Saturday, July 13, 2013

Dari Dulu Begitulah Cina...

Sebuah tulisan apik yang membuat saya meneteskan air mata perih...
AL
-------------------

Dari Dahulu Begitulah Cina, Deritanya Tiada henti

Kurnia Harta Winata

Ahok begini, Ahok begitu…
Sudah Cina, Kristen pula…
Sudah Kristen, Cina pula…
Sebenarnya isu paling ramai adalah kekristenan Ahok, tapi yang diangkat cukup sederhana. Muslim, sebagai mayoritas dilarang memilih pemimpin di luar agamanya.
Jadi untuk masyarakat kristiani yang hanya ingin hidup santai damai sebagai warga Indonesia, isu ini tidak terlalu menohok (walau saya tidak menampik isu ini bisa berkembang lebih besar dan mengancam ketentraman nantinya).
Nah, untuk isu Cina ini yang lebih mengerikan.
“Dosa-dosa” keturunan Cina di Indonesia diungkit-ungkit, dibedah, seolah-olah berkulit kuning dan bermata sipit adalah tanda seorang penjahat. Dengan pengobaran sentimen semacam ini, seolah bangsa Indonesia diingatkan bahwa keturunan Cina bukanlah bagian dari mereka.
Kebencian disulut kembali. Prasangka, kecemburuan semu, dan dendam olahan disebarkan dalam masyarakat. Isu ini tidak hanya mengakibatkan Ahok saja yang ditatap dalam tuduhan, tapi seluruh keturunan Cina di Indonesia. Atau tepatnya, semua yang tampak dan mirip keturunan Cina.  Itulah sebabnya saya selalu tak suka bila ada keturunan Cina maju ke pentas politik. Kampanye negatif yang (pasti) digencarkan musuh politiknya bukan hanya mengincar ia sebagai pribadi, tapi juga semua keturunan Cina di Indonesia.
Apa daya, kesipitan mata dan kekuningan kulit tidak selalu dapat disembunyikan oleh logat medok saya.
Tapi tentu saja Ahok berhak maju dalam pentas politik.
Ketika saya berpandangan bahwa semua warga negara Indonesia adalah sama haknya di depan hukum, maka saya akan mengkhianati diri saya sendiri jika melarang Ahok maju sebagai calon wakil gubernur. Ahok, atau Basuki Purnama adalah pendamping Joko Widodo (Jokowi) dalam perebutan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang diajukan PDIP dan Gerindra.
Pasangan ini menantang calon kuat yang telah menjadi Gubernur periode sebelumnya, Foke. Dalam pemahaman masyarakat, Foke memiliki citra pemimpin yang arogan dan haus kekuasaan. Ia dekat dan tampak memelihara dua ormas yang sering membuat kekacauan, FPI (Front Pembela Islam) dan FBR (Forum Betawi Rempug). Jadi yang terlihat adalah, Foke memelihara kekuasaannya bukan dengan prestasi yang ia toreh, melainkan dengan memiliki pasukan non formal yang siap mengacak-acak pihak-pihak yang berseberangan dengannya.
Bolehlah ia disebut pihak status quo.
Sebaliknya, Jokowi dan Ahok maju berdasar pencapaian yang telah mereka toreh selama memimpin daerahnya masing-masing. Pasangan ini digambarkan sebagai harapan rakyat kecil yang mendamba perubahan dan muak dengan kepemimpinan selama ini.
Lalu apa sih sebenarnya dosa-dosa yang dituduhkan pada warga keturunan Cina? Apa sih yang ditakutkan oleh para sinophobia, orang-orang yang ketakutan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Cina ?
Ekonomi! Keturunan Cina menguasai perekonomian Indonesia! Mereka menghisap kekayaan pribumi sampai habis, lalu melarikannya ke luar negeri.
Nasionalisme! Mereka tidak peduli terhadap bangsa Indonesia, hanya loyal terhadap tanah leluhur di daratan Cina sana. Sebagai bukti kita bisa lihat kewarganegaraan mereka, banyak yang tidak berwarganegara Indonesia. Masih saja mengagung-agungkan bangsa leluhur di daratan Cina sana.
Selama penjajahan, mereka juga memihak pada Kompeni sehingga diberi kasta di atas pribumi.
Eksklusif, tidak mau berbaur. Mereka sendiri yang tidak merasa jadi bagian dari Indonesia. Yang dipikiran mereka hanya uang.  Coba tengok, mana ada orang Cina di desa-desa. Memacul tanah dan bergelut dengan tahi kerbau.
Mereka hanya berkumpul di kota-kota besar dan bergaul dengan sesamanya saja.
Kalau tidak, kenapa sampai ada pecinan segala?!
Indonesia tidak butuh penduduk seperti mereka!
Selamatkan pribumi dengan mengusir mereka!
Makmurkan bangsa asli dengan membantai mereka!
Bagaimana keturunan Cina bisa menjadi hantu yang begitu mengerikan bagi pribumi ?
Pernahkah Anda menanyakan hal ini sebelumnya ?
Untuk mengetahuinya mari kita mundur ke masa lalu. Bukan dengan mesin waktu Doraemon, tapi dengan sedikit ingatan, beberapa buku, fasilitas pencarian google, dan semangat untuk memahami ruwetnya sejarah.
Mari kita tarik tuas mesin waktu kita menuju pembantaian etnis Cina terdekat!
Wuuut…!
***
Tanggal 13-14 Mei 1998, kota Jakarta membara saat presiden yang berkuasa, Soeharto, sedang melawat ke Mesir. Toko-toko dijarah dan dibakar.
Esoknya kerusuhan ini sudah menjalar ke Surakarta. Di kota itu dan kota-kota lain, beberapa menempelkan tulisan “Pribumi Muslim” di pintu tokonya yang tertutup rapat.
Kerusuhan ini memang mengincar warga keturunan Tionghoa. Toko-toko dan rumah mereka dijarah. Bukan hanya uang atau barang mewah saja yang diambil, beberapa kesaksian menyatakan bahkan sendok dan pakaian pun ludes tak bersisa. Itu termasuk beruntung, karena beberapa toko tidak hanya dijarah tapi juga dibakar.
Perempuan-perempuan keturunan Cina, atau yang tampak seperti Cina ditarik ke jalanan lalu diperkosa secara massal.
Saat itu, tidak tampak gerakan dari aparat keamanan untuk menghentikan kerusuhan yang terjadi. Saat itu memang terjadi huru-hara di mana-mana. Masyarakat resah. Krisis moneter memukul mereka. Inflasi merajalela, harga-harga membumbung tinggi.
Tuntutan penggulingan presiden Soeharto yang sudah berkuasa selama lebih dari 30 tahun digerakkan oleh mahasiswa. Kelangsungan rezim terancam. Demo yang semula kecil jadi membesar tak terkendali. Boneka dan foto Soeharto dibakar. Tokoh yang selama ini begitu ditakuti, namanya diteriakkan di jalan-jalan. "Gantung anjing Soeharto" jadi frasa yang dipekikkan penuh kebanggaan.
Etnis Cina dituduh sebagai pihak yang mengakibatkan krisis moneter karena konon merekalah yang menguasai perekonomian Indonesia. Memang saat itu beberapa pengusaha keturunan Cina menjadi raksasa konglomerasi. Mereka mendapat banyak fasilitas dan hak monopoli yang diberikan oleh rezim Soeharto. Sebagai gantinya, Soeharto meminta balas budi mereka saat merasa membutuhkan. Terutama melalui jaringan keluarganya, atau yang sering disebut keluarga Cendana.
Tanggal 21 Mei, Soeharto mengundurkan diri. Orde baru berganti menjadi orde reformasi.
Dua tahun setelah itu, Gus Dur selaku presiden berlaku yang terpilih mengeluarkan Keppres no: 6/2000. Kepres ini berisi pencabutan terhadap Inpres no:14/1967 yang berisi pelarangan tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Sejak itu berbagai aturan yang bersikap diskriminatif dicabut. Masyarakat keturunan Cina diperbolehkan kembali untuk merayakan upacara dan adat istiadat secara terbuka.
Tapi darimana sumber segala pelarangan terhadap budaya Cina ini ? Karena Cina yang jadi lintah bagi perekonomian bangsa, Cina yang eksklusif dan tidak mau berbaur?
Mari kita tarik tuas mesin waktu kita kembali. Karena kisah kita barusan adalah kisah pembantaian etnis Cina sekaligus kisah pergantian rezim, maka Anda boleh pilih pergi ke masa kerusuhan anti-Cina atau ke masa perebutan kekuasaan sebelumnya.
Wuuut…!
***
Apapun pilihan Anda, ternyata kita kembali ke masa yang sama. Sekitar tahun 1973 -1974. Mirip kejadian tahun 1998, saat itu mahasiswa bergejolak. Muncul ketidakpuasan terhadap kebijakan perekonomian pemerintah. Pelaksanaan pembangunan dinilai terlalu memihak pemodal asing, terutama pemodal dari Jepang. Pengusaha-pengusaha kecil lokal menjadi hancur. Negara terlalu menggantungkan diri pada IMF dan bank Dunia. Ditambah lagi isu-isu KKN yang dilakukan lingkaran Soeharto.
Tiba-tiba tanggal 5 Agustus terjadi penjarahan dan perusakan terhadap toko dan rumah etnis Cina di Bandung. Aparat keamanan saat itu juga terkesan melakukan pembiaran, bahkan dikabarkan bahwa ada prajurit terlibat dalam aksi tersebut.
Oktober 1973, para mahasiswa mengeluarkan “Petisi 24 Oktober”. Petisi itu menuntut pemerintah untuk meninjau kembali strategi pembangunan, juga memprotes adanya perkosaan hukum, penyelewengan kekuasaan, korupsi, kenaikan harga, dan sempitnya lapangan pekerjaan.
Beredar juga desas-desus bahwa ada seorang jenderal yang akan menjatuhkan Presiden Soeharto. Jenderal yang dimaksud adalah Jenderal Soemitro. Tanggal 14 Januari, terjadi demonstrasi di kantor Ali Moertopo yang dianggap bersalah terhadap kekacauan ekonomi yang sedang berlangsung. Aksi mahasiswa ini tidak menemui rintangan dari Jenderal Soemitro yang mengkoordinasi aparat keamanan saat itu.
Tanggal 15 Januari, demonstrasi besar-besaran dilakukan terhadap Perdana Menteri Jepang Tanaka yang melakukan kunjungan ke Indonesia. Mereka meneriakkan anti terhadap barang Jepang yang saat itu membanjir tanpa henti ke Indonesia. Namun aksi ini berubah menjadi aksi liar yang konon direkayasa oleh kelompok Opsus, bikinan Ali Moertopo. Massa mulai menjarah dan membakar kendaraan buatan Jepang. Kerusuhan ini mulai merambat ke daerah Glodok dan Senen. Mereka menjarah dan membakar toko-toko milik warga keturunan Cina. Lagi-lagi terjadi pembiaran oleh aparat keamanan.
Akibat dianggap gagal menjaga keamanan dan ketertiban Jakarta, Sumitro dipecat dari jabatannya. Ia diberi tawaran untuk menjadi duta besar di Amerika Serikat. Ia menolak tawaran itu dan meminta pensiunnya dipercepat. Setelahnya terjadi beberapa mutasi dalam tubuh militer dan pemerintah bertindak lebih represif. Aksi-aksi menentang kebijakan pemerintah pun akhirnya padam.
Tapi tunggu, kita masih belum tahu asal muasal pelarangan budaya Cina di Indonesia. Bukankah tadi kita menarik tuas mesin waktu untuk mencari tahu hal tersebut.
Oke, langsung saja kita pergi ke jaman saat peraturan tersebut dikeluarkan.
Wuuutt….!
***
Dan di sinilah kita.
Masa-masa pergantian dari orde lama ke orde baru yang ditandai dengan peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Dan coba tebak, di masa ini pun kita menemui aksi anti-Cina. Lebih besar dan lebih mengerikan dari yang sudah kita bahas di atas.
Selepas peristiwa G30S/PKI, ribuan orang Cina dibantai, dianiaya, dan diusir di berbagai tempat di Indonesia. Toko-toko dan rumah-rumah dijarah, dirusak, dan dibakar. Menurut majalah Life, korban tewas mencapai ratusan ribu. Tapi jumlah ini simpang siur. Ada juga yang menyatakan “hanya” beratus-ratus, atau tidak sampai melewati angka dua ribu.
Pada Agustus 1966, diambil sebuah keputusan dalam Seminar Angkatan Darat II untuk mengganti sebutan Tiong Hoa dan Tiong Kok menjadi Cina. “…untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan dalam negeri kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan untuk menggunakan lagi sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan warganya “Republik Rakyat Cina” dan “warga negara Cina”."
Istilah Cina memang berkonotasi penghinaan. Dahulunya sering digunakan oleh Jepang saat menginvasi daratan Cina.
Loh, lha terus dari tadi saya kok pakai kata Cina? Ya sudah, mulai saat ini saya akan menggunakan kata Tiong Hoa.
Dari mana kebencian ini berkobar, sampai-sampai perlu mengganti sebutan? Semenakutkan apakah keturunan Tiong Hoa ini sampai-sampai mereka harus dihancurkan ?
Kita perlu mundur beberapa langkah untuk melihat keadaan secara lebih luas. Pergantian orde lama menjadi orde baru bukan sekedar pergantian kekuasaan dalam negeri. Kita harus sadar bahwa Soekarno sebagai penguasa orde lama adalah penguasa yang dekat dengan Tiongkok dan Uni Soviet, si raksasa sosialis komunis. Sedang penguasa orde baru, Soeharto, adalah penguasa yang dekat dengan Amerika Serikat dan Inggris, si raksasa kapitalis. Pada saat itu, antara dua kubu ini terjadi perang dingin. Mereka berebut pengaruh di antara negara-negara lain. Termasuk Indonesia.
Untuk menumbangkan pengaruh sosialis komunis, agen-agen kapitalis ini selain melakukan propaganda komunisphobia, juga melakukan propaganda sinophobia. Tiong Hoa begini, Tiong Kok begitu, pokoknya yang jelek-jelek dan mengerikan.
Dan saat kekuasaan Soekarno dibungkam, maka pengaruh Amerika Serikat dan Inggris membanjir masuk ke Indonesia. Akhirnya seperti yang telah diketahui, terjadi pemutusan hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok yang diawali dengan penyerbuan massa terhadap Kedutaan besar RRT di Jakarta.
Sentimen anti Tiong Hoa ini juga disambut masyarakat dengan cara menuntut diberlakukannya kembali PP no. 10 tahun 1959. Pengusaha pribumi ingin merebut perekonomian yang selama ini dikembangkan oleh pengusaha keturunan Tiong Hoa.
Di Makassar, walikota mengeluarkan larangan bagi orang Tiong Hoa WNA (Warga Negara Asing) untuk berdagang sembako di kota tersebut.
Di Jawa Timur, orang Tiong Hoa WNA dilarang melakukan perdagangan besar di kota selain Surabaya. Mereka diharuskan membayar pajak per-jiwa, juga dilarang menggunakan huruf dan bahasa Tiong Hoa di muka umum, di pembukuan, perdagangan, surat menyurat, bahkan percakapan telepon. Di saat yang sama, mereka dilarang berpindah domisili keluar dari Jawa Timur. Selain itu juga diperintahkan penutupan semua kelenteng di Jawa Timur dan Madura.
Di Jawa Tengah dan DIY, seluruh orang Tiong Hoa WNA diharuskan memasang papan tanda kebangsaan agar aparat dapat dengan mudah melakukan pengawasan.
Walaupun peraturan ini berlaku terhadap keturunan Tiong Hoa yang WNA, tapi harus diketahui bahwa saat itu status kebanyakan warga keturunan Tiong Hoa masih mengambang gara-gara UU no. 52 tahun 1958 yang mengurusi soal penyelesain kewarganegaraan ganda antara Indonesia dan RRT.
Aduh apa lagi PP-10 tahun 1959 dan UU no 52 tahun 1958 ini ?.
Mari kita tarik lagi tuas mesin waktu kita. Wuuut…!
***
Ternyata kita harus keluar sebentar ke negeri Tiongkok sana.
Untuk menggalang kekuatan dari orang-orang Tiong Hoa yang hidup di perantauan, Mao Zedong mengumumkan bahwa RRT menganut asas ius sanguinis, yaitu siapa saja di mana saja yang lahir membawa marga Tiong Hoa maka ia otomatis menjadi warga negara Tiongkok.  Ini menjadi permasalahan di Indonesia yang tidak mengenal kewarganegaraan ganda.
Bersamaan dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, ditandatangilah perjanjian Dwi Kewarganegaraan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah RRT. Isinya adalah mengharuskan orang Tiong Hoa di Indonesia untuk memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) atau menjadi warga negara RRT. Aturan ini menggantikan aturan tahun 1946 yang menyatakan bahwa siapa saja yang lahir di Indonesia adalah warga negara Indonesia.
Disadari atau tidak, aturan ini akan menyebabkan banyak orang keturunan Tiong Hoa di Indonesia akan menjadi WNA, kalau bukan malah tidak berkewarganegaraan. Bukan karena keturunan Tiong Hoa di Indonesia memilih menjadi warga negara Tiongkok, melainkan karena ketidakmampuan mereka untuk memenuhi syarat-syarat pengajuan kewarganegaraan Indonesia.
Untuk menjadi WNI, mereka harus menyatakan melepas kewarganegaraan RRT-nya dengan pergi ke pengadilan negeri. Untuk mendaftar di sana dibutuhkan banyak dokumen, misal akta kelahiran, akta kelahiran orang tua, surat kawin, dan KTP. Padahal kantor catatan sipil bagi keturunan Tiong Hoa di Indonesia baru ada di Jawa tahun 1919. Sedang yang di luar Jawa baru pada tahun 1926.
Dan bagaimana mengerikannya status tidak berkewarganegaraan itu bisa kita tanyakan pada kaum muslim Rohingnya yang sedang ramai dibicarakan belakangan.
Implikasi dari aturan ini benar-benar terasa pada tahun 1959. Muncul Peraturan Pemerintah no. 10 yang ditandatangani Soekarno pada 16 November 1959. Peraturan ini memaksa semua pedagang eceran Tiong Hoa di wilayah pedalaman, yaitu di luar ibukota daerah tingkat I dan tingkat II untuk menutup usaha mereka sebelum 1 Januari 1960. Ini sama saja mengusir keturunan Tiong Hoa dari desa-desa dan kota kecil ke kota-kota besar. Bila tidak, bagaimana mereka mencari nafkah. Mengingat sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai pedagang.
Nah, sekarang kita sudah memahami kenapa keturunan Tiong Hoa seakan angkuh tidak mau jadi WNI dan tetap memegang kewarganegaraan Tiongkok. Kita juga tahu kenapa keturunan Tiong Hoa seakan angkuh, tidak mau tinggal di desa-desa. Selain itu dengan empati, kita juga mengerti kenapa banyak dari mereka tidak banyak berbaur dengan masyarakat luas.
Tentu saja karena rasa takut.
Bagaimana bisa dengan enteng kita berbaur dengan orang yang sekonyong-konyong bisa menghina, menjarah, membunuh, dan memperkosa dirimu? Sejarah telah menggores trauma pada mereka.
Tapi tentu kita belum puas, masih banyak dosa keturunan Tiong Hoa yang belum kita gali. Bukankah keturunan Tiong Hoa ini juga merupakan antek Belanda, bersama-sama dengan mereka menindas bangsa Indonesia ? Kenapa seolah mereka hanya mau hidup dari perdagangan saja ? Bagaimana cap rentenir dan lintah darat melekat pada mereka?  Bukankah eksklusifitas mereka juga ditandai dengan adanya pecinan di berbagai kota besar di Indonesia?
Mari kita kembali menggunakan mesin waktu.
Sekali lagi Anda boleh memilih. Menarik tuas ke masa perebutan kekuasaan di nusantara atau ke masa pembantaian etnis Tiong Hoa sebelum G30S/PKI. Saya rasa kedua pilihan tersebut akan membawa kita ke masa yang sama.
Wuuuutttt….!
***
Apa lagi kalau bukan proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Selepas proklamasi, muncullah sebuah masa yang tampaknya tak pernah muncul dalam buku sejarah kita. Namanya masa bersiap!
Masa ini ditandai dengan seringnya seruan, “Bersiap!”
Sebuah periode kacau balau yang diakibatkan oleh kekosongan kekuasaan. Jepang sudah runtuh. Belanda belum datang. Sementara Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan belum memiliki pemerintahan. Keadaan tidak terkontrol.
Korbannya tidak lain adalah orang-orang yang dianggap musuh saat itu, dan tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Orang-orang sipil Belanda, Indo, dan etnis Tiong Hoa. Massa pemuda menjarah, memperkosa, dan membunuh dengan seenaknya.
Pekikan, “Siap !” menjadi tanda yang menakutkan bagi mereka.
Kejadian ini tidak lepas dari sikap para tokoh perjuangan sendiri. Dalam pidato-pidatonya, Bung Tomo bersikap rasis dan menggelorakan sikap anti Tiong Hoa. Bahkan Bung Hatta memberi pernyataan, “Karena kenyataannya para pedagang Tiong Hoa menjadi kepanjangan tangan dari kapitalis asing di masyarakat Indonesia, mereka telah menimbulkan kesan tidak disenangi. Juga selama pendudukan Jepang, diamati bahwa orang-orang Tiong Hoa berusaha agar mereka selamanya berada dalam posisi yang menyenangkan...  Memang benar orang-orang Tiong Hoa tersebut sebagai instrumen membuat banyak kekacauan kepada pengusaha Jepang, tetapi setidaknya mereka berusaha agar posisi ekonominya tetap berada di atas.”
Sikap anti Tiong Hoa pada masa awal kemerdekaan yang paling terkenal adalah pembantaian Tangerang. Awal Juni 1946, ratusan orang Tiong Hoa dibantai, hartanya dijarah, dan rumahnya dibakar. Alasan pembantaian ini adalah bahwa orang Tiong Hoa dituduh dibalik pelaporan penyergapan laskar Republik oleh tentara NICA. Orang Tiong Hoa dituduh sebagai mata-mata. Kerusuhan ini menyebar dengan cepat. Banyak dilaporkan adanya orang Tiong Hoa yang dibakar hidup-hidup. Ada pula para lelaki Tiong Hoa yang disunat secara paksa, sedang remaja putrinya diperkosa. Kerusuhan ini baru berakhir pada tanggal 8 Juni.
Tidak lama setelah itu, Belanda berhasil memperluas daerah kekuasaannya ke pinggiran Jakarta. Memang sebelumnya Belanda sudah berniat menduduki Tangerang pada tanggal pada tanggal 13 Juni. Dan pembantaian ini memberi alasan moral bagi Belanda untuk melakukannya.
Sejak itu, orang-orang Tiong Hoa mulai mengungsi ke daerah-daerah yang dikuasai oleh Belanda. Mereka takut perbuatan yang dilakukan oleh laskar Republik ini terulang pada mereka.
Melanggar isi Perjanjian Linggarjati, pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda mulai menyerang kedaulatan Indonesia. Peristiwa ini dikenal sebagai agresi militer Belanda. Tujuan utama agresi ini adalah merebut daerah-daerah yang penting dan kaya. Daerah-daerah pelabuhan, perkebunan, dan pertambangan. Menyadari bahwa sulit melawan Belanda secara langsung, maka pemerintah Republik Indonesia (RI) memilih mundur secara teratur sembari menjalankan perang gerilya dan taktik bumi hangus.
Taktik bumi hangus adalah taktik untuk membakar habis bangunan-bangunan penting yang mungkin dapat digunakan oleh Belanda, terutama pabrik-pabrik. Namun dalam keadaan kacau seperti itu, terjadi hal-hal yang tak diharapkan. Selain membumi hanguskan bangunan-bangunan yang penting, ternyata aksi itu juga dilakukan sembari menjarah harta benda, rumah-rumah, dan tempat usaha etnis Tiong Hoa. Tak luput juga pembunuhan dan perkosaan.
Mendapat serangan seperti itu, etnis Tiong Hoa merasa frustasi dan mengharap pertolongan dari tentara NICA. Bahkan beberapa akhirnya memihak Belanda dengan menjadi mata-mata mereka. Hal ini memperparah keadaan, karena dengan demikian terjadi pembunuhan serampangan dengan tuduhan sebagai mata-mata.
Apakah memang sedemikian jahatnya pasukan Republik ini?
Mungkin.
Tapi perlu diingat bahwa pada masa itu, selain pasukan formal (terikat pada induk kesatuan) dari pemerintah ada juga pasukan informal yang juga mengatasnamakan Republik. Pasukan-pasukan ini dikenal sebagai laskar atau gerombolan liar.
Salah satu contoh yang terkenal adalah saat tahanan dari penjara Kalisosok Surabaya dilepaskan. Mereka dipersenjatai dan diminta membantu Republik untuk membantu taktik bumi hangus yang didahului dengan cara mengosongkan kota. Kekacauan ini terus berlangsung hingga akhir tahun 1949.
Belanda sendiri juga tidak dapat dilepaskan dari dosa ini. Karena tiap kali mereka hendak memasuki kota, mereka berhenti dan memberi kesempatan agar taktik bumi hangus dapat dilaksanakan. Bahkan di Sukabumi tercatat, bahwa Belanda menyebarkan pamflet terlebih dahulu. Artinya juga, memberi kesempatan terhadap penjarahan dan pembantaian terhadap etnis Cina.
