Tuesday, August 03, 2010

Kerinduan untuk Juruselamat

Minggu ini saya berdukacita: gak bisa ngikuti kelanjutan kisah Naruto, padahal dia sekarang udah berhasil menguasai dan mengendalikan sepenuhnya cakra rubah ekor sembilan, yang selama ini menjadi sumber kekuatan sekaligus masalah terbesarnya.:-) Mulai akhir Juli kemaren, kisah Naruto tidak bisa lagi diikuti secara online, karena ada perubahan kebijakan dari sang penerbit. Naruto sendiri merupakan salah satu manga yang paling banyak dibaca secara online. Sekarang terpaksa menunggu terbitan resmi di toko buku yang ceritanya ketinggalan banget dari versi onlinenya.

Mengapa saya [dan jutaan orang lain] suka Naruto? Tidak hanya Naruto, kisah para tokoh khayalan seperti Superman, Spiderman, Sam Witwicky [Transformers], Frodo Baggins [Lord of The Rings], Harry Potter, bahkan Kungfu Panda dll, memikat hati begitu banyak orang. Semua kisah di atas memiliki persamaan: mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi juruselamat dunia, dalam konteks masing-masing, tentunya. Bagaimana seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi juruselamat harus menjalani proses yang beragam likunya, bagaimana ia harus jatuh bangun dalam keraguan, semuanya bisa diramu menjadi kisah yang selalu menarik. Dan biasanya begitu kisah-kisah ini dituangkan ke dalam film oleh sutradara terbaik, akan selalu mencapai box office dalam waktu singkat. Kesimpulannya: manusia selalu menyukai cerita-cerita tentang juruselamat.

Tidakkah ini mencerminkan kondisi rohani dari umat manusia yang telah jatuh dalam dosa? Meski sangat banyak manusia yang tidak mengakui bahwa mereka memerlukan Allah, kesukaan bawah sadar akan kisah-kisah tentang juruselamat membuktikan sebaliknya. Dibalik kesukaan terhadap kisah atau film bertema kepahlawanan, pastilah tersembunyi sebuah kerinduan yang mungkin tak disadari tentang bagaimana segala sesuatu yang rusak di dunia ini akan dibereskan. Dunia dan manusia memang tidak dirancang untuk berkubang dalam dosa. Dalam diri manusia yang terdalam ada sebuah kerinduan besar untuk melihat pemulihan segala ciptaan, kembali kepada kemuliaan yang sebenarnya.

Tidak hanya itu, ada banyak anak muda – dengan indoktrinasi yang cukup – mau menyerahkan segalanya untuk sebuah visi mengubah/menyelamatkan dunia. Kisah-kisah dimana ada orang yang bersedia meledakkan diri dengan bom tidaklah langka kita dengar. Mereka-mereka ini, yang sebenarnya mati konyol, percaya seratus persen bahwa mereka sedang melakukan bagian mereka dalam pemulihan dunia [versi mereka tentu saja]. Tidak hanya merindukan juruselamat, beberapa orang bersedia memberikan nyawa mereka untuk mengambil bagian dari gerakan ‘sang juruselamat’ itu sendiri. Beberapa pimpinan agama, dengan kemampuan orasi yang luarbiasa secara sadar atau tidak sadar membangkitkan harapan yang begitu besar atas juruselamat ini, dan kemudian mendapatkan loyalitas yang luarbiasa dari para pengikut mereka.

Lalu apa hubungannya dengan kita orang Kristen? Paling tidak ada dua hal yang saat ini dalam pikiran saya. Pertama, Yesus sendiri mengatakan bahwa pada akhir jaman akan tampil banyak ‘mesias/juruselamat’ palsu, dengan banyak tanda ajaib yang menyertai mereka [Mat 24:3-4 & 23-24]. Ciri khas Mesias/Nabi palsu ini jelas, mereka menkhotbahkan penyelamatan tanpa pertobatan, pertolongan tanpa tuntutan untuk meninggalkan dosa:

Yeremia 23:14-17
Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorangpun yang bertobat dari kejahatannya; …Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Janganlah dengarkan perkataan para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia kepadamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut TUHAN; mereka selalu berkata kepada orang-orang yang menista firman TUHAN: Kamu akan selamat! dan kepada setiap orang yang mengikuti kedegilan hatinya mereka berkata: Malapetaka tidak akan menimpa kamu!


Bukankah ini yang sering kita temui? Para hamba Tuhan dengan karunia-karunia mujizat yang hebat, mengkhotbahkan kabar baik Injil dan berkat-berkatnya, tanpa sedikitpun menuntut pertobatan yang radikal dari pendengarnya. Hamba Tuhan semacam ini, dengan promosi yang tepat, akan memperoleh jutaan pengikut dalam waktu singkat! Mengapa? Karena setiap orang merindukan juruselamat. Sebaliknya, Yesus, sang Juru Selamat sejati dalam masa hidupNya justru tidak memiliki pengikut yang terlalu banyak, karena tuntutanNya yang tanpa kompromi untuk pertobatan yang sejati. Kita semua perlu benar-benar menyadari betapa kerinduan kita yang terdalam ini bisa menjadi begitu salah arah dan disalahgunakan.

Hal kedua yang ada dalam pikiran saya adalah bahwa setiap orang Kristen sebenarnya adalah orang yang paling beruntung di dunia ini, karena kita telah mengenal Juru Selamat yang sebenarnya! Anehnya, kita malah malu-malu menyatakan hal ini. Kita bisa dengan bebas dan santai saling bertukar informasi tentang film Harry Potter terbaru, berdiskusi soal Superman dan Spiderman, bercerita tentang Naruto [seperti saya :-)], tapi justru bungkam dan malu-malu jika diminta bercerita tentang Juruselamat sejati. Betapa semua manusia merindukan tokoh juruselamat, dan betapa sedikit orang Kristen yang mau menceritakan bahwa Juruselamat yang sejati telah turun ke dunia yang rusak ini, memberikan nyawaNya, bangkit dari kematian dan naik ke sorga. Juruselamat yang kita kenal telah mengalahkan kematian, dan kita sepertinya tidak cukup percaya diri untuk memberitakan hal itu! Semoga Roh Kudus menyucikan hati setiap kita, agar kita menyadari panggilan kita untuk memberitakan sang Juruselamat kepada setiap orang yang kita kenal.

Dan soal Naruto, biarlah saya menunggu edisi cetaknya saja…

Tuesday, July 13, 2010

Piala dunia, Pornofilm Arieluna & Panggilan utk menyembah

Akhirnya Spanyol menjadi juara dunia dengan mengalahkan Belanda. Bukan, saya bukan fans Spanyol, dan juga bukan fans kesebelasan manapun. Saya tidak suka sepakbola, karena bagi saya sepak bola terlalu membosankan. Duapuluh dua orang bermain & berkeringat lari sana sini selama 90 menit dengan jumlah skor gak sampai 5 (biasanya), tidaklah menarik bagi saya :-). Kenyataannya, sampai detik ini saya belum pernah menonton pertandingan bola secara penuh dari awal sampai akhir. Pernah mencoba sih, tapi karena sudah lebih dari 30 menit tidak ada hasil (gol) yang dicapai, sayapun menyerah dan mengganti channel TV.

Sekarang soal video porno 'mirip' Ariel, Luna Maya ataupun Cut Tari. Bukan, saya bukan fans Ariel, Luna, maupun Tari. Saya malah baru tahu mana orang yang namanya Cut Tari ya setelah berita pornofilm ini menghebohkan nusantara. Dan meskipun saya tidak ngefans sama mereka, pada saat diberitakan bahwa ada film porno yang dibintangi Luna Maya dan Cut Tari, ehem…. yach… sejujurnya ya… saya tetap tidak merasa perlu untuk mencari apalagi menonton video gituan… Jadi saya termasuk yang “masih suci”, tidak dicemari oleh segala kemaksiatan yang entah kenapa kok begitu dibesar-besarkan oleh media nasional. Saya bahkan tidak menonton satupun infotainment yang membahas tentang topik ini, sampai pada waktu liburan kemaren, saya sempat menonton sekilas Cut Tari yang menangis tersedu-sedu pada waktu ia minta maaf kepada semua orang di hadapan para wartawan. [Saya tidak tahu apakah ia menangis karena menyesal telah ketahuan bermesum ria betulan dengan Ariel, atau menangis karena dipaksa meminta maaf oleh pengacaranya sedangkan ia sendiri sebenarnya tidak melakukannya.]

Trus apa hubungannya piala dunia, video porno mirip artis, dengan panggilan untuk menyembah Tuhan? Begini…

Walaupun saya tidak suka sepak bola, gegap gempita piala dunia mau tidak mau membuat saya sedikit-sedikit cari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Siapa lawan siapa hari ini, tim mana saja yang diunggulkan, siapa yang masuk semi final, sampai berita si gurita peramal pun sempat mencuri perhatian saya [rupanya karunia nubuat tidak dibatasi pada manusia saja, hehe]. Tapi event ini begitu akbar dan megah, sehingga bagi orang seperti saya pun, mau tidak mau, merasa perlu untuk tidak ketinggalan berita. Bagi para gibol Indonesia, mereka bahkan bisa turut larut dalam pertandingan, mungkin turut emosional dalam ‘membela’ tim jagoan mereka, padahal tim tersebut bukan dari Indonesia. Teman-teman gereja pun, bersedia mengorbankan waktu tidur yang berharga untuk menonton langsung pertandingan. Barusan saya dengar kabar, pertemuan doa pagi para pendeta di Surabaya hari Senin pagi kemarin jadi sepi, rupanya banyak juga pendeta dan gembala gereja yang begadang nonton final Belanda vs. Spanyol.

Kasus pornofilm Ariel juga begitu. Di internet mungkin ada puluhan juta film porno yang bisa didapat dengan mudah. Pornofilm yang melibatkan artis terkenal juga cukup banyak. Tapi yang satu ini agak berbeda, entah mengapa kasus ini meledak begitu besar, sampai presiden pun turut campur. Baru kali ini presiden sebuah negara ikut mengomentari sebuah film porno. Tidak hanya di Indonesia, media sekelas New York Times pun menaruh perhatian. Kasus amoralitas yang sebenarnya tidak luar biasa, menjadi luar biasa karena dukungan media. Di facebook sendiri ada seorang pendeta, gembala jemaat, yang dengan jujur mengakui bahwa ia telah menonton pornofilm tsb, dan kemudian berkomentar: “biasa aja tuh, saya gak terpengaruh…” [amiinnn :-P] Saya sendiri mau tidak mau merasa perlu untuk cari tahu dikit-dikit, padahal mestinya tidak ada urusan yang perlu diketahui soal ini.

Mengapa saya jadi kepingin cari tahu tentang hal-hal yang sedang jadi pembicaraan semua orang, padahal semestinya saya tidak berurusan, bahkan tidak tertarik pada topik tersebut? Mengapa “mengetahui berita heboh terkini” menjadi sebuah hal yang saya kejar? Saya rasa kecenderungan ini bukan terjadi pada saya saja, tapi pada semua manusia. Mengapa ada orang-orang yang ngefans berat pada seseorang, sehingga berusaha mengetahui segala hal tentang ybs? Mengapa orang-orang berebut untuk berfoto bersama dengan artis, dan kemudian sedapat mungkin memamerkan foto2 tsb? Mengapa facebook yang adalah wadah untuk “memamerkan diri” menuai keberhasilan yang luar biasa dengan ratusan juta pengguna?

Jawabnya: ada sebuah kapasitas sekaligus kekosongan besar dalam diri manusia, yaitu untuk mengagumi dan dikagumi.

Ada sesuatu yang hilang dalam diri setiap manusia, yaitu Kemuliaan Allah (Rom 3:23). Manusia diciptakan di dalam kemuliaan dan untuk kemuliaan Allah. Apa dan gimana sih kemuliaan yang hilang itu? Gampangnya mungkin gini: kemuliaan tsb adalah yang membuat manusia begitu penuh, puas, berharga, mulia, percaya diri dalam takaran yang sempurna, sedemikian sempurna sehingga bahkan mereka bisa telanjang dan tidak merasa malu (Kej 2:25). Manusia diciptakan untuk menjadi berharga, mulia, mengagumkan; semuanya untuk menyatakan betapa mulianya Allah sang pencipta itu. Manusia adalah ciptaan terbaik dari Allah, dan Allah sangat puas dengan pekerjaanNya.

Tidak hanya dengan keberadaan yang mengagumkan, manusia diciptakan juga untuk mengagumi penciptaNya. Dikagumi dan mengagumi, itulah kerinduan yang terbesar dalam diri manusia, sebuah kerinduan untuk kemuliaan yang hilang. Dalam kegelapan dosanya, manusia tetap mencari pemenuhan ini. Wujudnya adalah sebuah kerinduan yang sangat kuat untuk senantiasa menjadi, berdekatan, berhubungan, tahu, kenal, nyambung dengan segala hal yang bersifat spektakuler, menakjubkan, populer, atau dengan satu kata: mulia. Bisa menjadi “mulia”, atau terhubung dengan sesuatu yang “mulia” menimbulkan kepuasan yang unik dan tak tergantikan. Sebuah kepuasan yang hanya dimiliki oleh ciptaan yang segambar dengan Allah.

