Tuesday, April 26, 2011
Jangan 'bergantung' pada Yesus
Thursday, April 07, 2011
Mengerjakan Keselamatan
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," Flp 2:5-11
Wednesday, April 06, 2011
Memberhalakan Kristus
Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka…Ul 32:21
Thursday, March 24, 2011
Tuntutan KeTuhanan Kristus
Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu?…" Maleakhi 1:6
Ada satu hal yang unik yang akhir-akhir ini saya amati, yaitu istilah yang digunakan seseorang untuk memanggil rekannya. Untuk menyapa, panggilan “bro” sekarang menjadi sangat umum. Pertama kali saya mendengar orang saling menyapa dengan istilah itu waktu saya sedang di Jakarta sekian tahun yang lalu. Tapi kini sepertinya panggilan tersebut sudah cukup umum terdengar di mana-mana. Tidak hanya “bro”, panggilan “boss” juga sering saya dengar, khususnya dalam urusan tawar menawar di dunia bisnis.
Satu hal yang kita tahu bersama, panggilan “bro” atau “boss” tidaklah dimaksudkan untuk memiliki arti sesungguhnya. Saat seseorang memanggil rekannya dengan sebutan “bro” atau “boss”, ia tidak sedang bersungguh-sungguh menganggap rekannya sebagai saudara atau majikan dalam arti sebenarnya. Panggilan itu hanya sekedar sebagai pengganti nama dari yang dipanggil, sebuah sebutan yang nyaman digunakan untuk berbagai macam orang dari berbagai status sosial.
Tidak demikian halnya jika kita memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan”. Kita tidak bisa memanggil “Tuhan” sebagaimana kita memanggil seseorang dengan panggilan “boss”. Jika kita bisa menyapa atau memanggil siapapun dengan sebutan “bro” atau “boss” tanpa beban apa-apa, tidak demikian halnya dengan sapaan “Tuhan” kepada Yesus. Pada saat seseorang memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan”, dia sebenarnya sedang (dan harus) menempatkan diri sebagai hamba. Dan memang itulah yang benar, Yesus adalah Tuhan (Tuan) dan kita adalah hambaNya. Memanggil Yesus “Tuhan” tanpa benar-benar bermaksud menempatkan diri sebagai hambaNya dapat membuat kita melalaikan begitu banyak hal dalam kehidupan, yang berujung pada hukuman kekal. Tuhan Yesus pernah berfirman: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21).
Dengah rendah hati harus kita akui, kita sering tidak sepenuhnya bersikap hamba pada saat kita memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan”. Bagi kita sebutan “Tuhan” lebih merujuk pada apa yang Dia bisa (dan semoga) lakukan dalam hidup kita, bukan apa yang harus kita lakukan dalam ketaatan pada kehendakNya. Panggilan “Tuhan” terasa lebih cocok untuk gambaran seorang penolong maha baik, yang selalu ingin menyenangkan & menjawab kebutuhan kita, rela mati demi kita, dan tidak memiliki tuntutan apa-apa kecuali sedikit lagu pujian di hari Minggu dan komunikasi sekian menit perhari dalam doa. Atau seperti yang dikatakan dalam kutipan kitab Maleakhi di awal tulisan ini, panggilan “Tuhan” tidak lagi berkorelasi dengan tuntutan rasa takut dan hormat yang mendalam dari pihak kita. Kita bisa merasakan unsur kasih dalam panggilan “Tuhan”, tapi kehilangan makna “tuntutan”nya.
Ijinkan saya untuk memunculkan kembali unsur tuntutan dalam sapaan “Tuhan” ini. Kita perlu memeriksa kembali hidup kita, berapa persen dari waktu & kerja keras yang kita kerjakan, yang kita lakukan untuk Yesus sebagai ‘boss’ atau majikan kita. Memanggil Yesus sebagai Tuhan adalah sama dengan memanggil diri kita untuk melayani Dia. Ada tuntutan yang sangat besar bagi pihak kita, setiap kali kita memanggilNya “Tuhan”. Setiap kita yang pernah/sedang bekerja di bawah otoritas seorang majikan pasti tahu bahwa ada tuntutan yang jauh lebih besar daripada sekedar menyediakan waktu 2 jam seminggu, plus beberapa menit di pagi hari untuk sekedar mencari tahu kehendak sang majikan, dan setelah itu melanjutkan hari itu sesuai kehendak dan kesibukan kita sendiri.
Saya ingin mendorong bagi setiap saudara yang saat ini sudah memanggil Yesus sebagai “Tuhan” agar menyediakan waktu untuk melayani. Untuk bisa melayani, cara paling mudah adalah dengan mencari kesempatan untuk melayani di gereja, meskipun pelayanan tidak melulu harus di dalam bangunan gereja. Apapun bentuk pelayanan yang anda pilih, anda akan mengalami sukacita dan berkat yang berlimpah pada saat sungguh-sungguh melayani Tuhan. Tuhan Yesus bukan ‘boss’ yang pelit dan kejam, Dia sangat murah hati. Saat anda menghamba dengan menyediakan hati, waktu dan kerja keras, Yesus akan memberkati anda dengan sangat berlimpah dalam segala segi kehidupan. Bahkan kita semua akan mengalami bahwa tuntutan keTuhanan Kristus sebenarnya sangat ringan jika dibandingkan dengan berkat-berkat yang disediakan sebagai upah atas ketaatan pada keTuhananNya, seperti kata Yesus, “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Mat 11:30).
Jadi, sementara kita boleh memanggil satu sama lain dengan sebutan “bro” atau “boss”, mari kita memanggil Yesus sebagai “Tuhan” dengan menyadari bahwa kita sepenuhnya adalah hamba yang hidup untuk melakukan perintahNya. Kalau ada perusahaan bisa memberikan upah dan kepuasan kerja yang tinggi pada karyawannya yang setia dan cakap, saya percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup memberikan upah dan kepuasan yang jauh lebih tinggi bagi setiap pekerjaNya. Amin!
Tuesday, March 22, 2011
Berkat keTuhanan Kristus
“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga” (Ef 1:18-20)
Salah satu berkat terbesar, yang jarang dinikmati secara penuh oleh orang percaya adalah berkat dari kehidupan yang sepenuhnya dikuasai oleh keTuhanan Kristus. Memang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan adalah langkah awal kehidupan Kristen setiap orang. Tapi dalam perjalanan hidup setelah mengenal Kristus, keTuhanan Kristus mulai kehilangan pengaruhnya, dan orang Kristen kemudian melanjutkan hidupnya sebagai orang yang percaya Yesus adalah Tuhan, tapi tidak menerima seluruh berkat yang disediakan dari kepercayaan itu.
Di tengah semua kemajuan dan kemudahan yang diberikan oleh teknologi, umat Kristen, khususnya yang tinggal di kota besar cenderung memiliki pandangan bahwa hidup yang diberkati Tuhan adalah hidup yang diwarnai oleh kemudahan dan kenyamanan. Tanpa sadar, umat Allah kemudian menempatkan Tuhan dalam posisi sebagai pihak yang akan menjaga dan menjamin bahwa hidup akan senantiasa nyaman dan mudah, bahwa kehidupan nyaman dan mudah adalah sebuah keniscayaan & tanda berkat Allah. Disadari atau tidak, Yesus saat ini lebih dikenal sebagai juru penolong, kekasih, sahabat yang baik, pemelihara, penyembuh, pemecah masalah, jawaban berbagai persoalan, penghibur, dan banyak lagi. Lagu-lagu favorit umat Kristen biasanya berkisah tentang semua atribut di atas. Tentu saja semua atribut tadi tidaklah salah, tapi memiliki satu kelemahan: fokusnya bukan pada keTuhanan Yesus Kristus.
Akibat dari semua itu adalah, orang Kristen gagal untuk menerima berkat yang jauh lebih besar daripada sekedar hidup yang mudah dan nyaman. Terlalu berfokus pada kenyamanan, mereka menjadi lebih sulit mengucap syukur, terlalu sensitif pada penderitaan & lebih mudah mengeluh. Mereka tidak lagi berharap lebih dan memiliki pengharapan yang sama dengan pengharapan orang yang tidak mengenal Allah, yaitu berharap pada hal-hal yang kelihatan dan bersifat sementara: uang, kesejahteraan, kesehatan, kepopuleran, dst. Walaupun semua berkat tersebut memang disediakan Allah, tapi sangat remeh jika dibandingkan dengan berkat sesungguhnya yang disediakan Allah melalui kehidupan yang berTuhankan Kristus.
KeTuhanan Kristus memiliki sebuah pesan utama: Yesus berdaulat penuh atas hidup umatNya. Dia adalah Tuhan, kita adalah hamba. Hidup kita bukan milik kita lagi. Kita ini “…telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1Kor 6:20) Kehidupan Kristen adalah sebuah mandat untuk menghasilkan buah demi Kerajaan Allah dan melakukan segala perintah sang Tuan tanpa berbantah-bantah. Sebagai hamba, kemudahan dan kenyamanan hidup bukan menjadi yang utama, tapi menyerahkan segala kehendak pribadi di bawah kedaulatan sang Majikan.
Ironisnya, pada jaman sekarang kedaulatan Yesus barulah diakui dan diingat pada saat orang Kristen mengalami kejadian buruk atau malapetaka yang tidak bisa dihindarinya lagi. Saat kematian menjemput orang yang kita cintai, saat usaha yang dirintis ambruk dan tidak tertolong, saat seperti itulah orang kemudian –mau tidak mau – belajar untuk melihat Yesus sebagai Tuhan yang berdaulat yang mengendalikan segala sesuatu. Melihat bencana tsunami di Jepang baru-baru ini, kedaulatan Allah langsung muncul di pikiran. Dalam dunia hukum/asuransi bahkan ada istilah ‘act of God’ yang merujuk pada bencana alam yang tidak bisa dihindarkan, dan itu dikatakan sebagai ‘perbuatan Allah’. Sungguh menyedihkan jika kita dipaksa mengakui keTuhanan Kristus pada saat mimpi-mimpi kita hancur berantakan.