Selain mendapat keuntungan dengan hancurnya reputasi Republik yang tampak masih barbar, Belanda juga mendapat keuntungan dengan perpecahan antara pribumi dan etnis Cina.
Hasil adu domba ini tampak jelas dengan terbentuknya Pao An Tui.  
Ketika pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengambil sikap bahwa penjarahan dan pembakaran yang ditanggung oleh etnis Cina adalah harga yang harus ditanggung demi revolusi, maka etnis Cina berpaling kepada Belanda. Belanda yang merasa tak mampu melindungi mereka, akhirnya memberi ijin pembentukan Pao An Tui, badan yang bertugas menjaga keamanan etnis Cina.
Dalam prakteknya, Pao An Tui ternyata ada juga yang dapat diajak bekerja sama dan dipersenjatai oleh Belanda. Keberadaan Pao An Tui masih jadi kontroversi selama ini. Apakah ia musuh Republik, ataukah sekedar badan guna melindungi etnis mereka sendiri.
Karena nyatanya Pao An Tui pusat di Jakarta masih bersikap anti-Belanda dan banyak juga kalangan dari etnis Tiong Hoa yang bersikap menentang keberadaan Pao An Tui. Yang jelas Pao An Tui menghasilkan kesalahapahaman di masyarakat, seolah-olah mereka adalah barisan pemuda keturunan Tiong Hoa yang melawan pemuda Indonesia.
Dan perlawanan ini tampak nyata karena Pao An Tui memang dibentuk untuk menghalau penjarahan yang dilakukan oleh laskar liar yang berisi pemuda pribumi.
Ketika kita melihat sikap antipati masyarakat terhadap etnis Tiong Hoa yang dimanfaatkan Belanda bisa sedemikian besar, tentunya kita curiga. Kebencian pribumi terhadap etnis Tiong Hoa tentunya sudah berakar dari sebelum proklamasi kemerdekaan.
Mari kita tarik tuas mesin waktu kita kembali.
Ke masa perebutan kekuasaan sebelum proklamasi.
Wuuut….
***
Pearl Harbour diserbu Jepang pada 8 Desember 1941. Setelah itu, gantian Hindia Belanda yang jadi sasaran. Jepang sangat membutuhkan kilang-kilang minyak untuk mendukung perangnya. Pertempuran berlangsung sangat cepat, 8 Maret 1942 angkatan perang Belanda sudah menyerah pada Jepang di pulau Jawa. Seluruh Hindia Belanda telah jatuh ke tangan Jepang.
Para pemimpin pergerakan Indonesia terpecah menjadi dua, sebagian menentang sebagian lagi pro-Jepang. Masyarakat Tiong Hoa di Hindia Belanda kembali berada dalam posisi sulit. Karena pada saat yang sama, berkibar perang antara Jepang dan daratan Tiongkok.
Seluruh pemimpin dan tokoh Tiong Hoa ditangkap. Partai politik, ormas, dan penerbitan diberangus. Mereka yang ditahan, dijadikan satu dengan tahanan Belanda dalam kamp interniran. Orang-orang Tiong Hoa yang tidak tertawan mengorganisasi gerakan-gerakan bawah tanah menentang Jepang.
Selain penjarahan dan perampokan terhadap toko dan rumah Tiong Hoa saat pendaratan pasukan Jepang, eksekusi dan penyiksaan terhadap tokoh-tokoh Tiong Hoa yang menentang Jepang, tidak ada pembantaian massal terhadap etnis Tiong Hoa di bumi nusantara.
Tapi masih perlu kita catat juga bahwa ada pembantaian massal terhadap etnis Cina pada masa ini di Singapura. Singapura merupakan markas besar tentara ketujuh Angkatan Darat Jepang, yang juga membawahi wilayah Sumatra.
Jadi di masa ini, tidak ada cukup keterangan yang dapat kita ambil.
Bagaimana kalau kita ke masa perebutan kekuasaan yang lebih lalu lagi, adakah pembantaian etnis Tiong Hoa di sana?
Wuuuttt…
***
Sekarang kita berada pada masa perang Jawa, 1825-1830, atau yang sering disebut juga perang Diponegoro.
Pangeran Diponegoro adalah putra sulung Sultan Hamengkubuwono III. Namun ternyata ia tidak diangkat menjadi putra mahkota. Penguasa Hindia Belanda lebih tertarik memberikan takhta pada adiknya. Dengan ditandai pematokan di atas tanah Pangeran Diponegoro, maka pecahlah perang.
Pematokan ini dilakukan oleh kraton atas permintaan Residen Yogyakarta (semacam kepala daerah dalam pemerintahan Hindia Belanda), tentu saja tanpa seijin Pangeran Diponegoro.
Banyak bangsawan yang turut memihak Pangeran Diponegoro. Dukungan ini terutama disebabkan oleh keputusan menghentikan hak sewa lahan perdesaan oleh Gubernur Hindia Belanda yang dinilai mematikan sumber penghasilan para bangsawan. Tidak hanya para bangsawan yang membantu perjuangan Diponegoro, tetapi banyak juga orang Tiong Hoa yang urut serta.
Selain bantuan secara pasif dalam bentuk uang, senjata, dan candu, bantuan ini juga bersikap aktif. Turut serta mengangkat senjata melawan Belanda. Namun bantuan ini tidak berjalan langgeng, di pertengahan perang orang-orang Tiong Hoa menarik dukungan terhadap Diponegoro.
Berkhianatkah mereka ?
Pada masa awal perang, Raden Ayu Yudakusuma puteri dari Sultan Hamengbuwono I bersama pasukannya menyerbu Ngawi. Saat itu Ngawi merupakan pos perdagangan yang penting. Di sana, terjadi pembantaian etnis Tiong Hoa oleh pasukan tersebut.
Ternyata pembantaian ini tidak hanya terjadi di Ngawi. Di berbagai tempat di Jawa Tengah dan sepanjang Bengawan Solo, pembantaian ini terjadi terus menerus. Kabar mengenai pembantaian ini akhirnya diketahui oleh para Tiong Hoa yang membantu Diponegoro.
Rasa kecewa dan prasangka muncul. Namun sikap ini bersifat timbal balik. Orang-orang Jawa juga curiga dan berhati-hati pada Tiong Hoa. Pangeran Diponegoro sendiri memerintahkan para komandannya menjaga hubungan agar tidak terlalu akrab dengan orang Tiong Hoa.
Bahkan dalam Babad Dipanagara, Diponegoro menyalahkan kekalahannya di Gowok akibat ia terjebak kecantikan seorang gadis Tiong Hoa yang ia tangkap dan ia jadikan tukang pijatnya.
Kekalahan Sasradilego, ipar Diponegoro, dalam pertempuran di pesisir utara pun dilimpahkan kepada pundak orang Tiong Hoa. Yaitu Sasradilego melanggar perintah Diponegoro untuk tidak menggauli seorang perempuan Tiong Hoa di Lasem. Padahal kemenangan yang sedemikian cepat diraih Sasradilego dalam awal pertempuran bisa dibilang didapat dari bantuan para Tiong Hoa yang mampu menyelundupkan senjata api. Sedang kekalahannya disebabkan oleh pihak Belanda yang sudah berhasil mendatangkan bala bantuan.
Sebenarnya saat itu memang sudah muncul gesekan antara orang Jawa dan orang Tiong Hoa. Penyerbuan Raden Ayu Yudakusuma yang sebelumnya mempunyai hubungan baik dengan orang Tiong Hoa pun bukan tanpa alasan.
Orang-orang Tiong Hoa saat itu banyak yang berprofesi sebagai rentenir maupun pemungut pajak dan sewa. Oleh karena semakin lama pajak dan uang sewa ini semakin mencekik, maka wajar jika muncul kebencian terhadap orang-orang Tiong Hoa yang datang menagih. Tapi kebencian ini sebenarnya tidak terjadi pada kaum bangsawan.
Setelah Daendels dan Raffles selaku Gubernur Hindia Belanda waktu itu mengurangi wilayah kekuasaan para raja, maka semakin sedikit pula sumber penghasilan para raja. Untuk itu mereka harus mendapatkan keuntungan lebih dari wilayah yang mereka miliki.
Keuntungan ini mereka dapatkan dari menyewakan sawah dan pekerja kepada para wiraswasta. Sedangkan para wiraswastawan pada waktu itu adalah orang-orang yang sudah memiliki kemampuan berhitung, orang-orang yang terbiasa berdagang. Tentu saja kalau bukan orang Eropa, ya orang Tiong Hoa.
Dan karena kepemilikan mereka akan uang, banyak dari mereka yang juga memberikan pinjaman, alias jadi rentenir. Termasuk Raden Ayu Yudakusuma, yang juga sering meminjam uang pada orang-orang Tiong Hoa ini.
Pemerintah Hindia Belanda yang melihat keefektifan kerja orang Tiong Hoa dalam menarik sewa, akhirnya melakukan hal yang sama. Mereka mempekerjakan orang-orang Tiong Hoa untuk melakukan penarikan pajak di wilayah mereka.
Dalam prakteknya, pasti kegiatan-kegiatan penarikan pajak dan rentenir ini akan menjerumus pada tindakan-tindakan pemerasan. Tapi para bangsawan dan pemerintah Hindia Belanda tidak peduli, karena mereka mendapatkan uang dengan lancar.
Kebencian rakyat terhadap mahalnya pajak pun tidak terarah pada mereka. Melainkan pada golongan Tiong Hoa yang langsung turun ke lapangan. Lalu apakah sebenarnya orang Tiong Hoa ini memang anak emas pemerintah Hindia Belanda ? Mengingat kegiatan orang Tiong Hoa dalam menarik pajak dilindungi oleh mereka ?.
Dari segi pajak, orang Tiong Hoa menghadapi pajak yang jauh lebih tinggi. Dalam perdagangan, pajak orang Tiong Hoa bisa sampai tiga kali lipat lebih besar dari orang Jawa. Orang Tiong Hoa juga dikenai pajak konde atau pajak per-kepala. Selain itu ada berbagai peraturan dari pemerintah Hindia Belanda yang mengekang orang-orang Tiong Hoa.
Peraturan-peraturan itu antara lain:
Wijkenstelsel, orang-orang Tiong Hoa dikumpulkan pada satu tempat. Mereka diharuskan bermukim hanya pada tempat-tempat yang ditentukan. Tempat-tempat ini lah yang kemudian berkembang dan disebut dengan pecinan. Aturan ini dibuat agar orang-orang Cina mudah diawasi.
Passenstelsel, aturan yang menyebutkan tiap orang Tiong Hoa harus memiliki pas (surat ijin) jika bepergian. Tiap kali mereka perlu keluar dari wilayah yang ditentukan oleh wijkenstelsel, mereka harus mendapat ijin dari penguasa Belanda. Selain sebagai pengawasan, aturan ini juga menjadi lahan basah para opsir Belanda untuk memeras orang Tiong Hoa.
Undang-undang Agraria 1870, secara resmi UU ini bertujuan melindungi hak petani pribumi dari pemodal asing. Caranya dengan melarang orang asing untuk memiliki tanah di Hindia Belanda.
Akibat langsungnya adalah, orang-orang Tiong Hoa kehilangan lahan pertaniannya yang mungkin saja sudah mereka garap sendiri secara turun-temurun. Ketiga peraturan ini secara tidak langsung memperlihatkan usaha pemerintah Hindia Belanda untuk memisahkan pribumi dengan orang-orang Tiong Hoa. Juga ketakutan mereka atas orang-orang Tiong Hoa sehingga mereka harus selalu diawasi dengan seksama.
Apa yang menyebabkan ketakutan ini?
Seperti yang sudah-sudah, kita coba menjawab pertanyaan kita dengan mesin waktu yang kita miliki.
Kemana kali ini kita akan pergi? Bagaimana kalau ke pembantaian etnis Tiong Hoa terdekat sebelum perang Jawa dimulai.
Tarik tuasnya !
Wuuuttt…!
***
Sekarang kita berada di Batavia, pada masa-masa mulainya kehancuran VOC.
Tahun 1732, terjadi wabah penyakit di Batavia. Penegakan hukum yang dilakukan oleh VOC pun membuat banyak orang bangkrut karena kehilangan mata pencaharian. Praktek-praktek kotor dan curang memang sudah jadi praktek sehari-hari di masa itu.
Pengangguran merajalela. Namun orang-orang Tiong Hoa yang sebelumnya didatangkan oleh VOC untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mau dilakukan oleh pribumi dan Eropa terus saja berdatangan. Penumpukan pendatang ini menciptakan problem baru, terutama kebanyakan dari mereka menjadi pengangguran akibat lapangan kerja yang semakin menciut. Kriminalitas mulai terjadi di daerah-daerah pinggiran.
Keadaan ini berlanjut terus sampai tahun 1740. Untuk itu VOC mengeluarkan peraturan yang berguna membatasi orang Tiong Hoa di Batavia.
Setelah gagal membendung imigran, VOC membuat aturan yang lebih keras. Tiap orang Tiong Hoa yang menganggur akan dideportasi.ke Ceylon dan Afrika Selatan. Ketika aturan ini mulai diberlakukan, terdengar kabar bahwa ini hanyalah akal-akalan pemerintah. Orang-orang Tiong Hoa yang tertangkap dan dinaikkan kapal tidak pernah sampai di Ceylon atau Afrika Selatan, melainkan dibuang ke laut!
Orang-orang Tiong Hoa mulai takut akan adanya kabar burung ini. Mereka mulai nekat. Beberapa pemberontakan muncul di luar tembok kota. Sebenarnya tidak ada bukti bahwa orang-orang Tiong Hoa yang ada di dalam tembok kota ikut terlibat, tapi rasa was was penduduk sudah sedemikian hebat.
VOC memberlakukan jam malam bagi warga Tiong Hoa, bahkan tidak diperkenankan membuat api sekalipun. Pemerintah VOC takut apabila itu digunakan sebagai tanda aba-aba bagi orang-orang Tiong Hoa di luar benteng untuk menyerang kota. Karena memang ada desas desus penyerbuan itu akan ditandai dengan api di dalam kota.
Penduduk non Tiong Hoa berkumpul di jalan-jalan sambil membicarakan rumor tentang penyerangan. Mereka bertambah curiga dengan tiadanya orang-orang Tiong Hoa di antara mereka, yang sebenarnya memang dilarang keluar oleh pemerintah. Para majikan Belanda yang merasa terancam mempersenjatai bawahannya yang terdiri dari berbagai ras dan suku bangsa.
Tidak lama terjadi kebakaran di beberapa warung Tiong Hoa. Kemungkinan kebakaran ini terjadi karena penggeledahan senjata oleh aparat. Tapi bagi orang-orang Belanda, kebakaran ini diartikan sebagai dimulainya pemberontakan oleh orang Tiong Hoa.
Kerusuhan tidak terelakkan. Penjarahan dan pembakaran rumah-rumah Tiong Hoa terjadi dengan kejam. Semua orang Tiong Hoa, laki perempuan, besar kecil, tua muda, semua dibantai.
Banjir darah terjadi. Sungai menjadi merah dalam arti sebenarnya. Dari sinilah nama Angke yang berarti kali merah berasal.
Meriam-meriam ditembakkan ke rumah-rumah orang Tiong Hoa. Sekejap begitu banyak korban terpanggang hidup-hidup. Banyak di antara mereka yang memilih bunuh diri dari pada jatuh ke dalam tangan orang-orang Belanda, pribumi, dan orang-orang kulit hitam yang memburu mereka.
Sebuah kesaksian menyatakan, pada saat pembakaran berhenti tidak tampak seorang Tiong Hoa pun di kota. Semua jalan dan lorong penuh mayat, kali-kali ditimbuni mayat sehingga orang dapat menyebrang di atas mayat-mayat tanpa kakinya menjadi basah.
Kabar mengenai kejadian ini segera menyebar ke luar Batavia. Orang-orang Tiong Hoa yang marah mulai melancarkan pemberontakan terhadap VOC. VOC meminta penguasa Jawa saat itu yaitu Sunan Paku Buwono II untuk membantunya, tetapi Sunan bersikap hati-hati. Tidak pernah sebelumnya orang Jawa menangkapi orang Tiong Hoa. Lagipula ia tidak mau membuat kesalahan dengan menangkap orang yang tidak bersalah.
Sunan berusaha bersikap netral. Namun lama kelamaan, pemberontakan ini mulai didukung oleh orang Jawa. Selain benci dengan VOC, orang-orang jawa juga merasa bersimpati terhadap orang Tiong Hoa yang sudah hidup harmonis dengan mereka selama beberapa generasi.
Sedang Sunan yang terus ditekan kekuasaan VOC berada di kebimbangan, para bangsawan kraton terpecah menjadi dua, antara yang ingin membantu VOC dan yang ingin turut serta membantu orang Tiong Hoa.
Pemberontakan terus meluas. Pasukan Tiong Hoa mulai merebut kemenangan di mana-mana.
Sunan sendiri akhirnya memilih membantu orang Tiong Hoa secara rahasia. Secara resmi ia masih mengulur waktu, tapi di bawah tangan ia memerintahkan penguasa-penguasa bawahannya untuk menyerang VOC.
VOC menyadari tidak mungkin bertahan dengan kemampuan yang ada. Ia berusaha mendapatkan bantuan.  Akhirnya VOC mendapat bantuan pasukan Cakraningrat IV dari Madura yang memang mengulurkan tangan.
Cakraningrat IV meminta janji dari VOC bahwa ia akan mendapat kemerdekaan dari penguasaan Kartasura.
Bala bantuan ini menjungkirbalikkan perimbangan. Pasukan pemberontak ditumpas.
Di Madura, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, terjadi pembantaian terhadap orang Tiong Hoa oleh pasukan Madura.
Mengetahui Cakraningrat IV yang merupakan musuh politiknya membantu VOC, Sunan akhirnya memihak pemberontak secara terbuka.
Namun ketika ternyata pasukan Belanda dan Madura lebih kuat, terutama saat kegagalan merebut Semarang, Sunan menyatakan untuk menghentikan permusuhan lebih lanjut. VOC menyambut gembira pernyataan ini.
Pemberontak Tiong Hoa dan sebagian besar anak buah Sunan marah mengetahuinya. Mereka ganti menyerang kraton Kartasura. Namun tidak lama kemudian, pemberontakan ini pun berhasil ditumpas. Sunan Paku Buwono II dipulihkan kedudukannya sebagai penguasa Mataram.
Sejak saat itu pemerintah kolonial VOC selalu memberi pengawasan ekstra terhadap orang Tiong Hoa.
Kebijakan ini diteruskan oleh pemerintah Hindia Belanda, dan dilanjutkan lagi oleh pemerintah Indonesia.
Ternyata pembantaian orang Tiong Hoa di Batavia ini adalah pembantaian etnis Tiong Hoa pertama di Nusantara. Bahkan yang pertama pula di luar daratan Tiongkok.
Sebelum ini hubungan antara pribumi dan Tiong Hoa tampak harmonis. Hubungan ini bisa dilihat dari banyaknya orang Tiong Hoa yang diberi jabatan oleh penguasa.
Juga catatan-catatan yang memperlihatkan baiknya hubungan bilateral antara kerajaan nusantara dan kerajaan Tiongkok.  Misalnya pengangkatan Cik Go Ing, atau Tumenggung Mertaguna menjadi bupati Lasem oleh Sultan Agung atas jasanya dalam perang Mataram (1620-1625).
Satu-satunya konflik antara Tiong Hoa dan pribumi yang tercatat di nusantara sebelum ini hanyalah ekspedisi Kubilai Khan pada tahun 1292. Namun perlu kita catat, selain sebenarnya Kubilai Khan adalah penguasa Mongol yang menjajah Tiongkok, ekspedisi itu bersifat konflik antar kerajaan. Tidak membawa-bawa etnis tertentu.
Dan kita catat lagi, ekspedisi ini membawa dampak besar pada nusantara. Prajurit-prajurit Kubilai Khan yang akhirnya menetap di nusantara tersebut melakukan transfer teknologi. Terutama teknologi perkapalan dan senjata api. Dengan teknologi baru ini dengan sangat singkat akhirnya Gajah Mada berhasil mempersatukan nusantara di bawah panji-panji Majapahit.
***
Nah, sekarang pertanyaan-pertanyaan mengenai dosa keturunan Tiong Hoa dapat kita ganti menjadi:
Kecuali pembantaian yang pertama, mengapa pembantaian dan penjarahan terhadap etnis Tiong Hoa besar-besaran selalu berbarengan dengan perebutan kekuasaan yang besar-besaran pula?
Kita lihat tidak ada perlunya lagi kita menggunakan mesin waktu untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.
Pembantaian pertama dilakukan penguasa atas ketakutannya akan etnis Tiong Hoa.
Lalu mereka melihat besarnya kekuatan yang tercipta dari bersatunya etnis Tiong Hoa dan pribumi.
Ini lebih berbahaya lagi bagi mereka.
Untuk itu penguasa berusaha memisahkan keduanya dengan cara menciptakan jarak dalam kehidupan mereka.
Lebih lanjut dari itu, penguasa juga menjadikan etnis Tiong Hoa sebagai alat pemeras rakyat jelata.
Keberhasilan dari adu domba ini meledak pertama kali saat perang Jawa. Sentimen anti Tiong Hoa yang sudah tercipta terus menerus digunakan penguasa-penguasa sesudahnya.
Untuk apa menciptakan sasaran baru, kalau sasaran yang ada sudah tersedia.
Kita bisa mengamati bahwa wijkenstelselyang dilakukan oleh kolonial dihidupkan kembali dalam masa kemerdekaan dalam bentuk PP-10 dan UU no. 52 tahun 1958. Pemerasan dalam bentuk penarikan pajak yang dilakukan kolonial dengan menggunakan etnis Tiong Hoa diulangi kembali dalam bentuk pemberian hak-hak monopoli terhadap etnis Tiong Hoa yang dijadikan sapi perahan penguasa Indonesia.
Imbasnya etnis Tiong Hoa yang ketakutan dan memiliki cukup banyak harta, memilih menyimpan hartanya di luar negeri mengingat harta mereka di dalam negeri bisa dijarah sewaktu-waktu. Selalu ada pemikiran, bahwa ada kemungkinan mereka harus kabur ke luar negeri.
Yang tidak memiliki cukup banyak harta…yah, di mana-mana orang miskin memang tak punya pilihan.
Dalam tiap perebutan kekuasaan selalu ada penguasa yang dipertanyakan.
Dalam tiap perebutan kekuasaan selalu ada rakyat yang mendendam.
Tiap penguasa ini butuh pihak untuk disalahkan, dan rakyat butuh pihak tempat untuk melampiaskan amarah. Dan yang terjepit ditengah selalu yang jadi korban. Di nusantara, kebetulan pelanduk di antara gajah ini adalah etnis Tiong Hoa.
Mau bagaimana lagi sekarang? Semua sudah telanjur terjadi. Apalagi sudah dimulai beratus tahun silam.
Masa reformasi memang sudah mengembalikan hal-hak keturunan Tiong Hoa yang diberangus penguasa-penguasa sebelumnya. Namun kita tak boleh lengah, kerusuhan-kerusuhan dapat saja terjadi sekonyong-konyong seperti waktu-waktu lalu.
Bahkan penguasa masih saja menyisakan peraturan-peraturan diskriminatif itu.
Coba lihat Surat Keputusan Walikota Pontianak no 127/2008 yang melarang atraksi naga dan barongsai di jalan umum.
Atau di Yogyakarta, yang selama ini disebut sebagai model terbaik dari pluralisme Indonesia. Instruksi Kepala Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor K.898/I/A/1975 yang melarang WNI non Pribumi untuk memiliki sertifikat hak milik atas tanah masih berlaku hingga saat ini.
Tapi yah…
Dari dulu begitulah Cina, deritanya tiada henti.
Namun derita ini bukan milik keturunan Tiong Hoa saja! Derita ini adalah derita segenap bangsa Indonesia!
Bagaimana tidak, tiap kali kerusuhan anti Tiong Hoa terjadi pastilah ekonomi kita tersendat.
Pelarangan bagi WNI keturunan Tiong Hoa untuk berdagang berkali-kali nyatanya tidak membuat kekosongan ini dapat diisi oleh pribumi begitu saja. Kita terganjal dari gerak maju.
Mengaca pada sejarah, coba bayangkan seberapa kuatnya bangsa ini jika kebencian-kebencian ini tidak memisahkan keturunan Tiong Hoa dari pribumi. Kita bahu membahu menjadi bangsa yang kuat. Bersatu padu membangun sebuah budaya yang disegani kawan dan lawan.
Berapa besar potensi yang hilang karena kita saling curiga dan penuh prasangka?
Betapa menyedihkan dari jaman VOC sampai sekarang kita dikadali dengan kadal yang sama.
Tapi yah…
Dari dulu begitulah kita, deritanya tiada henti.
Namun derita ini bukan untuk diratapi. Derita ini juga bukan alasan agar kita dikasihani. Apalagi diungkit-ungkit demi ganti rugi.
Derita ini untuk kita pelajari, kita mengerti, dan kita sadari.
Hingga kita akhirnya paham, bahwa tiap kali kita dilanda kebencian dan prasangka karena sentimen anti Tiong Hoa atau sentimen apapun, dan berada di pihak manapun, kita harus ingat untuk bertanya;
“Siapakah sebenarnya yang diuntungkan oleh kebencian kita ini?
Siapakah sebenarnya yang dirugikan?
Apa saja keuntungan yang didapat?
Apa saja kerugian yang harus ditanggung?”
Karena jangan-jangan yang rugi sebenarnya hanya kita-kita saja, dan yang untung hanya penguasa-penguasa juga.
Karena jangan-jangan yang menanggung kita-kita juga, dan penguasa tinggal ongkang-ongkang saja.
Karena bangsa yang hanya mampu meluapkan amarah memang tak pantas maju.
Karena penguasa yang hanya mampu melempar salah memang tak perlu diaku.
Yogyakarta, 26-29 Agustus 2012
nb: sebenarnya saya tak suka istilah pribumi karena banyak keturunan Tiong Hoa yang sudah ratusan tahun hidup di nusantara, tapi saya tetap memakainya untuk memudahkan penyebutan