Kitab Ibrani menceritakan tentang apa sebenarnya yang dicari oleh orang2 yang rela memberikan nyawa demi iman mereka. Sama seperti semua manusia, para pahlawan iman ini juga mencari kemuliaan yang hilang, hanya saja mereka mencarinya ke arah yang tepat, yaitu ke ‘tanah air sorgawi’:

“Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air…yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi.” Ibr 11:13-16

Mengapa saya menghubungkan semua ini dengan penyembahan kepada Allah? Karena penyembahan yang sejati adalah satu-satunya cara kita dapat mencicipi kemuliaan tanah air kita yang sebenarnya. Penyembahan membuat kita terhubung dengan Pribadi paling mengagumkan di seluruh alam semesta. Kepuasan menonton siaran langsung, pada saat tim kesayangan kita menjadi juara dunia, pada saat kita mengetahui segala hal tentang artis pujaan, pada saat kita bisa berfoto atau bahkan makan bersama seorang yang kita kagumi, seluruh kepuasan itu, kalikan dengan sejuta, mungkin akan mendekati kepuasan pada saat kita bisa berjumpa dan bersekutu dengan Allah pencipta kita melalui penyembahan.

Tetapi mengapa dalam kenyataan kehidupan penyembahan kita tidaklah sememuaskan itu? Karena kapasitas kita untuk mengagumi telah dirampok habis-habisan. Dalam kemajuan informasi seperti sekarang, kita terlalu banyak mengagumi hal-hal, berita-berita, orang-orang, film-film, lagu-lagu, dan segala macam karya manusia lainnya. Mengagumi hal yang memang mengagumkan tidaklah salah, tapi sebagai manusia, kita memiliki kapasitas yang terbatas. Bagi orang yang kekenyangan, aroma masakan koki terbaik pun bisa membuat mual. Demikian juga penyembahan dapat menjadi sebuah aktifitas membosankan yang melelahkan. Bukannya dipuaskan oleh perjumpaan dengan Allah yang mulia, penyembahan dan ibadah menjadi sebuah kewajiban tak terlalu penting yang akan dengan mudah dikalahkan oleh, katakan saja, siaran langsung final piala dunia.

Manusia adalah makhluk paling cerdas di alam semesta, yang sayangnya, sering mencari apa yang dia sungguh-sungguh inginkan di tempat yang jelas-jelas salah [aneh yach…]. Saya sekarang belajar untuk membatasi kekaguman saya kepada apapun selain Tuhan. Seluruh fokus kekaguman saya hanya boleh tertuju kepada satu Pribadi saja. Menjadi seorang penyembah sejati tidaklah mudah, dan Bapa mencari penyembah yang demikian. Saya akan terus belajar dan belajar. Semoga lebih banyak orang menempuh jalan sempit yang saya tempuh sekarang ini. Tuhan memberkati.

Tuesday, July 06, 2010

Twilight: Jatuh cinta sampai mati dengan orang mati?

Udah tiga seri film twilight yang diputar di bioskop sampai saat ini, dan ketiganya saya (putuskan untuk) liat. Kisah cinta segitiga antara seorang cewek dan dua 'iblis' ini rupanya sangat mendunia, sehingga konon Twilight Eclipse langsung meraup pemasukan USD 30 juta pada hari pertama pemutarannya. Sungguh luar biasa, mengingat film ini sebenarnya termasuk film romans biasa.

Saya udah mendapat beberapa info soal novel twilight -sebelum film pertamanya diputar- dari komentar2 yang beredar di internet, mengenai bagaimana novel karangan Stephanie Meyer ini menjadi fenomena, khususnya di kalangan cewek remaja. Dan pada saat nonton filmnya untuk pertama kali (saya gak baca novelnya), sejujurnya saya harus 'berusaha' untuk menikmati film tsb, karena saya sebelumnya berharap bahwa film tsb lebih bersifat action horror daripada sebuah film drama percintaan. Dan setelah menonton seri ketiganya barusan, saya mulai memahami mengapa film/kisah ini begitu dicintai oleh banyak orang, dalam hal ini para gadis remaja.

Mungkin intisari dari serial twilight adalah sebuah kisah cinta yang sangat kuat antara dua (perkembangan terkini: tiga) insan yang berbeda dunia, dimana cinta tersebut bagaikan api yang menelan habis seluruh keberadaan insan yang terlibat. Saat terjadi perpisahan, setiap pihak digambarkan amat sangat menderita, bahkan tokoh Bella sampai harus bunuh diri, dan diselamatkan justru oleh seorang pria lain yang juga sangat mencintainya. Meskipun cinta mereka digambarkan begitu bergelora, begitu penuh hasrat, tapi hubungan tsb tetap 'terjaga' kesuciannya. Tokoh Bella digambarkan tetap perawan sampai film yang ketiga, sementara si cowok Edward rupanya sangat konservatif (mengingat dia berusia ratusan tahun, heheh), hanya mau berhubungan seks kalau sudah menikah resmi. Ada banyak adegan dalam tiga seri film ini, dimana Edward & Bella hanya berpandangan, sedikit berkata-kata, hanya melakukan tatapan penuh cinta.

Tapi dengan [tidak] terpaksa, saya harus mengatakan, berhati-hatilah para Twilight mania! [khususnya para cewek] Ekspresi cinta yang digambarkan dalam film ini sesungguhnya sangat berlebihan, dan sebenarnya sangat berbahaya bagi hubungan pacaran yang sebenarnya.

Pernah liat iklan mie instan di tv nggak? Di iklan tsb, digambarkan setiap orang yang memakan mie instan, memakannya dengan ekspresi yang luarbiasa nikmat. Mata melotot & berputar-putar, mulut monyong menyeruput mie instan, setelah itu merem melek merasakan nikmatnya si mie instan, mmmh..mmmh... lezzaaattt nya luar biasa. Mie instan sih memang enak [kalo jarang makan], tapi ekspresi yang ditampilkan di iklan tsb jelas tidak realistis & berlebihan banget.

Itulah yang disajikan dalam Twilight, ekspresi cinta yang sangat berlebihan & tidak realistis. Tidak realistis bukan dalam hal tidak bisa dilakukan, tapi jika dilakukan akan membawa akibat yang berbeda dari yang disajikan di film tsb. Kalau kita berekspresi sama seperti para bintang iklan pada saat makan mie instan, resikonya paling kita dianggap gila oleh orang sekitar. Tapi jika kita meniru ekspresi cinta Bella & Edward dalam hubungan pacaran kita, kehancuranlah yang menjadi bagian kita.

Dari pengamatan saya, paling tidak ada tiga elemen berbahaya dalam Twilight, khususnya bagi generasi muda:

1. Cinta membuat kamu nggak berdaya samasekali.
Tokoh dalam Twilight begitu hancur pada saat mereka harus berpisah. Saya jujurnya pernah mengalami jatuh cinta seperti ini, yaitu pada saat jatuh cinta pertama kali dengan cewek yang menjadi istri saya sekarang. Seluruh hidup ini sepertinya 'keracunan' cinta, gak bisa mikir lain, mikirin dia terus menerus. Kebakaran besar yang melanda beberapa tempat akhir2 ini di Surabaya tidak ada apa-apanya dibandingkan api asmara yang berkobar di hati saya pada saat itu... (^_^) Merasakan semua ini sah-sah saja sih, tapi kuncinya di sini adalah: kendali. Asmara HARUS dikendalikan, meskipun sepertinya akan mengurangi kenikmatannya. Twilight secara tidak langsung menyatakan bahwa jika kamu benar2 mencintai pasanganmu, kamu akan (dan pasti) kehilangan kendali. Kamu akan menjauh dari keluargamu, berbohong kepada semua orang, termasuk memikirkan bunuh diri jika cintamu tak kesampaian. Hal tsb sangat keliru. Jika kamu sangat mencintai pasanganmu, justru kamu harus menetapkan bahwa kamu akan mengendalikan perasaanmu sekuat-kuatnya, agar kamu dapat membuat keputusan2 penting dengan benar. Asmara bagaikan sungai berarus deras, dan membiarkan diri kamu & pacarmu hanyut & kemudian tenggelam di sungai tsb, bukanlah tindakan yang bijak. Twilight membuatnya terlihat indah & romantis, tapi tenggelam di sungai asmara hanya akan membuahkan penyesalan di kemudian hari.

Para perempuan khususnya harus lebih berhati-hati. Mengapa saya mengkhususkan kaum perempuan dalam hal ini? Karena romantisme semacam ini adalah impian setiap perempuan. Secara alamiah perempuan sangat mengharapkan seorang pria yang kuat, tampan, melindungi, berhasrat padanya tapi sekaligus bisa menjaga kesuciannya, pria yang bersedia melakukan apapun baginya, menyediakan diri & waktu untuk berdua, sangat 'hangat' tapi sekaligu 'dingin', dst, dst. Tokoh Edward adalah impian tiap cewek, karena ia memenuhi semua persyaratan itu. [Edward bisa begitu sempurna karena yang menciptakannya adalah perempuan juga]. Tidak cuman Edward, juga dimunculkan tokoh Jacob yang memiliki kualitas yang tidak dimiliki Edward: badan & lengan yang kekar dan perut yang sixpack. Film ini bisa membangkitkan hasrat tak terkendali bagi seorang perempuan, dengan efek yang sama seperti pornografi bagi pria. Habis nonton film ini berduaan, seorang cewek bisa benar2 menginginkan romantisme yang sama dari pacarnya, dan jika itu dilakukan... lihat no. 2 di bawah...

2. Kamu bisa berduaan di kamar [& di hutan], berpelukan & berciuman di atas ranjang [atau rerumputan] dengan pacarmu, tanpa terjerumus ke dalam seks pranikah.
Bagi para cewek, kecuali kamu memiliki vampir betulan sebagai pacarmu (yang kebetulan sanggup mencium kamu tanpa menggigit lehermu) kondisi di atas tidak akan terjadi. Bagi para cowok, kecuali kamu adalah vampir jadul yang udah hidup ratusan tahun sehingga bukan haus darah tapi haus cinta, kondisi di atas adalah khayalan. Pada saat dua insan lawan jenis berpelukan dan berciuman di tempat privat, dalam kondisi hanyut oleh arus sungai asmara, hasilnya adalah seks, yang kemudian diikuti dengan penyesalan, kehancuran, aborsi, dst. Rumus ini sepasti 1 + 1 = 2. Saat menonton film ini, ingatlah bahwa semua yang ditampilkan di film tsb adalah sepenuhnya khayalan, meskipun kita bisa benar-benar turut merasakan intensitas asmara tsb dalam kehidupan nyata. [ingat iklan mie instan]. Cinta itu indah & nikmat, seks juga, tapi semua itu tidak dirancang Tuhan untuk dinikmati tanpa aturan main & kendali.

3. Mencintai seseorang dengan sisi gelap memang lebih seru
Saya tidak tahu mengapa Stephanie Meyer menetapkan bahwa semua pria yang dicintai Bella adalah 'monster'. Mungkin hanya agar drama percintaan ini tidak menjadi biasa-biasa. Tapi menurut saya ada sebuah fantasi dalam diri setiap perempuan untuk menjadi 'liar', mungkin karena cetakan sosial terhadap gender perempuan yang mengatakan bahwa seorang perempuan harus menjaga kesopanan, harus anggun, dst. Mungkin dengan mencintai seseorang yang memiliki 'iblis' dalam dirinya, justru akan lebih romantis dan unpredictable. Saya tidak bisa memastikan hal ini karena saya bukan perempuan :-). Tapi jika ini benar, maka Twilight akan menyalakan sebuah api yang seharusnya tidak boleh menyala dalam hati setiap gadis remaja. Seorang cowok dengan sisi gelap, malah akan terlihat lebih menarik daripada seorang cowok yang menjaga kekudusan. Beware girls! Menikah dengan 'cowok gelap' sungguh-sungguh akan membuat kalian masuk ke neraka yang sesungguhnya.

Sejauh ini tiga elemen tsb yang menurut saya sangat berbahaya bagi generasi muda. Sejujurnya, bagi saya lebih baik anak muda [apalagi yang kristen] tidak perlu menonton film ini apalagi membaca novelnya. Saya bukan tipa orang yang suka melarang, tapi film ini tidak memberikan apa-apa selain rangsangan2 yang tidak perlu bagi anak-anak muda. Kalau mau nonton juga, bolehlah, tapi coba cermati dan bedakan mana yang bersifat racun, mana yang bersifat hiburan semata, ok?!

Wednesday, May 24, 2006

Tentang Karunia Nubuat

Tulisan ini saya buat sekitar Pemilu 2004, dimana salah satu partai Kristen yang 'dinubuati' untuk berjaya di Pemilu 2004 yaitu PDS akhirnya hampir pasti tidak lolos electoral treshold. Berikut saya ingin membagikan pandangan saya soalkarunia roh yang satu ini.
------------------------
Karunia nubuat mungkin merupakan karunia paling kontroversial kedua setelah bahasa roh. Beberapa aliran kristen mengklaim bahwa karunia ini, bersama dengan karunia-karunia adikodrati lainnya sudah 'punah' bersama dengan selesainya kanon Alkitab. Namun saya melihat bahwa sebagian besar orang Kristen masih mempercayai karunia ini, meskipun dengan menggunakan filter-filter yang sangat ketat. Sebagian orang Kristen lainnya, khususnyayang beraliran karismatik, malah sepertinya berlimpah ruah dengan nubuat disana-sini. Saya pernah melihat sebuah acara TV rohani (lewat TV Kabel) dimana si pengkotbah sebentar-sebentar bernubuat ini dan itu pada orang-orang yang ditunjuknya. Saya tersenyum kecut saja saat menyadari bahwa semua 'nubuat' yang diutarakan itu adalah soal uang & kekayaan.