Mengapa tidak kita mengakui kedaulatan Kristus pada saat hidup kita berlangsung lancar dan segala rencana kita berjalan dengan baik? Bagaimana jika pada saat Tuhan memberkati segala usaha, pelayanan dan keluarga kita, kita menyerahkan kembali segala berkat tersebut dalam penundukan diri pada keTuhanan Kristus? Di tengah segala kelimpahan kita bisa tetap berlaku seperti hamba, taat dan tunduk penuh pada kehendak Tuhan, menyadari bahwa jika Tuhan memberikan berkat, Dia merencanakan agar kita menggunakan berkat tersebut sesuai dengan kehendakNya. Bagaimana jika di tengah semua kesibukan yang menumpuk akibat order yang membanjir, kita tetap menyediakan waktu yang terbaik untuk melayani, mendoakan orang, terlibat aktif dalam KESAN? Bukannya menggunakan seluruh berkat jasmani tersebut untuk membangun kehidupan yang mudah dan nyaman bagi diri sendiri, kita justru berlutut di kaki Tuhan, menyadari besarnya tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada kita dan mencari tahu apa kehendak Tuhan dengan semua kelimpahan ini.
Itulah kehidupan yang benar-benar berTuhankan Kristus. Untuk orang yang seperti ini, berkat Tuhan akan melampaui apa yang dapat dilihat mata. Tuhan akan mengadakan ikat janji dengan orang semacam ini, memberkati dan menjamin kehidupan anak cucunya. Tidak hanya di lingkup keluarga, Tuhan akan memakai orang semacam ini untuk memberkati generasi demi generasi. Orangnya mungkin akan meninggal dunia, tapi inspirasi hidup yang ditinggalkannya bisa menjangkau puluhan generasi sesudahnya. Mereka akan “…mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10).
Saat orang yang berTuhankan Kristus mengalami masalah, ia justru akan terbang makin tinggi, karena masalah tersebut akan mendewasakan imannya. Bukannya jatuh dalam keluhan, dia akan makin diperkuat dalam imannya, menyadari bahwa “…penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya,…” (2Kor 4:17) Ucapan syukur akan selalu mengalir dari bibirnya, kemenangan menjadi sebuah kepastian. Alkitab mendorong kita untuk mengerti “…betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya” (Ef 1:18-19). Mari kita berdoa agar kita bisa mengalami berkat dan kuasa di dalam kehidupan seorang yang sungguh-sungguh menjadikan Yesus sebagai Tuhan!
Friday, December 10, 2010
Bersiaplah Untuk Mati!
Hari ini genap lima hari sejak terjadinya sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa anak dari seorang teman lama saya. Anak tersebut masih sangat belia, meninggal dunia karena tenggelam dalam usaha untuk menolong temannya yang tercebur di sebuah waduk. Bukannya tertolong, dua anak ini akhirnya tenggelam. Sebuah peristiwa kehilangan nyawa secara tragis yang terjadi terus menerus di mana saja, dalam berbagai bentuk dan kisah.
Kalau saya pikir-pikir, semua kita sebenarnya sudah divonis mati sejak kita dilahirkan di dunia. Semua orang yang hidup, semuanya sedang menuju satu titik akhir: kematian. Bedanya dengan vonis mati oleh pengadilan, vonis mati kita itu gak jelas pelaksanaannya kapan. Maut dapat menjemput kapan saja, dan tidak ada orang yang bisa protes atau mencegah jika sang maut sudah menjatuhkan eksekusi. Maut tidak memilih orang, tidak berbelaskasihan & tidak pandang bulu: orang baik, orang jahat, anak-anak, pria, wanita, kaya atau miskin, tidak ada pengaruhnya di hadapan sang maut. Siap atau tidak siap, semua orang, pada waktunya, akan ‘dijemput paksa’ oleh kuasa yang satu ini.
Anehnya, topik tentang kematian cenderung tabu untuk dibicarakan, bahkan tabu dipikirkan oleh manusia. Kita semua selalu berusaha menghindar untuk membicarakan atau memikirkan kematian, seolah-olah kematian itu sesuatu yang memang bisa kita hindari. Anak-anak muda khususnya, pastilah sangat jarang memikirkan tentang kematian, dengan anggapan umum (yang sebetulnya kosong) bahwa kematian masih jauh dari mereka. Dengan menghindari topik ini, hasilnya sudah jelas: orang tidak siap menghadapi kematian. Kematian adalah sebuah keniscayaan, namun tidak ada orang yang (ber)siap menghadapinya. Konyol juga…
“Mereka yang tidak pernah memikirkan kematian, tidak akan siap menghadapinya”, begitu kata seorang rohaniwan jaman dulu. Tapi kalau boleh saya tambahkan, “mereka yang tidak pernah memikirkan kematian, tidak akan siap menghadapi kehidupan.” Gampang saja, coba kita pikirkan, apakah kita akan hidup dengan cara seperti sekarang, jika kita mengetahui bahwa usia kita hanya tersisa satu bulan lagi? Lucu dan sekaligus tragis betapa prioritas hidup akan jauh lebih jelas pada saat kematian menjelang, pada saat kesempatan untuk melakukannya sudah berlalu. Kita menjalankan dan menghabiskan kehidupan, dengan mengejar hal-hal yang menurut kita penting, sampai pada saat kematian menjelang, kita baru sadar bahwa ada begitu banyak yang benar-benar penting yang sudah dilalaikan. Betapa banyak penyesalan di ranjang kematian, dan betapa lebih banyak lagi penyesalan tersebut di kekekalan.
Ada sebuah nasihat yang sangat bijaksana, “Selalu pikirkan bahwa kamu akan mati besok, maka kehidupanmu akan menjadi sangat efektif & produktif”. Saya teringat akan filosofi “Impacting All Generations” yang dijadikan nama IMAGE. Untuk memiliki hidup yang berdampak, setiap anak muda harusnya lebih sadar atas vonis mati yang telah dijatuhkan atas mereka, menghitung setiap hari dalam kehidupan sebagai kesempatan untuk melakukan apa yang benar-benar penting.
Faktor lain lagi mengapa orang menghindari topik kematian, yaitu karena mereka tidak tahu pasti apa yang akan terjadi setelah mereka mati. Kematian menjadi menakutkan, perjalanan ke alam baka adalah perjalanan oneway, alias tanpa tiket pulang. Sekali pergi, tidak akan kembali, sehingga tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di sana. Tapi bagi orang Kristen, ketakutan ini sebenarnya tidak perlu ada, karena Kristus telah menunggu di sana untuk menyambut setiap orang yang berpulang kepadaNya. Jadi setiap orang Kristen seharusnya selalu memiliki pikiran tentang kematian dalam hidup mereka. Kalau ada di antara orang yang membaca tulisan ini, yang masih tidak memiliki kepastian apa yang terjadi setelah kematiannya, saya punya kabar baik buat anda: Kristus telah mengalahkan kematian, dan barang siapa yang percaya kepadaNya telah memiliki hidup kekal. Jika anda percaya kepada Yesus Kristus, kematian adalah sesuatu yang bisa disambut dengan sukacita.
“Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya… Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.” Pengkotbah 7:2,4
Berpikir tentang kematian membuat seseorang lebih berhikmat dan lebih mencari Allah. Segala ambisi manusia tentang kehebatan kekayaan, ketenaran, kenikmatan hidup, dll, semua akan kelihatan bodoh dan kosong di hadapan kematian. Saya bahkan percaya bahwa kualitas kerohanian seseorang akan ditentukan oleh seberapa sering ybs berpikir tentang kematian.
Memang memikirkan tentang dekatnya kematian tidak otomatis membuat seseorang berhikmat secara benar. Saya percaya ada juga orang yang malah menjadi sangat pasif, atau malah frustasi menjelang kematiannya. Tapi pemikiran kematian mau tidak mau membuat orang harus memilih sikap: memanfaatkan hidup sebaik-baiknya, atau mengambil sikap apatis total terhadap kehidupan. Saya hanya berharap bahwa tidak ada orang yang mengaku Kristen yang kemudian mengambil pilihan untuk menjadi apatis pada saat ia harus menghadapi kematian, karena ia akan dihakimi dengan berat oleh Kristus.
Mengapa memikirkan tentang kematian seharusnya dapat menjadi pendorong yang bagus bagi orang Kristen? Karena kita memiliki janji adanya kebangkitan untuk hidup kekal. Rasul Paulus berkata bahwa, “…Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati". (1Kor 15:32b) Apatisme dalam menghadapi kematian bersumber dari tiadanya pengharapan untuk kebangkitan yang lebih baik. Memang, jika tidak ada kebangkitan, apapun yang dilakukan dalam hidup ini akan menjadi sia-sia, orang Kristen yang berjuang dalam iman akan menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia.
Manfaat lain dari memikirkan kematian adalah untuk membantu kita menemukan tujuan hidup kita. Coba bayangkan hari kematian kita, bagaimana kenangan yang ingin kita tinggalkan untuk orang-orang di sekitar kita? Apakah mereka akan menangis karena hidup mereka telah diubahkan oleh hidup kita? Apakah orang-orang akan berkomentar, “yach… memang sudah waktunya…”, atau “wah, sungguh sial semuda itu sudah mati…”. Komentar apa yang ingin kita dengar? Bagaimanakah kita ingin dikenang pada saat kita sudah tiada di dunia ini? Jika kita sudah memiliki bayangan, itulah tujuan yang harus kita kejar dalam hidup kita.
Itu sebabnya saya ingin mendorong setiap orang Kristen, khususnya anak muda, pikirkanlah kematianmu sesering mungkin. Lebih baik bersiap untuk hari kematian yang mungkin masih jauh, daripada samasekali tidak siap saat waktu kematianmu tiba secara tidak terduga. Jangan takut akan kematian, tapi jadikan vonis kematian kita sebagai pendorong untuk kehidupan yang efektif dan berdampak besar.
Tuesday, August 03, 2010
Kerinduan untuk Juruselamat
Mengapa saya [dan jutaan orang lain] suka Naruto? Tidak hanya Naruto, kisah para tokoh khayalan seperti Superman, Spiderman, Sam Witwicky [Transformers], Frodo Baggins [Lord of The Rings], Harry Potter, bahkan Kungfu Panda dll, memikat hati begitu banyak orang. Semua kisah di atas memiliki persamaan: mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi juruselamat dunia, dalam konteks masing-masing, tentunya. Bagaimana seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi juruselamat harus menjalani proses yang beragam likunya, bagaimana ia harus jatuh bangun dalam keraguan, semuanya bisa diramu menjadi kisah yang selalu menarik. Dan biasanya begitu kisah-kisah ini dituangkan ke dalam film oleh sutradara terbaik, akan selalu mencapai box office dalam waktu singkat. Kesimpulannya: manusia selalu menyukai cerita-cerita tentang juruselamat.