Wednesday, January 23, 2013

Meninggalkan untuk Memperoleh

Selama pelayanan-Nya di bumi, Tuhan Yesus beberapa kali mengatakan/melakukan hal-hal yang sulit diterima akal sehat, apalagi jika dilihat dari sudut pandang saat ini. Salah satunya adalah pada saat Ia berjumpa dengan seorang yang rindu untuk memperoleh hidup kekal. Kisah ini ditulis di tiga kitab Injil: Matius 19:16-22, Markus 10:17-22 dan Lukas 18:18-23. Dalam peristiwa ini, Yesus benar-benar berjumpa dengan seseorang yang telah berhasil ‘mencapai segalanya’, seorang yang sangat berhasil dalam segala area kehidupan. Alkitab menggambarkan betapa luarbiasanya orang yang berjumpa dengan Yesus ini. Ia masih relatif muda, namun ia telah mencapai kesuksesan materi. Masa depan cerah terbuka lebar bagi orang ini. Tidak hanya itu saja, dia adalah seorang yang terkemuka, namun ia begitu rendah hati sehingga ia bahkan menjumpai Yesus dengan tersungkur. Kekayaan yang dimiliki rupanya tidak membuat ia hidup dalam hawa nafsu, karena ia telah melakukan Firman Allah dengan segenap hatinya sejak kecil. Kesalehan, kekayaan, keberhasilan, juga tidak membuat ia berpuas diri. Orang ini merindukan sebuah kehidupan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan kekal bersama dengan Allah. Kerinduan inilah yang membuat dia datang kepada Yesus untuk memperoleh jawaban.