Dari semua pandangan di atas, ada beberapa pandangan tentang nubuat yang menurut saya kurang tepat, yaitu:

1. Karunia nubuat (yang biasanya dimiliki oleh jawatan Nabi) sudah tidak ada lagi
Dengan mengatakan bahwa jawatan nabi sudah kadaluarsa, sama saja dengan mengatakan bahwa empat jawatan lainnyapun (rasul, guru, penginjil & gembala) kadaluarsa. Allah memberikan kelima jawatan tsb untuk "...memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus..." (Ef 4:12) Tanpa salah satu jawatan saja, orang-orang kudus tidak akan lengkap. Sebagaimana peran guru, penginjil dan gembala masa kini sangatlah vital dalam pembangunan tubuh Kristus saat ini, demikian pula peran nabi dan rasul masa kini. Mengapa orang sangat alergi dengan jawatan nabi dan rasul? Saya pikir karena hanya bagian jawatan inilah yang sangat bersentuhan dengan hal-hal rohani. Nabi dan rasul beroperasi didaerah-daerah yang rohani, dan dalam area inilah paling sering terjadi penyalahgunaan. Sayang sekali, tapi memang itulah kenyataannya.

2. Penggenapan nubuat tidak boleh dengan campur tangan manusia.
Hal ini sering menjadi batu sandungan bagi rekan-rekan non karismatik. Ada sebuah kecenderungan untuk mengangkat nubuat sebagai sesuatu yang sangat mistik, sehingga penggenapan nubuatan hanya boleh terjadi oleh tangan Allah langsung. Segala usaha manusia untuk mewujudkan janji Allah dalam nubuat dianggap sebagai usaha untuk me'legal'kan nubuat yang sebenarnya palsu. Banyak contoh di Alkitab yang mengatakan bahwa setelah mendengar sebuah nubuatan, seseorang kemudian melakukan sesuatu agar nubuatan itu terlaksana. Salah satu contoh adalah apa yang dikerjakan raja Asa dalam 2Taw 15. Di situ dikisahkan bahwa setelah raja Asa mendengar nubuatan dari seorang yang diurapi Tuhan, dia melakukan langkah-langkah praktis dan politis agar janji Allah itu menjadi kenyataan. Tuhan Yesus sendiri juga beberapa kali melakukan sesuatu dengan tujuan agar nubuatan tentang diriNya digenapi. Memang ada beberapa nubuat yang hanya bisa terjadi oleh tangan Allah secara adikodrati, tapi tidak semua nubuat seperti itu.

3. Nubuat harus digenapi secepat mungkin
Orang-orang yang tidak percaya pada nubuatan sering menantikan 'gagalnya' penggenapan nubuatan itu dengan melihat bahwa tidak terjadi apapun atau hal-hal yang terjadi ternyata bertentangan dengan apa yang dinubuatkan dan kemudian memastikan bahwa nubuat itu adalah palsu. Kita sering lupa bahwa nubuat-nubuat yang tercantum di Alkitab ada yang belum terjadi bahkan sampai sekarang. Sebagian nubuat memang mencantumkan waktu, sebagian yang lain tidak. Beberapa nubuat dapat dipenuhi dalam beberapa hari, tapi sebagian besar lainnya membutuhkan waktu yang sangat, sangat lama. Secara manusia saya juga tidak memahami mengapa Allah bisa memberikan janji begitu lama sebelum waktu penggenapannya. Jadi, jika kita beruntung, kita bisa mendengar sebuah nubuat pada waktu pertama kali diucapkan dan masih hidup pada waktu nubuat itu digenapi.

4. Nubuat harus digenapi tepat seperti tafsiran (literal) dari perkataannubuat itu.
Saya menjumpai bahwa penggenapan nubuat kadang berbeda dengan tafsiran awal dari nubuatan itu sendiri. Orang Farisi adalah contohnya. Mereka memiliki tafsiran awal yang sudah paten tentang bagaimana Mesias itu seharusnya. Mereka sangat menantikan Mesias, lalu kitab PL adalah kitab mereka, ditulis dalam bahasa mereka, berkembang bersama kebudayaan mereka selama ribuan tahun. Tidak ada orang lain yang memiliki tafsiran paling valid tentang setiap nubuat pada kitab PL pada saat itu kecuali golongan Farisi. Itu sebabnya mereka tidak bisa menerima Yesus sebagai sang Mesias, karena penggenapan nubuat itu berbeda dengan penafsiran mereka selama itu. Sekian tahun setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke sorga, barulah orang-orang Yahudi kristen yang mula-mula menemukan 'tafsiran yang sesungguhnya' dari setiap nubuatan PL tentang Mesias. Dan saat ini tafsiran'baru' inilah yang kita gunakan. Ahli-ahli Yudaisme saat ini akan menuduh orang-orang semacam kita ini "membaca PL dengan kacamata PB". Jadi mungkinsaja penggenapan nubuat terjadi diluar tafsiran kita sebelumnya tentangnubuat itu.

5. Keabsahan nubuat tergantung dari siapa orang yang bernubuat.
Di jaman kasih karunia ini masih cukup banyak orang yang berpendapat bahwa Allah hanya akan memakai orang dengan syarat-syarat moral/teologis tertentu. Film "The Passion" dikritik habis-habisan karena Mel Gibson orang Katolik, membintangi banyak film-film dunia yang penuh dengan kekerasan, mendapatkan skenario dari sebuah penglihatan seorang biarawati yang 'dirasuk setan', memakai artis film porno, dst, dst. Demikian juga seorang nabi ditolak nubuatannya karena ia tidak memenuhi syarat ini dan itu, dimana sebenarnya orang-orang yang sepertinya memenuhi syarat malah tidak pernah bernubuat. Alkitab mencantumkan bahwa Allah memakai keledai untuk berbicara, bahwa Allah menyebut Nebukadnezar sebagai "hambaKu", bahwa Allah memakai Yehuda yang berzinah dengan Tamar untuk menurunkan Kristus, dst, dst. Apakah kasih karunia itu bersyarat? "..Sebab kamu semua boleh bernubuat..." itulah kataAlkitab (1Kor 14:31). Darimanakah kita saat ini menemukan syarat-syarat yang begitu banyak untuk melarang atau mengolok orang yang bernubuat? Saya tidak bermaksud bahwa nantinya setiap gelandangan pinggir jalan bisa bernubuat kepada saya dan saya harus mendengarkan mereka. Tapi saya percaya bahwa Allah dapat memakai *siapapun* bahkan *apapun* untuk berbicara kepada umatNya diluar dugaan kita.

6. Nubuat selalu bersifat 'menyenangkan telinga'
Hal ini yang sering dilakukan oleh orang kristen karismatik. Mereka cenderung bernubuat atau mempercayai nubuat yang menyenangkan telinga saja."Kamu akan diberkati...", "Tuhan akan menolong kamu...", "Sebentar lagi, kamu akan menerima sekian juta rupiah...", dst, dst. Saya berpendapat bahwa mungkin saja ada nubuat-nubuat 'kemakmuran' semacam itu, namun pola di Alkitab ialah bahwa nubuat-nubuat semacam itu biasanya memiliki 'ancaman/syarat' di sisi lainnya. Jadi saya tidak percaya kalau ada seorang nabi yang isi nubuatnya melulu hal-hal yang manis saja, dimana semua janjiTuhan itu bisa diterima tanpa syarat, tanpa pertobatan, tanpa doa syafaat,tanpa ketaatan terhadap Firman, dll. Tujuan nubuat adalah membangun Tubuh Kristus, bukan membius Tubuh itu dengan janji yang muluk-muluk tanpa harga yang harus dibayar (atau harganya harus dibayar saat itu juga, berupa cek/tunai, he..he...).

Lalu apa yang saya lakukan jika mendengar sebuah nubuat?

"Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." 1Tes 5:19-21.

Sikap saya yang pertama pada waktu mendengar atau mengetahui sebuat nubuatan adalah *menghargai* hal itu sebagai sebuah *kemungkinan* bahwa Tuhan memang sedang berbicara melalui orang tsb. Inilah yang harus saya lakukan agar saya tidak memadamkan Roh dan meremehkan nubuat tanpa sengaja. Selalu ada kemungkinan bahwa seseorang itu bernubuat palsu, tapi lebih baik saya menemukan kepalsuan itu pada akhirnya daripada dari awal saya sudah melanggar firman untuk tidak memadamkan Roh dan meremehkan nubuat.

Sikap saya berikutnya adalah menguji dengan cara 'membenturkan' nubuat itu dengan Firman. Apakah nubuat itu bertentangan secara literal dengan Firman yang tertulis, ataukah bertentangan dengan karakter sang Firman itu? Jika ada sebuah nubuat bahwa "Allah akan menyembuhkan luka bangsa Indonesia"; apakah Allah saya bisa/mungkin menghendaki hal itu? Jika memang Allah mengasihi Indonesia, Dia akan menyembuhkan bangsa ini, itulah yang saya percaya tentang Allah saya. Terhadap nubuatan semacam itu, saya mengatakan"Amin, terjadilah ya Tuhan", tidak peduli siapapun yang mengatakannya. Tapi jika ada seorang yang bernubuat, "Jika anda memberikan saya sejuta dolar pada malam ini, Allah akan melipatgandakan uangmu dalam 30 hari", dengan segera saya akan cenderung menilai itu sebagai hal yang palsu, karena saya tidak mengenal Allah yang berkarakter pengganda uang instan seperti itu.

Sikap saya selanjutnya ialah menantikan dan berdoa dan 'memegang yang baik', yaitu melakukan hal-hal baik yang bisa dilakukan agar janji Tuhan yang saya percayai dalam nubuat itu dapat menjadi kenyataan/digenapi. Jika saya adalah si tua Abraham yang pada waktu menerima janji tentang Ishak sudah uzur, bahkan istri saya sudah menopause, mulai hari itu saya akan mulai menjadwal hubungan seks dengan istri saya lagi. Saya akan 'berusaha' supaya janji Allah memberikan keturunan menjadi kenyataan, meskipun kenyataannya saya baru menerima hasilnya 25 tahun kemudian. Jika mendukung PDS merupakan salah satu cara yang bisa saya lakukan, saya lakukan. Hasil akhirnya? Saya tidak tahu. Apakah PDS betul-betul akan menjadi garam dan terang di Indonesia? Saya tidak tahu, saya hanya berharap begitu. Apakah Tuhan akan memulihkan Indonesia pada tahun ini atau tahun depan? Saya tidak tahu, saya hanya berharap begitu. Apakah Tuhan akan memulihkan Indonesia 30 tahun lagi? Saya tidak tahu. Saya hanya percaya bahwa Tuhan *akan* memulihkan Indonesia. Saya percaya karena itulah karakterTuhan saya, Yehova Rapha - Allah yang menyembuhkan.

Sikap saya yang terakhir adalah bersiap untuk menerima kemungkinan penggenapan yang tidak sesuai dengan pengertian saya yang semula terhadap nubuatan itu. Apakah pemulihan Indonesia berarti PDS akan menjadi partai terbesar? Saya tidak tahu. Apakah pemulihan Indonesia berarti Indonesia akan menjadi negara Kristen? Saya tidak tahu. Apakah pemulihan Indonesia berarti Indonesia akan menjadi negara terkaya di dunia? Saya tidak tahu. Saya lebih cenderung untuk menantikan wujud pemulihan itu, melakukan apa yang bisa saya lakukan, sambil berharap bahwa saya masih hidup pada waktu pemulihan itu terjadi.

Allah Yang "Terbatas"

Setelah beberapa kali membaca seluruh Alkitab, saya mengambil kesimpulan bahwa Allah kita adalah Allah yang "terbatas". Yang membatasi Allah adalah diriNya sendiri, karakterNya sendiri. Sebagai contoh: Allah tidak bisa melanggar janjiNya, Allah tidak bisa berubah setia. Allah pastilah bisa"membatasi" kuasaNya karena Ia Maha Kuasa.

Salah satu karakter yang 'sangat' membatasi Allah adalah Kasih. Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8,16). Kasih yang sempurna justru tidak bisa berdiri sendiri. Kasih memerlukan obyek, untuk itulah Allah menciptakan manusia. Kalau boleh saya mengatakan: "Tanpa manusia, kasih Allah tidak sempurna". Kasih yang sempurna membutuhkan dua pihak yang saling mengasihi secara bebas. Kasih membuat seseorang merendahkan diri dan membatasi diri. Bagi saya betapa menyedihkannya jikalau ada orang yang mengasihi saya karena memang "tidak bisa menolak" kedaulatan saya atau karena saya menciptakannya seperti itu.

Saya tidak tahu berapa kali Allah Alkitab memberikan respon kepada umatNya sebagai seorang kekasih. Ketika Dia 'terharu' pada iman Abraham waktu Abraham rela mengorbankan Ishak, murka ketika umatNya melanggar perintahNya, rindu untuk berada dekat umatNya, menyesal ketika ia menghukum umatNya, dst. Allah Alkitab betul-betul adalah Allah yang memiliki hati seorang Bapa kepada anak-anakNya. Segala pergumulan seorang yang jatuh cinta telah dirasakanNya, betapa LUAR BIASAnya Allahkita.

Yer 18 : 7-10 Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya. Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka. Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka. Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka.

Yeh 18 : 21-24 Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup? Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik--apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya.

Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa tindakan Allah 'tergantung' kepada tindakan umatNya dan tanggapan umatNya menentukan apayang akan dilakukanNya. Inilah resiko dari sebuah relationship, dimana satu sama lain saling mempengaruhi. "Allah tidak berkenan kepada kematian orang fasik", bagaimana itu bisa terjadi kalau Dia yang merencanakan kematian orang fasik itu?