Tidakkah ini mencerminkan kondisi rohani dari umat manusia yang telah jatuh dalam dosa? Meski sangat banyak manusia yang tidak mengakui bahwa mereka memerlukan Allah, kesukaan bawah sadar akan kisah-kisah tentang juruselamat membuktikan sebaliknya. Dibalik kesukaan terhadap kisah atau film bertema kepahlawanan, pastilah tersembunyi sebuah kerinduan yang mungkin tak disadari tentang bagaimana segala sesuatu yang rusak di dunia ini akan dibereskan. Dunia dan manusia memang tidak dirancang untuk berkubang dalam dosa. Dalam diri manusia yang terdalam ada sebuah kerinduan besar untuk melihat pemulihan segala ciptaan, kembali kepada kemuliaan yang sebenarnya.
Tidak hanya itu, ada banyak anak muda – dengan indoktrinasi yang cukup – mau menyerahkan segalanya untuk sebuah visi mengubah/menyelamatkan dunia. Kisah-kisah dimana ada orang yang bersedia meledakkan diri dengan bom tidaklah langka kita dengar. Mereka-mereka ini, yang sebenarnya mati konyol, percaya seratus persen bahwa mereka sedang melakukan bagian mereka dalam pemulihan dunia [versi mereka tentu saja]. Tidak hanya merindukan juruselamat, beberapa orang bersedia memberikan nyawa mereka untuk mengambil bagian dari gerakan ‘sang juruselamat’ itu sendiri. Beberapa pimpinan agama, dengan kemampuan orasi yang luarbiasa secara sadar atau tidak sadar membangkitkan harapan yang begitu besar atas juruselamat ini, dan kemudian mendapatkan loyalitas yang luarbiasa dari para pengikut mereka.
Lalu apa hubungannya dengan kita orang Kristen? Paling tidak ada dua hal yang saat ini dalam pikiran saya. Pertama, Yesus sendiri mengatakan bahwa pada akhir jaman akan tampil banyak ‘mesias/juruselamat’ palsu, dengan banyak tanda ajaib yang menyertai mereka [Mat 24:3-4 & 23-24]. Ciri khas Mesias/Nabi palsu ini jelas, mereka menkhotbahkan penyelamatan tanpa pertobatan, pertolongan tanpa tuntutan untuk meninggalkan dosa:
Yeremia 23:14-17
Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorangpun yang bertobat dari kejahatannya; …Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Janganlah dengarkan perkataan para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia kepadamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut TUHAN; mereka selalu berkata kepada orang-orang yang menista firman TUHAN: Kamu akan selamat! dan kepada setiap orang yang mengikuti kedegilan hatinya mereka berkata: Malapetaka tidak akan menimpa kamu!
Bukankah ini yang sering kita temui? Para hamba Tuhan dengan karunia-karunia mujizat yang hebat, mengkhotbahkan kabar baik Injil dan berkat-berkatnya, tanpa sedikitpun menuntut pertobatan yang radikal dari pendengarnya. Hamba Tuhan semacam ini, dengan promosi yang tepat, akan memperoleh jutaan pengikut dalam waktu singkat! Mengapa? Karena setiap orang merindukan juruselamat. Sebaliknya, Yesus, sang Juru Selamat sejati dalam masa hidupNya justru tidak memiliki pengikut yang terlalu banyak, karena tuntutanNya yang tanpa kompromi untuk pertobatan yang sejati. Kita semua perlu benar-benar menyadari betapa kerinduan kita yang terdalam ini bisa menjadi begitu salah arah dan disalahgunakan.
Hal kedua yang ada dalam pikiran saya adalah bahwa setiap orang Kristen sebenarnya adalah orang yang paling beruntung di dunia ini, karena kita telah mengenal Juru Selamat yang sebenarnya! Anehnya, kita malah malu-malu menyatakan hal ini. Kita bisa dengan bebas dan santai saling bertukar informasi tentang film Harry Potter terbaru, berdiskusi soal Superman dan Spiderman, bercerita tentang Naruto [seperti saya :-)], tapi justru bungkam dan malu-malu jika diminta bercerita tentang Juruselamat sejati. Betapa semua manusia merindukan tokoh juruselamat, dan betapa sedikit orang Kristen yang mau menceritakan bahwa Juruselamat yang sejati telah turun ke dunia yang rusak ini, memberikan nyawaNya, bangkit dari kematian dan naik ke sorga. Juruselamat yang kita kenal telah mengalahkan kematian, dan kita sepertinya tidak cukup percaya diri untuk memberitakan hal itu! Semoga Roh Kudus menyucikan hati setiap kita, agar kita menyadari panggilan kita untuk memberitakan sang Juruselamat kepada setiap orang yang kita kenal.
Dan soal Naruto, biarlah saya menunggu edisi cetaknya saja…
Tuesday, July 13, 2010
Piala dunia, Pornofilm Arieluna & Panggilan utk menyembah
Akhirnya Spanyol menjadi juara dunia dengan mengalahkan Belanda. Bukan, saya bukan fans Spanyol, dan juga bukan fans kesebelasan manapun. Saya tidak suka sepakbola, karena bagi saya sepak bola terlalu membosankan. Duapuluh dua orang bermain & berkeringat lari sana sini selama 90 menit dengan jumlah skor gak sampai 5 (biasanya), tidaklah menarik bagi saya :-). Kenyataannya, sampai detik ini saya belum pernah menonton pertandingan bola secara penuh dari awal sampai akhir. Pernah mencoba sih, tapi karena sudah lebih dari 30 menit tidak ada hasil (gol) yang dicapai, sayapun menyerah dan mengganti channel TV.
Sekarang soal video porno 'mirip' Ariel, Luna Maya ataupun Cut Tari. Bukan, saya bukan fans Ariel, Luna, maupun Tari. Saya malah baru tahu mana orang yang namanya Cut Tari ya setelah berita pornofilm ini menghebohkan nusantara. Dan meskipun saya tidak ngefans sama mereka, pada saat diberitakan bahwa ada film porno yang dibintangi Luna Maya dan Cut Tari, ehem…. yach… sejujurnya ya… saya tetap tidak merasa perlu untuk mencari apalagi menonton video gituan… Jadi saya termasuk yang “masih suci”, tidak dicemari oleh segala kemaksiatan yang entah kenapa kok begitu dibesar-besarkan oleh media nasional. Saya bahkan tidak menonton satupun infotainment yang membahas tentang topik ini, sampai pada waktu liburan kemaren, saya sempat menonton sekilas Cut Tari yang menangis tersedu-sedu pada waktu ia minta maaf kepada semua orang di hadapan para wartawan. [Saya tidak tahu apakah ia menangis karena menyesal telah ketahuan bermesum ria betulan dengan Ariel, atau menangis karena dipaksa meminta maaf oleh pengacaranya sedangkan ia sendiri sebenarnya tidak melakukannya.]
Trus apa hubungannya piala dunia, video porno mirip artis, dengan panggilan untuk menyembah Tuhan? Begini…
Walaupun saya tidak suka sepak bola, gegap gempita piala dunia mau tidak mau membuat saya sedikit-sedikit cari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Siapa lawan siapa hari ini, tim mana saja yang diunggulkan, siapa yang masuk semi final, sampai berita si gurita peramal pun sempat mencuri perhatian saya [rupanya karunia nubuat tidak dibatasi pada manusia saja, hehe]. Tapi event ini begitu akbar dan megah, sehingga bagi orang seperti saya pun, mau tidak mau, merasa perlu untuk tidak ketinggalan berita. Bagi para gibol Indonesia, mereka bahkan bisa turut larut dalam pertandingan, mungkin turut emosional dalam ‘membela’ tim jagoan mereka, padahal tim tersebut bukan dari Indonesia. Teman-teman gereja pun, bersedia mengorbankan waktu tidur yang berharga untuk menonton langsung pertandingan. Barusan saya dengar kabar, pertemuan doa pagi para pendeta di Surabaya hari Senin pagi kemarin jadi sepi, rupanya banyak juga pendeta dan gembala gereja yang begadang nonton final Belanda vs. Spanyol.
Kasus pornofilm Ariel juga begitu. Di internet mungkin ada puluhan juta film porno yang bisa didapat dengan mudah. Pornofilm yang melibatkan artis terkenal juga cukup banyak. Tapi yang satu ini agak berbeda, entah mengapa kasus ini meledak begitu besar, sampai presiden pun turut campur. Baru kali ini presiden sebuah negara ikut mengomentari sebuah film porno. Tidak hanya di Indonesia, media sekelas New York Times pun menaruh perhatian. Kasus amoralitas yang sebenarnya tidak luar biasa, menjadi luar biasa karena dukungan media. Di facebook sendiri ada seorang pendeta, gembala jemaat, yang dengan jujur mengakui bahwa ia telah menonton pornofilm tsb, dan kemudian berkomentar: “biasa aja tuh, saya gak terpengaruh…” [amiinnn :-P] Saya sendiri mau tidak mau merasa perlu untuk cari tahu dikit-dikit, padahal mestinya tidak ada urusan yang perlu diketahui soal ini.
Mengapa saya jadi kepingin cari tahu tentang hal-hal yang sedang jadi pembicaraan semua orang, padahal semestinya saya tidak berurusan, bahkan tidak tertarik pada topik tersebut? Mengapa “mengetahui berita heboh terkini” menjadi sebuah hal yang saya kejar? Saya rasa kecenderungan ini bukan terjadi pada saya saja, tapi pada semua manusia. Mengapa ada orang-orang yang ngefans berat pada seseorang, sehingga berusaha mengetahui segala hal tentang ybs? Mengapa orang-orang berebut untuk berfoto bersama dengan artis, dan kemudian sedapat mungkin memamerkan foto2 tsb? Mengapa facebook yang adalah wadah untuk “memamerkan diri” menuai keberhasilan yang luar biasa dengan ratusan juta pengguna?
Jawabnya: ada sebuah kapasitas sekaligus kekosongan besar dalam diri manusia, yaitu untuk mengagumi dan dikagumi.
Ada sesuatu yang hilang dalam diri setiap manusia, yaitu Kemuliaan Allah (Rom 3:23). Manusia diciptakan di dalam kemuliaan dan untuk kemuliaan Allah. Apa dan gimana sih kemuliaan yang hilang itu? Gampangnya mungkin gini: kemuliaan tsb adalah yang membuat manusia begitu penuh, puas, berharga, mulia, percaya diri dalam takaran yang sempurna, sedemikian sempurna sehingga bahkan mereka bisa telanjang dan tidak merasa malu (Kej 2:25). Manusia diciptakan untuk menjadi berharga, mulia, mengagumkan; semuanya untuk menyatakan betapa mulianya Allah sang pencipta itu. Manusia adalah ciptaan terbaik dari Allah, dan Allah sangat puas dengan pekerjaanNya.