Bukannya memberikan jawaban yang diharapkan pemuda ini, Yesus justru memintanya untuk meninggalkan semua keberhasilan yang dicapai, menjual semua harta dan kemudian datang untuk mengikuti Dia. Sebuah jawaban yang mematahkan semangat pemuda yang luar biasa ini, sebuah jawaban yang akan sulit diterima akal sehat. Pemuda ini jauh lebih berguna dalam keadaannya yang sekarang, dia bisa menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh luas dengan kualitas-kualitas istimewa yang dimilikinya. Bagi sebagian besar kita, jika kita ada di posisi pemuda ini, kitapun akan kecewa dengan jawaban yang ditawarkan oleh Yesus.
Apa sebenarnya yang ditawarkan Yesus kepada pemuda ini? Yesus sebenarnya sedang menawarkan sebuah perjalanan bersama dengan Dia. Sang pemimpin muda telah mencapai sebuah batas, dimana ia telah mendapatkan semua yang terbaik dari dunia. Seperti penulis kitab Pengkhotbah yang telah menggapai segala yang mungkin diberikan dunia fana, ia menyadari batasnya dan merindukan sesuatu yang lebih baik. Sementara sang Pengkhotbah memenuhi kitabnya dengan kata “sia-sia”, pemuda ini tahu bahwa ia bisa berharap kepada Yesus untuk jawaban. Dan Yesus memberikan jawaban yang sebenarnya, sebuah undangan untuk beranjak dari batasan duniawi, dan mulai masuk dalam sebuah perjalanan bersama dengan Dia.

Hal ini tidak berarti bahwa setiap kita harus menjual semua harta kita hanya untuk mengikut Yesus. Poin utama dari jawaban Yesus adalah untuk berani “meninggalkan” apa yang sudah dicapai, untuk memperoleh sebuah pengalaman baru berjalan bersama Allah. Beberapa tokoh iman dalam Alkitab juga diperintahkan, bahkan dipaksa oleh keadaan untuk meninggalkan semua pencapaian mereka dan masuk dalam babak baru kehidupan. Abraham diminta meninggalkan tanah airnya, Yakub harus lari dari keluarganya, Musa harus meninggalkan istana Firaun, Yusuf dipaksa meninggalkan keluarga besarnya, dst. Dalam pengembaraan itulah tokoh-tokoh ini belajar mengenal dan berjalan bersama Allah.

Undangan yang sama juga diberikan kepada setiap kita, yaitu untuk berani meninggalkan zona nyaman dan masuk dalam sebuah perjalanan baru. Ada titik-titik tertentu dalam kehidupan dimana kita semua mencapai batasan kita masing-masing. Kehidupan menjadi nyaman, tapi juga stagnan, dan tidak ada sesuatu yang baru. Setiap keberhasilan yang kita capai dalam kehidupan sebenarnya bisa menjadi semacam ‘beban’ yang pada batas tertentu justru akan membuat kita berhenti bertumbuh. Seperti lemari pakaian yang makin lama makin penuh, ada waktu dimana kita harus membuang beberapa pakaian lama (yang mungkin kita sukai) untuk menambahkan pakaian yang baru dalam lemari tersebut, atau membeli lemari baru. Tapi tidak seperti lemari yang bisa diperbanyak kapan saja, kita adalah manusia terbatas yang hanya memiliki satu takaran kehidupan untuk diisi. Begitu kita mengisinya sampai penuh, kita tidak dapat lagi memperoleh lebih. Perjalanan kita berhenti, dan kita tenggelam dalam kenyamanan stagnan, complacency, yang akhirnya berujung pada kesia-siaan.

Saya percaya ada waktu-waktu dimana Tuhan mengijinkan guncangan dalam hidup kita, memaksa kita untuk kehilangan beberapa atau bahkan semua prestasi yang sudah kita capai, hanya untuk menunjukkan bahwa masih ada sebuah perjalanan baru yang segar bersama dengan Dia. Dalam keterbatasan kita sebagai manusia, berkat-berkat yang baru tidak dapat kita terima kalau kita tidak membuka genggaman kita dan melepaskan pencapaian-pencapaian lama. Rasul Paulus rupanya menyadari rahasia ini sehingga ia menyatakan “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku” (Filipi 3:13). Mari kita memeriksa apakah ada hal-hal yang perlu kita tinggalkan di masa lalu, melepaskan genggaman pada kebanggaan-kebanggaan lama, dan mulai mengerahkan diri pada janji Tuhan yang ada di hadapan kita. Keep pressing forward!

Thursday, November 08, 2012

Memelihara Cinta


"Kamu tidak tahu apa-apa, Gus, jadi nggak usah ikut campur..."

Kata-kata itu menggelegar, dan setelah itu ruanganpun jadi hening. Sejuknya AC di ruangan tsb jelas tidak mampu mendinginkan suasana hati yang sedang panas saat itu. Saya sedang berhadapan dengan sepasang suami istri, si suami duduk terpekur di sebuah sofa sebelah kiri saya, sementara si istri duduk tepat di hadapan saya, di balik sebuah meja kerja yang cukup besar. Dan semprotan itu datang dari si istri.

Dalam hati sebenarnya saya ngomel2, "...buset dah..., niat mau nolong, malah kena semprot..." Suami istri yang saya temui ini sedang mengalami konflik besar, dan si suami -yang adalah salah seorang teman saya- meminta saya untuk membantunya menyelesaikan masalah di antara mereka. Beberapa waktu sebelum itu, si suami menceritakan masalah yang mereka hadapi, dan meminta saya untuk datang ke kantornya untuk berbicara dengan istrinya. Dan meskipun agak enggan, sayapun menyetujui. Sebagai akibatnya, belum sempat tanya2 dan berbicara banyak, saya udah 'dibungkam' oleh istrinya :-).

Singkatnya, rumahtangga mereka akhirnya benar-benar hancur berantakan. Beberapa hari setelah pertemuan tsb, si istri kabur dengan membawa seluruh surat berharga, sebuah mobil, simpanan emas, dll. Sang suami ditinggalkan dengan dua orang anak. Si istri bahkan tidak merasa perlu untuk mengurus masalah hak asuh anak2 mereka, ia menghilang begitu saja tanpa memberi kabar. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu, disusul dengan ribuan kehancuran rumah tangga lainnya yang terjadi setelah itu di seluruh dunia.

Itu kisah pertama, sekarang kisah ke dua...

Saya ada dibalik kamera. Saat itu adalah saat pemotretan pasangan suami istri untuk kepentingan sebuah acara, dimana saya menjadi panitia bagian dokumentasi. Setiap pasangan yang hadir diminta untuk berfoto dulu sebelum mengikuti acara. Saya sebagai fotografer kemudian meminta mereka membuat sebuah pose mesra, dan...jepret... Mestinya memang tidak sulit bagi sepasang suami istri untuk dipotret dengan pose mesra.

Tapi kali ini ada sedikit perbedaan. Pasangan dihadapan saya terlihat kesulitan untuk berpose. Mereka berputar-putar satu sama lain, mencari pose yang tepat untuk saling memeluk, dan berakhir pada si suami yang 'menjepit' istrinya dalam sebuah pose berpelukan yang canggung banget. Setelah pemotretan selesai, si istri berlalu di sebelah saya, sambil nyeletuk, "wong gak pernah dipeluk..." Rupanya suami istri ini benar2 tidak tahu bagaimana memeluk satu sama lain. Saya lihat mereka cukup berumur, berarti mungkin sudah puluhan tahun mereka menikah tanpa pernah memeluk satu sama lain. Dan saya menjumpai bahwa tidak hanya pasangan ini yang sudah kehilangan 'sentuhan cinta' mereka.

Saya hanya berpikir, "Apa yang terjadi dengan cinta yang mereka miliki sebelum menikah?" Apakah mereka menikah karena terpaksa? Saya pikir tidak, karena ini bukan jaman orang menikah dengan paksaan orang lain. Alkitab mengatakan "karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!"[Kid 8:6], tapi sekuat apapun cinta, ia dapat mati jika tidak dipelihara dengan benar. Anak-anak muda yang saat ini sedang berpacaran, atau para pengantin baru, apakah mereka pernah berpikir kobaran cinta yang seperti "nyala api Tuhan" tersebut dapat menjadi sedingin es dan gairah dapat membeku seperti mayat?

Lepas dari masalah-masalah eksternal yang mungkin terjadi dalam setiap rumah tangga, akar masalah sebenarnya adalah kerapuhan hubungan, akibat cinta sejati yang tak terpelihara. Jika hubungan suami istri dipelihara dengan baik, maka badai apapun tidak akan menenggelamkan bahtera rumah tangga, karena bagaimanapun, Tuhan sendiri berpihak pada kita. Sayangnya, saya mengamati bahwa tidak banyak pasangan suami istri yang tahu bagaimana harus memelihara dan merawat cinta mereka terhadap satu sama lain. Pada waktu pacaran, orang cenderung berpikir bahwa cinta yang mereka rasakan akan bertahan selamanya, "dengan sendirinya". Cinta memang kekal, tapi tidak "dengan sendirinya". Itu sebabnya saya menentang orang yang berpacaran secara 'mengalir' dan membiarkan diri dihanyutkan oleh cinta. Pada saat berkobar, memang cinta itu terasa begitu kuat, indah dan 'selamanya', tapi itu baru permukaannya. Cinta sejati bertumbuh lambat, setahap demi setahap, dan akan mati jika tidak dipelihara dengan penuh tanggungjawab. Menghanyutkan diri dalam cinta, adalah sebuah tindakan tidak bertanggung jawab, yang membuat seseorang justru tidak sadar bahwa ia sebenarnya sedang melalaikan cinta sejatinya.

Memelihara cinta memerlukan usaha, dan usaha yang keras! Gairan seks dan nafsu bisa timbul dan tumbuh cepat seperti jamur dan rumput liar, tapi cinta sejati tidak. Setelah pernikahan, kehidupan akan berlalu dengan berbagai macam urusan, mulai dari karier, tempat tinggal, keuangan, anak, dan seabrek tanggung jawab untuk memenuhi segala jenis kebutuhan. Dan tanpa disadari, cinta sejati tidak mendapat tempat dan perhatian. Suami istri makin menjauh, keintiman hilang, kekecewaan demi kekecewaan mulai masuk dan meracuni cinta yang sebenarnya sudah sekarat. Hubungan seks mungkin masih dilakukan, tapi hanya demi pelampiasan nafsu dan kepuasan salah satu pihak. Hubungan yang awalnya begitu indah, akhirnya berakhir dengan begitu menyakitkan.

Dalam pernikahan saya sendiri, saya belajar terus untuk memelihara cinta dengan prinsip-prinsip yang saya pelajari dari kitab Roma 12:9-12. Meksipun konteks aslinya berbicara tentang kasih terhadap saudara seiman, saya melihat bahwa prinsip dasarnya juga sangat sesuai untuk cinta suami istri:

"Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!"

1. Hendaklah kasih itu jangan pura-pura
Cinta sejati tidak boleh mengandung kepalsuan. Kata "jangan pura-pura" yang digunakan memiliki makna "tidak munafik". Cinta sejati tumbuh dalam ke'asli'an masing-masing pribadi suami istri. Tanpa kita sadari, seringkali suami istri saling mencintai dengan 'pura-pura', yaitu hanya mencintai kalau pasangan bersikap baik dan menyenangkan. Begitu konflik demi konflik terjadi, cinta yang 'pura-pura' ini akan segera luntur. Orang yang berpura-pura, tidak akan pernah tahan pada saat ia harus berhadapan dengan kesulitan. Cinta yang abadi akan bertahan dan justru bertambah dewasa melalui konflik & kesakitan.

2. Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik
Betapa prinsip ini telah berulang kali menyelamatkan pernikahan saya. Cinta tidak memberi jalan bagi kita untuk melakukan yang jahat pada pasangan. Pada saat konflik menjadi sangat tajam, saat emosi sudah memuncak, selalu ada keinginan untuk membalas & menyakiti pasangan, baik dengan perkataan maupun dengan tindakan. Inilah tantangan sesungguhnya dari "cinta yang tidak berpura-pura". Saat pasangan menyakiti kita dalam pertengkaran, disitulah kasih yang tidak pura-pura dituntut dari kita, dimana respon kita akan menunjukkan keaslian cinta kita kepadanya. Kasih yang sejati harus mengendalikan seluruh respon emosional kita, hanya mengijinkan kita untuk melakukan apa yang baik dan seharusnya bahkan dalam titik kemarahan yang memuncak.

3. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara [suami istri] dan saling mendahului dalam memberi hormat [menyatakan cinta].
(Untuk menyesuaikan konteks, saya memberanikan diri untuk 'mengubah' beberapa kata dari ayat di atas.)
Prinsip saling mengasihi yang benar adalah saling mendahului untuk menyatakan cinta. Sering sekali saya mendengar suami istri yang saling menuntut, saling adu kekuatan, agar masing-masing pihak mendapatkan apa yang mereka inginkan terlebih dahulu. Suami menuntut istri untuk menghormati dia, baru si istri layak untuk dicintai. Istri menuntut suami untuk mencintai dia terlebih dahulu, baru layak untuk dihormati. Dengan posisi adu kuat seperti ini, hasil akhirnya adalah kelelahan dan cinta yang mengering dan hambar. Kasih yang tidak pura-pura menuntut kita untuk mendahului dalam menyatakan cinta dan hormat kita pada pasangan. Ada saat dimana pasangan kita sepertinya menjadi pihak yang terlalu menuntut, saat-saat itulah kita perlu belajar untuk 'mendahului' pasangan kita dalam menyatakan cinta kita. Cinta yang proaktif semacam itu selalu akan berhasil mencapai tujuannya.

4. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. (sekali lagi saya akan menyesuaikan konteks ayat ini untuk hubungan suami istri)
Mudah sekali kita kehilangan kerajinan/ketekunan dalam mencintai pasangan, khususnya setelah beberapa konflik tajam yang berlarut-larut. Tanpa ketekunan, cinta tidak akan bertahan. Ketekunan dalam cinta adalah sebuah tekad/kemampuan untuk bertahan dalam mencintai pasangan kita, walaupun pada saat-saat tertentu sepertinya cinta itu sudah tak dapat kita rasakan lagi. Tidak hanya itu, ayat di atas menyatakan agar "rohmu menyala-nyala". Ketekunan dapat kita jalankan dengan sikap tanpa harapan, tanpa gairah, hanya demi ketaatan mati terhadap Firman Tuhan. Tapi bukan itu yang dikehendaki Tuhan. Cinta haruslah tetap berkobar. Tanpa nyala api ini, tekun untuk mencintai seseorang akan menjadi tugas yang sangat berat, bahkan kejam. "Layanilah Tuhan" adalah sebuah peringatan bahwa semua yang kita lakukan sebenarnya adalah untuk melayani Tuhan. Setiap perlakuan benar yang kita berikan pada pasangan kita, adalah sebuah bentuk ketaatan terhadap Tuhan yang kita layani.

5. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
Pengharapan harus selalu dijaga dalam pernikahan. Tanpa pengharapan, bagaimana cinta dapat bertahan? Saat Tuhan mempersatukan dua orang dalam ikatan pernikahan, Dia selalu mau terlibat untuk membawa pernikahan tersebut dalam tujuan puncaknya, yaitu menyatakan kemuliaan-Nya. Itu sebabnya setiap pernikahan Kristen selalu akan memiliki harapan, dan harapan yang terpelihara akan mendatangkan sukacita. Keputusasaan adalah dosa, karena keputusasaan mengusir Allah dari tempat-Nya dalam hidup kita. Jika kita memiliki Allah yang Maha Kuasa, bagaimana kita bisa bahkan 'berani' untuk menghilangkan harapan kita? Namun dalam pengharapan sebesar apapun, kesesakan selalu akan kita alami sesekali, dan dalam saat-saat sesak tidak ada kekuatan yang lebih besar dari kesabaran. Alkitab memberi kita kisah-kisah dimana kesabaran membawa pada keberhasilan yang luar biasa. Amsal 16:32 mengajarkan: "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." Dan nasihat terakhir: bertekun dalam doa, sebuah resep yang tidak pernah gagal untuk mendatangkan hasil yang terbaik dalam kasus apapun. Yesus sendiri mengajar setiap kita agar tidak menyerah dalam doa-doa kita.