TETAPI....

Roma 9:14-21 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidakadil? Mustahil! Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: "Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi." Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya. Sekarang kamu akan berkata kepadaku: "Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?" Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?" Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?

Saya melihat ayat-ayat di atas digunakan sebagai (salah satu) dasar untuk konsep predestinasi. Ayat-ayat tsb seakan-akan bertentangan dengan tulisan saya di atas, namun jika kita melihat ayat-ayat selanjutnya:

Roma 9:30-32 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan.

Lalu Roma 11:7-11
Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, seperti ada tertulis: "Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini." Dan Daud berkata: "Biarlah jamuan mereka menjadi jerat dan perangkap, penyesatan dan pembalasan bagi mereka. Dan biarlah mata mereka menjadi gelap, sehingga mereka tidak melihat, dan buatlah punggung mereka terus-menerus membungkuk." Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu.

Maka saya mengambil kesimpulan, bahwa predestinasi (bagi saya) adalah sebuah penggenapan rencana Allah melalui kehendak bebas manusia. Dengan kemahakuasaanNya, Allah sanggup membuat sebuah pilihan bebas bekerja untuk rencanaNya (ingat Roma 8:28). Apakah mereka harus jatuh (Rom 11:11) karenaAllah sudah mempredestine demikian? Jawabnya ialah: tidak Mengapa Israel tidak mencapai tujuannya, karena Allah menghendaki demikian? Jawabnya:tidak (Rom 9:32). Jadi Rasul Paulus kelihatannya meletakkan prinsip bahwa tanggapan (pilihan) bebas kita terhadap Firman Allahlah yang membuat segala sesuatu terjadi seperti apa adanya.

KESIMPULAN

Bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, dan tidak ada sesuatupun yang berlaku di luar kendaliNya. *Entah* bagaimana kehendak bebas manusia, di satu sisi tetap tidak akan mampu membatalkan apa yang telah Dia rencanakan oleh kasih karuniaNya. Tetapi pada saat yang sama Dia tidak bertanggung jawab atas pilihan bebas tersebut, bukan Dia yang membuat manusia membuat pilihan tertentu, Dia tidak pernah menggunakan kuasaNya untuk "memaksakan" rencanaNya. Namun dalam kebebasan mutlak manusia tersebut, rencanaNya tetap berjalan, meskipun Dia sendiri harus murka, berduka, dll. Jadi manusia menuai apa yang ditaburnya, dan Allah akan menerima segala kemuliaan yang memang layak Dia terima.

Selebihnya adalah misteri...

Roma 11:33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

Amin.

Predestinasi vs. Free Will, sebuah titik temu

Tulisan ini saya buat September 2001, waktu hangat-hangatnya perdebatan soal predestinasi vs. freewill dalam keselamatan di sebuah milis Kristen.

AL

------------------------------

Topik pertentangan antara faham predestinasi vs. kehendak bebas kelihatannya masih akan berlangsung terus sampai Yesus datang kedua kalinya. Sudah banyak argumen yang masing-masing cukup kuat yang diadu begitu rupa oleh para penganut masing-masing faham, tapi kelihatannya masih belum ada titik temu.

Beberapa hari ini saya coba merenungkan kembali perbedaan kedua faham ini, tiba-tiba timbul semacam 'pencerahan' dalam pikiran saya. Saya pikir bahwa kedua faham ini mestinya memiliki titik temu.

Allah kita adalah Alfa dan Omega, yang Awal dan yang Akhir. Itu berarti Dia sudah 'berada' di awal segala sesuatu dan sekaligus di akhir segala sesuatu. Sebagaimana kita ketahui bahwa perkataan 'awal' dan 'akhir' berbicara masalah dimensi waktu, sedangkan Allah kita sama sekali tidak terikat oleh dimensi waktu ini. Dia bisa berada di masa lampau dan masa depan sekaligus.

Dari pertanyaan2 penganut faham predestinasi saya melihat bahwa salah satu alasan utama predestinasi adalah jika Allah memang merencanakan semua orang untuk selamat, maka semua PASTI selamat, karena rencana Allah tidak pernah gagal. Jadi kalau ada yang tidak selamat, itu berarti memang sudah ditetapkan sebelumnya. Disini kedaulatan Allah menempati posisi mutlak.

Sedangkan penganut free will mengatakan bahwa Allah mengasihi semua orang dan tidak mungkin Ia sengaja 'menetapkan' seseorang untuk dibinasakan selamanya. Jadi jika ada orang yang tidak selamat, itu pasti karena kehendak bebasnya untuk menolak berita Injil. Tentu saja kedua pandangan ini memiliki ayat2 pendukung masing-masing.

Saya berpikir bahwa kalau Allah kita sudah ada di akhir segala sesuatu, maka Ia pasti mengetahui siapa yang selamat dan siapa yang tidak, maka dari sudut pandang ilahi semua yang terjadi sekarang adalah sepertinya "sudah ditetapkan". Hal ini seperti kalau kita sudah menonton sebuah film, maka setelah mengetahui ending dari film tsb, kita bisa mengatakan bahwa jalan cerita film tsb sudah 'ditetapkan' untuk menjadi begini atau begitu. Disini kita bisa menerima ayat-ayat yang mengatakan tentang "ditetapkan untuk ... dari sejak awal penciptaan" atau "dipilih sejak semula". Ayat-ayat ini menjadi masuk akal dipandang dari sudut pandang Allah adalah Alfa dan Omega. Bagi Allah waktu tidaklah berarti. Awal penciptaan, saat ini, sampai akhir jaman, semuanya sudah terpampang jelas di hadapanNya. Dari sudut pandang ini, segala sesuatunya 'telah ditetapkan'.

Tetapi saya berpendapat bahwa meskipun Allah ada di akhir segala sesuatu, itu tidak berarti bahwa Ia menentukan segala sesuatu yang terjadi 'sekarang'. Dari sudut pandang manusia, skenario masih sedang berjalan dan belum berakhir, maka kita semua tidak tahu siapa bakal selamat siapa tidak. Kehendak bebas masing-masing manusia memegang peranan. Injil tetap harus diberitakan, barang siapa menerima Yesus akan diselamatkan, yang menolak akan binasa. Manusia bebas untuk memilih. Keselamatan ditawarkan kepada semua orang yang mau menerimanya. Disini ayat-ayat yang berbicara tentang "semua orang" atau "barangsiapa yang menanggapi" menemukan konteksnya.

Disini saya pikir bahwa mungkin inilah 'titik temu' faham predestinasi dengan free will. Tapi tentu saja mesti ada pelebaran sudut pandang dari kedua jenis faham agar bisa menyetujui hal ini. Jadi predestinasi benar dari sudut pandang Allah yang Alfa dan Omega dan free will benar dari sudut pandang manusia sebagai pelaku yang terikat oleh dimensi waktu. Bagi Allah semuanya 'telah selesai', sedangkan bagi manusia semuanya masih 'sedang berlangsung'. Jadi predestinasi dan free will kedua-duanya benar, hanya dibutuhkan sudut pandang yang berbeda untuk melihat kebenaran dari masing-masing faham. Bagaimana pendapat anda?

Hilangnya Theos dalam teologi kita-Sebuah Refleksi

Adalah mengherankan bagi saya bahwa begitu banyak percakapan teologis yang terjadi di antara orang-orang yang mengakunya sedang berteologi, tidak mengandung atau hanya sedikit sekali mengandung Allah itu sendiri. Betapa asiknya kita berbicara hal-hal yang teologis, membedah segala sesuatu dengan logika dan akal budi kita, tanpa pernah menyadari 'hilangnya' Allah dari segala percakapan kita.

Teologi menjadi begitu menarik, lebih dari Allah sendiri. Orang-orang dan gereja-gereja berlomba untuk menjadi yang paling akurat dalam teologi, yang satu mengkritik yang lain, yang lain membuktikan kelemahan yang lain lagi, dst. Pengertian dan pemahaman intelektual tentang Allah dijabarkan dan diperdebatkan dengan begitu akurat, tanpa ada lagi 'sentakan' rasa gentar dan takut terhadap Pribadi yang begitu mulia. Suatu Pribadi agung yang bisa dikenal, dicintai dan begitu menyenangkan kini telah dijepit dalam kaca preparat laboratorium teologis kita, dimana kita bisa membedahNya, memotongnya dengan laser, mencampurnya dengan zat-zat lain sambil meneliti bagian-bagianNya dengan mikroskop intelektual kita. Kita bertanya-tanya tentang banyak hal dan kita berusaha mencari jawabannya dengan membedah dengan lebih akurat lagi, dengan mikroskop intelektual yang lebih tajam lagi.

Gereja-gereja kehilangan pengikutnya dan ada yang berkata: "itu karena gereja meninggalkan fundamentalisme teologi", yang lain bilang: "itu karena gereja terlalu fundamentalis dalam berteologi". Kedua pendapat tersebut memiliki kebenarannya sendiri-sendiri. Tapi Allah lah yang memberi kehidupan dan tanpa Allah kehidupan akan layu. Gereja kehilangan pengikutnya karena gereja kehilangan Allah! Teologi dan doktrin, fundamentalis atau bukan, bisa tetap berdiri tegak oleh kekuatan intelektual belaka. Tapi jiwa manusia tidak dibuat dari bahan-bahan intelektualisme saja. Ada sebuah lubang yang tak terduga dalamnya - yang pengertian dan pemahaman sebesar dan sehebat apapun tidak akan dapat mengisinya - dalam jiwa manusia yang hanya bisa diisi oleh Allah sendiri.

Betapa pentingnya pengertian dan pemahaman yang benar tentang Alkitab, tentang doktrin atau apapun juga, namun Allah lah yang harus menjadi subyeknya. Rasa takut dan gentar kepada Dia yang menjadikan langit dan bumi harus membayangi setiap proses pembelajaran teologis kita, atau semuanya akan menjadi sekadar wacana kosong belaka, sekedar bahan perdebatan yang tidak ada akhirnya.

Mengapa gereja kehilangan perannya? Karena gereja terlalu asik berteologi dan melupakan Allah. Teologi yang baik dan benar mendatangkan rasabenar-diri. Rasa benar-diri membuat percaya diri meningkat. Percaya diri yang baik ditambah pengetahuan yang memadai menjadikan orang-orang yang berkualitas. Orang-orang yang berkualitas akhirnya berhasil dalam apapun yang mereka kerjakan. Keberhasilan menambah keyakinan mereka akan kebenaran dan keakuratan teologi mereka, dan siklus ini berulang lagi. Jadilah gereja berasik-ria dengan keberhasilannya sendiri.

Jika Allah yang menjadi subyek, yang ada adalah rasa rendah diri, dilanjutkan dengan permohonan belas kasihan. Dalam ketidak berdayaan itu timbul pengharapan akan kebaikan Allah. Timbul pengakuan tulus bahwa tanpa Allah kita tidak bisa melakukan apapun yang baik. Dari situ kita belajar untuk bergantung kepada Dia saja. Kebergantungan kepada Allah akan membawa kita dalam rencanaNya, baik melalui puncak kesuksesan, maupun lembah kekelaman. Jalan manapun yang kita lalui, kita akan mengetahui bahwa Allah tidaklah membutuhkan apapun dari kita. Dia tidak butuh uang kita, tidak butuh pertimbangan, nasehat atau penghiburan dari kita. Yang membutuhkan semua itu adalah orang-orang di sekitar kita. Kita harus menjadi alat bagiNya untuk menjawab kebutuhan itu. Apakah mereka menjadi Kristen atau tidak, itu urusanNya. Kasih Allah harus dinyatakan dalam perbuatan tangan kita. Iman harus ditunjukkan lewat perbuatan dan pengharapan harus nyata bagi semua orang.

Saat ini gereja memiliki sumber-sumber teologis yang luar biasa berlimpahnya, tetapi seperti kata pepatah 'tikus mati dalam lumbung padi', begitulah gereja megap-megap kekeringan rohani ditengah-tengah semua kekayaan teologis yang dimilikinya. Ah, alangkah baiknya jika setiap gereja mau mencari Allah dengan sungguh-sungguh dan tidak menggantikanNya atau berpuas diri dengan sekedar pemahaman teologis tentang Dia. (Medio November 2001)

Guncangan Kejiwaan dalam Manifestasi Roh Kudus

Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut perlu setiap pembaca ketahui bahwa tulisan ini benar-benar sekedar pemikiran pribadi saya, tanpa adanya bahan-bahan atau tulisan-tulisan lain yang mendukungnya. Tulisan ini adalah hasil pencarian pribadi saya atas terjadinya fenomena-fenomena 'super aneh'yang menyertai lawatan Roh Kudus pada beberapa tempat di dunia. Saya saatini tidak/belum tahu jika sudah ada sumber-sumber atau tulisan-tulisan lain yang menjelaskan sumber fenomena-fenomena itu. Adapun fenomena-fenomena aneh yang saya maksud ialah perilaku tidak wajar orang-orang yang mengaku 'dipenuhi' oleh Roh Kudus. Ada yang berkokok seperti ayam, menggonggong, dsb. Tulisan ini saya buat akhir April 2003

----------------------------------------

REALITA YANG TERJADI

"...sekarang mari kita buka Alkitab kita pada kitab...kuukkkuukkuuuuuu....Matius pasal...kukkukkkkuuuuuuuuu...", begitulah sang pendeta berusaha keras meneruskan kotbahnya, sementara itu "Roh Kudus" sepertinya mengganggu terus-terusan dengan membuat pendeta ini berkokok bagai ayam jantan. Potongan tayangan ini saya lihat sendiri di internet, yang menunjukkan fenomena yang terjadi di Brownsville, tempat dimana terjadi Kebangkitan Rohani besar-besaran di awal abad 21.