Tidak hanya dengan keberadaan yang mengagumkan, manusia diciptakan juga untuk mengagumi penciptaNya. Dikagumi dan mengagumi, itulah kerinduan yang terbesar dalam diri manusia, sebuah kerinduan untuk kemuliaan yang hilang. Dalam kegelapan dosanya, manusia tetap mencari pemenuhan ini. Wujudnya adalah sebuah kerinduan yang sangat kuat untuk senantiasa menjadi, berdekatan, berhubungan, tahu, kenal, nyambung dengan segala hal yang bersifat spektakuler, menakjubkan, populer, atau dengan satu kata: mulia. Bisa menjadi “mulia”, atau terhubung dengan sesuatu yang “mulia” menimbulkan kepuasan yang unik dan tak tergantikan. Sebuah kepuasan yang hanya dimiliki oleh ciptaan yang segambar dengan Allah.
Kitab Ibrani menceritakan tentang apa sebenarnya yang dicari oleh orang2 yang rela memberikan nyawa demi iman mereka. Sama seperti semua manusia, para pahlawan iman ini juga mencari kemuliaan yang hilang, hanya saja mereka mencarinya ke arah yang tepat, yaitu ke ‘tanah air sorgawi’:
“Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air…yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi.” Ibr 11:13-16
Mengapa saya menghubungkan semua ini dengan penyembahan kepada Allah? Karena penyembahan yang sejati adalah satu-satunya cara kita dapat mencicipi kemuliaan tanah air kita yang sebenarnya. Penyembahan membuat kita terhubung dengan Pribadi paling mengagumkan di seluruh alam semesta. Kepuasan menonton siaran langsung, pada saat tim kesayangan kita menjadi juara dunia, pada saat kita mengetahui segala hal tentang artis pujaan, pada saat kita bisa berfoto atau bahkan makan bersama seorang yang kita kagumi, seluruh kepuasan itu, kalikan dengan sejuta, mungkin akan mendekati kepuasan pada saat kita bisa berjumpa dan bersekutu dengan Allah pencipta kita melalui penyembahan.
Tetapi mengapa dalam kenyataan kehidupan penyembahan kita tidaklah sememuaskan itu? Karena kapasitas kita untuk mengagumi telah dirampok habis-habisan. Dalam kemajuan informasi seperti sekarang, kita terlalu banyak mengagumi hal-hal, berita-berita, orang-orang, film-film, lagu-lagu, dan segala macam karya manusia lainnya. Mengagumi hal yang memang mengagumkan tidaklah salah, tapi sebagai manusia, kita memiliki kapasitas yang terbatas. Bagi orang yang kekenyangan, aroma masakan koki terbaik pun bisa membuat mual. Demikian juga penyembahan dapat menjadi sebuah aktifitas membosankan yang melelahkan. Bukannya dipuaskan oleh perjumpaan dengan Allah yang mulia, penyembahan dan ibadah menjadi sebuah kewajiban tak terlalu penting yang akan dengan mudah dikalahkan oleh, katakan saja, siaran langsung final piala dunia.
Manusia adalah makhluk paling cerdas di alam semesta, yang sayangnya, sering mencari apa yang dia sungguh-sungguh inginkan di tempat yang jelas-jelas salah [aneh yach…]. Saya sekarang belajar untuk membatasi kekaguman saya kepada apapun selain Tuhan. Seluruh fokus kekaguman saya hanya boleh tertuju kepada satu Pribadi saja. Menjadi seorang penyembah sejati tidaklah mudah, dan Bapa mencari penyembah yang demikian. Saya akan terus belajar dan belajar. Semoga lebih banyak orang menempuh jalan sempit yang saya tempuh sekarang ini. Tuhan memberkati.
Tuesday, July 06, 2010
Twilight: Jatuh cinta sampai mati dengan orang mati?
Saya udah mendapat beberapa info soal novel twilight -sebelum film pertamanya diputar- dari komentar2 yang beredar di internet, mengenai bagaimana novel karangan Stephanie Meyer ini menjadi fenomena, khususnya di kalangan cewek remaja. Dan pada saat nonton filmnya untuk pertama kali (saya gak baca novelnya), sejujurnya saya harus 'berusaha' untuk menikmati film tsb, karena saya sebelumnya berharap bahwa film tsb lebih bersifat action horror daripada sebuah film drama percintaan. Dan setelah menonton seri ketiganya barusan, saya mulai memahami mengapa film/kisah ini begitu dicintai oleh banyak orang, dalam hal ini para gadis remaja.
Mungkin intisari dari serial twilight adalah sebuah kisah cinta yang sangat kuat antara dua (perkembangan terkini: tiga) insan yang berbeda dunia, dimana cinta tersebut bagaikan api yang menelan habis seluruh keberadaan insan yang terlibat. Saat terjadi perpisahan, setiap pihak digambarkan amat sangat menderita, bahkan tokoh Bella sampai harus bunuh diri, dan diselamatkan justru oleh seorang pria lain yang juga sangat mencintainya. Meskipun cinta mereka digambarkan begitu bergelora, begitu penuh hasrat, tapi hubungan tsb tetap 'terjaga' kesuciannya. Tokoh Bella digambarkan tetap perawan sampai film yang ketiga, sementara si cowok Edward rupanya sangat konservatif (mengingat dia berusia ratusan tahun, heheh), hanya mau berhubungan seks kalau sudah menikah resmi. Ada banyak adegan dalam tiga seri film ini, dimana Edward & Bella hanya berpandangan, sedikit berkata-kata, hanya melakukan tatapan penuh cinta.
Tapi dengan [tidak] terpaksa, saya harus mengatakan, berhati-hatilah para Twilight mania! [khususnya para cewek] Ekspresi cinta yang digambarkan dalam film ini sesungguhnya sangat berlebihan, dan sebenarnya sangat berbahaya bagi hubungan pacaran yang sebenarnya.
Pernah liat iklan mie instan di tv nggak? Di iklan tsb, digambarkan setiap orang yang memakan mie instan, memakannya dengan ekspresi yang luarbiasa nikmat. Mata melotot & berputar-putar, mulut monyong menyeruput mie instan, setelah itu merem melek merasakan nikmatnya si mie instan, mmmh..mmmh... lezzaaattt nya luar biasa. Mie instan sih memang enak [kalo jarang makan], tapi ekspresi yang ditampilkan di iklan tsb jelas tidak realistis & berlebihan banget.
Itulah yang disajikan dalam Twilight, ekspresi cinta yang sangat berlebihan & tidak realistis. Tidak realistis bukan dalam hal tidak bisa dilakukan, tapi jika dilakukan akan membawa akibat yang berbeda dari yang disajikan di film tsb. Kalau kita berekspresi sama seperti para bintang iklan pada saat makan mie instan, resikonya paling kita dianggap gila oleh orang sekitar. Tapi jika kita meniru ekspresi cinta Bella & Edward dalam hubungan pacaran kita, kehancuranlah yang menjadi bagian kita.
Dari pengamatan saya, paling tidak ada tiga elemen berbahaya dalam Twilight, khususnya bagi generasi muda:
1. Cinta membuat kamu nggak berdaya samasekali.
Tokoh dalam Twilight begitu hancur pada saat mereka harus berpisah. Saya jujurnya pernah mengalami jatuh cinta seperti ini, yaitu pada saat jatuh cinta pertama kali dengan cewek yang menjadi istri saya sekarang. Seluruh hidup ini sepertinya 'keracunan' cinta, gak bisa mikir lain, mikirin dia terus menerus. Kebakaran besar yang melanda beberapa tempat akhir2 ini di Surabaya tidak ada apa-apanya dibandingkan api asmara yang berkobar di hati saya pada saat itu... (^_^) Merasakan semua ini sah-sah saja sih, tapi kuncinya di sini adalah: kendali. Asmara HARUS dikendalikan, meskipun sepertinya akan mengurangi kenikmatannya. Twilight secara tidak langsung menyatakan bahwa jika kamu benar2 mencintai pasanganmu, kamu akan (dan pasti) kehilangan kendali. Kamu akan menjauh dari keluargamu, berbohong kepada semua orang, termasuk memikirkan bunuh diri jika cintamu tak kesampaian. Hal tsb sangat keliru. Jika kamu sangat mencintai pasanganmu, justru kamu harus menetapkan bahwa kamu akan mengendalikan perasaanmu sekuat-kuatnya, agar kamu dapat membuat keputusan2 penting dengan benar. Asmara bagaikan sungai berarus deras, dan membiarkan diri kamu & pacarmu hanyut & kemudian tenggelam di sungai tsb, bukanlah tindakan yang bijak. Twilight membuatnya terlihat indah & romantis, tapi tenggelam di sungai asmara hanya akan membuahkan penyesalan di kemudian hari.
Para perempuan khususnya harus lebih berhati-hati. Mengapa saya mengkhususkan kaum perempuan dalam hal ini? Karena romantisme semacam ini adalah impian setiap perempuan. Secara alamiah perempuan sangat mengharapkan seorang pria yang kuat, tampan, melindungi, berhasrat padanya tapi sekaligus bisa menjaga kesuciannya, pria yang bersedia melakukan apapun baginya, menyediakan diri & waktu untuk berdua, sangat 'hangat' tapi sekaligu 'dingin', dst, dst. Tokoh Edward adalah impian tiap cewek, karena ia memenuhi semua persyaratan itu. [Edward bisa begitu sempurna karena yang menciptakannya adalah perempuan juga]. Tidak cuman Edward, juga dimunculkan tokoh Jacob yang memiliki kualitas yang tidak dimiliki Edward: badan & lengan yang kekar dan perut yang sixpack. Film ini bisa membangkitkan hasrat tak terkendali bagi seorang perempuan, dengan efek yang sama seperti pornografi bagi pria. Habis nonton film ini berduaan, seorang cewek bisa benar2 menginginkan romantisme yang sama dari pacarnya, dan jika itu dilakukan... lihat no. 2 di bawah...
2. Kamu bisa berduaan di kamar [& di hutan], berpelukan & berciuman di atas ranjang [atau rerumputan] dengan pacarmu, tanpa terjerumus ke dalam seks pranikah.