Akhirnya, cinta yang dipelihara dengan baik akan mendatangkan hasil yang sangat indah, berkat yang bahkan dapat dinikmati sampai ke anak cucu. Memelihara cinta memerlukan waktu, tapi cinta yang dipelihara akan memberikan hasil melampaui waktu-waktu pemeliharaannya. Selamat memelihara cinta!

Thursday, September 29, 2011

Lelah Menyembah

"Engkau Bapa yang baik bagiku..."
"Dia selalu punya cara untuk menolongku..."
"MujizatNya pasti disediakan bagiku..."
"Tiada yang mustahil bagiMu dan bagiku..."

Beberapa hari ini saya sengaja mendengarkan salah satu stasiun radio Kristen di Surabaya, yang siarannya sebagian besar berupa lagu-lagu rohani. Setiap hari Selasa-Jumat, saya harus mengantar anak-anak saya ke sekolah, setelah itu barulah saya datang di kantor tempat saya bekerja. Perjalanan tersebut biasanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Lalu pada sore harinya terkadang saya harus mengulangi rute tersebut: kantor - sekolah - rumah, menghabiskan bahkan lebih dari satu jam, karena harus menghadapi kemacetan sore hari. Selama waktu-waktu itulah, saya menyetel radio saya pada stasiun radio tersebut. "Sekalian bisa tahu perkembangan lagu-lagu rohani terbaru saat ini", begitu pikir saya.

Entah mengapa, makin lama saya mendengar lagu-lagu pujian penyembahan yang diputar di radio tersebut, bukannya disegarkan saya justru merasa makin jemu dan lelah. Jelas bukan radionya yang salah, mereka hanya memutarkan lagu-lagu rohani yang mungkin dianggap enak didengar, banyak terjual, dinyanyikan oleh artis-artis kristen yang sudah populer. Ditinjau dari susunan melodi, rata-rata lagu tersebut cukup enak di dengar, dicipta dan diaransemen dengan baik. Kalaupun saya mencermati liriknya, semestinya tidak ada sesuatu yang salah. Sebagian besar, kalau tidak bisa dibilang semua lagu yang saya dengar memiliki tema tentang kebaikan Tuhan, mujizat Tuhan, hadirat Tuhan, berkat Tuhan, dst. Dan semua itu memang sesuatu yang sudah selayaknya dialami oleh orang Kristen.

Lalu apa yang salah? Mengapa saya bukannya disegarkan tapi justru malah dilelahkan? Terpikir oleh saya, mungkin saya yang lagi nggak beres. Mungkin saja jauh lebih banyak orang yang disegarkan dan dikuatkan oleh lagu-lagu tersebut. Saya harus akui, bahwa mungkin saja memang saya yang salah menilai. Tapi saya tidak mau membohongi diri sendiri: ada sesuatu dalam lagu-lagu tersebut yang membuat saya jenuh, bahkan muak.

Setelah saya merenung-renung, akhirnya saya menemukan beberapa penyebab mengapa saya lelah dengan semua melodi & lirik yang mestinya begitu indah:

1. Semua lagu tersebut berpusat pada apa yang Tuhan lakukan untuk AKU.
Semua lirik peninggian & pujian kepada Tuhan, semuanya terhubung pada apa yang telah kita terima dari Dia. Tuhan dahsyat karena Ia telah berbuat ini dan itu UNTUKKU. Tuhan baik karena Ia telah menyediakan KEBUTUHANKU. Tuhan melakukan mujizatNya BAGIKU. Untukku...bagiku...demi aku... seolah-olah, tanpa keterlibatan tokoh "aku" tidak ada yang perlu dinyanyikan tentang kedahsyatan, kebaikan dan keajaiban Tuhan. Dimanakah lagu-lagu yang murni berkisah tentang keagungan Tuhan tanpa embel-embel "untuk aku" di dalamnya? Kitab amsal menyatakan dengan tajam:  "Si lintah mempunyai dua anak perempuan: "Untukku!" dan "Untukku!"" (Ams 30:15). Rupanya nyanyian si lintah itulah yang saya dengar dibalik lirik-lirik indah tersebut. Saya terkenang dengan lagu-lagu jadul, yang meskipun melodinya tidak seindah lagu jaman sekarang, tapi liriknya bergema dengan pengagungan tentang Allah, tanpa melibatkan "aku" sedikitpun.
   
    Biar seluruh bumi, nyanyikan kebesaran-Mu
    Biar yang bernafas memuji namaMu
    Engkau layak, layak trima pujian
    Kuduslah Kau Tuhan

Atau sebuah lagu jadul lain lagi:

    Terpujilah nama Tuhan, Dia yang layak menerima pujian
    Bersehati kita mengangkat tangan
    Nyanyi pujilah Tuhan, pujilah Tuhan
    Puji dan sembah nama-Nya

       Layak, Engkau layak                           ) 2x
       Kau Raja, Kau Tuhan, Engkau layak  )

Mungkin bagi orang Kristen jaman sekarang, lirik2 lagu di atas, tidak "menyentuh", karena tidak berbicara tentang "untukku". Mungkin album yang berisi lagu-lagu semacam di atas tidak bakal laku, karena tidak berkenaan dengan 'kebutuhanku', 'pergumulanku', 'masalahku', 'perasaanku'. Saya tidak tahu pasti. Itu hanya dugaan saja, mengingat begitu berlimpahnya album2 rohani dari para 'pemuji dan penyembah' dari berbagai latar belakang gereja, namun begitu sedikit lagu yang benar-benar mengagungkan Tuhan tanpa "aku" di dalamnya.

2. Keintiman yang dieksploitasi habis-habisan
Mari kita membayangkan sebuah film, yang 90% isinya menyajikan keintiman antara dua pribadi yang saling mencintai. Tidak ada alur cerita yang jelas atau pesan yang jelas, film tersebut hanya menampilkan keintiman antar dua orang saja. Kalau ada film seperti itu, jika ia tidak masuk kategori film porno, film tersebut pastilah sangat membosankan. Itulah yang terjadi dalam industri musik rohani sekarang, khususnya di Indonesia.

Keintiman dengan Tuhan jelas tidak salah, juga tidak masalah untuk sesekali dituangkan dalam sebuah lagu. Namun keintiman dengan Tuhan seharusnya lebih bersifat pribadi, dan sebenarnya bukan untuk disajikan sebagai konsumsi publik. Yang namanya "keintiman" jelas bukan untuk dieksploitasi, apalagi untuk dijual. Film-film jaman sekarang menggunakan/menyajikan adegan intim sebagai bumbu penyedap, sebagai pemancing respon emosional atau seksual. Hampir sama dengan film, lagu-lagu tentang keintiman, dapat membangkitkan respon emosional pada pendengarnya, menimbulkan keinginan pada pendengar untuk turut merasakan keintiman yang dinyanyikan.

Harap jangan salah sangka, saya tidak sedang berbicara tentang kemesuman. Saya berbicara tentang keintiman yang sah, antar suami istri, dan antar Tuhan dengan umat-Nya. Tapi keintiman yang sah, bagaimanapun juga akan menjadi sebuah hal yang memuakkan jika dieksploitasi secara berlebihan dalam sebuah film ataupun lagu. Itu yang saya rasakan pada saat mendengar lagu2 rohani, yang semuanya bercerita tentang keintiman dengan Tuhan. Kosa kata dan kalimat yang digunakan untuk menggambarkan keintiman selalu itu2 saja, menunjukkan bahwa keintiman tersebut tidaklah benar-benar dialami, tapi memang dibuat-buat agar lagu tersebut laku dijual.

Mungkin saya harus minta maaf pada para pencipta lagu rohani. Tapi saya berani bertaruh, jika seseorang benar-benar mengalami keintiman yang luarbiasa dengan Tuhan, lagu-lagu yang diciptakannya akan kehilangan kata "untukku" di dalamnya. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan akan selalu melumatkan diri kita, seperti jerami dalam api. Dalam hadirat Tuhan yang begitu kuat, kita bahkan tidak akan menyadari lagi kebutuhan kita, keinginan kita, pergumulan kita. Semua tentang kita menjadi tidak berarti, menjadi kabur, ditenggelamkan oleh hadirat Tuhan yang begitu mulia. Seperti lirik lagu ini:
   
    Bila kupandang kemuliaan-Mu
    Bila kurenungkan keagungan-Mu
    Bila sekelilingku jadi pudar, karena terang-Mu
       Kusembah Kau, Kusembah Kau        ) 2x
       Tujuan hidupku, untuk sembah Kau  )

Oh betapa saya merindukan adanya lagu-lagu baru yang lahir dari jiwa yang benar-benar terbakar oleh hadirat Tuhan, lagu yang sepenuhnya bercerita tentang kemuliaan dan kedahsyatan Allah, begitu penuh kekaguman, tidak lagi punya tempat "untukku". Lirik-lirik yang benar-benar diilhami oleh Roh Kudus, tidak hanya menyentuh emosi saja, tapi berkuasa untuk mengubah jalan hidup orang. Lagu-lagu semacam itu, tidak akan pernah gagal untuk selalu menyegarkan jiwa pendengarnya.

Semoga Tuhan membangkitkan para pemuji dan penyembah yang sebenarnya.

Tuesday, September 20, 2011

Powerpoint Kotbah: Mematikan Hawa Nafsu

Berikut presentasi powerpoint khotbah tgl 18 Sept 2011 di MDC Putat. Saya buat dalam format PDF. Klik judul di atas utk download.

Saturday, July 02, 2011

‘Innocent Lust’ – Romantika ala film Korea

Sudah cukup lama saya terheran-heran mengapa kok banyak sekali anak muda, khususnya cewek, yang suka banget nonton film korea. Konon film Korea yang berseri bisa mencapai ratusan episode, dan mereka bisa menontonnya secara maraton, menghabiskan waktu berhari-hari. Bahkan ada orang-orang yang menciptakan sebuah nama Korea untuk dirinya, menggunakan sapaan bahasa Korea di facebook, membeli baju, asesoris, dll yang bernuansa Korea. Padahal dilihat dari sudut pandang sinematografi (saya sempat melihat sekilas2 film Korea yang diputar di stasiun TV nasional) gak jauh beda dengan model sinetron Indonesia yang lighting dan anglenya begitu-begitu aja.

Saya kemudian merasa bahwa pasti ada sesuatu yang ‘mengikat’ dalam film-film Korea ini, sesuatu yang membuat penontonnya begitu fanatik. Sekilas saya melihat bahwa hampir semua film Korea yang beredar mengusung drama percintaan sebagai tema sentral. Nampaknya ada sesuatu yang berbeda dalam penyajian drama percintaan ala film Korea, jika dibandingkan dengan film dari negara lain.

Dan akhirnya saya berkesempatan untuk menonton sebuah film Korea dari awal sampai akhir secara tidak sengaja. Ceritanya waktu itu saya pergi ke bioskop, dan secara acak memilih film yang kelihatannya bagus “The Sword with No Name”. Saya suka film silat dengan latar belakang kerajaan jaman kuno. Di awal film, baru tahu kalau itu bukan film silat Hongkong, tapi film Korea. Dengan berjalannya waktu baru tahu juga kalau itu sebenarnya film drama percintaan, bukan film silat… walah… Tapi dari film itu akhirnya saya mengetahui apa yang menjadikan film Korea begitu menarik bagi banyak anak muda. Tidak hanya itu, saya juga berkesempatan melihat sebuah iklan tentang pariwisata Korea di sebuah channel TV satelit, dan iklan itu mengusung tema percintaan ala Korea sebagai latar belakang iklan. Dan baru kemarin, pas saya makan siang di sebuah depot, saya sempat melihat sebuah fragmen sinetron Korea di TV selama sekian puluh menit. Dari tiga “perjumpaan” ini, saya mulai menangkap adanya satu persamaan, yang membuat anak-anak muda tergila-gila.

Ada satu hal yang membuat film romans Korea berbeda: keluguan (innocence) dari para tokohnya. Berbeda dengan tokoh Bella Swan atau Edward Cullen di film Twilight yang masing-masing memiliki sisi gelap, tokoh2 (cewek) dalam kisah romantika ala Korea ditampilkan dengan begitu lugu, tidak berdosa, tidak berpengalaman soal cinta, malu-malu, sekaligus sangat desireable. Tokoh cowok protagonis ditampilkan penuh hasrat, sekaligus penuh pengendalian diri, innocent, berkarakter kuat dan mencintai si cewek dengan segenap hati, jiwa dan kekuatannya. Di iklan ttg pariwisata Korea yang saya lihat, sebelum kedua tokoh utama berciuman, ditampilkan ekspresi ‘malu tapi mau’, dan pada saat ciuman bibir benar-benar terjadi, semuanya disajikan begitu romantis, bersih dan sopan. Di film ‘Sword with no name’, digambarkan si cewek yang matanya ‘kelilipan’, dan si cowok berusaha membantu dengan menjilat mata kekasihnya itu. Setelah itu wajah mereka bertemu begitu dekat, saling bertatapan mengutarakan isi hati masing-masing, dan tidak seperti film barat yang mengumbar adegan ciuman, mereka tidak jadi berciuman karena konteks ceritanya adalah cinta tak sampai antara kedua tokoh utamanya. Cium…nggak…cium…nggak…, keraguan ini menyalakan sesuatu dalam diri setiap penonton remaja. Untuk anak muda yang belum atau sedang berpacaran, percintaan semacam ini sungguh-sungguh membangkitkan sebuah hasrat yang sangat kuat untuk mengalami romantika yang serupa dengan yang disajikan di film-film tersebut.

Meskipun dari luar percintaan yang ditampilkan seolah-olah sangat polos & innocent, saya justru merasa bahwa ada bahaya besar yang mengancam. Saya bukan orang tipe paranoid yang sedikit-sedikit melihat bahaya dimana-mana, tapi saya melihat ada beberapa bahaya yang sangat halus/subtle dalam drama percintaan ala film Korea. Hal-hal negatif yang bersifat subtle biasanya justru lebih berbahaya daripada yang terang-terangan, karena lebih sulit untuk dideteksi. Berikut beberapa hal yang saya cermati:

1. Kenaifan sebagai bahan bakar romantisme
Sesungguhnya keluguan menunjukkan bahwa seseorang samasekali belum siap untuk berpacaran dan menikmati romantisme. Cinta haruslah dialami dengan dikawal oleh kecerdasan emosional dan wawasan yang cukup. Keluguan sama dengan kenaifan, tanda utama ketidakdewasaan. Kenaifan memang bisa membakar romantisme, tapi ujung romantisme selalu adalah dorongan seksual yang sangat kuat. Pada saat gelombang asmara membakar seorang yang belum dewasa, hasilnya adalah hawa nafsu. Itu sebabnya romantisme tidak pernah boleh menjadi fokus dari sebuah hubungan pranikah. Betapa ironis bahwa banyak anak muda yang justru kehilangan keluguan mereka saat jatuh dalam dosa percabulan dengan orang yang mereka cintai. Film Korea tidak pernah menunjukkan realita ini. Sebagai media hiburan, mereka tidak berkewajiban membawa orang pada realita sebenarnya tentang akibat hubungan yang diwarnai kenaifan semacam itu.

2. Cinta yang dinikmati dalam kenaifan nampak begitu indah
Tidak heran pada masa sekarang para remaja tidak tahan lagi untuk tidak berpacaran selekas mungkin. Dalam kenaifan mereka, anak-anak yang masih SMP/SMA sudah dibakar oleh api asmara, sementara mereka-mereka yang jomblo begitu menginginkan pacar dengan segenap hati mereka. Bukannya mengembangkan wawasan, para anak muda ini tanpa sadar ‘mempertahankan’ kenaifan mereka, sambil berharap bahwa satu saat berharap bisa menikmati cinta. Realitanya adalah, cinta yang dinikmati dalam kenaifan sangat berbahaya. Cinta itu seperti api, sangat kuat dan berguna, tapi tidak ditangan orang yang bodoh. Di tangan orang yang naif, cinta bisa menjadi seperti api yang menghancurkan banyak hal. Keindahan cinta dirancang oleh Tuhan untuk dinikmati secara maksimal dalam sebuah latarbelakang kekudusan dan kedewasaan yang bertanggung jawab, diikat oleh komitmen seumur hidup di hadapan Tuhan dan manusia.

Sebenarnya mengapa innocence/keluguan ini begitu menimbulkan hasrat? Saya yakin ini berkaitan dengan kerinduan setiap kita untuk kekudusan yang sejati. Kita tidaklah dirancang untuk bergelimang dalam dosa. Cintapun sebenarnya dirancang untuk dinikmati dalam kekudusan. Namun kerinduan kita menjadi salah arah. Bukannya mendekat pada Tuhan untuk mencari cinta yang kudus, kita dibuat merindukan cinta duniawi yang mengobarkan hawa nafsu dalam kenaifan. Khusus bagi para cewek, anda memang diciptakan untuk ‘diingini’. Tuhan menciptakan Hawa dengan cara “mengambil” sesuatu dari Adam, sehingga seorang wanita akan selalu merindukan untuk “ditarik kembali” oleh seorang pria. Tapi waspadalah jika ada pria yang mengingini anda karena kenaifan anda. Pada dasarnya seorang pria yang berkualitas tidaklah tertarik pada kenaifan. Kenaifan hanya menarik bagi pria-pria tidak dewasa yang tidak tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Bagi anda-anda yang sudah kadung nonton film Korea banyak-banyak, anda harus bekerja keras untuk meredefinisi pemikiran anda tentang romantisme yang benar. Sekali lagi, keluguan adalah berbahaya untuk orang yang jatuh cinta. Cinta yang benar haruslah dewasa dan cerdas, mampu melihat dengan obyektif dan mengambil keputusan yang benar. Semoga memberkati!

