?!