Tidak hanya itu yang terjadi. Saya melihat dengan mata kepala sendiri [terjadi di gereja saya] orang berguling-guling di seluruh penjuru ruang kebaktian, ada yang telentang dengan kaki mengayuh seperti orang bersepeda, ada yang menari-nari berkeliling ruangan dengan mata tertutup. Sementara dari kesaksian beberapa orang yang pernah ke Toronto, mereka melihat orang yang beraksi dengan gitar khayalan, berlagak bak penyanyi konser yang sedang melakukan improvisasi dengan gitarnya, dst...dst... Belum dihitung dengan derai 'tawa dalam roh' tanpa henti yang memenuhi seluruh ruangan. Orang-orang tertawa terbahak-bahak, berguling-guling sambil memegang perut mereka. Tawa ini bisa berlangsung tanpa henti selama puluhan menit, bahkan beberapa melebihi hitungan jam.

Saya menjadi gelisah. Kerangka teologis saya tidak mungkin menerima semua ini sebagai dari Allah. Tidak pernah dalam sejarah kekristenan Allah bekerja dengan *cara* seperti ini. Kegelisahan saya ditambah dengan kenyataan bahwa saya mengenal baik beberapa orang dari mereka. Salah seorang yang pernah mengalami 'holy laughter' itu malah istri saya sendiri. Saya mengasihi Tuhan Yesus, dan saya tahu orang-orang ini juga. Mereka adalah orang-orang Kristen berdedikasi yang saya kenal. Kegelisahan ini bertambah berat karena sayaTIDAK mengalami sedikitpun dari fenomena-fenomena itu, ada perasaan ingin dan tidak ingin dalam waktu yang bersamaan.

Beberapa hamba Tuhan mencoba mencari pembenaran melalui ayat-ayat Alkitab, mis. Maz 126:2, dll. Tapi saya pribadi kurang puas dengan penjelasan seperti itu, karena konteksnya berbeda. Terus terang saja, tidak ada ayat Alkitab yang mendukung secara eksplisit kejadian-kejadian semacam ini. Dari semua karunia dan buah Roh Kudus yang tertulis dalam Alkitab, tidak ada satupun yang mendukung tindakan-tindakan aneh semacam itu.

Sementara itu kecaman demi kecaman mulai berdatangan, khususnya dari pihak orang Kristen sendiri. Orang non-karismatik berhaluan keras, yang menolak keabsahan semua 'charismata' jaman ini, dengan segera menuduh setan sebagai dalang semua itu. Dengan tidak adanya ayat yang mendukung, maka dengan mudah ditemukan ayat-ayat yang 'menentang', plus menandaskan bahwa iblislah yang berada di balik setiap fenomena-fenomena tersebut. Sedangkan di pihak karismatik, atau di pihak mereka yang mengalami, relatif tidak ada pembelaan apologetik yang cukup memadai, selain menghimbau setiap orang untuk menantikan buah yang akan dihasilkan. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, itu saja yang dipegang oleh mereka yang percaya pada fenomena-fenomena ini, lepas dari asing dan anehnya bentuk pohon itu. Selain itu mereka-mereka yang mengalami fenomena ini lebih memilih untuk 'menikmati'nya tanpa memusingkan apologi dan pengesahan teologis bagi pengalaman mereka.

Kenyataannya, fenomena-fenomena ini memiliki titik akhir. Makin lama fenomena ini makin jarang, baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Saya mendengar bahwa di Toronto maupun Brownsville, fenomena seperti ini juga makin berkurang. Tapi jika dilihat secara obyektif, maka hasil akhir dari semua itu ialah kerajaan Allah tidak dirugikan. Buah dari semua itu tidaklah menguntungkan pihak iblis sama sekali. Hal terburuk yang terjadi ialah kecaman-kecaman teologis dari pihak non karismatik dan berpindahnya haluan teologis sejumlah orang percaya. Tidak ada laporan bahwa ada orang Kristen yang meninggalkan imannya, menjadi ateis atau pengikut setan dikarenakan telah melihat atau mengalami fenomena-fenomena itu. Mereka-mereka yang saya kenal yang mengalami hal-hal semacam ini tetap hidup dalam iman mereka, melanjutkan kehidupan Kristen mereka dengan segala liku-likunya. Di sisilain, terdapat banyak sekali laporan bahwa ribuan orang dimenangkan bagi Kristus, ribuan lainnya disegarkan imannya. Saya melihat sebuah video kebaktian di Brownsville, seorang gadis memberikan kesaksian singkat sambil tubuhnya bergetar-getar dan bergoyang seakan mau jatuh. Kesaksian itu cukup singkat, setelah itu sang pendeta mengambil alih, langsung memberikan tantangan pertobatan, dan saya melihat RATUSAN orang berhamburan ke depan untuk menerima Kristus, berlutut dan menangisi dosa mereka, memohon pengampunan dari Tuhan.

Di gereja saya sendiri, segala sesuatu sudah berjalan normal. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. "Badai [teologis] telah berlalu". Namun pertanyaan yang ada mengenai hal itu tidaklah berlalu begitu saja. Apa yang sebenarnya telah terjadi?

DIKUASAI OLEH ROH = DIRASUKI ?

Sebenarnya saya sulit percaya kalau Roh Kuduslah yang 'mengerjai' orang-orang tsb. Alkitab menggambarkan Roh Kudus sebagai Roh yang lembut, berkuasa, menghibur, menguatkan, pendeknya Roh yang 'gentle'. Namun setelah saya menyelidiki Alkitab, ternyata 'penguasaan roh' pada diri seseorang menunjukkan gejala-gejala yang serupa, terlepas dari roh apa yang menguasai orang itu.

1Sam 18:10: "Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasaatas Saul, sehingga ia KERASUKAN di tengah-tengah rumah, sedang Daud mainkecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya."

1Raj 18:29: "Sesudah lewat tengah hari, mereka KERASUKAN sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yangmenjawab, tidak ada tanda perhatian.

"Dua kata 'kerasukan' yang digunakan pada ke dua ayat di atas menggunakan kata Ibrani yang sama dengan 'bernubuat' (prophesied).

1Sam 10:10-11: "Ketika mereka sampai di Gibea dari sana, maka bertemulah ia dengan serombongan nabi; Roh Allah berkuasa atasnya dan Saul turut kepenuhan seperti nabi di tengah-tengah mereka. Dan semua orang yang mengenalnya dari dahulu melihat dengan heran, bahwa ia bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi itu; lalu berkatalah orang banyak yang satu kepada yang lain:"Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apa Saul juga termasuk golongan nabi?" "

Ayat di atas menunjukkan bahwa 'kepenuhan seperti nabi' ditunjukkan dengan 'bernubuat' [prophesied]. Dari semua ayat tersebut di atas, Alkitab menunjukkan bahwa "tindakan bernubuat" merupakan salah satu tanda penguasaan roh pada diri seseorang, baik roh jahat maupun roh Allah. Selain itu tindakan 'bernubuat' pada ayat-ayat tersebut di atas menggambarkan adanya beberapa ciri terlihat yang serupa, yaitu adanya suatu bentuk 'ketidaksadaran' [trance].

Jadi roh mana yang menyebabkan sebuah fenomena *tidak selalu* dapat ditunjukkan dari *apa yang terlihat* dari fenomena itu. Pada peristiwa yang jelas-jelas dari roh jahat, Alkitab TB LAI menggunakan kata 'kerasukan', sedangkan pada peristiwa yang jelas dari roh Allah, TB LAI menerjemahkan sesuai dengan terjemahan umumnya, yaitu 'bernubuat'. Sumber dari fenomena-fenomena ini baru bisa ditengarai dengan melihat keseluruhan konteks peristiwa, dimana itu terjadi, pada siapa, kapan, mengapa, dan latarbelakang yang lain. Namun jelas bahwa penguasaan roh pada diri seseorang mungkin saja dilihat dengan jelas, artinya ybs bisa kehilangan kendali atas beberapa perilakunya, lepas dari roh apa yang menguasai orang tsb. Namun ini tidak berarti bahwa hal ini *selalu* terjadi demikian. Alkitab juga mengisahkan manifestasi dari penguasaan roh Allah yang berwujud pada keberanian atau kekuatan seketika itu juga [spt pada Simson], atau dari kekuatan yang timbul untuk hidup kudus bagi Dia.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pekerjaan Roh Allah sama dengan pekerjaan roh jahat. Allah itu roh, roh jahat juga roh. Apa yang dikerjakan makhluk roh memiliki efek yang serupa pada manusia, tapi dengan buah yang berbeda. Jadi manifestasi bisa serupa, tapi hasil akhir pasti berbeda. Sebab itu penulis Alkitab dengan berani mengatakan bahwa ada roh jahat yang 'berasal dari Allah'. Dua orang pelukis akan menghasilkan karya yang serupa secara fisik, sama-sama dari kanvas, cat minyak, sama-sama berwarna, dsb. Hanya dari wujud materinya saja kita tidak akan bisa membedakan mana pelukis jahat mana pelukis baik. Baru setelah lukisan itu diartikan, kita mungkin akan tahu bedanya. Demikian juga dengan hal-hal rohani. [Wah, ini ilustrasi yang kurang bagus, tapi sementara ini saya nggak nemu analogi yang lebihpas...]

Satu hal yang saya amati juga ialah, bahwa 'gejala' penguasaan roh pada diri masing-masing orang ternyata berbeda. Profil psikologi seseorang ternyata memiliki peran dalam 'tingkat' berkurangnya kesadaran seseorang pada waktu roh menguasai dia. Saul adalah raja yang berkepribadian lemah & insecure. Dia mudah sekali dikuasai oleh roh dan sering kali dengan gejala hilang sadar. Sebaliknya Daud adalah seorang dengan kepribadian yang kuat, tidak pernah sekalipun di Alkitab dikisahkan bahwa Daud 'kepenuhan' atau'bernubuat' dengan cara yang sama seperti Saul, namun Roh Tuhan juga dikatakan "berkuasa" atas Daud. Bagi saudara yang biasa bergerak dalam pelayanan kelepasan, akan terlihat sebuah profil psikologis tertentu pada diri seseorang yang lebih gampang "kerasukan". Jadi sebetulnya kondisi kejiwaan seseorang memiliki hubungan dengan manifestasi rohani yang mungkin dialaminya.

GUNCANGAN KEJIWAAN YANG TERJADI

Ada sebuah peristiwa yang dicatat di Alkitab:

Luk 9:33 Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musadan satu untuk Elia." Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu.

Kisah ini menggambarkan Petrus si sanguin, yang begitu terkagum-kagum dengan manifestasi penglihatan yang dialaminya sehingga dia menawarkan hal yang konyol. Peristiwa semacam inilah yang saya pikir terjadi pada orang-orang yang bertingkah laku aneh-aneh pada pencurahan Roh Kudus.

Waktu seseorang *mengalami* manifestasi pencurahan Roh Kudus, ada *banyak* perasaan yang berkecamuk dalam jiwanya. Sementara dia melihat ada beberapa bagian saraf motoriknya yang tidak terkendali lagi, perasaan sukacita, takut, heran, kagum, malu, dll dialami dalam waktu bersamaan. Pada kasus pencurahan yang menghasilkan gelak tawa tiada henti, perasaan yang paling dominan adalah sukacita. Sukacita ini sangat kuat beroperasi dalam diri ybs, sehingga dia tidak mungkin tidak melepasnya dalam tawa. Saya pribadi pernah mengalami hal ini.

Dalam beberapa kasus sukacita ini datang seperti aliran yang luar biasa besarnya, sehingga orang tsb akan tertawa tiada henti selama bermenit-menit.Di balik keadaan tanpa kendali ini, sebenarnya orang tsb masih sadar, sadar bahwa dia sedang tidak bisa mengendalikan dirinya. Setelah beberapa lama kemudian dia akan 'menyerah' dan tidak berusaha menguasai dirinya lagi, berlaku seperti orang yang hanyut oleh arus. Semua yang terjadi 'dinikmati' olehnya. Hal inilah yang, menurut saya, menimbulkan perilaku-perilaku yang tidak terduga. Jika seseorang memutuskan untuk melepaskan kendali atas perilakunya, maka hal-hal yang paling anehpun bisa terjadi. Mereka memutuskan untuk lepas kendali karena sebelumnya mereka mencoba mengendalikan diri tapi tidak bisa. Akhirnya timbullah apa yang saya sebut sebagai 'goncangan kejiwaan' itu, yaitu sebenarnya mereka sudah memperoleh kembali kendali atas perilaku mereka, tapi mereka memutuskan untuk tetap'mengalir' mengikuti arus perasaan mereka dan tidak malu lagi untuk melakukan hal-hal aneh yang spontan. Hal ini semakin diperkuat jika orang-orang di sekitar mereka juga melakukan hal yang sama, ditambah lagi dengan penerimaan atas semua itu sebagai karya Roh Kudus, dimana melawan aliran itu dianggap sama dengan melawan Roh Kudus. Dari situlah semua perilaku aneh-aneh itu menemukan tempatnya. [selesai]

Monday, January 02, 2006

You Ask Why?

You ask why I follow this Jesus?
Why I love Him the way I do?
When the world's turned away from His teachings
And the people who serve Him are few.