Bagi para cewek, kecuali kamu memiliki vampir betulan sebagai pacarmu (yang kebetulan sanggup mencium kamu tanpa menggigit lehermu) kondisi di atas tidak akan terjadi. Bagi para cowok, kecuali kamu adalah vampir jadul yang udah hidup ratusan tahun sehingga bukan haus darah tapi haus cinta, kondisi di atas adalah khayalan. Pada saat dua insan lawan jenis berpelukan dan berciuman di tempat privat, dalam kondisi hanyut oleh arus sungai asmara, hasilnya adalah seks, yang kemudian diikuti dengan penyesalan, kehancuran, aborsi, dst. Rumus ini sepasti 1 + 1 = 2. Saat menonton film ini, ingatlah bahwa semua yang ditampilkan di film tsb adalah sepenuhnya khayalan, meskipun kita bisa benar-benar turut merasakan intensitas asmara tsb dalam kehidupan nyata. [ingat iklan mie instan]. Cinta itu indah & nikmat, seks juga, tapi semua itu tidak dirancang Tuhan untuk dinikmati tanpa aturan main & kendali.
3. Mencintai seseorang dengan sisi gelap memang lebih seru
Saya tidak tahu mengapa Stephanie Meyer menetapkan bahwa semua pria yang dicintai Bella adalah 'monster'. Mungkin hanya agar drama percintaan ini tidak menjadi biasa-biasa. Tapi menurut saya ada sebuah fantasi dalam diri setiap perempuan untuk menjadi 'liar', mungkin karena cetakan sosial terhadap gender perempuan yang mengatakan bahwa seorang perempuan harus menjaga kesopanan, harus anggun, dst. Mungkin dengan mencintai seseorang yang memiliki 'iblis' dalam dirinya, justru akan lebih romantis dan unpredictable. Saya tidak bisa memastikan hal ini karena saya bukan perempuan :-). Tapi jika ini benar, maka Twilight akan menyalakan sebuah api yang seharusnya tidak boleh menyala dalam hati setiap gadis remaja. Seorang cowok dengan sisi gelap, malah akan terlihat lebih menarik daripada seorang cowok yang menjaga kekudusan. Beware girls! Menikah dengan 'cowok gelap' sungguh-sungguh akan membuat kalian masuk ke neraka yang sesungguhnya.
Sejauh ini tiga elemen tsb yang menurut saya sangat berbahaya bagi generasi muda. Sejujurnya, bagi saya lebih baik anak muda [apalagi yang kristen] tidak perlu menonton film ini apalagi membaca novelnya. Saya bukan tipa orang yang suka melarang, tapi film ini tidak memberikan apa-apa selain rangsangan2 yang tidak perlu bagi anak-anak muda. Kalau mau nonton juga, bolehlah, tapi coba cermati dan bedakan mana yang bersifat racun, mana yang bersifat hiburan semata, ok?!
Wednesday, May 24, 2006
Tentang Karunia Nubuat
------------------------
Karunia nubuat mungkin merupakan karunia paling kontroversial kedua setelah bahasa roh. Beberapa aliran kristen mengklaim bahwa karunia ini, bersama dengan karunia-karunia adikodrati lainnya sudah 'punah' bersama dengan selesainya kanon Alkitab. Namun saya melihat bahwa sebagian besar orang Kristen masih mempercayai karunia ini, meskipun dengan menggunakan filter-filter yang sangat ketat. Sebagian orang Kristen lainnya, khususnyayang beraliran karismatik, malah sepertinya berlimpah ruah dengan nubuat disana-sini. Saya pernah melihat sebuah acara TV rohani (lewat TV Kabel) dimana si pengkotbah sebentar-sebentar bernubuat ini dan itu pada orang-orang yang ditunjuknya. Saya tersenyum kecut saja saat menyadari bahwa semua 'nubuat' yang diutarakan itu adalah soal uang & kekayaan.
Dari semua pandangan di atas, ada beberapa pandangan tentang nubuat yang menurut saya kurang tepat, yaitu:
1. Karunia nubuat (yang biasanya dimiliki oleh jawatan Nabi) sudah tidak ada lagi
Dengan mengatakan bahwa jawatan nabi sudah kadaluarsa, sama saja dengan mengatakan bahwa empat jawatan lainnyapun (rasul, guru, penginjil & gembala) kadaluarsa. Allah memberikan kelima jawatan tsb untuk "...memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus..." (Ef 4:12) Tanpa salah satu jawatan saja, orang-orang kudus tidak akan lengkap. Sebagaimana peran guru, penginjil dan gembala masa kini sangatlah vital dalam pembangunan tubuh Kristus saat ini, demikian pula peran nabi dan rasul masa kini. Mengapa orang sangat alergi dengan jawatan nabi dan rasul? Saya pikir karena hanya bagian jawatan inilah yang sangat bersentuhan dengan hal-hal rohani. Nabi dan rasul beroperasi didaerah-daerah yang rohani, dan dalam area inilah paling sering terjadi penyalahgunaan. Sayang sekali, tapi memang itulah kenyataannya.
2. Penggenapan nubuat tidak boleh dengan campur tangan manusia.
Hal ini sering menjadi batu sandungan bagi rekan-rekan non karismatik. Ada sebuah kecenderungan untuk mengangkat nubuat sebagai sesuatu yang sangat mistik, sehingga penggenapan nubuatan hanya boleh terjadi oleh tangan Allah langsung. Segala usaha manusia untuk mewujudkan janji Allah dalam nubuat dianggap sebagai usaha untuk me'legal'kan nubuat yang sebenarnya palsu. Banyak contoh di Alkitab yang mengatakan bahwa setelah mendengar sebuah nubuatan, seseorang kemudian melakukan sesuatu agar nubuatan itu terlaksana. Salah satu contoh adalah apa yang dikerjakan raja Asa dalam 2Taw 15. Di situ dikisahkan bahwa setelah raja Asa mendengar nubuatan dari seorang yang diurapi Tuhan, dia melakukan langkah-langkah praktis dan politis agar janji Allah itu menjadi kenyataan. Tuhan Yesus sendiri juga beberapa kali melakukan sesuatu dengan tujuan agar nubuatan tentang diriNya digenapi. Memang ada beberapa nubuat yang hanya bisa terjadi oleh tangan Allah secara adikodrati, tapi tidak semua nubuat seperti itu.
3. Nubuat harus digenapi secepat mungkin
Orang-orang yang tidak percaya pada nubuatan sering menantikan 'gagalnya' penggenapan nubuatan itu dengan melihat bahwa tidak terjadi apapun atau hal-hal yang terjadi ternyata bertentangan dengan apa yang dinubuatkan dan kemudian memastikan bahwa nubuat itu adalah palsu. Kita sering lupa bahwa nubuat-nubuat yang tercantum di Alkitab ada yang belum terjadi bahkan sampai sekarang. Sebagian nubuat memang mencantumkan waktu, sebagian yang lain tidak. Beberapa nubuat dapat dipenuhi dalam beberapa hari, tapi sebagian besar lainnya membutuhkan waktu yang sangat, sangat lama. Secara manusia saya juga tidak memahami mengapa Allah bisa memberikan janji begitu lama sebelum waktu penggenapannya. Jadi, jika kita beruntung, kita bisa mendengar sebuah nubuat pada waktu pertama kali diucapkan dan masih hidup pada waktu nubuat itu digenapi.
4. Nubuat harus digenapi tepat seperti tafsiran (literal) dari perkataannubuat itu.
Saya menjumpai bahwa penggenapan nubuat kadang berbeda dengan tafsiran awal dari nubuatan itu sendiri. Orang Farisi adalah contohnya. Mereka memiliki tafsiran awal yang sudah paten tentang bagaimana Mesias itu seharusnya. Mereka sangat menantikan Mesias, lalu kitab PL adalah kitab mereka, ditulis dalam bahasa mereka, berkembang bersama kebudayaan mereka selama ribuan tahun. Tidak ada orang lain yang memiliki tafsiran paling valid tentang setiap nubuat pada kitab PL pada saat itu kecuali golongan Farisi. Itu sebabnya mereka tidak bisa menerima Yesus sebagai sang Mesias, karena penggenapan nubuat itu berbeda dengan penafsiran mereka selama itu. Sekian tahun setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke sorga, barulah orang-orang Yahudi kristen yang mula-mula menemukan 'tafsiran yang sesungguhnya' dari setiap nubuatan PL tentang Mesias. Dan saat ini tafsiran'baru' inilah yang kita gunakan. Ahli-ahli Yudaisme saat ini akan menuduh orang-orang semacam kita ini "membaca PL dengan kacamata PB". Jadi mungkinsaja penggenapan nubuat terjadi diluar tafsiran kita sebelumnya tentangnubuat itu.
5. Keabsahan nubuat tergantung dari siapa orang yang bernubuat.
Di jaman kasih karunia ini masih cukup banyak orang yang berpendapat bahwa Allah hanya akan memakai orang dengan syarat-syarat moral/teologis tertentu. Film "The Passion" dikritik habis-habisan karena Mel Gibson orang Katolik, membintangi banyak film-film dunia yang penuh dengan kekerasan, mendapatkan skenario dari sebuah penglihatan seorang biarawati yang 'dirasuk setan', memakai artis film porno, dst, dst. Demikian juga seorang nabi ditolak nubuatannya karena ia tidak memenuhi syarat ini dan itu, dimana sebenarnya orang-orang yang sepertinya memenuhi syarat malah tidak pernah bernubuat. Alkitab mencantumkan bahwa Allah memakai keledai untuk berbicara, bahwa Allah menyebut Nebukadnezar sebagai "hambaKu", bahwa Allah memakai Yehuda yang berzinah dengan Tamar untuk menurunkan Kristus, dst, dst. Apakah kasih karunia itu bersyarat? "..Sebab kamu semua boleh bernubuat..." itulah kataAlkitab (1Kor 14:31). Darimanakah kita saat ini menemukan syarat-syarat yang begitu banyak untuk melarang atau mengolok orang yang bernubuat? Saya tidak bermaksud bahwa nantinya setiap gelandangan pinggir jalan bisa bernubuat kepada saya dan saya harus mendengarkan mereka. Tapi saya percaya bahwa Allah dapat memakai *siapapun* bahkan *apapun* untuk berbicara kepada umatNya diluar dugaan kita.
