Saturday, May 14, 2011

Sulit Percaya

Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus,... Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. (Markus 16:10-13)


Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. (Matius 28:16-17)


Salah satu yang mengherankan saya berkenaan dengan kebangkitan Kristus adalah betapa sulitnya para murid pada waktu itu untuk mempercayai bahwa Kristus telah bangkit. Setelah kebangkitan dan sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Yesus berkali-kali menampakkan diri kepada beberapa murid-Nya, dan reaksi mereka beragam. Namun pada umumnya bagi mereka yang tidak sempat bertemu sendiri dengan Yesus, mereka sulit percaya bahwa Yesus telah bangkit. Tomas bahkan begitu skeptis sehingga dia mengatakan bahwa ia tidak akan percaya sebelum mencucukkan jarinya pada bekas lubang paku di tangan Yesus (Yoh 20:25).

Mengapa begitu sulit untuk mempercayai bahwa Yesus telah bangkit? Kebangkitan orang mati bukan hal yang asing bagi para murid. Berkali-kali mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus membangkitkan orang mati, bahwa Yesus berkuasa atas maut dan kematian. Yesus sendiri berkali-kali mengatakan bahwa Ia akan mati dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat 16:21, 17:23, 20:19), tapi pada saat hal itu terjadi, para murid sulit sekali untuk percaya. Sepertinya ada sesuatu yang menutup mata mereka, sehingga bahkan ada dua orang murid yang tidak sadar bahwa mereka telah berjalan ke Emaus dan bercakap-cakap begitu lama dengan Yesus sendiri (Luk 24:13-16).

Saya melihat bahwa hal yang menghalangi para murid untuk mempercayai kebangkitan Kristus adalah karena mereka memiliki pengharapan pribadi yang tidak sesuai dengan rencana Allah. Sebagai orang Yahudi abad pertama yang telah dijajah selama sekian abad oleh bangsa-bangsa asing, para murid merindukan seorang sosok pembebas yang akan melepaskan Israel dari cengkeraman penjajah tak berTuhan, seorang keturunan Daud, yang telah dinubuatkan beratus-ratus tahun sebelumnya. Dan mereka menemukan sosok pembebas tersebut dalam diri Yesus, yang bahkan dengan terang-terangan mengaku bahwa Ia lah sang Mesias, yang diurapi, sang Raja. Pengharapan ini begitu kuat tertanam dalam diri mereka, seorang Mesias yang akan menggulingkan penjajah, memulihkan kembali kejayaan Israel sebagai sebuah kerajaan adikuasa, sama seperti jaman Daud dulu. Seorang Mesias yang mati dan kemudian bangkit, samasekali tidak cocok dengan gambaran yang mereka punyai.

Sama seperti para murid itu, seringkali kita memiliki gambaran masing-masing tentang ‘bagaimana seharusnya’ Tuhan itu. Gambaran ini terbentuk dari harapan dan kebutuhan kita yang terdalam, yang biasanya sangat sah dan realistis. Harapan untuk menjadi bangsa merdeka adalah harapan yang sangat sah bagi setiap orang Yahudi yang dijajah begitu lama. Namun Tuhan memiliki rencana yang sama sekali lain bagi mereka. Demikian pula dalam kehidupan kita, betapa sering kita akan menjumpai bahwa kehendak Tuhan bukanlah kehendak kita, jalan Tuhan bukanlah jalan kita, dan sebagai hasilnya, kita menjadi sulit percaya.

Mari kita ambil contoh: Saat kita dalam kesulitan keuangan yang parah dalam jangka waktu yang sangat lama, harapan terbesar kita adalah keluar dari kesulitan tersebut selekas mungkin. Dengan harapan yang terarah pada satu titik seperti ini, mendengar kesaksian dari orang lain bahwa Tuhan adalah Tuhan yang memberikan kasih dan damai sejahtera bisa membuat kita ragu, dan bahkan mungkin marah. Kita membutuhkan Tuhan yang menyelesaikan masalah keuangan kita, bukan Tuhan yang hanya memberikan kita damai di hati. Saat Tuhan tidak kunjung melepaskan kita dari kesulitan keuangan tersebut, kita akan mulai sulit mempercayai kuasa Tuhan, walaupun kita dikelilingi oleh orang-orang yang mengalami kuasa Tuhan.

Kita perlu belajar mempercayai bahwa ketika Tuhan tidak memenuhi pengharapan kita, Dia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih baik, sesuai dengan hikmat-Nya yang maha sempurna itu. Yesus mungkin tidak menjadi raja Israel secara jasmani di abad pertama, tapi kini Ia menjadi Raja segala raja dari seluruh alam semesta. Demikian juga pada saat Yesus tidak menjawab pengharapan manusiawi kita yang terdalam, Dia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih indah, dengan dampak yang jauh lebih luas, yang tidak mampu kita pahami saat ini. Berikan pada Yesus tahta kehidupan kita, bahwa Ia lah sang Tuhan dan Raja yang mengetahui dengan persis apa yang Ia lakukan, bahwa Ia mengasihi kita dan akan menggunakan hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaan-Nya. Tuhan memberkati!