It's not the rewards I'm after
Or gifts that I hope to receive
It's the Presence that calls for commitment
It's the Spirit I trust and believe.

The Lord doesn't shelter His faithful
Or spare them all suffering and pain,
Like everyone else I have burdens,
And walk through my share of rain.

Yet He gives me a plan and a purpose,
And that joy only Christians have known,
I never know what comes tomorrow,
But I do know I'm never alone.

It's the love always there when you need it;
It's the words that redeem and inspire,
It's the longing to ever be with Him
That burns in my heart like a fire.

So you ask why I love my Lord Jesus?
Well, friend, that's so easy to see,
But the one thing that fills me with wonder is
Why Jesus loves someone like me.
- Author Unknown

Thursday, December 29, 2005

Skandal Taman Eden

Saya adalah salah seorang yang mendapat berkat luar biasa dari kisah taman Eden. Kisah ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi saya, bukan pada faktor ketepatan historis saintifik nya, namun pada apa dan mengapa hal ini dan itu terjadi.

Pertanyaan yang paling mengusik saya adalah "Mengapa Allah melarang manusia untuk makan buah yang mendatangkan pengetahuan baik&jahat?" Bukankah moralitas yang kita miliki bersumber dari 'kesadaran' itu? Menurut saya 'baik dan jahat' itu sudah ada dari mulanya. Allahlah yang memisahkan terang dan gelap, darat dan air, baik dan jahat, iblis dan malaikat terang. Kalau yang 'jahat' tidak ada, maka yang 'baik' pun tidak akan dikenal. Sebab itu buah pohon terlarang itu bernama 'pengetahuan baik dan jahat'. Terang membuat gelap menjadi nyata, seperti contoh bahwa "Taurat (terang) membuatdosa (kegelapan) itu nyata/diperhitungkan" Tanpa Taurat orang tidak mengenal dosa atau dosa tidak diperhitungkan seperti seharusnya.

Saya berpikir memang Allah tidak menginginkan manusia memiliki pengetahuan itu. Allah tidak ingin manusia bisa membedakan mana yang baik, mana yang jahat. Allah memiliki pengetahuan itu, dan hanya Dialah yang bisa memiliki pengetahuan itu tanpa harus memilih untuk menjadi salah satu daripadanya.Bagi saya Allah adalah Allah yang mengatasi segala yang baik maupun yang jahat. Allah 'tidak baik dan juga tidak jahat'. Allah adalah Allah, penuh, sempurna, utuh, maksimal, supreme (plus istilah-istilah sejenis yang saya belum tahu). Dialah standar dan tolok ukur nya. Jika Dia menentukan ini gelap, gelaplah hal itu, jika Dia menentukan ini terang, teranglah hal itu. Bukan moralitas yang menjadi tolok ukur sempurna, tapi Allah.

Itu sebabnya Allah bisa memerintahkan pembunuhan bayi-bayi yang menyusu sekaligus memberikan perintah 'jangan membunuh'. Kita sering berusaha 'membela' Allah dengan segala argumentasi ketika orang-orang ateis menyerang Allah kita yang 'plin-plan' seperti itu. Tapi sekali lagi, Allah adalah Allah, moralitas manusiawi tidaklah berarti bagi Dia, Dialah tolok ukurnya. Kita bisa berkata bahwa 'Allah itu baik' jika kita menghidupi suatu kehidupan yang nyaman. Tapi dibutuhkan sesuatu yang abstrak yang disebut'iman' dalam takaran yang sangat besar untuk menyatakan bahwa 'Allah itu baik' jika sanak keluarga kita dibantai oleh laskar jihad, misalnya. Allah, dalam kesempurnaanNya, tidaklah baik atau jahat. Penilaian itu sebenarnya tidak berlaku bagiNya. Allah tidak membutuhkan pembelaan maupun pembenaran yang bersumber dari moralitas manusia.

Manusia, sebaliknya, tidaklah mampu untuk memiliki pengetahuan itu tanpa dikuasai oleh salah satu dari antaranya. Begitu pengetahuan itu datang, mereka langsung tahu bahwa 'aku telanjang dan telanjang itu tidak baik', mereka 'menjadi seperti Allah', bisa memisahkan yang baik dan jahat. Sebelumnya Allah menjadi segalanya bagi mereka, jika Allah tidak memberitahu, mereka tidak tahu. Kini mereka memiliki kemampuan itu, mereka tidak perlu Allah lagi dalam mendefinisikan moralitas mereka. Allah tidak lagi menjadi tolok ukur tunggal bagi mereka. Disinilah (menurut saya) dimulai ketegangan antara sains dan teologi, yang kudus dan yang cemar, kemanusiaan dan keilahian, 'fundamentalis' dan 'liberal' yang semuanya terjadi dalam jiwa manusia, tempat dimana pengetahuan baik&jahatitu berada. "Jika aku menginginkan yang baik, yang jahat itu ada padaku", begitu keluhan Rasul Paulus, sebuah keluhan yang keluar dari "pengetahuan warisan" ini. Disinilah saya melihat bahwa mortalitas sebetulnya adalah sebuah anugerah/jalan keluar dan bukan semata-mata hukuman. Betapa malangnya manusia yang hidup selamanya dalam tarikan baik dan jahat itu terus menerus. Orang yang mengenal Allah berkata, "Kita mengeluh untuk diangkat sebagai anak dan mengenakan tempat kediaman sorgawi" (Rom 8:23 & 2 Kor 5:2), apalagi orang yang tidak mengenalNya.

Namun dipihak lain, menurut saya justru pengetahuan itu 'menyempurnakan' citra Allah yang memang dimaksudkanNya untuk ada pada manusia. Lepas dari perdebatan apakah Allah merencanakan atau mengijinkan (dan pada saat yang sama, melarang) manusia untuk makan buah pohon itu, manusia memakannya. Dan ia lebih 'dekat' lagi pada citra Allah sekaligus lebih 'jauh' karena dosanya. Sebuah paradoks yang beranak cucu menjadi ratusan mungkin ribuan paradoks rohani yang kita kenal sekarang yang bersumber dari paradoks pertama, sebuah buah yang memberikan pengetahuan yang baik sekaligus jahat. Allah dalam kesempurnaan hikmatNya akhirnya bergerak dalam paradoks juga, mempertemukan "Yang Mahakudus" dengan "Dosa umat manusia" di kayu salib untuk menyelesaikan paradoks lain, yaitu "keadilan" dan "kasih". Disitulah kita menerima jalan keluar untuk kembali pada Dia yang menciptakan kita, untuk mengembalikan tolok ukur kita kembali kepadaNya, walaupun pengetahuan itu masih tetap tinggal di jiwa kita.

Well, coba-coba memahami Allah memang membuat otak jadi puyeng. Tapi saya merindukan saat-saat dimana saya berjumpa dengan Allah dan "...pada saat itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepadaKu" (Yoh 16:23) dimana moralitas akan berakhir dan kedaulatan Allah mengambil alih. Ada orang ateis yang berkata bahwa surga, kalaupun ada, pasti akan menjadi tempat yang sangat membosankan. Apa artinya kebaikan kalau tidak ada kejahatan, apa artinya penghiburan kalau tidak ada dukacita, apa artinya keindahan kalau tidak ada keburukan, apa artinya warna-warni kalau tidak ada warna kelabu, apa artinya hikmat kalau tidak ada kebodohan, dst. Si ateis ini benar, tapi sorga tidak membutuhkan moralitas manusiawi itu. Allah kembali menjadi segalanya, dipuji selamanya. Pemahaman dikotomis hitam putih, baik jahat, cantik buruk, benar salah, dkk kembali pada tempatnya semula, menjadi sebuah pohon di tengah taman yang mungkin akan digunakan lagi dalam episode akbar Allah berikutnya, siapa tahu, he...he...he...

Haruskah Orang Kristen Sembuh?

Sampai saat ini setiap orang Kristen yang sakit, apalagi sakit parah, pastilah berdoa atau minta didoakan agar mengalami kesembuhan. Ada beberapa doa yang dijawab, mujizat terjadi, penyakit hilang. Namun di sisi lain, ada banyak doa yang sepertinya tidak dijawab, dan orang yang didoakan tetap dalam penyakitnya, bahkan sampai maut menjemput. Tentu saja bagi mereka yang menerima mujizat kesembuhan, tidak ada lagi yang perlu dipergumulkan. Pergumulan hanyalah bagi orang-orang yang sudah berdoa dan beriman, tapi tidak disembuhkan. Apa yang sebenarnya terjadi? Haruskah orang kristen senantiasa disembuhkan dari penyakitnya oleh kuasa Tuhan?

Tidak hanya itu, kekristenan juga memiliki beberapa pandangan yang berbeda-beda tentang kesembuhan ilahi ini. Dari yang menolak sama sekali, sampai yang menyatakan bahwa setiap orang Kristen pasti akan disembuhkan Tuhan. Kalangan yang menolak, biasanya dari kalangan calvinis yang cessasionist, kemudian mencap orang-orang yang mempercayai kesembuhan Ilahi, biasanya dari kalangan karismatik, sebagai orang sesat, percaya kuasa perdukunan, dsb.

Paradoks antara iman yang menuntut kesembuhan dan realita yang ada bahwa tidak semua orang mengalami kesembuhan, walaupun sudah memenuhi semua syarat iman, dapat disamakan seperti paradoks antara paham predestinasi & freewill. Seseorang yang mendoakan dengan iman dan kesungguhan adalah sama dengan seorang penginjil Calvinis yang dengan berkobar-kobar memberitakan Injil.

Menurut paham predestinasi, tidak semua orang akan selamat, walaupun demikian kita dipanggil untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dengan kesungguhan, karena kita 'tidak tahu' mana yang selamat dan mana ditetapkan untuk tidak selamat. Demikian juga dengan doa kesembuhan. Lucunya, dalam hal mendoakan kesembuhan, orang karismatik cenderung lebih "Calvinis" dari pada rekannya yang lain. Orang karismatik berkata, "kita tidak tahu mana yang
akan disembuhkan", namun pada waktu mereka berdoa untuk kesembuhan, mereka melakukannya seolah-olah semua orang akan disembuhkan. Jadilah orang-orang karismatik ini dengan semangat mengimani apapun yang pernah dijanjikan Tuhan di Alkitab, sementara realita kadang-kadang berbicara sebaliknya.

Menurut saya sembuh atau tidak seseorang yang didoakan tidaklah perlu dipertanyakan lebih lanjut. Hal ini akan membawa kepada pertanyaan "mengapa?", sebuah pertanyaan yang boleh dibilang tidak akan ada jawabnya selama kita masih di dunia ini. Meskipun kesembuhan ilahi - bagaimanapun juga - tidaklah SELALU terjadi, namun ada beberapa yang bisa dipastikan dalam soal ini, sehingga patutlah bagi kita orang percaya untuk terus berdoa bagi orang sakit dan tetap percaya bahwa Tuhan pasti akan bekerja.

Hal-hal yang mengenainya kita bisa memiliki kepastian ialah:

  1. Tuhan menghargai iman kita lebih dari mujizat yang mungkin dihasilkan
    oleh iman itu.

    Mujizat adalah pekerjaan ringan bagi Tuhan, tapi Dia sangat menyukai iman kita. Apakah iman itu akan dihargai dengan mujizat atau dengan penghargaan lain, itu sepenuhnya adalah hakNya. Tapi jika kita berdoa tanpa iman, dengan pikiran "kalo Tuhan mau sembuh ya sembuh kalo tidak ya sudah", maka dia tidak berkenan atas doa kita. Iman di dalam setiap doa menjadi sebuah hal yang manis bagi Tuhan, berkenan di hatiNya. Alkitab bahkan mengatakan bahwa "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa" - Roma 14:23. Sebab itu kapanpun kita berdoa untuk orang sakit, berdoalah dengan segenap iman dan kesungguhan, dengan percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan orang tersebut, walaupun sebenarnya kita 'tidak tahu' mana yang betul-betul disembuhkan dan mana yang tidak. Jika kita ada dipihak yang sakit, iman yang
    bertahan pada waktu tidak disembuhkan adalah jenis iman yang sangat menyukakan hati Tuhan, yaitu iman yang disertai dengan ketekunan. Jika kesembuhan terjadi, iman sepertinya 'menyelesaikan' tugasnya, dan tidak diperlukan lagi untuk area itu.
  2. Sembuh atau tidak, pekerjaan & kemuliaan Allah harus dan akan dinyatakan dalam diri orang tsb.
    Manakah yang lebih menjadi berkat, Joni Earikson Tada yang tidak pernah sembuh
    dari penyakitnya atau, katakanlah, Daniel Ekekchuwu yang mengalami kebangkitan dari kematian? [utk sementara kita kesampingkan dulu pandangan yang mengulas kepalsuan dari mujizat ini] Dalam kedua orang tersebut, Allah bisa menyatakan pekerjaannya. Apakah waktu seseorang tidak disembuhkan secara mujizat berarti Allah tidak bekerja? Saya percaya jika seseorang telah didoakan dengan iman maka pekerjaan Allah PASTI akan dinyatakan. Jika ia sembuh, ia akan menguatkan banyak orang, jika ia tidak sembuh, ia bisa menguatkan LEBIH banyak orang. Mereka inilah yang akan menjadi saksi-saksi iman di dunia ini, menguatkan orang-orang yang senasib dengan mereka tentang kesetiaan Allah. Orang yang sembuh memiliki kesempatan lebih banyak untuk melayani Tuhan di dunia dengan kesehatan tubuh jasmani mereka, sedangkan orang yang tidak disembuhkan memiliki kesempatan lebih besar untuk melayani Tuhan dengan iman dan kesetiaan mereka. Kedua-duanya berharga bagi Tuhan.
  3. Sembuh atau tidak, kesempurnaan dan kemuliaan tubuh sorgawi menanti
    mereka.