6. Nubuat selalu bersifat 'menyenangkan telinga'
Hal ini yang sering dilakukan oleh orang kristen karismatik. Mereka cenderung bernubuat atau mempercayai nubuat yang menyenangkan telinga saja."Kamu akan diberkati...", "Tuhan akan menolong kamu...", "Sebentar lagi, kamu akan menerima sekian juta rupiah...", dst, dst. Saya berpendapat bahwa mungkin saja ada nubuat-nubuat 'kemakmuran' semacam itu, namun pola di Alkitab ialah bahwa nubuat-nubuat semacam itu biasanya memiliki 'ancaman/syarat' di sisi lainnya. Jadi saya tidak percaya kalau ada seorang nabi yang isi nubuatnya melulu hal-hal yang manis saja, dimana semua janjiTuhan itu bisa diterima tanpa syarat, tanpa pertobatan, tanpa doa syafaat,tanpa ketaatan terhadap Firman, dll. Tujuan nubuat adalah membangun Tubuh Kristus, bukan membius Tubuh itu dengan janji yang muluk-muluk tanpa harga yang harus dibayar (atau harganya harus dibayar saat itu juga, berupa cek/tunai, he..he...).
Lalu apa yang saya lakukan jika mendengar sebuah nubuat?
"Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." 1Tes 5:19-21.
Sikap saya yang pertama pada waktu mendengar atau mengetahui sebuat nubuatan adalah *menghargai* hal itu sebagai sebuah *kemungkinan* bahwa Tuhan memang sedang berbicara melalui orang tsb. Inilah yang harus saya lakukan agar saya tidak memadamkan Roh dan meremehkan nubuat tanpa sengaja. Selalu ada kemungkinan bahwa seseorang itu bernubuat palsu, tapi lebih baik saya menemukan kepalsuan itu pada akhirnya daripada dari awal saya sudah melanggar firman untuk tidak memadamkan Roh dan meremehkan nubuat.
Sikap saya berikutnya adalah menguji dengan cara 'membenturkan' nubuat itu dengan Firman. Apakah nubuat itu bertentangan secara literal dengan Firman yang tertulis, ataukah bertentangan dengan karakter sang Firman itu? Jika ada sebuah nubuat bahwa "Allah akan menyembuhkan luka bangsa Indonesia"; apakah Allah saya bisa/mungkin menghendaki hal itu? Jika memang Allah mengasihi Indonesia, Dia akan menyembuhkan bangsa ini, itulah yang saya percaya tentang Allah saya. Terhadap nubuatan semacam itu, saya mengatakan"Amin, terjadilah ya Tuhan", tidak peduli siapapun yang mengatakannya. Tapi jika ada seorang yang bernubuat, "Jika anda memberikan saya sejuta dolar pada malam ini, Allah akan melipatgandakan uangmu dalam 30 hari", dengan segera saya akan cenderung menilai itu sebagai hal yang palsu, karena saya tidak mengenal Allah yang berkarakter pengganda uang instan seperti itu.
Sikap saya selanjutnya ialah menantikan dan berdoa dan 'memegang yang baik', yaitu melakukan hal-hal baik yang bisa dilakukan agar janji Tuhan yang saya percayai dalam nubuat itu dapat menjadi kenyataan/digenapi. Jika saya adalah si tua Abraham yang pada waktu menerima janji tentang Ishak sudah uzur, bahkan istri saya sudah menopause, mulai hari itu saya akan mulai menjadwal hubungan seks dengan istri saya lagi. Saya akan 'berusaha' supaya janji Allah memberikan keturunan menjadi kenyataan, meskipun kenyataannya saya baru menerima hasilnya 25 tahun kemudian. Jika mendukung PDS merupakan salah satu cara yang bisa saya lakukan, saya lakukan. Hasil akhirnya? Saya tidak tahu. Apakah PDS betul-betul akan menjadi garam dan terang di Indonesia? Saya tidak tahu, saya hanya berharap begitu. Apakah Tuhan akan memulihkan Indonesia pada tahun ini atau tahun depan? Saya tidak tahu, saya hanya berharap begitu. Apakah Tuhan akan memulihkan Indonesia 30 tahun lagi? Saya tidak tahu. Saya hanya percaya bahwa Tuhan *akan* memulihkan Indonesia. Saya percaya karena itulah karakterTuhan saya, Yehova Rapha - Allah yang menyembuhkan.
Sikap saya yang terakhir adalah bersiap untuk menerima kemungkinan penggenapan yang tidak sesuai dengan pengertian saya yang semula terhadap nubuatan itu. Apakah pemulihan Indonesia berarti PDS akan menjadi partai terbesar? Saya tidak tahu. Apakah pemulihan Indonesia berarti Indonesia akan menjadi negara Kristen? Saya tidak tahu. Apakah pemulihan Indonesia berarti Indonesia akan menjadi negara terkaya di dunia? Saya tidak tahu. Saya lebih cenderung untuk menantikan wujud pemulihan itu, melakukan apa yang bisa saya lakukan, sambil berharap bahwa saya masih hidup pada waktu pemulihan itu terjadi.
Allah Yang "Terbatas"
Salah satu karakter yang 'sangat' membatasi Allah adalah Kasih. Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8,16). Kasih yang sempurna justru tidak bisa berdiri sendiri. Kasih memerlukan obyek, untuk itulah Allah menciptakan manusia. Kalau boleh saya mengatakan: "Tanpa manusia, kasih Allah tidak sempurna". Kasih yang sempurna membutuhkan dua pihak yang saling mengasihi secara bebas. Kasih membuat seseorang merendahkan diri dan membatasi diri. Bagi saya betapa menyedihkannya jikalau ada orang yang mengasihi saya karena memang "tidak bisa menolak" kedaulatan saya atau karena saya menciptakannya seperti itu.
Saya tidak tahu berapa kali Allah Alkitab memberikan respon kepada umatNya sebagai seorang kekasih. Ketika Dia 'terharu' pada iman Abraham waktu Abraham rela mengorbankan Ishak, murka ketika umatNya melanggar perintahNya, rindu untuk berada dekat umatNya, menyesal ketika ia menghukum umatNya, dst. Allah Alkitab betul-betul adalah Allah yang memiliki hati seorang Bapa kepada anak-anakNya. Segala pergumulan seorang yang jatuh cinta telah dirasakanNya, betapa LUAR BIASAnya Allahkita.
Yer 18 : 7-10 Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya. Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka. Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka. Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka.
Yeh 18 : 21-24 Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup? Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik--apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya.
Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa tindakan Allah 'tergantung' kepada tindakan umatNya dan tanggapan umatNya menentukan apayang akan dilakukanNya. Inilah resiko dari sebuah relationship, dimana satu sama lain saling mempengaruhi. "Allah tidak berkenan kepada kematian orang fasik", bagaimana itu bisa terjadi kalau Dia yang merencanakan kematian orang fasik itu?
TETAPI....
Roma 9:14-21 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidakadil? Mustahil! Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: "Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi." Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya. Sekarang kamu akan berkata kepadaku: "Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?" Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?" Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?
Saya melihat ayat-ayat di atas digunakan sebagai (salah satu) dasar untuk konsep predestinasi. Ayat-ayat tsb seakan-akan bertentangan dengan tulisan saya di atas, namun jika kita melihat ayat-ayat selanjutnya:
Roma 9:30-32 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan.
Lalu Roma 11:7-11
Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, seperti ada tertulis: "Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini." Dan Daud berkata: "Biarlah jamuan mereka menjadi jerat dan perangkap, penyesatan dan pembalasan bagi mereka. Dan biarlah mata mereka menjadi gelap, sehingga mereka tidak melihat, dan buatlah punggung mereka terus-menerus membungkuk." Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu.
Maka saya mengambil kesimpulan, bahwa predestinasi (bagi saya) adalah sebuah penggenapan rencana Allah melalui kehendak bebas manusia. Dengan kemahakuasaanNya, Allah sanggup membuat sebuah pilihan bebas bekerja untuk rencanaNya (ingat Roma 8:28). Apakah mereka harus jatuh (Rom 11:11) karenaAllah sudah mempredestine demikian? Jawabnya ialah: tidak Mengapa Israel tidak mencapai tujuannya, karena Allah menghendaki demikian? Jawabnya:tidak (Rom 9:32). Jadi Rasul Paulus kelihatannya meletakkan prinsip bahwa tanggapan (pilihan) bebas kita terhadap Firman Allahlah yang membuat segala sesuatu terjadi seperti apa adanya.
KESIMPULAN
Bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, dan tidak ada sesuatupun yang berlaku di luar kendaliNya. *Entah* bagaimana kehendak bebas manusia, di satu sisi tetap tidak akan mampu membatalkan apa yang telah Dia rencanakan oleh kasih karuniaNya. Tetapi pada saat yang sama Dia tidak bertanggung jawab atas pilihan bebas tersebut, bukan Dia yang membuat manusia membuat pilihan tertentu, Dia tidak pernah menggunakan kuasaNya untuk "memaksakan" rencanaNya. Namun dalam kebebasan mutlak manusia tersebut, rencanaNya tetap berjalan, meskipun Dia sendiri harus murka, berduka, dll. Jadi manusia menuai apa yang ditaburnya, dan Allah akan menerima segala kemuliaan yang memang layak Dia terima.
Selebihnya adalah misteri...
Roma 11:33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Amin.
Predestinasi vs. Free Will, sebuah titik temu
AL
------------------------------
Topik pertentangan antara faham predestinasi vs. kehendak bebas kelihatannya masih akan berlangsung terus sampai Yesus datang kedua kalinya. Sudah banyak argumen yang masing-masing cukup kuat yang diadu begitu rupa oleh para penganut masing-masing faham, tapi kelihatannya masih belum ada titik temu.
Beberapa hari ini saya coba merenungkan kembali perbedaan kedua faham ini, tiba-tiba timbul semacam 'pencerahan' dalam pikiran saya. Saya pikir bahwa kedua faham ini mestinya memiliki titik temu.
Allah kita adalah Alfa dan Omega, yang Awal dan yang Akhir. Itu berarti Dia sudah 'berada' di awal segala sesuatu dan sekaligus di akhir segala sesuatu. Sebagaimana kita ketahui bahwa perkataan 'awal' dan 'akhir' berbicara masalah dimensi waktu, sedangkan Allah kita sama sekali tidak terikat oleh dimensi waktu ini. Dia bisa berada di masa lampau dan masa depan sekaligus.
Dari pertanyaan2 penganut faham predestinasi saya melihat bahwa salah satu alasan utama predestinasi adalah jika Allah memang merencanakan semua orang untuk selamat, maka semua PASTI selamat, karena rencana Allah tidak pernah gagal. Jadi kalau ada yang tidak selamat, itu berarti memang sudah ditetapkan sebelumnya. Disini kedaulatan Allah menempati posisi mutlak.
Sedangkan penganut free will mengatakan bahwa Allah mengasihi semua orang dan tidak mungkin Ia sengaja 'menetapkan' seseorang untuk dibinasakan selamanya. Jadi jika ada orang yang tidak selamat, itu pasti karena kehendak bebasnya untuk menolak berita Injil. Tentu saja kedua pandangan ini memiliki ayat2 pendukung masing-masing.