Wednesday, June 08, 2011

Reputasi Yang Dipertaruhkan

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."(Kis 1:6-8)


Jika kita membayangkan suasana pertemuan pada hari itu, dimana untuk kesekian kalinya Yesus menjumpai para murid sejak kebangkitanNya, kita mungkin bisa merasakan kegairahan yang tinggi dari para murid. Drama penderitaan Kristus telah mencapai klimaks, dan kini saatnya untuk meminta sang Mesias melakukan apa yang selama ini mereka impikan: pemulihan kerajaan Israel. Tidak ada waktu yang lebih tepat dari saat itu, sang Raja bahkan telah mengalahkan maut. Dengan kuasa sebesar itu, sudah pasti kejayaan Israel sebagai sebuah kerajaan akan dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Negara adikuasa semacam Roma pun bukanlah tandingan bagi seorang Raja yang telah mengalahkan kematian.

Jawaban Yesus diluar dugaan. Dia tidak mengiyakan atau menolak permintaan para murid, tapi menjawab bahwa masa pemulihan Israel bukanlah urusan mereka atau dengan kata lain: belum waktunya. Ada sebuah rencana lain. Mesias yang bangkit akan segera pergi dan drama masih belum selesai, lampu sorot akan beralih dari Yesus pada para murid. Kebangkitan Yesus bukanlah episode akhir, tapi justru menjadi sebuah episode pembuka dari sebuah sejarah yang panjang, sejarah pembangunan Kerajaan Allah di bumi yang disebut dengan “gereja”. “Kamu akan menerima kuasa…” demikian kata Yesus. Kali ini aktor utama bukan lagi Yesus, tapi beralih pada para murid. Roh Kudus yang sama yang mengurapi Kristus, kemudian dicurahkan beberapa hari setelah pertemuan terakhir itu.

Yesus telah memperoleh reputasi dan kemenangan terbesar, dan reputasi itu kemudian dipercayakan kepada para muridNya. Sungguh sebuah pertaruhan yang sangat berani. Saat ini kita bisa melihat bagaimana sejarah mengisahkan reputasi sang Mesias dihormati dan sekaligus dicela akibat perbuatan umatNya sepanjang dua milenium terakhir. Dalam hikmatNya yang tak terhingga, Allah memutuskan untuk menampilkan umatNya sebagai pemeran utama sekaligus mempertaruhkan reputasiNya yang tak bercacat pada pundak mereka. Dan sebagai awal, Roh Kudus kemudian dicurahkan secara tak terbatas kepada semua orang yang mau percaya dan menerima Dia.

Roh Kudus adalah “modal awal” yang lebih dari cukup untuk menegakkan Kerajaan Allah. Dengan “modal” ini, sekarang masa depan Kerajaan Allah ada di tangan para murid. Roh Kudus dicurahkan agar para murid memiliki kuasa untuk menjadi saksi Kerajaan Allah, selain sebagai Roh yang akan menghibur dan menguatkan mereka dalam perjuangan itu. Seluruh kitab Kisah para Rasul menggambarkan bagaimana hanya dengan bermodalkan Roh Kudus, para murid menggoncang seluruh dunia alkitab. Generasi demi generasi berlalu, dan Roh Kudus dengan setia terus memenuhi janjiNya untuk menolong setiap orang dalam melakukan Amanat Agung.

Saat ini, di masa sekarang, adalah giliran kita semua untuk menerima tanggungjawab. Walaupun terus berkembang, Kerajaan Allah masih belum tegak sempurna di seluruh dunia. Alkitab menubuatkan bahwa seluruh bumi akan “penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.” (Yes 11:9b)  Adalah tugas kita semua agar nubuatan ini terus berlangsung menuju penggenapannya untuk menyambut kembalinya sang Raja. Kepenuhan Roh Kudus bukan hanya menjamin hidup berkemenangan, tapi juga memampukan kita untuk meninggikan reputasi Yesus Kristus dan Kerajaan Allah melalui hidup kita. Alkitab berkata bahwa “prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya” (2Tim 2:4) dan juga agar kita “menanggalkan beban dan dosa yang begitu merintangi kita”(Ibr 12:1). Itulah dua hal yang harus kita terapkan agar Kerajaan Allah dibangun melalui kehidupan kita pribadi.

Dan jika waktu dan masanya tiba, Yesus akan kembali untuk menyempurnakan segala sesuatu, memproklamasikan berdirinya sebuah Kerajaan yang Tak Berkesudahan. Pada saat itulah, kita dengan semua orang kudus akan bersukacita dalam sebuah perayaan kekal. Segala jerih lelah dalam perjuangan akan menjadi sebuah kenangan saja saat kita melihat bagaimana seluruh bumi dipenuhi kemuliaan Tuhan. Semoga kita bertemu lagi pada saat itu. Amin.

Saturday, May 14, 2011

Sulit Percaya

Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus,... Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. (Markus 16:10-13)


Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. (Matius 28:16-17)


Salah satu yang mengherankan saya berkenaan dengan kebangkitan Kristus adalah betapa sulitnya para murid pada waktu itu untuk mempercayai bahwa Kristus telah bangkit. Setelah kebangkitan dan sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Yesus berkali-kali menampakkan diri kepada beberapa murid-Nya, dan reaksi mereka beragam. Namun pada umumnya bagi mereka yang tidak sempat bertemu sendiri dengan Yesus, mereka sulit percaya bahwa Yesus telah bangkit. Tomas bahkan begitu skeptis sehingga dia mengatakan bahwa ia tidak akan percaya sebelum mencucukkan jarinya pada bekas lubang paku di tangan Yesus (Yoh 20:25).

Mengapa begitu sulit untuk mempercayai bahwa Yesus telah bangkit? Kebangkitan orang mati bukan hal yang asing bagi para murid. Berkali-kali mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus membangkitkan orang mati, bahwa Yesus berkuasa atas maut dan kematian. Yesus sendiri berkali-kali mengatakan bahwa Ia akan mati dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat 16:21, 17:23, 20:19), tapi pada saat hal itu terjadi, para murid sulit sekali untuk percaya. Sepertinya ada sesuatu yang menutup mata mereka, sehingga bahkan ada dua orang murid yang tidak sadar bahwa mereka telah berjalan ke Emaus dan bercakap-cakap begitu lama dengan Yesus sendiri (Luk 24:13-16).

Saya melihat bahwa hal yang menghalangi para murid untuk mempercayai kebangkitan Kristus adalah karena mereka memiliki pengharapan pribadi yang tidak sesuai dengan rencana Allah. Sebagai orang Yahudi abad pertama yang telah dijajah selama sekian abad oleh bangsa-bangsa asing, para murid merindukan seorang sosok pembebas yang akan melepaskan Israel dari cengkeraman penjajah tak berTuhan, seorang keturunan Daud, yang telah dinubuatkan beratus-ratus tahun sebelumnya. Dan mereka menemukan sosok pembebas tersebut dalam diri Yesus, yang bahkan dengan terang-terangan mengaku bahwa Ia lah sang Mesias, yang diurapi, sang Raja. Pengharapan ini begitu kuat tertanam dalam diri mereka, seorang Mesias yang akan menggulingkan penjajah, memulihkan kembali kejayaan Israel sebagai sebuah kerajaan adikuasa, sama seperti jaman Daud dulu. Seorang Mesias yang mati dan kemudian bangkit, samasekali tidak cocok dengan gambaran yang mereka punyai.

Sama seperti para murid itu, seringkali kita memiliki gambaran masing-masing tentang ‘bagaimana seharusnya’ Tuhan itu. Gambaran ini terbentuk dari harapan dan kebutuhan kita yang terdalam, yang biasanya sangat sah dan realistis. Harapan untuk menjadi bangsa merdeka adalah harapan yang sangat sah bagi setiap orang Yahudi yang dijajah begitu lama. Namun Tuhan memiliki rencana yang sama sekali lain bagi mereka. Demikian pula dalam kehidupan kita, betapa sering kita akan menjumpai bahwa kehendak Tuhan bukanlah kehendak kita, jalan Tuhan bukanlah jalan kita, dan sebagai hasilnya, kita menjadi sulit percaya.

Mari kita ambil contoh: Saat kita dalam kesulitan keuangan yang parah dalam jangka waktu yang sangat lama, harapan terbesar kita adalah keluar dari kesulitan tersebut selekas mungkin. Dengan harapan yang terarah pada satu titik seperti ini, mendengar kesaksian dari orang lain bahwa Tuhan adalah Tuhan yang memberikan kasih dan damai sejahtera bisa membuat kita ragu, dan bahkan mungkin marah. Kita membutuhkan Tuhan yang menyelesaikan masalah keuangan kita, bukan Tuhan yang hanya memberikan kita damai di hati. Saat Tuhan tidak kunjung melepaskan kita dari kesulitan keuangan tersebut, kita akan mulai sulit mempercayai kuasa Tuhan, walaupun kita dikelilingi oleh orang-orang yang mengalami kuasa Tuhan.

Kita perlu belajar mempercayai bahwa ketika Tuhan tidak memenuhi pengharapan kita, Dia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih baik, sesuai dengan hikmat-Nya yang maha sempurna itu. Yesus mungkin tidak menjadi raja Israel secara jasmani di abad pertama, tapi kini Ia menjadi Raja segala raja dari seluruh alam semesta. Demikian juga pada saat Yesus tidak menjawab pengharapan manusiawi kita yang terdalam, Dia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih indah, dengan dampak yang jauh lebih luas, yang tidak mampu kita pahami saat ini. Berikan pada Yesus tahta kehidupan kita, bahwa Ia lah sang Tuhan dan Raja yang mengetahui dengan persis apa yang Ia lakukan, bahwa Ia mengasihi kita dan akan menggunakan hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaan-Nya. Tuhan memberkati!

Tuesday, April 26, 2011

Jangan 'bergantung' pada Yesus

Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." – Yoh 20:17


Bagi para murid, hari-hari sejak kebangkitan Kristus adalah hari-hari yang membingungkan. Betapa tidak, beberapa dari mereka menyaksikan sendiri kubur Yesus telah kosong, kemudian beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka telah bertemu dengan Yesus yang bangkit. Sebagian besar murid malah tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit. Kita bisa melihat kisah dua orang murid yang berjalan ke Emaus (Luk 24:13-24), dimana mereka berdiskusi begitu seru tentang semua hal yang terjadi, sampai tidak menyadari bahwa orang ketiga yang bergabung dalam percakapan mereka adalah Yesus sendiri.

Salah satu keanehan yang terjadi adalah, Yesus tidak lagi bersedia menyertai murid-murid-Nya seperti sediakala. Yesus memang menemui beberapa murid-Nya, tapi Ia tidak pernah tinggal lebih lama dengan mereka. Dia selalu menghilang setelah melakukan perjumpaan dan menyampaikan pesan. Dalam pertemuan-Nya dengan Maria Magdalena Yesus bahkan menolak untuk disentuh. Dalam bahasa Yunani kata jangan “memegang” yang dikatakan Yesus kepada Maria memiliki arti jangan “melekat/bergantung”. Bukan berarti bahwa Yesus tidak boleh dipegang, karena dalam banyak kesempatan lain Ia mengijinkan murid-murid-Nya untuk memegang Dia. Tapi sejak kebangkitan-Nya, Yesus sepertinya menghendaki sebuah relasi yang samasekali baru dengan para murid, sebuah relasi yang berbeda, karena Ia tahu bahwa Ia akan segera meninggalkan mereka dan kembali ke Sorga.

Jika kita cermati, setiap kali Yesus berjumpa dengan murid-murid-Nya, Ia tidak lagi menempatkan diri sebagai Pribadi yang senantiasa mencukupi dan menjawab kebutuhan para pengikut-Nya. Di setiap perjumpaan, selalu terdengar perintah “pergilah… dan katakan…”, atau “gembalakanlah…” Yesus yang bangkit bukan lagi datang untuk melayani, tapi setiap kali Ia datang, Ia memberikan perintah. Yesus yang bangkit adalah Yesus dalam keadaan-Nya yang semula, Tuhan segala Tuhan dan Raja segala Raja. Yesus menolak saat Maria ingin menyentuh-Nya dengan sikap bergantung seperti sebelumnya, sebaliknya Ia memerintahkan: “pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka…”. Yesus sepertinya ingin menyatakan, “Jangan lagi bergantung padaKu seperti dahulu, Aku akan segera meninggalkan kamu, tapi kerjakanlah bagianmu seperti Aku melakukan bagian-Ku”

Dalam perintah di atas ada satu keunikan, Yesus menyebut para murid-Nya sebagai “saudara”, dan kemudian Ia menyebut Allah Bapa sebagai “Bapa-Ku dan Bapamu”. Kali ini Yesus berbicara sebagai sang Anak Sulung, yang bangkit dari antara orang mati, berbicara bukan kepada para pengikut yang bergantung, tapi kepada saudara-saudara-Nya. Sebagaimana Yesus telah melakukan seluruh kehendak Bapa, ini waktunya bagi “saudara-saudara-Nya” untuk melakukan hal yang sama. Setelah kebangkitan Kristus, para murid tidak lagi dipandang sebagai orang-orang tak berdaya, tapi menjadi saudara se-Bapa, dipanggil, dilengkapi dengan kuasa dan diperintahkan untuk melakukan hal yang sama dengan yang Yesus lakukan. Yesus telah menyelesaikan tugas-Nya dengan sempurna dan sebentar lagi Dia harus meninggalkan semua murid-Nya. Para murid harus sadar, bahwa mereka tidak bisa lagi bergantung pada Yesus seperti sebelumnya. Mereka akan diantar menuju satu jenis relasi kebergantungan yang baru, dimana bukan Yesus lagi yang bersama dengan mereka secara badani, tapi Roh Kudus yang akan tinggal dan bekerja di dalam mereka. Sebelum kematian-Nya Yesus pernah berkata: “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” (Yoh 16:7). Ada waktunya bahwa lebih baik murid-murid dipisahkan dari Yesus, supaya mereka belajar bergantung dan sekaligus bekerja sama dengan Roh Kudus yang akan memberi mereka kuasa untuk melakukan kehendak Allah.

Sebagai pengikut Kristus yang bangkit, kita perlu menyadari bahwa sekarang bukan waktunya untuk memandang diri sebagai pengikut tanpa daya dari seorang ‘manusia super’. Bukan lagi waktunya untuk ‘bergantung’ kepada Yesus sebagaimana para murid dulu bergantung pada-Nya. Lewat kematian dan kebangkitan Kristus, kita diangkat menjadi “saudara”, dengan kuasa dan otoritas yang serupa dengan sang Kakak Sulung. Saat ini kitalah yang harus menjadi terang dunia, melayani, menjadi berkat, mendoakan orang sakit, memulihkan hati yang terluka, hidup dalam kekudusan, dst. Hidup kita harus mencerminkan kemenangan Kristus atas maut. Kristus memang tidak lagi bersama kita secara badani, tapi Roh Kudus yang sama, yang memberi kuasa pada Yesus untuk menyelesaikan segenap rencana Allah, saat ini berdiam juga dalam hidup kita. Ini bukan lagi waktunya untuk ‘bergantung’, tapi waktunya untuk bekerja, seperti kata rasul Paulus, “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…” (Fil 1:22). Tetap kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, maka Kristus akan hadir lagi di dunia, bukan lagi dalam bentuk manusia, tapi melalui tubuh-Nya yang am yaitu Gereja. Amin.