    Saya percaya, sembuh atau tidak sembuh tidaklah terlalu berarti bagi Allah. Orang percaya yang tidak disembuhkan dari penyakitnya akan memiliki pengharapan yang lebih tinggi terhadap tubuh sorgawi. Kerinduan untuk dilepaskan dari tubuh jasmani yang penuh cacat ini adalah kerinduan yang ilahi, kerinduan untuk bersekutu dengan Allah untuk selama-lamanya. Waktu tubuh ini melemah karena penyakit, apalagi yang membawa kepada kematian, orang disekitar kita akan berdukacita, namun surga justru bersiap-siap dengan sukacita untuk menyambut warganya pulang ke rumah. Pada waktu mujizat terjadi dan kesembuhan tercipta, surga juga bersuka cita karena pekerjaan Allah melalui orang tersebut masih belum selesai.

Jadi marilah kita tidak mengarahkan kita pada hal-hal yang bersifat sementara. Alkitab berkata bahwa yang kelihatan bersifat sementara, sedangkan yang tidak kelihatan bersifat kekal (2 Kor 4:18) Kesembuhan badani adalah hal yang terlihat, bersifat sementara dan tidak kekal, walaupun terjadi lewat mujizat. Sebaliknya ketidaksembuhan juga adalah hal yang terlihat, sementara dan tidak kekal juga. Jika kita mengukur kebenaran iman seseorang dari apa yang kelihatan, maka kita sedang melakukan hal yang sia-sia. Berdoa dengan iman untuk adanya mujizat adalah sesuatu yang benar dan tetap harus dilakukan, dengan tidak menaruh pengharapan kepada hal-hal yang kelihatan. Lagipula pada saat tidak ada jawaban yang terlihat dari doa yang penuh iman, justru perkara yang kekallah yang sedang ditawarkan oleh Allah sebagai jawaban atas doa itu.

Kesimpulannya: Berdoalah seperti orang karismatik yang Calvinis.

Melucuti Keagamaan (Sebuah Refleksi Otokritik) - bag 2

FORM FOLLOW FUNCTION

"Form follow function" adalah sebuah istilah dalam dunia arsitektur yang menyatakan berakhirnya era2 simbolis dalam dunia arsitektur. "Function" menentukan "form" bangunan yang dibuat. Itu sebabnya bangunan2 modern saat ini begitu telanjang, netral, miskin simbol dan makna. Desain arsitektur hotel, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan saat ini tidaklah berbeda secara signifikan antara Indonesia, Afrika Selatan, Amerika, dll. Ada usaha dalam dunia pendidikan arsitektur untuk melawan arus fungsionalisasi ini, agar rancangan yang dihasilkan tidak hanya bersifat fungsional saja, namun ada unsur simbolisnya. Namun "simple is beautiful" dan "cheap". Jadi bangunan yang fungsional akan cenderung lebih murah daripada bangunan yang dibebani dengan unsur2 simbolis. Jadi bagaimanapun juga arus 'form follow function' ini adalah jawaban bagi dunia modern.

Begitu juga dengan kekristenan kontemporer. Lepas dari kemiskinan2 liturgis dan tradisi, kekristenan kontemporer menjadi jawaban bagi generasi yang lahir dalam era 'form follow function'. Kosongnya gereja2 tradisional di Eropa dan sering 'jajan'nya anggota jemaat gereja tradisional ke kharismatik merupakan suatu pertanda bahwa kekayaan selebrasi dan liturgi gereja tradisional mengalami nasib yang sama dengan kekayaan simbolisasi pada bangunan-bangunan tua. Nasib kedua peninggalan sejarah ini sama: dikagumi, dipelajari, berusaha dipertahankan, namun tidak lagi menjawab kebutuhan manusia modern (baca: generasi muda).

Kekristenan kontemporer menawarkan 'fungsionalitas' dari iman kekristenan tanpa dibebani oleh simbolisme2 yang rumit. Tawaran ini tentu saja mendapatkan sambutan yang luar biasa dari generasi 'form follow function' ini. "Alamilah hadirat Tuhan, masuklah langsung ke tempat KudusNya, rasakan jamahan Tuhan pada hatimu", merupakan undangan bagi setiap orang yang mau datang. Mengapa harus mempelajari dan melakukan liturgi dan selebrasi yang rumit2 kalau kita bisa langsung menghadap ke hadiratNya dan merasakan jamahanNya? Apakah jika kita akan menemui ayah kita yang kita kasihi dan mengasihi kita, harus dengan protokoler/ liturgi tertentu? Tentu tidak bukan. Begitu juga dengan Allah.

Kenyataan yang terjadi ialah, generasi ini sungguh2 menemukan Allah. Kesederhanaan liturgis dalam ibadah kontemporer justru menjadi faktor pendorong untuk memusatkan perhatian kepada Allah saja, to the point, fungsional. Mereka menjadi orang2 yang bersemangat dalam penginjilan, berkorban, melayani Tuhan dsb. Pertumbuhan gereja yang paling signifikan terjadi dalam kekristenan kontemporer. Gereja2 terbesar di dunia adalah gereja2 semacam ini. Gereja yang memberikan jawaban bagi para "sensitive seekers". Kekristenan kontemporer betul-betul menemukan tempat yang 'pas' di jaman yang menekankan fungsi.

Keuntungan lainnya ialah, kekristenan terlepas dari 'beban budaya' yang selama ini dipikulnya. Beban budaya yang saya maksud adalah bahwa sejarah kekristenan tidak bisa dilepaskan dari budaya bangsa tertentu. Simbolisme2 liturgis yang acap digunakan dalam kekristenan tidaklah netral secara budaya. Orang Islam Indonesia sering mencap kekristenan sebagai 'agama barat'. Liturgika kristen merujuk pada peninggalan2 budaya Romawi dan Yahudi. Pada waktu liturgi ini disingkirkan, beban budayapun ikut tersingkir. Ibadah kontemporer menjadi netral, ringan, bisa diikuti oleh siapapun dari latar belakang non kristen sekalipun. Saya bisa menghadiri ibadah gereja kontemporer dari negara dan denominasi manapun tanpa penyesuaian yang berarti. Ibadah kontemporer bisa menjadi ibadah lintas budaya, fungsional. Namun tentu saja bagi orang-orang yang terbiasa dengan ibadah yang liturgis, ibadah kontemporer semacam ini akan menimbulkan'liturgical shock', efek yang sama terjadi pada orang tua generasi 60 an yang masuk ke tempat hiburan jaman sekarang.

Akhirnya nampak bahwa aspek yang merupakan kelebihan/keuntungan dari kekristenan kontemporer dalam sisi yang berbeda juga menjadi kekurangannya. Kemudahan dan ringannya liturgi kontemporer di sisi lain menciptakan kecenderungan dangkalnya pemahaman teologis pada jemaat. Kekristenan kontemporer harus mulai menyadari hal ini, sebelum dimasa depan akan lahir sebuah generasi yang 'bertuhan', tapi sama sekali tidak 'beragama' dengan cara yang kita kenal sekarang ini. Kekristenan tradisional telah melampaui masa-masa jayanya, kekristenan kontemporerpun mungkin akan mengalami nasib yang sama di kemudian hari, tapi dengan wujud yang lebih buruk karena tidak memiliki warisan kekayaan budaya. Sama dengan nasib bangunan tua. Bangunan tua yang masih memiliki kekayaan sejarah dalam rupa ukiran dan simbol-simbol masih akan cenderung dipertahankan dan dirawat sebagai peninggalan sejarah, meskipun tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Kalau bangunan2 modern? Jika bangunan tersebut sudah tidak dapat berfungsi lagi, pasti akan diruntuhkan dan diganti dengan yang baru.

MANUSIA (TIDAK) MEMBUTUHKAN AGAMA?

Pada dasarnya sikap menolak keagamawian hanya akan cenderung menciptakan sebuah keagamaan yang baru. Bagaimanapun bebasnya, kekristenan kontemporer saat ini makin jelas nampak sebagai sebuah 'agama' baru. Liturginya makin hari makin bisa diterka, kecuali pada kasus-kasus khusus dimana Roh Kudus bekerja dengan luar biasa. Agama ternyata tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Manusia membutuhkan keagamaan (religiousity) untuk berhubungan dengan Tuhan. Mengapa manusia harus berdoa? Karena manusiamemerlukan doa. Mengapa manusia harus beribadah? Karena manusia memerlukanibadah. Mengapa manusia harus beragama? Karena manusia memerlukan agama.

Sebuah kehidupan rohani tidak bisa bertumbuh wajar tanpa ritual agamawi. Saat teduh dalam doa pribadi dan pembacaan Alkitab, mezbah keluarga, bersekutu di Gereja, dll, semua ritual itu harus dilakukan dengan disiplin tinggi. Tanpa disiplin agamawi semacam ini, kaum karismatik hanya akan menggunakan/mengandalkan 'jamahan Roh Kudus' sebagai candu yang membuat perasaan bergairah pada satu waktu dan kemudian pudar beberapa hari kemudian. Efek 'hadirat/kemuliaan Allah' secara emosional akan memudar dengan berjalannya waktu. Jika orang Kristen hanya mengandalkan "pengalaman di bukit" (Mat 17:1-4) dan melompat kian kemari, pergi ke KKR demi KKR atau konser-konser musik hanya supaya bisa mengalami perasaan bergairah yang sangat dibutuhkannya itu, maka orang semacam ini tidak lebih dari seorang pecandu narkoba spiritual.Pecandu-pencandu semacam ini biasanya juga sangat mempercayai nubuatan-nubuatan yang menjanjikan kekayaan, kemuliaan, kekuasaan tanpa diimbangi dengan berita tentang salib dan penyangkalan diri. Secara usia kekristenan mereka mestinya menjadi pengajar, tapi justru mereka minta susu terus setiap hari, sebuah keterbelakangan rohani (spiritual retardation) yang menyedihkan!

Namun keagamaan juga memiliki kecenderungan untuk menjadi batu sandungan. Batu sandungan yang dimaksud adalah pada waktu orang puas dengan keagamaannya, dia akan berhenti menjadi garam dan terang. Keagamaan cenderung membawa orang pada rasa benar diri, rasa lebih dekat pada Tuhan. Kedekatan denganTuhan kemudian diselewengkan oleh kemanusiaan kita yang telah jatuh ini menjadi sebuah bentuk kesombongan spiritual. Kesombongan spiritual akhirnya membawa kita kepada kemunafikan, dosa yang sangat dibenci oleh Yesus. "Orangkristen itu munafik", betapa seringnya ucapan ini saya dengar saat saya mencoba untuk memberitakan Injil kepada orang non Kristen. Saya berpikir mungkin mereka benar.

Oleh karena itu keagamaan haruslah ditempatkan dalam posisi yang sebenarnya, yaitu sebagai media/jembatan yang kita gunakan secara pribadi untukberhubungan dengan Allah. Manusia membutuhkan agama untuk berhubungan denganAllah yang adalah Roh, sekaligus untuk memelihara kehidupan rohani, tapi manusia tidak membutuhkan agama untuk berhubungan dengan orang lain. Keagamaan menempati posisi yang paling pribadi dalam kerohanian kita, sementara kasih yang diwujudkan dalam tindakan adalah "agama permukaan" kita pada saat kita berinteraksi dengan manusia lainnya. Penerimaan, penghiburan, dukungan, kesetiaan, kasih tanpa syarat, hal-hal semacam inilah yang harus nampak dari luar, bukannya keagamawian.

Dalam surat Galatia, Rasul Paulus secara mengejutkan menyamakan tindakan "hidup dalam Roh" dan "menabur dalam Roh" dengan tindakan memimpin orang lain dengan lemah lembut, dengan menanggung beban satu sama lain, dengan memberkati pemberita Firman, dengan berbuat baik kepada semua orang, sebuah tindakan kasih yang praktikal (Gal 6:1-10), sambil pada saat yang sama menyamakan tindakan agamawi yang kelihatan dari luar sebagai keduniawian.

Orang kristen karismatik harus menyadari bahwa hidup dalam Roh tidak pernah berarti hidup dalam perasaan melayang-layang, atau hidup 'sakti', kaya dan berkuasa karena urapan Roh Kudus. Hidup dipimpin oleh Roh adalah hidup praktis yang mencerminkan kasih Allah kepada manusia. Hidup berkemenangan dan berkelimpahan oleh Roh Kudus tidaklah ditandai oleh seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa banyak orang yang menerima berkat dari kehidupan kita. Dengan sudut pandang seperti ini, justru orang-orang Kristen yang menang dalam penderitaanlah yang sebetulnya berkemenangan dan berkelimpahan, karena kisah-kisah mereka selalu menguatkan hati semua orang percaya. Tidak banyak penghiburan sejati yang bisa didapatkan melalui orang Kristen yang kaya raya dan berkuasa bagai raja di dunia ini.

Melucuti keagamaan melalui kontemporerisasi bukanlah jalan keluar, melainkan hanya membuat sebuah agama baru yang justru tidak memiliki masa depan. Karismatik atau bukan, orang disekitar kita tidak peduli seberapa banyak pengalaman agamawi dan pengetahuan kita, sampai mereka tahu dan mengalami seberapa banyak kita peduli. Mari kita semua berjuang agar keagamaan kita menjadi sebuah benih, tertanam di dalam, tidak terlihat, tapi menghasilkan pohon yang buahnya manis dan memberkati semua orang.