Saya berpikir bahwa kalau Allah kita sudah ada di akhir segala sesuatu, maka Ia pasti mengetahui siapa yang selamat dan siapa yang tidak, maka dari sudut pandang ilahi semua yang terjadi sekarang adalah sepertinya "sudah ditetapkan". Hal ini seperti kalau kita sudah menonton sebuah film, maka setelah mengetahui ending dari film tsb, kita bisa mengatakan bahwa jalan cerita film tsb sudah 'ditetapkan' untuk menjadi begini atau begitu. Disini kita bisa menerima ayat-ayat yang mengatakan tentang "ditetapkan untuk ... dari sejak awal penciptaan" atau "dipilih sejak semula". Ayat-ayat ini menjadi masuk akal dipandang dari sudut pandang Allah adalah Alfa dan Omega. Bagi Allah waktu tidaklah berarti. Awal penciptaan, saat ini, sampai akhir jaman, semuanya sudah terpampang jelas di hadapanNya. Dari sudut pandang ini, segala sesuatunya 'telah ditetapkan'.
Tetapi saya berpendapat bahwa meskipun Allah ada di akhir segala sesuatu, itu tidak berarti bahwa Ia menentukan segala sesuatu yang terjadi 'sekarang'. Dari sudut pandang manusia, skenario masih sedang berjalan dan belum berakhir, maka kita semua tidak tahu siapa bakal selamat siapa tidak. Kehendak bebas masing-masing manusia memegang peranan. Injil tetap harus diberitakan, barang siapa menerima Yesus akan diselamatkan, yang menolak akan binasa. Manusia bebas untuk memilih. Keselamatan ditawarkan kepada semua orang yang mau menerimanya. Disini ayat-ayat yang berbicara tentang "semua orang" atau "barangsiapa yang menanggapi" menemukan konteksnya.
Disini saya pikir bahwa mungkin inilah 'titik temu' faham predestinasi dengan free will. Tapi tentu saja mesti ada pelebaran sudut pandang dari kedua jenis faham agar bisa menyetujui hal ini. Jadi predestinasi benar dari sudut pandang Allah yang Alfa dan Omega dan free will benar dari sudut pandang manusia sebagai pelaku yang terikat oleh dimensi waktu. Bagi Allah semuanya 'telah selesai', sedangkan bagi manusia semuanya masih 'sedang berlangsung'. Jadi predestinasi dan free will kedua-duanya benar, hanya dibutuhkan sudut pandang yang berbeda untuk melihat kebenaran dari masing-masing faham. Bagaimana pendapat anda?
Hilangnya Theos dalam teologi kita-Sebuah Refleksi
Teologi menjadi begitu menarik, lebih dari Allah sendiri. Orang-orang dan gereja-gereja berlomba untuk menjadi yang paling akurat dalam teologi, yang satu mengkritik yang lain, yang lain membuktikan kelemahan yang lain lagi, dst. Pengertian dan pemahaman intelektual tentang Allah dijabarkan dan diperdebatkan dengan begitu akurat, tanpa ada lagi 'sentakan' rasa gentar dan takut terhadap Pribadi yang begitu mulia. Suatu Pribadi agung yang bisa dikenal, dicintai dan begitu menyenangkan kini telah dijepit dalam kaca preparat laboratorium teologis kita, dimana kita bisa membedahNya, memotongnya dengan laser, mencampurnya dengan zat-zat lain sambil meneliti bagian-bagianNya dengan mikroskop intelektual kita. Kita bertanya-tanya tentang banyak hal dan kita berusaha mencari jawabannya dengan membedah dengan lebih akurat lagi, dengan mikroskop intelektual yang lebih tajam lagi.
Gereja-gereja kehilangan pengikutnya dan ada yang berkata: "itu karena gereja meninggalkan fundamentalisme teologi", yang lain bilang: "itu karena gereja terlalu fundamentalis dalam berteologi". Kedua pendapat tersebut memiliki kebenarannya sendiri-sendiri. Tapi Allah lah yang memberi kehidupan dan tanpa Allah kehidupan akan layu. Gereja kehilangan pengikutnya karena gereja kehilangan Allah! Teologi dan doktrin, fundamentalis atau bukan, bisa tetap berdiri tegak oleh kekuatan intelektual belaka. Tapi jiwa manusia tidak dibuat dari bahan-bahan intelektualisme saja. Ada sebuah lubang yang tak terduga dalamnya - yang pengertian dan pemahaman sebesar dan sehebat apapun tidak akan dapat mengisinya - dalam jiwa manusia yang hanya bisa diisi oleh Allah sendiri.
Betapa pentingnya pengertian dan pemahaman yang benar tentang Alkitab, tentang doktrin atau apapun juga, namun Allah lah yang harus menjadi subyeknya. Rasa takut dan gentar kepada Dia yang menjadikan langit dan bumi harus membayangi setiap proses pembelajaran teologis kita, atau semuanya akan menjadi sekadar wacana kosong belaka, sekedar bahan perdebatan yang tidak ada akhirnya.
Mengapa gereja kehilangan perannya? Karena gereja terlalu asik berteologi dan melupakan Allah. Teologi yang baik dan benar mendatangkan rasabenar-diri. Rasa benar-diri membuat percaya diri meningkat. Percaya diri yang baik ditambah pengetahuan yang memadai menjadikan orang-orang yang berkualitas. Orang-orang yang berkualitas akhirnya berhasil dalam apapun yang mereka kerjakan. Keberhasilan menambah keyakinan mereka akan kebenaran dan keakuratan teologi mereka, dan siklus ini berulang lagi. Jadilah gereja berasik-ria dengan keberhasilannya sendiri.
Jika Allah yang menjadi subyek, yang ada adalah rasa rendah diri, dilanjutkan dengan permohonan belas kasihan. Dalam ketidak berdayaan itu timbul pengharapan akan kebaikan Allah. Timbul pengakuan tulus bahwa tanpa Allah kita tidak bisa melakukan apapun yang baik. Dari situ kita belajar untuk bergantung kepada Dia saja. Kebergantungan kepada Allah akan membawa kita dalam rencanaNya, baik melalui puncak kesuksesan, maupun lembah kekelaman. Jalan manapun yang kita lalui, kita akan mengetahui bahwa Allah tidaklah membutuhkan apapun dari kita. Dia tidak butuh uang kita, tidak butuh pertimbangan, nasehat atau penghiburan dari kita. Yang membutuhkan semua itu adalah orang-orang di sekitar kita. Kita harus menjadi alat bagiNya untuk menjawab kebutuhan itu. Apakah mereka menjadi Kristen atau tidak, itu urusanNya. Kasih Allah harus dinyatakan dalam perbuatan tangan kita. Iman harus ditunjukkan lewat perbuatan dan pengharapan harus nyata bagi semua orang.
Saat ini gereja memiliki sumber-sumber teologis yang luar biasa berlimpahnya, tetapi seperti kata pepatah 'tikus mati dalam lumbung padi', begitulah gereja megap-megap kekeringan rohani ditengah-tengah semua kekayaan teologis yang dimilikinya. Ah, alangkah baiknya jika setiap gereja mau mencari Allah dengan sungguh-sungguh dan tidak menggantikanNya atau berpuas diri dengan sekedar pemahaman teologis tentang Dia. (Medio November 2001)
Guncangan Kejiwaan dalam Manifestasi Roh Kudus
----------------------------------------
REALITA YANG TERJADI
"...sekarang mari kita buka Alkitab kita pada kitab...kuukkkuukkuuuuuu....Matius pasal...kukkukkkkuuuuuuuuu...", begitulah sang pendeta berusaha keras meneruskan kotbahnya, sementara itu "Roh Kudus" sepertinya mengganggu terus-terusan dengan membuat pendeta ini berkokok bagai ayam jantan. Potongan tayangan ini saya lihat sendiri di internet, yang menunjukkan fenomena yang terjadi di Brownsville, tempat dimana terjadi Kebangkitan Rohani besar-besaran di awal abad 21.
Tidak hanya itu yang terjadi. Saya melihat dengan mata kepala sendiri [terjadi di gereja saya] orang berguling-guling di seluruh penjuru ruang kebaktian, ada yang telentang dengan kaki mengayuh seperti orang bersepeda, ada yang menari-nari berkeliling ruangan dengan mata tertutup. Sementara dari kesaksian beberapa orang yang pernah ke Toronto, mereka melihat orang yang beraksi dengan gitar khayalan, berlagak bak penyanyi konser yang sedang melakukan improvisasi dengan gitarnya, dst...dst... Belum dihitung dengan derai 'tawa dalam roh' tanpa henti yang memenuhi seluruh ruangan. Orang-orang tertawa terbahak-bahak, berguling-guling sambil memegang perut mereka. Tawa ini bisa berlangsung tanpa henti selama puluhan menit, bahkan beberapa melebihi hitungan jam.
Saya menjadi gelisah. Kerangka teologis saya tidak mungkin menerima semua ini sebagai dari Allah. Tidak pernah dalam sejarah kekristenan Allah bekerja dengan *cara* seperti ini. Kegelisahan saya ditambah dengan kenyataan bahwa saya mengenal baik beberapa orang dari mereka. Salah seorang yang pernah mengalami 'holy laughter' itu malah istri saya sendiri. Saya mengasihi Tuhan Yesus, dan saya tahu orang-orang ini juga. Mereka adalah orang-orang Kristen berdedikasi yang saya kenal. Kegelisahan ini bertambah berat karena sayaTIDAK mengalami sedikitpun dari fenomena-fenomena itu, ada perasaan ingin dan tidak ingin dalam waktu yang bersamaan.
Beberapa hamba Tuhan mencoba mencari pembenaran melalui ayat-ayat Alkitab, mis. Maz 126:2, dll. Tapi saya pribadi kurang puas dengan penjelasan seperti itu, karena konteksnya berbeda. Terus terang saja, tidak ada ayat Alkitab yang mendukung secara eksplisit kejadian-kejadian semacam ini. Dari semua karunia dan buah Roh Kudus yang tertulis dalam Alkitab, tidak ada satupun yang mendukung tindakan-tindakan aneh semacam itu.