Thursday, April 07, 2011

Mengerjakan Keselamatan

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," Flp 2:5-11

Jika kita mencoba mencermati keTuhanan Kristus, kita bisa melihat ada dua sisi yang berjalan bersamaan. Pertama, Yesus sendiri adalah Tuhan sejak mulanya, Dia memiliki rupa Allah dan setara dengan Allah. Tanpa perlu turun ke bumi dalam rupa manusia, Yesus tetap adalah Tuhan. Sisi yang kedua, seperti kutipan kitab Filipi di atas, Yesus “dijadikan” Tuhan melalui peninggian dari Allah sebagai upah atas ketaatan-Nya untuk merendahkan diri sampai mati di atas salib. Sehingga boleh kita simpulkan bahwa gelar keTuhanan Kristus adalah sebuah status yang telah dimiliki-Nya sejak kekal, tapi juga sebuah status yang diperoleh-Nya melalui perjuangan sampai titik darah penghabisan.
Kita juga perlu melihat bahwa sebelumnya rasul Paulus sempat meminta pembaca untuk “…menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah…”(ay 5), dan setelah menjelaskan bagaimana Yesus dalam rupa Allah telah merendahkan diri, ia melanjutkan dalam ayat 12, “…karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,…”. Dengan membaca seluruh bagian ini, nampak bahwa sebagaimana keTuhanan Kristus memiliki dua sisi, begitupun keselamatan kita.
Dalam minggu mendatang kita akan memperingati lagi karya Kristus di kayu salib. Oleh persembahan Tubuh dan Darah Kristus, hari ini kita beroleh kepastian keselamatan. Memandang salib Kristus, kembali kita disadarkan bahwa, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,…” (Ef 2:8). Itulah sisi pertama dari keselamatan kita, bahwa kita saat ini telah memiliki status sebagai anak Allah, pewaris sorga. Status ini langsung kita miliki pada saat kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan. Tidak hanya itu, status keselamatan kita begitu kuat karena dimeteraikan dengan darah Perjanjian Baru, yaitu darah Kristus sendiri. Namun keselamatan kita juga memiliki sisi yang kedua, yaitu keselamatan yang perlu dikerjakan dan diperjuangkan dengan “takut dan gentar”. Sebagaimana Yesus melakukan bagian-Nya sehingga Allah kemudian sangat meninggikan Dia, demikian pula setiap kita harus melakukan bagian kita, mengerjakan keselamatan kita dengan segenap hati dan tenaga.
Dengan melihat apa yang dilakukan oleh Yesus, kita bisa mendapat gambaran tentang bagaimana mengerjakan keselamatan itu. Diawali dengan kemuliaan yang ditanggalkan, Yesus kemudian mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba. Sebagai hamba, Kristus bekerja dan berkorban begitu rupa, sampai Ia layak menerima kemuliaan-Nya kembali sebagai upah, bukan sebagai sesuatu yang telah dimiliki-Nya sejak semula. Mengerjakan keselamatan juga diawali dengan cara yang sama, kita sepertinya perlu menanggalkan status kita sebagai pewaris sorga, dan mulai merendahkan diri dan bekerja keras seolah-olah keselamatan kita ditentukan oleh perbuatan dan diberikan sebagai upah. Hidup kita harus benar-benar dijaga dan diarahkan agar kita layak untuk masuk sorga kelak. Sebagaimana Yesus pernah bersabda, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”(Mat 5:20), begitulah tanggung jawab dari seorang Kristen yang sedang mengerjakan keselamatannya.
Langkah selanjutnya adalah ketaatan mutlak dalam kerendahan hati. Sebagaimana Yesus merendahkan diri dan taat sampai mati dan kemudian ditinggikan, demikian pula kita perlu rendah hati dan taat, sampai pada waktunya kita ditinggikan dan layak masuk sorga. Mungkin ada beberapa orang yang ditentukan untuk taat sampai mengorbankan nyawa. Tapi saya rasa untuk sebagian besar kita, kematian yang dituntut adalah kematian terhadap kepentingan diri sendiri, dan hidup sepenuhnya bagi Kristus. “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda,…” (Fil 2:14), lanjut Paulus dalam suratnya, mendorong ketaatan setiap umat Allah untuk mengerjakan keselamatan mereka masing-masing dalam ketaatan dan kerendahan hati.
Pada hari penghakiman terakhir, dilukiskan bahwa orang akan dihakimi menurut perbuatan mereka (Wah 20:12), bukan menurut pengakuan mulut mereka saja. Mari kita mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, tapi sekaligus dengan sukacita, karena Allah adalah hakim yang sangat adil, yang akan meninggikan orang-orang yang rendah hati dan taat. Segala jerih lelah kita untuk Kristus tidak akan pernah sia-sia, upah yang sangat besar menanti orang-orang yang dengan tekun mengerjakan keselamatan mereka sampai akhir. Tuhan memberkati! 

Wednesday, April 06, 2011

Memberhalakan Kristus

Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka…Ul 32:21


Jika membaca Perjanjian Lama, kita akan melihat bagaimana bangsa Israel berulang kali menyakiti Allah dengan menyembah berhala. Sejak pembebasan dari perbudakan Mesir di bawah pimpinan Musa, generasi demi generasi bangsa Israel terus mengalami jatuh bangun antara setia kepada Allah dan penyembahan berhala. Penyembahan berhala berlaku seperti sebuah ‘penyakit turunan’, yang terus saja menimbulkan cemburu dan sakit hati Allah yang begitu hebat. Satu generasi berlalu, dan penyakit ini sepertinya punah, tapi pada generasi selanjutnya kambuh lagi, begitu terus berulang-ulang. Sampai pada satu titik Allah sepertinya berkata, “Cukup!” dan Ia bersabda “…Aku akan melemparkan kamu dari negeri ini ke negeri yang tidak dikenal oleh kamu ataupun oleh nenek moyangmu. Di sana kamu akan beribadah kepada allah lain siang malam, sebab Aku tidak akan menaruh kasihan lagi kepadamu.” (Yer 16:13)  Dalam murka-Nya, Allah memutuskan untuk membuang umat pilihan-Nya sendiri kembali ke dalam perbudakan, dan sejak itu Israel terus menerus menjadi bangsa jajahan selama berabad-abad. Sejarah panjang bangsa Israel tersebut menunjuk pada satu hal, bahwa penyembahan berhala berakar pada hati manusia yang tercemar oleh dosa, bukan oleh pengaruh luar. Penyembahan berhala sebenarnya bukan soal ritual belaka, tapi bersumber dari hati manusia yang cenderung memberontak. Dan kalau memang sumbernya dari hati, pastilah terjadi sampai saat ini.

Saat ini orang kristen abad 21 sudah tidak mungkin lagi dibujuk untuk sujud menyembah patung berhala sebagaimana umat Allah 2500 tahun yang lalu. Tetapi saya mencermati bahwa penyembahan berhala masih sangat mungkin terjadi di dalam hati orang percaya dalam bentuknya yang paling halus: memberhalakan Yesus. Beberapa tahun silam saya malah sempat melihat beberapa orang mengenakan kaus bertuliskan “Jesus – My Idol”. Lepas dari pemikiran dangkal si perancang kaus, ungkapan “Yesus Berhalaku” saya kira dianut oleh jauh lebih banyak orang Kristen, lebih dari yang kita duga.

Esensi dari penyembahan berhala adalah sebuah hubungan yang bersifat transaksional. Mari kita lihat sebuah contoh berhala yang terkenal: Baal. Berhala yang berulang kali disembah oleh bangsa Israel ini dipercaya memberikan kesuburan bagi tanah para petani. Agar tanahnya subur, para petani memberikan sesaji dan melakukan ritual-ritual tertentu. Sebagai gantinya, Baal akan membalas semua bakti tersebut dengan memberikan apa yang paling diinginkan yaitu kesuburan tanah dan hasil bumi yang berlimpah. Hubungan umat & Baal hanya sesederhana itu: umat memberi persembahan plus ritual, Baal memberkati. Beres, singkat, sederhana. Untuk urusan di luar kesuburan, umat kemudian menyembah dewa lain, yang ‘spesialis’ menangani urusan yang diperlukan. Berhala tidak menuntut banyak, asal semua syarat dan ritual terpenuhi, umat boleh melanjutkan dan mengatur hidup mereka sendiri sesukanya. Dengan semua kemudahan ini, tidak heran penyembahan sejati terhadap Allah Yahwe terlihat begitu rumit dan menuntut terlalu banyak, sehingga membuat Israel terus menerus berpaling kepada berhala-berhala lain.

Berbeda dengan penyembahan berhala, hubungan Allah dan umat-Nya tidaklah transaksional. Relasi dengan Allah bersifat mengikat, bahkan dilambangkan secara langsung dengan relasi antar suami istri. Menyembah Allah menuntut penyerahan diri secara total, dimana tidak ada bagian sekecil apapun dari kehidupan kita yang boleh kita miliki di luar kehendak-Nya. Sementara sebuah berhala membolehkan umatnya untuk menyembah berhala lain selain dirinya, Allah berlaku seperti seorang suami yang pencemburu, sedikitpun tidak mengijinkan ‘istri’ Nya mengabdi kepada allah lain.

Dalam pemahaman ini, saya melihat bahwa ada banyak orang kristen yang memberhalakan Kristus, bukan menempatkan Dia sebagai Tuhan. Mereka menjaga jarak dengan Kristus, membatasi hubungan dalam tataran transaksional saja. Berusaha sedapatnya untuk tidak menyakiti hati Kristus, orang kristen memberi persembahan dan melakukan ritual tertentu untuk menyenangkan hati-Nya, sembari tetap mempertahankan beberapa bagian hidup yang boleh mereka atur sendiri. Karena kebaikan dan kesetiaan-Nya, Yesus tetap memberkati setiap orang Kristen, betapapun hati-Nya sebenarnya merindukan hubungan yang jauh lebih intim. Yesus tidak ingin dijadikan sebagai berhala, Ia telah memberikan seluruh hidup-Nya agar dapat memperoleh seluruh hidup kita.

Mari kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan Yesus, sebagaimana seorang istri mengikat janji setia sehidup semati dengan seorang suami. Tidak ada bagian sekecil apapun dari waktu, fokus, perhatian, cinta kita yang boleh kita alihkan dari pengabdian kepada keTuhanan Kristus. Sebagaimana sukacita dalam pernikahan yang harmonis, terlebih besar sukacita pada saat kita benar-benar menempatkan Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita.

Thursday, March 24, 2011

Tuntutan KeTuhanan Kristus

Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu?…" Maleakhi 1:6

Ada satu hal yang unik yang akhir-akhir ini saya amati, yaitu istilah yang digunakan seseorang untuk memanggil rekannya. Untuk menyapa, panggilan “bro” sekarang menjadi sangat umum. Pertama kali saya mendengar orang saling menyapa dengan istilah itu waktu saya sedang di Jakarta sekian tahun yang lalu. Tapi kini sepertinya panggilan tersebut sudah cukup umum terdengar di mana-mana. Tidak hanya “bro”, panggilan “boss” juga sering saya dengar, khususnya dalam urusan tawar menawar di dunia bisnis.

Satu hal yang kita tahu bersama, panggilan “bro” atau “boss” tidaklah dimaksudkan untuk memiliki arti sesungguhnya. Saat seseorang memanggil rekannya dengan sebutan “bro” atau “boss”, ia tidak sedang bersungguh-sungguh menganggap rekannya sebagai saudara atau majikan dalam arti sebenarnya. Panggilan itu hanya sekedar sebagai pengganti nama dari yang dipanggil, sebuah sebutan yang nyaman digunakan untuk berbagai macam orang dari berbagai status sosial.

Tidak demikian halnya jika kita memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan”. Kita tidak bisa memanggil “Tuhan” sebagaimana kita memanggil seseorang dengan panggilan “boss”. Jika kita bisa menyapa atau memanggil siapapun dengan sebutan “bro” atau “boss” tanpa beban apa-apa, tidak demikian halnya dengan sapaan “Tuhan” kepada Yesus. Pada saat seseorang memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan”, dia sebenarnya sedang (dan harus) menempatkan diri sebagai hamba. Dan memang itulah yang benar, Yesus adalah Tuhan (Tuan) dan kita adalah hambaNya. Memanggil Yesus “Tuhan” tanpa benar-benar bermaksud menempatkan diri sebagai hambaNya dapat membuat kita melalaikan begitu banyak hal dalam kehidupan, yang berujung pada hukuman kekal. Tuhan Yesus pernah berfirman: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21).

Dengah rendah hati harus kita akui, kita sering tidak sepenuhnya bersikap hamba pada saat kita memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan”. Bagi kita sebutan “Tuhan” lebih merujuk pada apa yang Dia bisa (dan semoga) lakukan dalam hidup kita, bukan apa yang harus kita lakukan dalam ketaatan pada kehendakNya. Panggilan “Tuhan” terasa lebih cocok untuk gambaran seorang penolong maha baik, yang selalu ingin menyenangkan & menjawab kebutuhan kita, rela mati demi kita, dan tidak memiliki tuntutan apa-apa kecuali sedikit lagu pujian di hari Minggu dan komunikasi sekian menit perhari dalam doa. Atau seperti yang dikatakan dalam kutipan kitab Maleakhi di awal tulisan ini, panggilan “Tuhan” tidak lagi berkorelasi dengan tuntutan rasa takut dan hormat yang mendalam dari pihak kita. Kita bisa merasakan unsur kasih dalam panggilan “Tuhan”, tapi kehilangan makna “tuntutan”nya.

Ijinkan saya untuk memunculkan kembali unsur tuntutan dalam sapaan “Tuhan” ini. Kita perlu memeriksa kembali hidup kita, berapa persen dari waktu & kerja keras yang kita kerjakan, yang kita lakukan untuk Yesus sebagai ‘boss’ atau majikan kita. Memanggil Yesus sebagai Tuhan adalah sama dengan memanggil diri kita untuk melayani Dia. Ada tuntutan yang sangat besar bagi pihak kita, setiap kali kita memanggilNya “Tuhan”. Setiap kita yang pernah/sedang bekerja di bawah otoritas seorang majikan pasti tahu bahwa ada tuntutan yang jauh lebih besar daripada sekedar menyediakan waktu 2 jam seminggu, plus beberapa menit di pagi hari untuk sekedar mencari tahu kehendak sang majikan, dan setelah itu melanjutkan hari itu sesuai kehendak dan kesibukan kita sendiri.

Saya ingin mendorong bagi setiap saudara yang saat ini sudah memanggil Yesus sebagai “Tuhan” agar menyediakan waktu untuk melayani. Untuk bisa melayani, cara paling mudah adalah dengan mencari kesempatan untuk melayani di gereja, meskipun pelayanan tidak melulu harus di dalam bangunan gereja. Apapun bentuk pelayanan yang anda pilih, anda akan mengalami sukacita dan berkat yang berlimpah pada saat sungguh-sungguh melayani Tuhan. Tuhan Yesus bukan ‘boss’ yang pelit dan kejam, Dia sangat murah hati. Saat anda menghamba dengan menyediakan hati, waktu dan kerja keras, Yesus akan memberkati anda dengan sangat berlimpah dalam segala segi kehidupan. Bahkan kita semua akan mengalami bahwa tuntutan keTuhanan Kristus sebenarnya sangat ringan jika dibandingkan dengan berkat-berkat yang disediakan sebagai upah atas ketaatan pada keTuhananNya, seperti kata Yesus, “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Mat 11:30).

Jadi, sementara kita boleh memanggil satu sama lain dengan sebutan “bro” atau “boss”, mari kita memanggil Yesus sebagai “Tuhan” dengan menyadari bahwa kita sepenuhnya adalah hamba yang hidup untuk melakukan perintahNya. Kalau ada perusahaan bisa memberikan upah dan kepuasan kerja yang tinggi pada karyawannya yang setia dan cakap, saya percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup memberikan upah dan kepuasan yang jauh lebih tinggi bagi setiap pekerjaNya. Amin!

Tuesday, March 22, 2011

Berkat keTuhanan Kristus

“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga” (Ef 1:18-20)

Salah satu berkat terbesar, yang jarang dinikmati secara penuh oleh orang percaya adalah berkat dari kehidupan yang sepenuhnya dikuasai oleh keTuhanan Kristus. Memang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan adalah langkah awal kehidupan Kristen setiap orang. Tapi dalam perjalanan hidup setelah mengenal Kristus, keTuhanan Kristus mulai kehilangan pengaruhnya, dan orang Kristen kemudian melanjutkan hidupnya sebagai orang yang percaya Yesus adalah Tuhan, tapi tidak menerima seluruh berkat yang disediakan dari kepercayaan itu.

Di tengah semua kemajuan dan kemudahan yang diberikan oleh teknologi, umat Kristen, khususnya yang tinggal di kota besar cenderung memiliki pandangan bahwa hidup yang diberkati Tuhan adalah hidup yang diwarnai oleh kemudahan dan kenyamanan. Tanpa sadar, umat Allah kemudian menempatkan Tuhan dalam posisi sebagai pihak yang akan menjaga dan menjamin bahwa hidup akan senantiasa nyaman dan mudah, bahwa kehidupan nyaman dan mudah adalah sebuah keniscayaan & tanda berkat Allah. Disadari atau tidak, Yesus saat ini lebih dikenal sebagai juru penolong, kekasih, sahabat yang baik, pemelihara, penyembuh, pemecah masalah, jawaban berbagai persoalan, penghibur, dan banyak lagi. Lagu-lagu favorit umat Kristen biasanya berkisah tentang semua atribut di atas. Tentu saja semua atribut tadi tidaklah salah, tapi memiliki satu kelemahan: fokusnya bukan pada keTuhanan Yesus Kristus.

Akibat dari semua itu adalah, orang Kristen gagal untuk menerima berkat yang jauh lebih besar daripada sekedar hidup yang mudah dan nyaman. Terlalu berfokus pada kenyamanan, mereka menjadi lebih sulit mengucap syukur, terlalu sensitif pada penderitaan & lebih mudah mengeluh. Mereka tidak lagi berharap lebih dan memiliki pengharapan yang sama dengan pengharapan orang yang tidak mengenal Allah, yaitu berharap pada hal-hal yang kelihatan dan bersifat sementara: uang, kesejahteraan, kesehatan, kepopuleran, dst. Walaupun semua berkat tersebut memang disediakan Allah, tapi sangat remeh jika dibandingkan dengan berkat sesungguhnya yang disediakan Allah melalui kehidupan yang berTuhankan Kristus.