Melucuti Keagamaan (Sebuah Refleksi Otokritik) - bag 1

Latar Belakang
Saya menulis ini sebagai orang yang berada di "garis depan" dalam pelayanan kristen kharismatik 'kontemporer'. Saya bergerak di bidang kepemudaan, pernah terlibat sebagai pemusik yang beberapa kali mengiringi artis2 Kristen Kontemporer di Indonesia. Saya mengenal secara pribadi beberapa dari 'selebritis rohani' ini. Namun selalu ada sebuah keprihatinan yang muncul dalam diri saya berkenaan dengan kekristenan kontemporer. Sebuah keprihatinan yang muncul karena makin jelasnya gejala2 'melucuti keagamaan', dan saya membuat tulisan ini sebagai semacam peringatan bagi diri sendiri. Tulisan ini saya buat November 2002.


BANGKITNYA KEKRISTENAN KONTEMPORER
Waktu saya bertobat dulu, saya diajarkan bahwa 'spirit of religiousity' adalah racun bagi kekristenan. Kami diajarkan bahwa kekristenan sebenarnya bukanlah agama, tapi sebuah gaya hidup atau kehidupan itu sendiri. Kekristenan haruslah merasuk di setiap sendi kehidupan, mewarnai setiap keputusan, tuturkata, tingkah laku, pendeknya segala hal dalam kehidupan. "Agama" Kristen sendiri, adalah sebuah "pengganti" bagi kekristenan yang sesungguhnya. "Kehidupan kristen" diganti dengan aksi-aksi agamawi seminggu sekali di gereja. Mereka yang begitu agamawi (religious) di gereja menjadi orang2 yang duniawi waktu diluar gereja, termasuk para pendetanya. Sebab itu saya diajar untuk tidak memandang kekristenan sebagai 'agama'. Saya sampai sekarang tidak pernah menggunakan frasa 'agama Kristen' dalam tulisan maupun percakapan, melainkan 'kekristenan'. Roh Keagamawian (spirit of religiousity) harus dilawan dan digantikan dengan 'real life' yaitu kekristenan yang menyeluruh.

Sebagai akibat pengajaran ini muncullah gelombang pertobatan anak-anak muda yang dulunya alergi terhadap gereja (tradisional) dan agama. Mereka mau menyerahkan hidup mereka pada Kristus setelah mereka tahu bahwa kekristenan menawarkan lebih dari sekadar agama. Saya kemudian melihat bahwa hal ini terjadi khususnya pertama-tama di kalangan kharismatik. Sementara gelombang baru ini muncul, gereja2 "tua" masih tetap dalam keadaan mereka. Sebagai contoh, penggunaan alat musik di gereja masih sangat dibatasi. Sementara lengkingan efek distortion pada gitar elektrik sudah masuk di gereja kharismatik, gereja2 yang lain masih menggunakan piano atau organ saja. Sementara kebaktian kharismatik menjadi begitu 'hidup', bebas dan unpredictable, gereja2 tradisional masih bertahan pada liturgi baku yang rumit dan predictable.

Kontemporerisasi ini terjadi tanpa bisa dibendung, bukan saja pertobatan dari pemuda2 non kristen, gereja2 arus utama pun kehilangan banyak anak muda karena anak2 ini ditarik oleh gerakan kontemporer ini. (Saya dulu kuliah diUK Petra dan justru hambatan utama dalam kegiatan publikasi kegiatan kami adalah dari Bidang Kerohanian UK Petra sendiri. Selidik punya selidik ternyata mereka sakit hati karena sebagian besar dari mahasiswa binaan mereka ternyata 'pindah' ke gerakan kami, yang tentu saja menurut mereka 'sesat').

Makin lama kekristenan ditampilkan secara modern, tidak ada lagi perbedaan sikap antara berada di gedung gereja dan di luar gedung gereja. Kebaktian berjalan dengan meriah, penuh dengan sorak sorai, suitan, tepuk tangan, tarian, tawa dan tangis. Alunan musik dengan irama jazz, bosanova, funk, rock, disko, dll mengalir dengan bebas melalui sound system berkekuatan puluhan ribu watt. Pendeta yang berkotbah boleh memakai jas, boleh melepas jas, boleh berada di belakang mimbar selama kotbah atau berjalan-jalan disekitar jemaat waktu berkotbah (menggunakan wireless mic). Konser-konser musik kristen diadakan, dengan jenis musik, tata lampu dan sound system yang tidak berbeda dengan konser-konser musik sekuler.

Gedung-gedung gereja pun menjadi modern, minim simbol-simbol keagamaan. Lambang salibpun paling cuman satu, yaitu (biasanya) menempel di mimbar. Dari luar dan dalam bangunan ini sama sekali tidak menyerupai gereja, ada yang seperti stadion (seperti gedung Bethany Nginden) atau seperti restoran (seperti gereja saya, he..he..). Jadi kalau banner2 atau simbol2 yang menempel di dinding dan mimbarnya disingkirkan, gereja semacam ini sudah bisa dipakai sebagai convention center oleh MUI misalnya... :-)

Gerakan ini begitu pragmatis, tidak memiliki tabu sebanyak rekan mereka yang lebih tua. Gedung bioskop, bahkan diskotik sekalipun, bisa dijadikan tempat ibadah. Waktu gereja saya belum memiliki gedung sendiri, kami berbakti di sebuah gedung bioskop di Surabaya, lalu pindah ke restoran, dll. Liturgi2 yang rumit disederhanakan, tidak ada liturgi pengakuan iman, doa syafaat, dll seperti yang ada di gereja2 protestan. Tradisi2 yang masih dipertahankan hanyalah yang tertulis di Alkitab, seperti perjamuan Kudus, Baptisan air, penyerahan anak, dll. Sedangkan tradisi liturgis yang berasal dari sejarah gereja (yang biasanya kaya dengan simbol-simbol) hampir tidak dikenal.


Dengan dihilangkannya simbol-simbol keagamaan, maka dari pengamatan luar, kekristenan seperti ini mirip dengan dunia luar. Mulai dari potongan rambut, merek baju, dll, orang Kristen jenis ini bebas memilih sebebas orang dunia. Namun hati dan hidup mereka sepenuhnya mengasihi Tuhan, kebebasan mereka hanya dibatasi oleh kasih mereka kepada Tuhan. Jadi mereka tidak akan melakukan hal-hal yang menyakitkan hati Tuhan. Orang-orang seperti ini melepaskan segala belenggu, baik belenggu adiktif (mis. rokok), maupun belenggu keagamaan, seperti larangan ini dan itu. Kasih kepada Allah menjadi tolok ukurnya. Apapun yang baik dan benar mereka mau menjalankannya karena mereka mengasihi Allah bukan karena adanya peraturan.

EKSTRIMITAS KEKRISTENAN KONTEMPORER

Kekristenan kontemporer akhirnya menemukan jebakan-jebakannya. Beralih dari menggeluti simbol-simbol keagamaan yang mereka coba hindari, mereka terjebak menggeluti kecanggihan penampilan mereka. Berapa album yang sudah dikeluarkan, apa merek keyboard yang digunakan, speaker tipe apa yang paling enak suaranya, dst..dst. Tidak heran salah satu konsumen perlengkapan soundsystem yang paling prospektif adalah gereja. Dana yang dihabiskan untuk sound system dan peralatan musik bisa mencapai ratusan juta, bahkan milyaran rupiah. Cobalah anda masuk ke sebuah toko peralatan musik dan sound system dan coba bilang Anda dari "gereja", besar kemungkinan mereka akan langsung melayani Anda dengan semangat. Publikasi dibuat dengan dana besar, masuk koran, radio, tidak lupa dengan iming2 doorprize dan penampilan artis2 bintang tamu yang 'top abis'.

Selain itu beberapa hamba2 Tuhan yang merangkap artis2 kristen menampilkan diri mereka dengan anting2, ada yang mentato tubuhnya. Mereka memanjangkan dan mewarna rambut mereka, tidur dini hari, bangun siang hari, hobinya bermain PStation, dll.

KKR2 yang disertai dengan konser musik diwarnai dengan hingar bingar teriakan penonton kepada artis pujaan mereka. Sehabis konser pastilah artis2 tsb dikerumuni orang-orang yang berdesakan untuk meminta tanda tangan mereka. (Jelek-jelek begini saya pernah dimintai tanda tangan lho....) Kadang-kadang waktu saya di atas panggung hati ini rasanya perih, mencoba menilai apakah mereka sedang bersorak memuji Tuhan atau bersorak karena mengagumi kami. Live concert demi live concert diadakan, direkam dan dikemas begitu rupa, menghasilkan keuntungan penjualan yang luar biasa. Di Amerika"bisnis Kristen" semacam ini menghasilkan keuntungan jutaan dolar pertahun. Artis2 Kristen berebut tempat dengan Britney Spears dan F4 dihati para penggemar yang dengan setia mengkoleksi album2 mereka.

Para artis ini menjadi pengkotbah2 yang sangat dinantikan oleh ribuan anak muda. Beberapa dari mereka tidaklah mengenyam pendidikan teologi formal samasekali. Pengetahuan teologi mereka dapatkan dari buku2, dari kotbah2 yang mereka dengar pada waktu mereka menjadi bintang tamu dan dari pengalaman mereka. Namun mereka juga tidak berkotbah secara teologis karena yang ditekankan adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, sebuah kotbah yang sangat mudah dicerna anak muda. Sering kasih kepada Tuhan digambarkan/disamakan dengan cinta muda-mudi agar mudah dicerna. Jadinya anak muda yang mendapatkan pengajaran ini benar-benar cinta kepada Tuhan seperti pada pacarnya. Pokoknya cinta Tuhan, lakukan apapun yang Tuhan mau, titik.

Sementara itu bentuk-bentuk keagamaan historis betul-betul tidak mendapat tempat dalam kekristenan kontemporer ini. Jangankan melakukan kredo iman, kata 'kredo' saja mungkin mereka tidak pernah mendengarnya. Predestinasi, Armenianisme, Calvinisme, Institutio, Katekismus Heidelberg, dll adalahbarang asing bagi generasi kontemporer ini. Simbol-simbol agamawi sama sekali tidak mendapat tempat dalam ibadah, apalagi dalam kehidupan sehari-hari. Generasi kontemporer ini betul-betul menjauhkan segala bentuk keagamawian dalam kehidupan mereka, bagi mereka simbol tidaklah penting, yang penting adalah hal2 rohani atau kebenaran ilahi yang diwakili oleh simbol2 itu.

Hal-hal keagamaan atau 'keagamawian' dari kekristenan betul-betul dilucuti, sehingga "tinggal Allah saja yang ada". "Oleh pengorbanan Yesus kita telah memperoleh jalan masuk langsung ke hadirat Allah", adalah ungkapan yang sudah tertanam dalam hati, sehingga tidak lagi diperlukan simbol-simbol ataupun liturgi-liturgi yang kaku dan 'kuno' itu. Hati mereka bersukacita dalam kebebasan untuk menikmati hadirat Tuhan tanpa harus menjalani peraturan2 tertentu dalam beribadah. Jadi bukan hal yang asing kalau pemimpin pujian berteriak dari atas panggung: "Yesus kita memang oke bangeet maaan....yessss!". Lagu-lagu seperti: "Hormat bagi Allah Bapa, Hormat bagi AnakNya..." sudah hilang dan diganti dengan: "Kekasihku, ku datang tanpa rasa ragu..." Lagu-lagu dari Kidung Jemaat? Eh, Kidung Jemaat itu apa sih?, itulah yang akan mereka tanyakan. Lagu-lagu live concert dari Hillsong, Hosanna Music atau GMB menjadi kiblat dari gerakan Kristen Kontemporer ini. Eh, sekadar info ya, kalau anda pernah mendengar lagu kristen kontemporer yang sangat terkenal "Sekarang tlah tiba, keslamatan dan kuasa, dan pemrintahan Allah kita....ref. Oleh darah Anak Domba, Oleh kesaksian kita...", nah lagu itu diciptakan waktu sedang beol di WC, boleh percaya boleh tidak.

Anak-anak muda betul-betul mendapatkan sebuah 'agama alternatif' yang betul-betul cocok dengan jiwa mereka. Malah sekarang sudah mulai berkembang gerakan 'home churches'/gereja rumah. Pada dasarnya gerakan ini berkata begini: "Kalau aspirasi kalian (anak muda) tidak bisa ditampung dengan baik di gerejamu, kalian buatlah gereja sendiri, gereja rumah. Jumlah jemaat tidak perlu banyak. Dengan demikian setiap kalian akan bisa melatih diri dan berkembang menjadi pemimpin2 rohani." Beberapa waktu lalu di Surabaya diadakan semacam 'sekolah Teologi kilat' selama lima hari penuh. Materi yang diajarkan? Menggali dan mengembangkan karunia lima jawatan pelayanan. Tujuannya? Memperlengkapi anak muda agar bisa berfungsi dalam lima karunia itu, sehingga mereka masing-masing bisa bertumbuh di gereja rumah masing-masing. Ada sebuah gereja rumah di Surabaya yang gembalanya saya kenal. Jemaatnya hanya sekitar 15 orang, setiap Minggu mereka berkumpul di rumah salah seorang dari mereka, "memecahkan roti" alias makan sama-sama, saling sharing Firman lalu kemudian pergi jalan2, berusaha semirip mungkin dengan jemaat PB yang memang beribadah di rumah2.

- bersambung -