Sementara itu kecaman demi kecaman mulai berdatangan, khususnya dari pihak orang Kristen sendiri. Orang non-karismatik berhaluan keras, yang menolak keabsahan semua 'charismata' jaman ini, dengan segera menuduh setan sebagai dalang semua itu. Dengan tidak adanya ayat yang mendukung, maka dengan mudah ditemukan ayat-ayat yang 'menentang', plus menandaskan bahwa iblislah yang berada di balik setiap fenomena-fenomena tersebut. Sedangkan di pihak karismatik, atau di pihak mereka yang mengalami, relatif tidak ada pembelaan apologetik yang cukup memadai, selain menghimbau setiap orang untuk menantikan buah yang akan dihasilkan. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, itu saja yang dipegang oleh mereka yang percaya pada fenomena-fenomena ini, lepas dari asing dan anehnya bentuk pohon itu. Selain itu mereka-mereka yang mengalami fenomena ini lebih memilih untuk 'menikmati'nya tanpa memusingkan apologi dan pengesahan teologis bagi pengalaman mereka.
Kenyataannya, fenomena-fenomena ini memiliki titik akhir. Makin lama fenomena ini makin jarang, baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Saya mendengar bahwa di Toronto maupun Brownsville, fenomena seperti ini juga makin berkurang. Tapi jika dilihat secara obyektif, maka hasil akhir dari semua itu ialah kerajaan Allah tidak dirugikan. Buah dari semua itu tidaklah menguntungkan pihak iblis sama sekali. Hal terburuk yang terjadi ialah kecaman-kecaman teologis dari pihak non karismatik dan berpindahnya haluan teologis sejumlah orang percaya. Tidak ada laporan bahwa ada orang Kristen yang meninggalkan imannya, menjadi ateis atau pengikut setan dikarenakan telah melihat atau mengalami fenomena-fenomena itu. Mereka-mereka yang saya kenal yang mengalami hal-hal semacam ini tetap hidup dalam iman mereka, melanjutkan kehidupan Kristen mereka dengan segala liku-likunya. Di sisilain, terdapat banyak sekali laporan bahwa ribuan orang dimenangkan bagi Kristus, ribuan lainnya disegarkan imannya. Saya melihat sebuah video kebaktian di Brownsville, seorang gadis memberikan kesaksian singkat sambil tubuhnya bergetar-getar dan bergoyang seakan mau jatuh. Kesaksian itu cukup singkat, setelah itu sang pendeta mengambil alih, langsung memberikan tantangan pertobatan, dan saya melihat RATUSAN orang berhamburan ke depan untuk menerima Kristus, berlutut dan menangisi dosa mereka, memohon pengampunan dari Tuhan.
Di gereja saya sendiri, segala sesuatu sudah berjalan normal. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. "Badai [teologis] telah berlalu". Namun pertanyaan yang ada mengenai hal itu tidaklah berlalu begitu saja. Apa yang sebenarnya telah terjadi?
DIKUASAI OLEH ROH = DIRASUKI ?
Sebenarnya saya sulit percaya kalau Roh Kuduslah yang 'mengerjai' orang-orang tsb. Alkitab menggambarkan Roh Kudus sebagai Roh yang lembut, berkuasa, menghibur, menguatkan, pendeknya Roh yang 'gentle'. Namun setelah saya menyelidiki Alkitab, ternyata 'penguasaan roh' pada diri seseorang menunjukkan gejala-gejala yang serupa, terlepas dari roh apa yang menguasai orang itu.
1Sam 18:10: "Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasaatas Saul, sehingga ia KERASUKAN di tengah-tengah rumah, sedang Daud mainkecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya."
1Raj 18:29: "Sesudah lewat tengah hari, mereka KERASUKAN sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yangmenjawab, tidak ada tanda perhatian.
"Dua kata 'kerasukan' yang digunakan pada ke dua ayat di atas menggunakan kata Ibrani yang sama dengan 'bernubuat' (prophesied).
1Sam 10:10-11: "Ketika mereka sampai di Gibea dari sana, maka bertemulah ia dengan serombongan nabi; Roh Allah berkuasa atasnya dan Saul turut kepenuhan seperti nabi di tengah-tengah mereka. Dan semua orang yang mengenalnya dari dahulu melihat dengan heran, bahwa ia bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi itu; lalu berkatalah orang banyak yang satu kepada yang lain:"Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apa Saul juga termasuk golongan nabi?" "
Ayat di atas menunjukkan bahwa 'kepenuhan seperti nabi' ditunjukkan dengan 'bernubuat' [prophesied]. Dari semua ayat tersebut di atas, Alkitab menunjukkan bahwa "tindakan bernubuat" merupakan salah satu tanda penguasaan roh pada diri seseorang, baik roh jahat maupun roh Allah. Selain itu tindakan 'bernubuat' pada ayat-ayat tersebut di atas menggambarkan adanya beberapa ciri terlihat yang serupa, yaitu adanya suatu bentuk 'ketidaksadaran' [trance].
Jadi roh mana yang menyebabkan sebuah fenomena *tidak selalu* dapat ditunjukkan dari *apa yang terlihat* dari fenomena itu. Pada peristiwa yang jelas-jelas dari roh jahat, Alkitab TB LAI menggunakan kata 'kerasukan', sedangkan pada peristiwa yang jelas dari roh Allah, TB LAI menerjemahkan sesuai dengan terjemahan umumnya, yaitu 'bernubuat'. Sumber dari fenomena-fenomena ini baru bisa ditengarai dengan melihat keseluruhan konteks peristiwa, dimana itu terjadi, pada siapa, kapan, mengapa, dan latarbelakang yang lain. Namun jelas bahwa penguasaan roh pada diri seseorang mungkin saja dilihat dengan jelas, artinya ybs bisa kehilangan kendali atas beberapa perilakunya, lepas dari roh apa yang menguasai orang tsb. Namun ini tidak berarti bahwa hal ini *selalu* terjadi demikian. Alkitab juga mengisahkan manifestasi dari penguasaan roh Allah yang berwujud pada keberanian atau kekuatan seketika itu juga [spt pada Simson], atau dari kekuatan yang timbul untuk hidup kudus bagi Dia.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pekerjaan Roh Allah sama dengan pekerjaan roh jahat. Allah itu roh, roh jahat juga roh. Apa yang dikerjakan makhluk roh memiliki efek yang serupa pada manusia, tapi dengan buah yang berbeda. Jadi manifestasi bisa serupa, tapi hasil akhir pasti berbeda. Sebab itu penulis Alkitab dengan berani mengatakan bahwa ada roh jahat yang 'berasal dari Allah'. Dua orang pelukis akan menghasilkan karya yang serupa secara fisik, sama-sama dari kanvas, cat minyak, sama-sama berwarna, dsb. Hanya dari wujud materinya saja kita tidak akan bisa membedakan mana pelukis jahat mana pelukis baik. Baru setelah lukisan itu diartikan, kita mungkin akan tahu bedanya. Demikian juga dengan hal-hal rohani. [Wah, ini ilustrasi yang kurang bagus, tapi sementara ini saya nggak nemu analogi yang lebihpas...]
Satu hal yang saya amati juga ialah, bahwa 'gejala' penguasaan roh pada diri masing-masing orang ternyata berbeda. Profil psikologi seseorang ternyata memiliki peran dalam 'tingkat' berkurangnya kesadaran seseorang pada waktu roh menguasai dia. Saul adalah raja yang berkepribadian lemah & insecure. Dia mudah sekali dikuasai oleh roh dan sering kali dengan gejala hilang sadar. Sebaliknya Daud adalah seorang dengan kepribadian yang kuat, tidak pernah sekalipun di Alkitab dikisahkan bahwa Daud 'kepenuhan' atau'bernubuat' dengan cara yang sama seperti Saul, namun Roh Tuhan juga dikatakan "berkuasa" atas Daud. Bagi saudara yang biasa bergerak dalam pelayanan kelepasan, akan terlihat sebuah profil psikologis tertentu pada diri seseorang yang lebih gampang "kerasukan". Jadi sebetulnya kondisi kejiwaan seseorang memiliki hubungan dengan manifestasi rohani yang mungkin dialaminya.
GUNCANGAN KEJIWAAN YANG TERJADI
Ada sebuah peristiwa yang dicatat di Alkitab:
Luk 9:33 Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musadan satu untuk Elia." Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu.
Kisah ini menggambarkan Petrus si sanguin, yang begitu terkagum-kagum dengan manifestasi penglihatan yang dialaminya sehingga dia menawarkan hal yang konyol. Peristiwa semacam inilah yang saya pikir terjadi pada orang-orang yang bertingkah laku aneh-aneh pada pencurahan Roh Kudus.
Waktu seseorang *mengalami* manifestasi pencurahan Roh Kudus, ada *banyak* perasaan yang berkecamuk dalam jiwanya. Sementara dia melihat ada beberapa bagian saraf motoriknya yang tidak terkendali lagi, perasaan sukacita, takut, heran, kagum, malu, dll dialami dalam waktu bersamaan. Pada kasus pencurahan yang menghasilkan gelak tawa tiada henti, perasaan yang paling dominan adalah sukacita. Sukacita ini sangat kuat beroperasi dalam diri ybs, sehingga dia tidak mungkin tidak melepasnya dalam tawa. Saya pribadi pernah mengalami hal ini.
Dalam beberapa kasus sukacita ini datang seperti aliran yang luar biasa besarnya, sehingga orang tsb akan tertawa tiada henti selama bermenit-menit.Di balik keadaan tanpa kendali ini, sebenarnya orang tsb masih sadar, sadar bahwa dia sedang tidak bisa mengendalikan dirinya. Setelah beberapa lama kemudian dia akan 'menyerah' dan tidak berusaha menguasai dirinya lagi, berlaku seperti orang yang hanyut oleh arus. Semua yang terjadi 'dinikmati' olehnya. Hal inilah yang, menurut saya, menimbulkan perilaku-perilaku yang tidak terduga. Jika seseorang memutuskan untuk melepaskan kendali atas perilakunya, maka hal-hal yang paling anehpun bisa terjadi. Mereka memutuskan untuk lepas kendali karena sebelumnya mereka mencoba mengendalikan diri tapi tidak bisa. Akhirnya timbullah apa yang saya sebut sebagai 'goncangan kejiwaan' itu, yaitu sebenarnya mereka sudah memperoleh kembali kendali atas perilaku mereka, tapi mereka memutuskan untuk tetap'mengalir' mengikuti arus perasaan mereka dan tidak malu lagi untuk melakukan hal-hal aneh yang spontan. Hal ini semakin diperkuat jika orang-orang di sekitar mereka juga melakukan hal yang sama, ditambah lagi dengan penerimaan atas semua itu sebagai karya Roh Kudus, dimana melawan aliran itu dianggap sama dengan melawan Roh Kudus. Dari situlah semua perilaku aneh-aneh itu menemukan tempatnya. [selesai]