KeTuhanan Kristus memiliki sebuah pesan utama: Yesus berdaulat penuh atas hidup umatNya. Dia adalah Tuhan, kita adalah hamba. Hidup kita bukan milik kita lagi. Kita ini “…telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1Kor 6:20) Kehidupan Kristen adalah sebuah mandat untuk menghasilkan buah demi Kerajaan Allah dan melakukan segala perintah sang Tuan tanpa berbantah-bantah. Sebagai hamba, kemudahan dan kenyamanan hidup bukan menjadi yang utama, tapi menyerahkan segala kehendak pribadi di bawah kedaulatan sang Majikan.

Ironisnya, pada jaman sekarang kedaulatan Yesus barulah diakui dan diingat pada saat orang Kristen mengalami kejadian buruk atau malapetaka yang tidak bisa dihindarinya lagi. Saat kematian menjemput orang yang kita cintai, saat usaha yang dirintis ambruk dan tidak tertolong, saat seperti itulah orang kemudian –mau tidak mau – belajar untuk melihat Yesus sebagai Tuhan yang berdaulat yang mengendalikan segala sesuatu. Melihat bencana tsunami di Jepang baru-baru ini, kedaulatan Allah langsung muncul di pikiran. Dalam dunia hukum/asuransi bahkan ada istilah ‘act of God’ yang merujuk pada bencana alam yang tidak bisa dihindarkan, dan itu dikatakan sebagai ‘perbuatan Allah’. Sungguh menyedihkan jika kita dipaksa mengakui keTuhanan Kristus pada saat mimpi-mimpi kita hancur berantakan.

Mengapa tidak kita mengakui kedaulatan Kristus pada saat hidup kita berlangsung lancar dan segala rencana kita berjalan dengan baik? Bagaimana jika pada saat Tuhan memberkati segala usaha, pelayanan dan keluarga kita, kita menyerahkan kembali segala berkat tersebut dalam penundukan diri pada keTuhanan Kristus? Di tengah segala kelimpahan kita bisa tetap berlaku seperti hamba, taat dan tunduk penuh pada kehendak Tuhan, menyadari bahwa jika Tuhan memberikan berkat, Dia merencanakan agar kita menggunakan berkat tersebut sesuai dengan kehendakNya. Bagaimana jika di tengah semua kesibukan yang menumpuk akibat order yang membanjir, kita tetap menyediakan waktu yang terbaik untuk melayani, mendoakan orang, terlibat aktif dalam KESAN? Bukannya menggunakan seluruh berkat jasmani tersebut untuk membangun kehidupan yang mudah dan nyaman bagi diri sendiri, kita justru berlutut di kaki Tuhan, menyadari besarnya tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada kita dan mencari tahu apa kehendak Tuhan dengan semua kelimpahan ini.

Itulah kehidupan yang benar-benar berTuhankan Kristus. Untuk orang yang seperti ini, berkat Tuhan akan melampaui apa yang dapat dilihat mata. Tuhan akan mengadakan ikat janji dengan orang semacam ini, memberkati dan menjamin kehidupan anak cucunya. Tidak hanya di lingkup keluarga, Tuhan akan memakai orang semacam ini untuk memberkati generasi demi generasi. Orangnya mungkin akan meninggal dunia, tapi inspirasi hidup yang ditinggalkannya bisa menjangkau puluhan generasi sesudahnya. Mereka akan “…mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10).

Saat orang yang berTuhankan Kristus mengalami masalah, ia justru akan terbang makin tinggi, karena masalah tersebut akan mendewasakan imannya. Bukannya jatuh dalam keluhan, dia akan makin diperkuat dalam imannya, menyadari bahwa “…penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya,…” (2Kor 4:17) Ucapan syukur akan selalu mengalir dari bibirnya, kemenangan menjadi sebuah kepastian. Alkitab mendorong kita untuk mengerti “…betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya” (Ef 1:18-19). Mari kita berdoa agar kita bisa mengalami berkat dan kuasa di dalam kehidupan seorang yang sungguh-sungguh menjadikan Yesus sebagai Tuhan!

Friday, December 10, 2010

Bersiaplah Untuk Mati!

Hari ini genap lima hari sejak terjadinya sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa anak dari seorang teman lama saya. Anak tersebut masih sangat belia, meninggal dunia karena tenggelam dalam usaha untuk menolong temannya yang tercebur di sebuah waduk. Bukannya tertolong, dua anak ini akhirnya tenggelam. Sebuah peristiwa kehilangan nyawa secara tragis yang terjadi terus menerus di mana saja, dalam berbagai bentuk dan kisah.

Kalau saya pikir-pikir, semua kita sebenarnya sudah divonis mati sejak kita dilahirkan di dunia. Semua orang yang hidup, semuanya sedang menuju satu titik akhir: kematian. Bedanya dengan vonis mati oleh pengadilan, vonis mati kita itu gak jelas pelaksanaannya kapan. Maut dapat menjemput kapan saja, dan tidak ada orang yang bisa protes atau mencegah jika sang maut sudah menjatuhkan eksekusi. Maut tidak memilih orang, tidak berbelaskasihan & tidak pandang bulu: orang baik, orang jahat, anak-anak, pria, wanita, kaya atau miskin, tidak ada pengaruhnya di hadapan sang maut. Siap atau tidak siap, semua orang, pada waktunya, akan ‘dijemput paksa’ oleh kuasa yang satu ini.

Anehnya, topik tentang kematian cenderung tabu untuk dibicarakan, bahkan tabu dipikirkan oleh manusia. Kita semua selalu berusaha menghindar untuk membicarakan atau memikirkan kematian, seolah-olah kematian itu sesuatu yang memang bisa kita hindari. Anak-anak muda khususnya, pastilah sangat jarang memikirkan tentang kematian, dengan anggapan umum (yang sebetulnya kosong) bahwa kematian masih jauh dari mereka. Dengan menghindari topik ini, hasilnya sudah jelas: orang tidak siap menghadapi kematian. Kematian adalah sebuah keniscayaan, namun tidak ada orang yang (ber)siap menghadapinya. Konyol juga…

“Mereka yang tidak pernah memikirkan kematian, tidak akan siap menghadapinya”, begitu kata seorang rohaniwan jaman dulu. Tapi kalau boleh saya tambahkan, “mereka yang tidak pernah memikirkan kematian, tidak akan siap menghadapi kehidupan.” Gampang saja, coba kita pikirkan, apakah kita akan hidup dengan cara seperti sekarang, jika kita mengetahui bahwa usia kita hanya tersisa satu bulan lagi? Lucu dan sekaligus tragis betapa prioritas hidup akan jauh lebih jelas pada saat kematian menjelang, pada saat kesempatan untuk melakukannya sudah berlalu. Kita menjalankan dan menghabiskan kehidupan, dengan mengejar hal-hal yang menurut kita penting, sampai pada saat kematian menjelang, kita baru sadar bahwa ada begitu banyak yang benar-benar penting yang sudah dilalaikan. Betapa banyak penyesalan di ranjang kematian, dan betapa lebih banyak lagi penyesalan tersebut di kekekalan.

Ada sebuah nasihat yang sangat bijaksana, “Selalu pikirkan bahwa kamu akan mati besok, maka kehidupanmu akan menjadi sangat efektif & produktif”. Saya teringat akan filosofi “Impacting All Generations” yang dijadikan nama IMAGE. Untuk memiliki hidup yang berdampak, setiap anak muda harusnya lebih sadar atas vonis mati yang telah dijatuhkan atas mereka, menghitung setiap hari dalam kehidupan sebagai kesempatan untuk melakukan apa yang benar-benar penting.

Faktor lain lagi mengapa orang menghindari topik kematian, yaitu karena mereka tidak tahu pasti apa yang akan terjadi setelah mereka mati. Kematian menjadi menakutkan, perjalanan ke alam baka adalah perjalanan oneway, alias tanpa tiket pulang. Sekali pergi, tidak akan kembali, sehingga tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di sana. Tapi bagi orang Kristen, ketakutan ini sebenarnya tidak perlu ada, karena Kristus telah menunggu di sana untuk menyambut setiap orang yang berpulang kepadaNya. Jadi setiap orang Kristen seharusnya selalu memiliki pikiran tentang kematian dalam hidup mereka. Kalau ada di antara orang yang membaca tulisan ini, yang masih tidak memiliki kepastian apa yang terjadi setelah kematiannya, saya punya kabar baik buat anda: Kristus telah mengalahkan kematian, dan barang siapa yang percaya kepadaNya telah memiliki hidup kekal. Jika anda percaya kepada Yesus Kristus, kematian adalah sesuatu yang bisa disambut dengan sukacita.

“Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya… Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.” Pengkotbah 7:2,4

Berpikir tentang kematian membuat seseorang lebih berhikmat dan lebih mencari Allah. Segala ambisi manusia tentang kehebatan kekayaan, ketenaran, kenikmatan hidup, dll, semua akan kelihatan bodoh dan kosong di hadapan kematian. Saya bahkan percaya bahwa kualitas kerohanian seseorang akan ditentukan oleh seberapa sering ybs berpikir tentang kematian.

Memang memikirkan tentang dekatnya kematian tidak otomatis membuat seseorang berhikmat secara benar. Saya percaya ada juga orang yang malah menjadi sangat pasif, atau malah frustasi menjelang kematiannya. Tapi pemikiran kematian mau tidak mau membuat orang harus memilih sikap: memanfaatkan hidup sebaik-baiknya, atau mengambil sikap apatis total terhadap kehidupan. Saya hanya berharap bahwa tidak ada orang yang mengaku Kristen yang kemudian mengambil pilihan untuk menjadi apatis pada saat ia harus menghadapi kematian, karena ia akan dihakimi dengan berat oleh Kristus.

Mengapa memikirkan tentang kematian seharusnya dapat menjadi pendorong yang bagus bagi orang Kristen? Karena kita memiliki janji adanya kebangkitan untuk hidup kekal. Rasul Paulus berkata bahwa, “…Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati". (1Kor 15:32b) Apatisme dalam menghadapi kematian bersumber dari tiadanya pengharapan untuk kebangkitan yang lebih baik. Memang, jika tidak ada kebangkitan, apapun yang dilakukan dalam hidup ini akan menjadi sia-sia, orang Kristen yang berjuang dalam iman akan menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia.

Manfaat lain dari memikirkan kematian adalah untuk membantu kita menemukan tujuan hidup kita. Coba bayangkan hari kematian kita, bagaimana kenangan yang ingin kita tinggalkan untuk orang-orang di sekitar kita? Apakah mereka akan menangis karena hidup mereka telah diubahkan oleh hidup kita? Apakah orang-orang akan berkomentar, “yach… memang sudah waktunya…”, atau “wah, sungguh sial semuda itu sudah mati…”. Komentar apa yang ingin kita dengar? Bagaimanakah kita ingin dikenang pada saat kita sudah tiada di dunia ini? Jika kita sudah memiliki bayangan, itulah tujuan yang harus kita kejar dalam hidup kita.

Itu sebabnya saya ingin mendorong setiap orang Kristen, khususnya anak muda, pikirkanlah kematianmu sesering mungkin. Lebih baik bersiap untuk hari kematian yang mungkin masih jauh, daripada samasekali tidak siap saat waktu kematianmu tiba secara tidak terduga. Jangan takut akan kematian, tapi jadikan vonis kematian kita sebagai pendorong untuk kehidupan yang efektif dan berdampak besar.

Tuesday, August 03, 2010

Kerinduan untuk Juruselamat

Minggu ini saya berdukacita: gak bisa ngikuti kelanjutan kisah Naruto, padahal dia sekarang udah berhasil menguasai dan mengendalikan sepenuhnya cakra rubah ekor sembilan, yang selama ini menjadi sumber kekuatan sekaligus masalah terbesarnya.:-) Mulai akhir Juli kemaren, kisah Naruto tidak bisa lagi diikuti secara online, karena ada perubahan kebijakan dari sang penerbit. Naruto sendiri merupakan salah satu manga yang paling banyak dibaca secara online. Sekarang terpaksa menunggu terbitan resmi di toko buku yang ceritanya ketinggalan banget dari versi onlinenya.

Mengapa saya [dan jutaan orang lain] suka Naruto? Tidak hanya Naruto, kisah para tokoh khayalan seperti Superman, Spiderman, Sam Witwicky [Transformers], Frodo Baggins [Lord of The Rings], Harry Potter, bahkan Kungfu Panda dll, memikat hati begitu banyak orang. Semua kisah di atas memiliki persamaan: mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi juruselamat dunia, dalam konteks masing-masing, tentunya. Bagaimana seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi juruselamat harus menjalani proses yang beragam likunya, bagaimana ia harus jatuh bangun dalam keraguan, semuanya bisa diramu menjadi kisah yang selalu menarik. Dan biasanya begitu kisah-kisah ini dituangkan ke dalam film oleh sutradara terbaik, akan selalu mencapai box office dalam waktu singkat. Kesimpulannya: manusia selalu menyukai cerita-cerita tentang juruselamat.

Tidakkah ini mencerminkan kondisi rohani dari umat manusia yang telah jatuh dalam dosa? Meski sangat banyak manusia yang tidak mengakui bahwa mereka memerlukan Allah, kesukaan bawah sadar akan kisah-kisah tentang juruselamat membuktikan sebaliknya. Dibalik kesukaan terhadap kisah atau film bertema kepahlawanan, pastilah tersembunyi sebuah kerinduan yang mungkin tak disadari tentang bagaimana segala sesuatu yang rusak di dunia ini akan dibereskan. Dunia dan manusia memang tidak dirancang untuk berkubang dalam dosa. Dalam diri manusia yang terdalam ada sebuah kerinduan besar untuk melihat pemulihan segala ciptaan, kembali kepada kemuliaan yang sebenarnya.

Tidak hanya itu, ada banyak anak muda – dengan indoktrinasi yang cukup – mau menyerahkan segalanya untuk sebuah visi mengubah/menyelamatkan dunia. Kisah-kisah dimana ada orang yang bersedia meledakkan diri dengan bom tidaklah langka kita dengar. Mereka-mereka ini, yang sebenarnya mati konyol, percaya seratus persen bahwa mereka sedang melakukan bagian mereka dalam pemulihan dunia [versi mereka tentu saja]. Tidak hanya merindukan juruselamat, beberapa orang bersedia memberikan nyawa mereka untuk mengambil bagian dari gerakan ‘sang juruselamat’ itu sendiri. Beberapa pimpinan agama, dengan kemampuan orasi yang luarbiasa secara sadar atau tidak sadar membangkitkan harapan yang begitu besar atas juruselamat ini, dan kemudian mendapatkan loyalitas yang luarbiasa dari para pengikut mereka.

Lalu apa hubungannya dengan kita orang Kristen? Paling tidak ada dua hal yang saat ini dalam pikiran saya. Pertama, Yesus sendiri mengatakan bahwa pada akhir jaman akan tampil banyak ‘mesias/juruselamat’ palsu, dengan banyak tanda ajaib yang menyertai mereka [Mat 24:3-4 & 23-24]. Ciri khas Mesias/Nabi palsu ini jelas, mereka menkhotbahkan penyelamatan tanpa pertobatan, pertolongan tanpa tuntutan untuk meninggalkan dosa:

Yeremia 23:14-17
Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorangpun yang bertobat dari kejahatannya; …Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Janganlah dengarkan perkataan para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia kepadamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut TUHAN; mereka selalu berkata kepada orang-orang yang menista firman TUHAN: Kamu akan selamat! dan kepada setiap orang yang mengikuti kedegilan hatinya mereka berkata: Malapetaka tidak akan menimpa kamu!


Bukankah ini yang sering kita temui? Para hamba Tuhan dengan karunia-karunia mujizat yang hebat, mengkhotbahkan kabar baik Injil dan berkat-berkatnya, tanpa sedikitpun menuntut pertobatan yang radikal dari pendengarnya. Hamba Tuhan semacam ini, dengan promosi yang tepat, akan memperoleh jutaan pengikut dalam waktu singkat! Mengapa? Karena setiap orang merindukan juruselamat. Sebaliknya, Yesus, sang Juru Selamat sejati dalam masa hidupNya justru tidak memiliki pengikut yang terlalu banyak, karena tuntutanNya yang tanpa kompromi untuk pertobatan yang sejati. Kita semua perlu benar-benar menyadari betapa kerinduan kita yang terdalam ini bisa menjadi begitu salah arah dan disalahgunakan.

Hal kedua yang ada dalam pikiran saya adalah bahwa setiap orang Kristen sebenarnya adalah orang yang paling beruntung di dunia ini, karena kita telah mengenal Juru Selamat yang sebenarnya! Anehnya, kita malah malu-malu menyatakan hal ini. Kita bisa dengan bebas dan santai saling bertukar informasi tentang film Harry Potter terbaru, berdiskusi soal Superman dan Spiderman, bercerita tentang Naruto [seperti saya :-)], tapi justru bungkam dan malu-malu jika diminta bercerita tentang Juruselamat sejati. Betapa semua manusia merindukan tokoh juruselamat, dan betapa sedikit orang Kristen yang mau menceritakan bahwa Juruselamat yang sejati telah turun ke dunia yang rusak ini, memberikan nyawaNya, bangkit dari kematian dan naik ke sorga. Juruselamat yang kita kenal telah mengalahkan kematian, dan kita sepertinya tidak cukup percaya diri untuk memberitakan hal itu! Semoga Roh Kudus menyucikan hati setiap kita, agar kita menyadari panggilan kita untuk memberitakan sang Juruselamat kepada setiap orang yang kita kenal.

Dan soal Naruto, biarlah saya menunggu edisi cetaknya saja…